Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 31


__ADS_3

Dokter Sean bersama dua orang suster keluar dari ruang rawat inap setelah selesai memastikan alat medis terpasang dengan benar. Aida dan Nura yang baru saja kemñn ñbali dari taman menghampiri sang dokter.


" Dokter! Boleh saya masuk?." Tanya Aida.


" Tunggu satu jam lagi, baru kalian berdua boleh masuk." Jawab Dokter Sean.


" Baik! Terima kasih, Dokter." Ucap Aida


" Kalau begitu Saya permisi dulu." Dokter Sean menunduk sopan, dia undur diri di ikuti kedua susternya.


Aida bisa bernapas lega karena nenek dan kakeknya tidak sampai kritis akibat serangan jantung. Aida tidak akan siap jika harus kehilangan lagi keluarganya, tapi ada yang menganjal di hatinya, apa yang harus dirinya katakan jika kedua orang yang sangat dia sayang sudah sadar nanti.


" Ra! Kamu gak apa-apa menemani aku disini.?" Tanya Aida.


" Aku sudah izin dengan orangtuaku, kamu tenang saja." Jawab Nura.


" Makasih! Kamu terus bersamaku." Ucap Aida.


" Kita makan di kantin rumah sakit dulu, yuk?." Ajak Nura.


" Aku gak lapar, kamu saja." Jawab Aida.


" Aku tahu kamu gak selera, tapi kamu harus makan demi kakek dan nenekmu. Kalau kamu sakit siapa yang jaga mereka." Jelas Nura. Aida terdiam berpikir sejenak, mendengar yang Nura katakan.


" Kamu benar, kita makan sekarang." Ucap Aida.


Nura senang bisa membujuk Aida untuk makan dan memastikan sahabatnya makan dengan benar. Dia tidak akan membiarkan Aida yang dalam kesulitan sendirian.


.


.


.


Keadaan pasar sudah sepi tidak ada lagi aksi demo yang di lakukan pedagang dan pembeli karena mereka sudah membubarkan diri dan teansaksi jual beli juga sudah tidak ada karena toko dan tenda para pedagang sudah mulai tutup.


Kang Ujang di bantu Pak Asep dan anaknya sedang mengemas semua barang di toko klontong yang harus di kosongkan secepatnya.


" Pak! Kalau keluarga Abah pindah nasib kita gimana? Tanya Kang Ujang.


" Kita harus cari kerjaan baru atau kamu bisa ikut pulang kampung. Abah pasti buka lagi toko klontong di pasar sana." Jawab Pak Agus.


" Nanti Saya tanya dulu, kalau benar Saya ikut pulang kampung. Kalau Pak Agus sendiri?." Tanya Ujang balik.


" Mana bisa pulang kampung, anak-anak sekolahnya disini. Repot urusnya kalau harus pindah, nanti Saya cari kerja saja di tempat lain." Jawab Pak Agus.


" Iwan sudah senang Bapak kerja sama Abah Rian, orangnya baik banget, nek Miranti juga. Apalagi Teh Aida, mereka semua orang baik." Ujar Iwan anak dari Pak Agu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


" Mau bagaimana lagi, Wan. Kalau sudah ketemu dengan orang yang tidak suka sama kita dan punya niat jahat. Orang itu sudah hilang akal sehatnya jadi bisa berbuat apa saja." Jelas Pak Agus.


" Gara-gara dia kita semua jadi ikut susah ya, Pak. Suatu hari nanti kalau Iwan tahu siapa orangnya, akan aku balas perbuatan orang itu." Iwan emosi.


" Jangan! kita tidak boleh jadi pendendam. Anggap saja semua ini cobaan, kita lagi di uji sama Tuhan." Pak Agus mengingatkan putranya.


" Benar itu, Wan. