
Bobi terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang semakin menurun, sudah tiga hari juga dia tak masuk kuliah. Mama Maisha sangat khawatir dengan putra bungsunya berdiri dengan cemas di depan ruang IGD di temani Pak Musin dan dua orang pengawal.
" Nyonya! sebaiknya Anda duduk." Usul Pak Musin. Mama Maisha mengangguk.
" Pak Mus tolong kabari Tuan Muda." Perintah Mama Maisha
Karena Tuan Besar sedang pergi menemani Kakek Baskara ke Singapore sejak kemarin untuk pertemuan reuni dengan teman kuliahnya sehingga Mama Maisha menahan diri untuk tak memberi kabar pada mereka dulu.
" Baik, Nyonya." Pak Musin mengeluarkan ponsel dari saku celanannya untuk menghubingi Tuan Muda Ben.
.
.
.
Ben dan Jay keluar dari ruang pertemuan setelah menyelesaikan rapat penting yang menyangkut rencana keberangkatan Jay mewakili Askara Grup untuk datang kepertemuan bisnis di Amerika, dia akan pergi lusa.
" Kau persiapkan semuanya dengan baik, sebelum keberngkatanmu." Perintah Ben.
" Baik, Tuan Muda." Jawab Jay menunduk hormat.
" Aku ingin makan siang di Kafe." Pinta Ben.
" Kita jalan sekarng Tuan Muda." Jay mempersilahkan.
Mereka berdua yang hendak pergi untuk makan siang di luar, namun langkah Ben harus terhenti karena ponsel miliknya berdering, Jay yang ada dibelakangnya juga ikut berhenti melangkah.
" Hallo, Tuan Muda." Pak Musin menyapa.
" Ada apa Pak Mus?." Tanya Ben.
" Tuan Muda Bobi masuk rumah sakit, saat ini sedang berada di ruang IGD, Nyonya Besar ada disini.
" Saya kesana sekarang." Ben mengakhiri panggilan sepihak.
" Tuan Muda." Panggil Jay.
" Kita ke rumah sakit sekarang." Perintah Ben.
" Baik, Tuan Muda." Jawab Jay.
__ADS_1
Wajah Ben tanpa ekspresi selama berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Jay. Suasana terasa dingin karena tak ada yang mengajak berbicara.
Menempuh perjalanan lima belas menit Mobil mereka sampai di depan lobby rumah sakit, Ben segera turun tanpa menunggu Jay membukakan pintu mobil untukknya.
Pegawai di rumah sakit menunduk hormat menyambut kedatangan Tuan Muda Ben yang melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang IGD. Bahkan para pegawai yang berpapasan dengannya juga melakukan hal yang sama.
Jay menyerahkan kunci pada pihak keamanan rumah sakit untuk memarkirkan mobilnya supaya dia bisa segera menyusul Ben.
.
Dokter yang telah memeriksa kondisi Bobi keluar dari ruangan IGD bersamaan dengan tibanya Ben disana. Mama Maisha bangkit dari duduknya berdiri disamping Ben.
" Tuan Muda." Ucap Doker Sean menunduk hormat diikuti Pak Musin dan dua orang pengawal.
" Sean! Bagaimana kondisi adikku?." Tanya Ben langsung pada intinya.
" Pasien mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan dan karena tidak mengkonsumsi apapun selama beberapa hari ini asam lambungnya naik. Saya sudah memasang infus makanan dan pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap." Jelas Dokter menjabarkan kondisi Tuan Muda kedua keluarga Askara..
" Berapa lama putraku harus dirawat?." Tanya Mama Maisha.
" Pasien akan di rawat selama tiga hari ke depan, Bu. Saya akan terus memantau kondisinya." Jawab Sean.
Karena Sean merupakan sahabat Ben dan kelurganya juga bagian dari Askara Grup maka dia menyapa Mama Maisha dengan panggilan lebih kekeluargaan. Ayah Sean menjabat sebagai kepala rumah sakit dimana mereka berada dan jabatannya akan digantikan satu tahun lagi oleh putranya setelah memasuki masa pensiun.
Dua orang suster membawa tempat tidur pasien keluar dari ruang IGD dengan Bobi yang terbaring tak sadarkan diri diatasnya untuk dipindahkan ke ruang inap kelas VVIP yang diperuntukkan khusus keluarga Askara sebagai pemilik rumah sakit dbawah naungan Askara Grup.
.
.
.
Aida sedang makan siang bersama Nura dan Rena di kantin kampus. Beberapa mahasiswii melihat Aida dengan tatapan tak suka karena mereka yang mengidolakan Bobi tahu kalau kalau kapten tim futsal kebanggaan kampus sudah tiga hari tak masuk kuliah karena sakit dan yang menjadi alasan utama pastinya karena patah hati cintanya ditolak.
