
Sudah pukul delapan malam Aida tak juga ada kabar, Jay terus mencoba menghubungi ponsel Aida yang tak aktif sejak terakhir kali panggilan darinya tersambung tapi tak terjawab.
" Kenapa Aida tak bisa dihubungi, apa dia gak jadi datang." Jay yang cemas bermonolog.
Jay sudah menyiapkan makan malam romantis untuk untuk dirinya dan Aida, berharap akan jadi moment indah kebersamaan mereka yang akan selalu dikenang.
.
.
.
Aida yang berhasil lepas dari kungkungan Ben menekuk tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun di dekat sandaran ranjang.
" Anda sudah melecehkanku Tuan." Isak tangis Aida tiada henti.
Ben setengah berdiri diatas ranjang melangkah dengan tumpuan lututnya untuk mendekati gadis yang terkurung dikamarnya.
" Apa yang kau bisa hanya menangis?." Gertak Ben. " Seharusnya kau berpikir dulu sebelum menolak cinta adik kesayangku." Ben meraih dagu Aida sedikit kasar.
" Maaf." Kata Aida terdengar lirih dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
" Maafmu tak berlaku padaku." Tegas Ben membuat hati Aida semakin sakit.
Ben mengulangi lagi perbuatannya mencium paksa bibir ranum Aida dengan menahan tengkuknya.
" Mmmph~." Aida memukul dada bidang Ben yang masih tertutup jubah mandi. Ben sama sekali tak bergeming seolah tak merasakan apa yang Aida lakukan padanya.
Aida sama sekali tak membalas ciuman Ben, tak tinggal diam Ben lantas menggigit bibir bawah gadis yang berada di atas ranjangnya. Begitu bibir Aida terbuka Ben dengan mudah memperdalam ciuman yang semakin menuntut lebih.
Ben menarik kasar kaki jenjang Aida agar tubuh gadis yang polos tanpa sehelai benang pun terbaring di atas ranjang, walau sudah berusaha keras kekuatan Aida tak sebanding dengan Ben yang kembali mengukungnya.
Aida yang tak berdaya hanya bisa menangisi dirinya dan memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya nanti, apa yang nanti harus dia katakan pada keluarganya jika sampai mereka tahu apa yang telah terjadi padanya.
Maafkan Aida Kek, maafkan Aida Nek, maafkan aku yang tak datang Kak Jay. batin Aida
Pada akhirnya pertahan Aida runtuh karena Ben tak berhenti menyentuhnya bahkan tangan pria itu tengah asik memainkan salah satu gundukkan kenyal membuat suara desahnya Aida lolos tak tertahan.
Tak sampai disana Ben yang dalam pengaruh minuman beralkohol akhirnya telah merenggut kesucian Aida hingga gadis itu merasakan tubuhnya seakan terbelah dua. Aida telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, kehormatan yang selama ini dia jaga harus ternoda seseorang yang ama sekali tak dikenalnya, yang dia tahu pria itu hanya kakak dari teman laki-laki yang ditolak cintanya oleh dirinya beberapa hari yang lalu.
" Akhhh~ sakit." Aida merintih mencengkram kuat punggung Ben merasakan sakit bercampur perih dia area intimnya.
Ben mendiamkan miliknya yang sudah bersarang sebelum memulai permainan panasnya bersama Aida yang tak berdaya. Senyum kemenangan di raut wajah Ben tak bisa disembunyikan, entahlah kenapa dia sampai tega menyetubuhi gadis yang hanya dia ketahui indentiasnya tanpa mengenalnya secara langsung.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Ben mulai mengerakkan tubuhnya naik turun memperdalam miliknya dibawah sana sampai masuk dengan sempurna.
Aida terus menangis meratapi nasib malang yang menimpanya, dia telah mengecewakan kedua orang yang disayanginya, belum lagi tak jadi bertemu Jay dan juga menemani Renadirumahnya karena dia tak bisa lari dari jeratan Ben.
