Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 8


__ADS_3

Jay membawa Aida dengan mobilnya menuju ke sebuah danau yang menjadi tempat favoritenya saat ingin menyendiri dan menghabiskan waktu.


" Kamu bisa ceritakan apapun padaku." Jay membuka obrolan sambil duduk di kap mobil bersama Aida disampingnya.


" Hari ini aku menolak perasaan seseorang, dia pasti sangat kecewa." Ungkap


Aida berterus terang.


Deg!


Jantungnya Jay berdenyut mendengar Aida tanpa ragu mengatakan apa yang telah terjadi padanya.


" Aku merasa bersalah, tapi...." Lanjut Aida


" Apa kamu punya perasaan yang sama padanya? jika tidak kamu gak perlu merasa bersalah, keputusanmu sudah benar." Jelas Jay menanggapi teman gadisnya.


" Kakak benar, semoga dia bisa mengerti dan menerima keputuanku." Aida bernapas lega.


Keduanya terdiam sesaat sampai Jay kembali bicara menceritakan kalau danau yang saat ini ada dihadapan mereka merupakan tempat yang paling dia sukai bahkan jika ada masalah dirinya selalu datang untuk menenangkan diri.


Bukankah setiap orang pasti punya masalah mereka sendiri meski pun dari luar semua terlihat baik-baik saja. Mereka yang bermasalah selalu ingin punya tempat untuk menenangkan diri. Karena selain dirinya dan sang pencipta belum tentu permasalahan yang dihadapi seseorang mau untuk diketahui orang lain, ada saja orang yang pandai menyembunyikan masalah mereka tak terkecuali dengan Jay yang tentu saja punya masalah dalam hidupnya sendiri.


" Makasih, Kak. Udah ajak aku datang kesini." Ucap Aida tersenyum.


.


Jay membawa Aida dengan mobilnya menuju ke sebuah danau yang menjadi tempat favoritenya saat ingin menyendiri dan menghabiskan waktu.


" Kamu bisa ceritakan apapun padaku." Jay membuka obrolan sambil duduk di kap mobil bersama Aida disampingnya.


" Hari ini aku menolak perasaan seseorang, dia pasti sangat kecewa." Ungkap


Aida berterus terang.


Deg!


Jantungnya Jay berdenyut mendengar Aida tanpa ragu mengatakan apa yang telah terjadi padanya.


" Aku merasa bersalah, tapi...." Lanjut Aida


" Apa kamu punya perasaan yang sama padanya? jika tidak kamu gak perlu merasa bersalah, keputusanmu sudah benar." Jelas Jay menanggapi teman gadisnya.


" Kakak benar, semoga dia bisa mengerti dan menerima keputuanku." Aida mengehla napas.


Keduanya terdiam sesaat sampai Jay kembali bicara menceritakan kalau danau yang saat ini ada dihadapan mereka merupakan tempat yang paling dia sukai, bahkan jika ada masalah dirinya selalu datang untuk menenangkan diri. Jay juga mengatakan pada Aida selain dirinya hanya sahabatnya yang Jay tahu tetang untuk apa keberadaannya di danau tersebut.


Jay mengulurkan tangannya meminta Aida untuk menggenggamnya dan mereka berjalan bersama ke dekat danau.


" Ai! kamu bisa berteriak?." Tanya Jay.


" Aku bisa." Jawab Aida.


" Coba kamu teriak, luapkan perasaan yang ada dihati." Usul Jay.

__ADS_1


Aida ragu, " Apa harus melakukannya?."


" Cobalah!." Jay meyakinkan.


Aida menghela napas, tak salah kalau harus mencoba melakukan usulan dari Jay. Karena danau yang sepi tak mungkin akan ada banyak orang yang mendengarkan teriaknya selain Jay.


" Aaaaaa...." Aida berteriak berulang kali sampai perasaannya terasa lega lalu menghela napas panjang menyudahi aksinya.


Jay tersenyum pada gadis di sampingnya yang begitu penurut.


" Bagaimana?." Tanya Jay.


" Lega! Makasih ya Kak, udah ajak aku datang kesini." Ucap Aida tersenyum.


" Apa perasaanmu juga lebih baik?. Tanya Jay. Aida hanya mengangguk.


" Datanglah kesini, kapanpun kamu mau. Disini sangat nyaman untuk menenangkan diri. Ujar Jay.


" Aku pasti datang lagi ke danau ini." Ucap Aida tersenyum.


Jay merogok saku celananya untuk mengeluarkan sesuatu.


" Sekarang tutup matamu." Pinta Jay.


" Untuk apa?." Tanya Aida.


" Bisa lakukan saja." Bujuk Jay. Aida mengangguk setuju dan memejamkan matanya.


Aida diam menunggu Jay yang entah melakukan apa disaat matanya terpejam.


