Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 38


__ADS_3

Bobi membuka lebar pintu rumah utama menyambut kedatangan Ben yang baru saja pulang dari perayaan persahabatan.


" Apa kau sudah puas bersenang-senang, Tuan muda?."


Semua orang tersentak mendengar Bobi bicara dengan lantang pada Ben yang baru saja tiba di rumah.


" Jay, pergilah dan kembali besok pagi."


" Baik, Tuan Muda.


.


" Apa hakmu ikut campur dengan urusan percintaanku? Apa yang membuatmu tega merenggutnya dariku? Aku tidak pernah meminta kau menyakitinya?."


" Brengsekkk!!!." Bobi melemparkan selmbar foto yang dia dapatkan dari Nura sebelum terduduk lemas di lantai, sudah tidak bisa berkata-kata.


Jay yang baru saja ingin membuka pintu mobil menghentikan tangannya saat mendengar semua yang Bobi katakan.


" Jay, pulanglah." saran Pak Musin.


Jay menganggukkan kepalanya membuka pintu, mobil yang di kemudikan Jay keluar dari gerbang utama.


Mam Maisha berjslan cepat di ikuti Papa Zeino dari dalam rumah mendengar terikan putra bungsunya.


Ben masih berdiri di tempatnya tidak bergeming sedikit pun, apa yang saat ini terjadi tidak pernah terpikirkan dia sebelumnya.


" Boi, sayang. Ada apa denganmu?." Mama Maisha berjongkok memeluk putranya yang bersedih.


" Ben, katakan. Ini ada apa?." Papa Zeino. Ben tidak memberikan jawaban.


" Kenapa harus kakakku yang merenggut gadis milikku." Isak tangis Bobi pecah dalam pelukan Mama Maisha.


" Dia belum menjadi milikmu." Ben dengan tegas memgatakannya.


" Ben!." Papa Zeino memungut selembar foto yang tadi di lemparkan Bobi.


" Apa ini, kamu Ben?." Orangtua sangat mengenali betul anaknya, tidak mungkin salah menilai siapa pria yang ada di dalam foto.


" Malam itu aku telah kehilangan kendali."


" Kita perlu bicara di ruang kerjamu." Ajak Papa Zeino. " Pak Mus, bantu itriku membawa Bobi ke kamarnya." Langkah Papa Zeno segera di ikuti oleh Ben yang kembali masuk ke dalam rumah.


" Boi, kita ke kamarmu sekarang." Bujuk Mama Maisha.


" Urusanku dan kakak belum selesai dia belum menjelaskan apapun padaku, Ma."


" Biarkan Papa mu yang meminta penjelasan pada Ben." Mama Maisha tidak tega melihat kondisi putra bungsuna yang kembali terpuruk.

__ADS_1


.


Ruang kerja Ben Askara.


" Apa yang ada dalam pikiranmu Tuan muda?." Papa Zeino tidak bisa terima dengan apa yang putra suungnya tela lakukan pada seorang gadis.


" Aku membalas perbuatannya yang menyakiti adikku."


" Kau seorang Tuan muda apa pantas melecehkan seorang gadis hanya untuk balas dendam yang bukan masalahmu."


Papa Zeino sangat emosional dia tidak pernah menanyangka putra kesayangannya akan bertidak jauh meleati batasan sebagai seorang pria terhormat.


" Sejujurnya aku menyesal karena itu bukan tujuan awalku." Untuk pertama kalinya Ben tertunduk, dia menyadari seberapa bear kesalahan yang telah diperbuatnya.


" Cari gadis itu dan bertanggungjawablah." Tegas Papa Zeino tidak ingin anaknya yang berdosa lepas tangan.


" Aku kehilangan jejaknya, dia sudah lama menghilang."


Ben memang tidak tinggal diam, sejak tidur malam dan pikirannya terusik dengan bayang-bayang Aida, dia mencari keberadaan gadis itu yang telah meninggalkan ibukota.


" Aida tidak mungkin hilang di telan bumi." Papa Zeno terduduk di sofa memijat kening yang terasa pusing.


" Aku akan terus berusaha menemukannya." Ben bersungguh-sungguh mencari keberadaan Aida.


Papa Zeino menyembunyikan senyumna di balika ajahnya ang dingin, dia tahu putranya tidak pernah bisa berbohong, semua yang Ben katakan adalah kejujurannya yang selama ini dirahasiakan.


" Kamu mencintai Aida?."


Hari dimana Ben tanpa sengaja menyenggol seorang gadis yang terdorong sekumpulan orang-orang yang ingin antri masuk ke dalam toko. Ketika itu Ben berniat ingin berbalik badan mengulurkan tangan membantu Aida. Namun, urung dia lakukan karena menjaga wibawanya di depan banyak orang. Ada sedikit penyesalan karena statusnya yang bukan orang biasa membuat dia tidak mudah berinteraksi dengan orang lain layaknya masyarakat umum. Pada saat Ben menyelidiki siapa gadis yang di sukai oleh Bobi, Ben tidak menyangka kalau gadis itu sama dengan gadis yang berbententuran dengannya. Egois, Ben justru senang mengetahui identitas gadis yang berhasil menarik perhatiannya, melupakan sejenak jika Aida yang telah menyakiti hati adik sepupunya.