" Akhhh~." Ben melenguh merasakan miliknya dibawah sana masuk sempurna.
" Aaa... Ahh~." Dalam mata terpejam Aida yang masih menangis, melenguh terus mengeluarkan suara desahnya membuat Ben semakin terpacu menyetubuhi gadis dibawah kuasanya.
Ben mencium bibir ranum Aida lagi kemudian turun ke leher jenjangnya sampai menyentuh pucuk gundukkan kenyal, dengan lembut Ben menyesapnya bergantian sampai meninggalkan jejak tanda kepemilikan. Aida hanya bisa terus menerus mengeluarkan suara desahnya yang tak tertahan.
Sadar atau tidak Ben yang sudah diselimuti kabut gairah menatap wajah gadis dibawahnya dengan penuh cinta, entahlah sejak kapan dirinya seolah memiliki perasaan pada Aida, pengaruh minuman beralkohol telah membuatnya lepas kendali.
Tengah malam Ben baru saja menuntaskan permainan panasnya dengan Aida yang sudah tertidur lebih dulu karena kelelahan. Ben berbaring disamping gadis yang telah menjadi milik dia seutuhnya, mengusap lembut pipi Aida yang basah untuk menghapus airmatanya kemudian Ben menarik selimutmenutupi tubuh polos mereka sebelum dirinya ikut tertidur melepas lelah.
.
.
.
Jay tidak bisa lagi menunggu kedatangan Aida di dalam restaurant karena tempatnya harus tutup. Dia duduk di Kap mobil yang masih terparkir di area restaurant. Sudah larut malam Aida masih saja tak bisa dia hubungi bahkan chat whatApps yang Jay kirim hanya centang satu, yang menandakan nomor kontak Aida tidak aktif bisa karena ponselnya mati tanpa dia tahu memang itulah yang terjadi atau karena kuota internetnya habis pikirnya.
Jay harus pulang dengan tangan hampa, semua yang telah dipersiapkannya tak ada arti karena gadis pujaannya tak datang tanpa ada kabar. Tadinya Jay ingin berpamitan pada Aida secara langung dengan mengajaknya makan malam sebelum besok dia harus berangkat ke Amerika.
" Semoga tak terjadi sesuatu padamu, Ai." Harap Jay yang gelisah.
Jay masuk ke dalam kamar tidur melepaskan jas yang dikenakannya dan menaruh ponsel diatas meja sebelum pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri Jay menuju ke ruang ganti pakaian untuk mengenakan baju tidur.
Keluar dari ruang ganti pakaian Jay mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi kembali Aida untuk kesekian kalinya, masih tetap tak bisa dihubungi. Jay duduk di kursi menopang kepala dengan tangannya yang teraa pening. Ada kekhaatiran yang menyelimuti dirinya. Seolah dia bisa meraakan seuatu telah terjadi pada gadis pujaannya.
Beranjak dari kursi Jay mematikan lampu kamar dengan mengantinya dengan lampu tidur sebelum berbaring diatas ranjang dan beristirahat berharap besok dirinya akan mendapatkan kabar dari Aida.
,
,
.
Pukul lima dini hari Ben mengerjapkan matanya, dia terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Pria yang masih berbaring itu bangkit dan duduk menempelkan punggungnya kesandaran ranjang dan mengambil segela air diatas nakas lalu meminumnya. Ben belum menyadari ada seorang gadis yang tertidur memunggunginya.
Ben memijat kepalanya pelan, Kepalaku pusing sekali." Melirik ke samping kiri dia melihat ada seorang tidur dengan punggung yang polos putih bersih tdalam posisi miring membelakanginya diatas ranjang, kemudian Ben memeriksa dirinya sendiri di balik selimut yang ternyata sama, polos tanpa sehelai benang pun.
" Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidur dengan seorang wanita." Ben seolah melupakan perbuatannya semalam pada Aida. Mengulurkan tangan Ben mencoba menyetuh Aida dengan jari telunjuk untuk memastikan dirinya bukan sedang berhalusinasi.
__ADS_1
" Dia nyata." Gumam Ben.
Rencana Ben yang sebenarnya bukanlah untuk menjerat Aida ke atas ranjangnya. Ben hanya bermaksud memberi penilaian buruk untuk pekerjaan gadis penyedia jasa titip order itu seolah Aida telah berani mengoda pelanggannya dan nanti Ben akan meminta Aida untuk menandatangi kontrak perjanjian menjadi pelayannya selama satu bulan sebagai syarat tetap menjaga nama baik dan kelangsungan pekerjaan Aida.
" Harusnya aku tidak minum." Ben sadar dirinya telah kehilangan kendali karena meminum wine.
Karena Ben belum pernah berhadapan langsung dengan seorang wanita, terpaksa meminum wine untuk membangkitkan rasa percaya dirinya. Tuan Muda tampan yang dikenal dingin, tegas dan memiliki rasa percaya diri tinggi tetaplah bukan manusia sempurna.
Ben terus menatap punggung polos Aida, tangannya tergerak untuk menyentuh dan mengelusnya.
" Cup." Ben mengecup singkat bahu Aida.
Tak sampai disitu Ben meneruskan aksinya mengecup berulang kali setiap inci punggung Aida karena dia kembali bergairah dan tak bisa menahan dirinya.
Aida terusik, " Miko! biarkan aku tidur." Masih memejamkan matanya.
Dia mengira aku anjing peliharaannya. batin Ben sedikit kesal.
Bukannya berhenti Ben kembali mengusik Aida yang tertidur dengan mengucup seluruh bagian punggungnya. Tangan Ben juga tak tinggal diam meraih gundukkan kenyal bagian favoritenya.
" Miko! Apa yang...." Aida berbalik badan untuk meminta yang dia kira hewan peliharaannya berhenti menganggu.
Mata Aida terbuka lebar, " Tuan...."
" Aku menginginkanmu." Ben kembali mengukung tubuh Aida.
" Jangan." lirih Aida memohon.
Kesadaran Aida belum terkumpul sepenuhnya sehingga perlawanan dia yang tak seberapa membuatnya kembali tak berdaya dibawah kungkungan Ben yang telah berhasil menyatukan miliknya dan Aida dibawahnya
" Lepaskan aku." Aida memukul-mukul dada bidang pria diatasnya, tapi Ben sama sekali tak terpengaruh.
" Aku menginginkanmu, Aida." Kata Ben berulang kali di telinga gadis yang sedang digagahinya untuk kesekian kali.
Suara tangis dan desahnya Aida bercampur jadi satu, " Ahh~ Eunghh... Tuan." Aida mencengkram punggung Ben merasakan dengan mata terpejam ada yang bersarang pada miliknya dibawah sana.
Ben menelusupkan kepalanya di lekukan leher Aida yang terasa nyaman, sampai meninggalkan jejak baru tanda kepemilikkan, bibirnya turun menyentuh pucuk gundukkan kenyal lagi memutarkan lidah lalu menyesapnya dengan lembut secara bergantian dan kembali memberikan tanda kepemilikkan.
.
Sampai mata hari terbit Ben belum juga menghentikan permainan panasnya. Dia hanyut terbuai kenikmatan surga dunia yang didapatnya tanpa ada ikatan cinta bahkan ikatan suci pernikahan.
Ben menggerang dengan napasnya yang naik turun; " Hah hah hah...." Dia telah sampai pada puncak pelepasan untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Melihat gadis yang disetubuhinya sudah tak berdaya Ben mengecup kening Aida mengakhiri permainan panasnya, walaupun jujur saja dia masih mengingankannya lagi.
Aida yang terkulai lemas kembali tertidur, disusul Ben yang berbaring disampingnya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Aida yang tanpa busana.