" Hanya satu macam." Jawab Jay yang kini berdiri di belakang Aida untuk mengalungkan sebuah liontin berbentuk bunga di lehernya dengan hati-hati, rambut Aida yang terkuncir kuda membuat Jay lebih leluasa memasangkan hadiahnya.


" Kak!." Panggil Aida.


" Kamu boleh buka matamu sekarang." Jay kembali berdiri disamping Aida.


" Apa yang kakak lakukan?." Tanya Aida penasaran.


" Gak ada, kita pulang sekarang?. Jay balik bertanya lalu tersenyum.


" Iya, Kak." Jawab Aida.


Jay dan Aida berjalan beriringan menuju ke mobil.


.


Aida sama sekali belum menyadari sesuatu yang terpasang dileher jenjangnya bahkan selama perjalanan menuju ke rumahnya, gadis itu hanya tersenyum saat melihat ke arah Jay yang juga tersenyum padanya.


Mobil Jay sampai di sebrang jalan dekat rumah Aida, tempat biasa gadis itu meminta turun dari mobilnya.


Jay ingin sekali memberitahu Aida hadiah yang diberikan dia karena Aida tak juga menyadarinya. Tapi, setelah Jay pikir lebih baik Aida tahu sendiri nanti.


" Kita sampai, Ai." Ucap Jay.

__ADS_1


" Makasih ya Kak, untuk hari ini." Ucap Aida. Jay mengangguk.


" Aku pulang ya Kak." Ucap Aida berpamitan hendak membuka pintu.


" Tunggu!." Pinta Jay.


" Ada apa, Kak? Tanya Aida.


" Jaga dirimu baik-baik, Aida." Entah kenapa Jay begitu saja mengatakannya.


Aida tersenyum , " Aku pasti jaga diriku, Kak." meski sedikit heran kenapa Jay berpesan padanya seolah sesuatu yang tak diinginkan mungkin saja akan terjadi.


Aida keluar dari mobilnya Jay dan seperti biasa gadis itu melambaikan tangan sebelum menyebrang jalan, Jay juga melambaikan tangannya untuk salam perpisahan.


Jay kembali mengemudikan mobilnya kembali ke jalan raya semakin menjauh dari rumah Aida.


.


.


.


Bobi tak mau mendengarkan nasehat dan saran siapapun meski mereka sahabatnya. Setelah mengacau di taman belakang kampus dan ruang tim futsal laki-laki itu pergi mengendarai mobilnya sediri keluar dari area kampus.


Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang diterangi lampu kota. Ibukota sudah tampak lenggang dari arus kepadatan lalu lintas karena jam sibuk sudah berlalu.


Pikiran Bobi yang kacau membuatnya menyetir sampai ke sebuah Club Malam, tempat yang sama sekali tak pernah dia datangi seumur hidupnya.


" Kata orang tempat hiburan malam ini bisa bikin lupa dengan masalah." Ucap Bobi.


Meski ragu Bobi memberanikan diri turun dari mobilnya dan masuk ke dalam Club Malam.


Alunan musik mulai terdengar di telinga Bobi, dia juga melihat bagaimana orang-orang yang mencari kesenangan begitu menikmati suasana dibawah gemerlapnya lampu disco.


Bobi menelan saliva, haruskah dia melangkah terus atau mundur. Beberapa wanita datang dan mengodanya namun Bobi sebisa mungkin menolak mereka, karena yang dirinya butuhkan sesuatu yang bisa menenangkannya.


.


" Berikan aku sebotol wine." Pinta Bobi pada seorang barista begitu dia duduk dikursi depan meja bar yang berhadapan langsung dengan si pembuat minuman.


" Baik, Tuan." Ucap Seorang Barista.


Tanpa pikir panjang Bobi meminum secangkir kecil wine yang terasa aneh dilidah dan tenggorokannya karena ini pertama kali dia mencoba minuman beralkohol.


Selesai meminum wine dari gelas ketiga kalinya, Bobi mulai meracau mengeluarkan semua yang ada di hati dan pikirannya.


Si barista hanya geleng-geleng kepala, dia tahu laki-laki yang memesan sebotol wine padanya baru pertama kali datang untuk minum-minum.


Dengan langkah sempoyongan Bobi yang memegang sebotol wine ikut bergabung diantara sekumpulan orang yang menari menikmati alunan musik disco.


Bobi seolah lupa dengan identitasnya yang menyandang nama besar keluarga Askara. Walau tak ada satu pun orang di luar sana yang tahu termasuk keempat sahabat Bobi, jika dirinya adik sepupu dari Ben Askara seorang CEO perusahaan Askara Grup yang berarti cucu dari Baskara Djandratama. Entah hukuman apa yang akan Bobi dapatkan atas perilakunya malam ini.


Bobi kembali ke meja bar karena wine di botolnya habis dan meminta barista untuk memberikannya satu botol lagi. Bobi membayar dengan menyerahkan credit card miliknya.

__ADS_1


__ADS_2