" Apa susahnya mengakui perasaanmu sendiri." desak Papa Zeino.


" Apa perasaanku akan terbalas? Aku sudah merendahkannya." Bukan hanya itu Ben juga mengatakan semua yang telah dilakukannya pada Papa Zeino.


" Kamu menyesal?."


" Aku sangat menyesal."


" Buktikan ketulusanmu mencintainya, memohon maaflah dengan penuh keyakinan kamu mengakui kesalahanmu."


Ben duduk bersimpuh di hadapan sang papa pertama kali dilakukannya setealh dewasa, mengingatkan Zeino pada Ben kecil yang ingin meminta maaf atas kesalahan yang tidak sengaja merusak mainan yang dibelikan untuknya. Ben sangat sedih karena saat marah dia terkadang bisa merusak sesuatu yang berujung penyesalan.


" Aku minta maaf, Pa. Aku akan bertanggungjawab."


" Kemarilah, Nak."


Ben melangkah dengan tumpuan lututnya setengah berdiri berjalan mendekati Papa Zeino, Ben sudah siap walau harus mendapakan pukulan keras dari sang papa.

__ADS_1


" Papa merestuimu dan percayalah gadismu akan menerima kamu, Nak." Papa Zeino mengelus kepala putranya.


Ben melipatkan tangannya di paha sang papa, menyandarkan kepalanya juga, semakin besar rasa bersalahnya pada Aida. Mama Maisha masuk tanpa mengetuk pintu ke dalam ruang kerja Ben. Papa Zeino mengisyaratkan istrinya untuk tidak bicara saat ini cukup lihat bagaimana keadaan putra sulungnya yang jelas bersedih tapi berusaha menyembunyikannya.


Mama Maisha tidak bisa menyalahkan Ben sepenuhnya, bukan karena dia putranya juga tapi setelah mendengar sendiri alasan putranya melakukan tidakan tidak terpuji. Sebagai ibu, dirinya harus bijak menyikapi semua yang terjadi begitupun dengan Zeino sebagai seorang ayah. Mereka harus bisa menjadi penengah dari persoalan kedua putranya yang kini berseteru.


" Seorang pria juga berhak menangis, bukan karena dia lemah. Ringankan bebanmu walau sedikit, Nak." Mama Maisha menitikan air mata, duduk di samping suaminya ikut mengelus ramput putranya yang masih duduk bersimpuh.


" Bagaimana keadaan Bobi sekarang?." Ben mendongak menatap ibunya.


" Dia sudah tidur."


" Boi, pasti sangat terguncang." Ben yakin perbuatan dia sudah sangat menyakiti hati adiknya.


" Adikmu butuh waktu untuk menerima kenyataan, selain Aida tidak mencintanya. Dia juga harus bisa menerima hubunganmu dengan gadis itu kelak." Mama Maisha berlapang dada, jika gadis bernama Aida


" Sekarang kita sebaiknya beristirahat."


" Iya, Pah." Ben bangkit mendengar yang dikatakan papanya.


Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, waktu untuk tidur sudah berkurang beberapa jam.


" Ben!." Seru Mama Maisha.


" Iya, Ma."


" Bagaimana rasanya jatuh cinta." Mama Maisha masih sempat untuk mengoda putranya.


" Aku tidak bisa menjelaskannya." Ben tersenyum.


Orangtua seperi Zeino dan Maisha lah yang begitu di inginkan banyak orang, mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menindak perbuatan salah anaknya, tidak juga membenarkan. Sebagai orangtua mereka harus bisa bijaksana. Karena kekerasan dan emosi tidak lantas bisa menyelesaikan masalah.


" Secepatnya kamu harus menemukan Aida." Perintah tegas papa Zeino.


" Cinta selalu menemukan jalannya, Pah." mama Maisha yakin dimana pun saat ini Aida berada gadis itu akan segera di temukan.


Ben harus menyelidiki lagi siapa saja orang terdekat Aida yang masih ada di ibukota, mengali informasi lebih dalam dari mereka yang bisa menjadi kunci jawaban keberadaan Aida.


Bobi belum benar-benar tidur dia merenung seorang diri di dalam kamarnya setelah mama Maisha keluar ruangan meninggalkannya.


" Apa yang sudah aku lakulan pada kakak, aku berteriak padanya di depan semua orang."


Bobi menyadari seharusnya dia tidak.bertindak gegabah, mempermalukan kakak kesayangannya di rumah utama.


" Aku harusnya meminta penjelasan pada kakak dengan benar, karena dia pasti punya alasan yang kuat."


Bobi merasa ikut andil jika dirinya juga bersalah, tanpa sengaja dan tanpa dia sadari apa yang dilakukan oleh Ben berasal dari apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


" Aku harus menjelaskan pada kakak alasanku waktu itu mengurung diri sampai jatih sakit, bukan sepenuhnya salah Aida.


Bobi bertekad akan bicara dengan Ben besok pagi, dia harus bisa bersikap dewasa tidak lagi kekanak-kanakan sudah cukup selama ini dia ingin diperlakukan seperti anak kecil oleh keluarhanya dan selalu ingin sang kakak mengalah padanya.


__ADS_2