" Apa maksud kalian menatap sahabatku begitu?." Nura kesal.
" Sahabatmu itu sudah membuat Bobi patah hati sampai jatuh sakit." Ucap Maorin seorang mahasiswi.
Informasi kondisi Bobi sudah menyebar luas di lingkungan kampus sejak hari senin perkuliahan kembali dimulai, kabar itu berawal dari para sahabatnya yang menanyakan langsung pada pihak kampus karena mereka tak punya akses lain untuk menghubungi Bobi sebab tak ada nomor kontak telepon rumah atau keluarganya yang diketahui.
Meski tak ada yang tahu latar belakang keluarga Bobi yang sebenarnya. Karena termasuk termasuk mahasiswa yang aktif dan berprestasi dalam kegiatan olahraga maupun akademik di kampusnya dan posisinya sebagai kapten tim futsal yang sangat diidolakan banyak mahasiswa membuat dia sangat dikenal.
__ADS_1
" Lemah! Aida berhak untuk menolak perasaan dia, jadi jangan salahkan sahabatku." Ujar Nura.
" Ra! udah, kita pergi aja dari sini." Pinta Aida tak ingin ada pertengkara.
" Mereka gak bisa dibiarin, Ai. Gak ada capeknya apa tiap hari mereka nyinggung kamu terus."
" Benar, Ai. Bobi sakit bukan salah kamu karena gak siap terima kenyataan, lagian dia gak cari tahu dulu perasaan kamu ke dia." Ujar Rena.
" Hei! Para dayang, kalian sigap banget belaiin Aida." Ketus Yina sahabat Maorin.
" Kamu sama sekali gak merasa bersalah ya, santai banget." Sindir Lola, satu lagi sahabat Maorin.
Aida menahan Rena dan Nura untuk meladeni ketiga orang yang mengoceh tanpa peduli perasaannya. Aida memutuskan mengajak sahabat dan temannya untuk pergi dari kantin dengan mengandeng lengan mereka.
" Aku gak suka keributan, percuma meladeni mereka yang gak mau tahu." Ucap Aida di luar kantin.
" Gak cukup kalau kamu biarin mereka, Ai." Nura masih saja kesal dan emosi.
" Aku tahu tapi gak ada gunanya selama mereka masih kecewa padaku dan soal Bobi, dia pasti butuh waktu untuk menerima kenyataan, Aku akan kirim pesan whatsApp untuk menyemangatinya, semoga dia lekas sembuh." Ujar Aida yang berbaik hati meski sudah disinggung teman-teman kampusnya yang lain.
" Ya, sudah kita pulang sekarang, hari ini udah ga ada kelas." Ucap Nura.
" Aku mau ke perpustakaan, kalian duluan aja. Ucap Rena.
" Ok. Dahhh... Ren." Ucap Aida. Aida pamit lebih dulu bersama Nura. mereka berdua melamaikan tangan perpisahan pada Rena balas yang melakukan hal sama.
Aida dan Nura berpisah jalan pulang begitu mereka sampai di gerbang pintu masuk kampus, Nura naik taksi memutar arah pulang untuk sampai ke rumahnya sedangkan Aida memilih angkutan kota tepat di depan kampusnya.
Duduk termenung di dalam angkutan kota, Aida kembali merasa bersalah karena Bobi sudah sakit berhari-hari sampai tak masuk kuliah.
Maafkan aku, Bob. Perasaanku bukan untukmu, walaupun pria lain yang aku suka, aku belum tentu bisa bersamanya. batin Aida.
Tak ada maksud Aida untuk membuat seseorang patah hati dan sampai sakit karenanya. Aida larut dalam pikirannya sendiri sampai tanpa sadar dia melewatkan untuk turun dari angkutan kota.
" Hahhh! untung gak ke lewat jauh." Aida sudah turun dari angkutan kota pertamanya dan melanjutkan naik angkutan kota yang kedua untuk sampai ke rumahnya.
Kali ini Aida tak mau lagi kehilangan fokusnya dia terus memperhatikan jalan dari dalam mobil angkutan kota supaya rumahnya tak terlewat.
Sesampainya di rumah Aida langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Kakek dan Neneknya yang belum ulang dari pasar. Aida mengistirahatkan diri dan pikirannya setela bersih-bersih dan berganti pakaian santai di rumah.
Aida mengirimkan pesan chat whatsApp pada Bobi berharap temannya itu mau membaca dan membalasnya untuk mengurangi rasa bersalah yang dririnya rasakan.
__ADS_1
" Hoammm...." Merasa mengantuk Aida pun memilih tidur siang untuk melepas lelah sepulang kuliah.