
Waktu menunjukkan pukul setengah 5 dini hari. Aida bersama Nenek dan Kakeknya sudah bersiap untuk pergi ke pasar, karena ini hari sabtu dan tak ada jadwal kuliah Aida memilih membantu berdagang mengisi waktu luang selagi tak ada pesan untuk orderan jasa titip masuk ke ponselnya.
" Hari Aida mau bantu dagang di pasar." Ucap Aida tersenyum.
" Jangan lupa siapin makanan buat Miko dulu." Ucap Nenek Miranti.
Miko nama ras anjing malamut alaska berkelamin jantan, peliharaan Aida yang diberikan Nenek dan Kakeknya saat dia berulang tahun ke tujuh belas, tiga tahun yang lalu.
" Udah, Nek." Jawab Aida.
" Besok kamu ajak Miko jalan-jalan udah lama gak dibawa keluar." Ujar Kakek Rianto
" Siap! Komandan." Aida memberi hormat seperti biasanya.
" Kita berangkat sekarang." Nenek mengajak semuanya pergi ke pasar karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Mereka keluar dari rumah, tak lupa Nenek Miranti mengunci pintu dan memastikan sudah terkunci dengan benar.
Ketiganya pergi ke pasar dengan naik mobil sedan yang dikemudikan sang kakek, mobil itu jadi satu-satunya kendaraan yang mereka miliki.
Setibanya di pasar, toko klontong milik keluarga Aida sudah dibuka lebih dulu oleh dua orang pekerja.
" Pagi, Bah, Ambu, Neng Ai." Sapa Kang Ujang menunduk hormat diikuti oleh Pak Agus yang melakukan hal sama.
(Abah dan Ambu panggilan untuk Bapak dan Ibu dalam bahasa sunda.)
" Pagi." Jawab Kakek Rianto. Nenek dan Aida hanya tersenyum.
" Semangat!!! Kang Ujang, Pak Agus." Aida menghidupkan suanasa di dalam toko.
" Harus Neng, semangat!!!." Jawab Kang Ujang mengangkat satu tangannya keatas.
(Neng atau éneng panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa sunda)
Semua kembali bekerja sesuai posisi masing-masing kecuali Aida, Kakek Rianto mengecek pembukuan barang toko, Nenek Miranti duduk di kurai belakang meja kasir ditemani cucu perempuannya sedangkan Pak Agus dan Kang Ujang menata barang dagangan yang belum lama datang dikirim distributor.
" Nek! ini kan hari sabtu pasar pasti lebih ramai dari biasanya." Aida membuka pembicaraan.
" Setiap hari juga ramai, Ai." Jelas Nenek.
" Kenapa kita gak buka cabang?." Tanya Aida.
" Kamu mau mengurusnya?." Kakek Rianto balik bertanya.
" Mau, Kek." Jawab Aida bersemangat.
" Kuliahmu gimana?." Tanya Nenek Miranti.
" Nunggu lulus kuliah." Jawab Aida terkekeh.
" Cita-citamu?." Tanya Kakek Rianto.
" Berawal dari usaha toko klontong kan bisa, Kek. Siapa tahu di masa depan Aida bisa jadi pengusaha sukses yang membuka supermarket di seluruh kota." Aida penuh keyakinan.
" Ambisi Cucu dan Kakeknya sama saja kalau urusan bisnis berbisnis, pantang mundur." Ucap Nenek Miranti terkekeh.
" Aku juga kan cucu Nenek." Aida memeluk manja Nenek yang mengelus rambutnya.
__ADS_1
" Ai! bantu Kakek hitung stok barang." Pinta Kakek Rianto pada cucunya.
" Siap! Ndan." Aida berdiri tegap tanpa memberi hormat.
Semua orang yang ada di dalam toko melihat tingkah Aida selalu dibuat geleng-geleng kepala.
.
...ΩΩΩ...
.
Ben berada di ruang kerja rumahnya dengan suasana hati yang buruk, waktu sarapan pagi dirinya tak bertemu Bobi yang mengurung diri di kamar mengunci pintu dari dalam. Sebagai kakak, ini pertama kalinya Ben tak mengerti dengan sikap Bobi, apa adik sepupunya itu sedang menghidari dia atau masih terpukul karena patah hati sampai tak ingin ditemui siapapun.
" Bobi sampai berbuat diluar batas hanya karena di tolak cintanya, aku ingin tahu seperti apa gadis yang menolak adikku." Ben dengan wajah geram.
" Tuan Muda, boleh saya masuk?." Jay disusul ketukan pintu sebanyak tiga kali.
" Masuklah." Jawab Ben singkat.
Jay sebisa mungkin menunjukkan dirinya baik-baik saja, walau pun yang sebenarnya dia kurang beristirahat karena tak bisa tidur semalam.
" Ini informasi yang Anda minta." Ucap Jay menyerahkan amplop coklat besar berisi berkas.
" Kau tak pernah mengecewakanku." Ucap Ben.
" Sudah tugasku melayani dan memenuhi permintaan dari Tuan Muda." Entah kenapa muncul rasa takut dalam hati Jay memberikan berkas yang berisi informasi tentang Aida.
Ben mengeluarkan berkas yang dimintanya dari dalam amplop, selebar foto terjatuh ke lantai dan Ben mengambilnya.
Ben meletakan foto itu diatas meja dan mulai membaca berkasnya.
" Aida Reinara, jadi dia orangnya?." Tanya Ben.
" Benar, Tuan Muda." Jawab Ben tegas.
Berkas berisi informasi lengkap tentang Aida dibaca dengan teliti oleh Ben, dia tak melewatkan sedikit pun termasuk data nomor ponsel dan pekerjaan sampingan Aida.
" Menarik." Ucap Ben dengan senyum yang sulit diartikan.
" Apa yang akan Tuan Muda lakukan padanya?." Tanya Jay mencari tahu.
" Sejak kapan kau berani bertanya begitu?." Ben balik bertanya.
" Maaf! Tuan Muda, saya sudah lancang." Jay mengalah.
" Itu pertama dan terakhir kalinya, jangan lagi bertanya tindakkan yang ingin aku lakukan pada apa atau siapapun." Ben bernada dingin.
" Baik, Tuan Muda." Jay menyesal.
" Kau bisa pergi sekarang, besok temani aku olahraga pagi ke Car Free Day di pusat kota.
" Siap, Tuan Muda. Saya permisi." Jay pamit dari ruang kerja Ben.
" Hmmm...." Seru Ben.
Jay keluar dari ruang kerja Tuan Mudanya dengan perasaan galau, dia tak tahu apa yang akan dilakulan CEO Askara Grup itu pada Aida dan dia juga tak tahu harus berbuat apa untuk melindungi gadis pujaannya jika sampai Ben berbuat sesuatu yang mungkin bisa menyakiti Aida. Jay sangat tidak rela jika harus melihat Aida tersakiti hanya karena menolak cinta karena itu bukan kesalahan dia sepenuhnya.
__ADS_1
.
" Kamu akan menyesal karena membuat adikku patah hati." Ben menyeringai menatap selembar foto Aida, di dalam pikirannya sudah ada rencana yang akan dia mainkan sendiri tanpa melibatkan Jay atau siapapun.
Ben mencatat nomor kontak Aida di ponselnya lalu memasukkan kembali berkas informasi gadis itu ke dalam amplop dan menyimpannya di laci meja juga dengan fotonya.
.
...ΩΩΩ...
.
Jay mengendarai mobilmya memecah jalan raya ibukota pagi itu, di harus pergi ke perusahaan Askara Grup karena hari liburnya hanya dijadwalkan pada hari minggu.
" Apa Tuan Muda berniat membalas sakit hati adiknya sendirian tanpa melibatkanku atau dia akan menyuruh orang lain yang melakukannya." Jay bermonolog, kali ini dia tak bisa menebak dengan pasti apa yang ada dipikiran Ben.
.
.......
.
Aida tengah sibuk membantu melayani pembeli di toko klontong keluarganya karena sangat ramai. Orang-orang hilir mudik bergantian masuk untuk berbelanja.
" Cucunya Abah, cantik juga." Ucap seorang ibu yang sedang berbelanja.
" Udah cantik, rajin lagi mau bantu-bantu di toko. Timpal Ibu lainnya.
" Makasih, Ibu-ibu." Jawab Aida tersenyum mendapat pujian dari para pembeli.
" Aida lagi libur kuliah jadi ikut bantu-bantu disini." Jelas Nenek Miranti menjawab tanya yang tak tak terucap dari pembeli di tokonya.
" Nek! Aida ke lantai dua dulu ya, ada telepon." Aida izin.
" Iya Ai, sudah sana terima dulu." Nenek Miranti mengizinkan.
Aida segera pergi sambil tersenyum pada pembeli yang berpapasan dengannya. Aida menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai dua, ara ruangan yang bisa digunakan untuk beristirahat disana.
" Hallo! Kak." Sapa Aida menerima panggilan masuk dari Jay.
" Kamu lagi apa, Ai?." Tanya Jay.
" Aida lagi di pasar bantu Nenek sama Kakek dagang di toko, Kak."
" Kamu gak kuliah?." Tanya Jay lagi.
" Ini hari sabtu Kak, aku gak ada jadwal kuliah. Emh! Kakak telepon ada apa?."
" Ai, kamu bisa berjanji padaku? jangan sembunyikan apapun." Jay serius, " Maaf gak seharusnya aku bicara begitu." Lanjutnya, entahlah Jay sendiri dilanda kebinggungan harus mengatakan apa.
" Aku gak bisa janji, tapi aku akan coba untuk gak sembunyikan apapun dari Kakak." Aida menyetujui permintaan teman prianya.
" Terima kasih, jaga dirimu. Kakak harus lanjut bekerja." Jay ingin mengakhiri panggilan.
" Sama-sama, selamat berkerja Kak." Aida mengakhiri panggilan.
Aida masih bertanya-tanya atas pertanyaan Jay yang terdengar seperti orang yang perasaannya sedang resah. Aida memasukkan ponselnya ke saku celan dan menuruni anak tangga untuk kembali ke toko.
__ADS_1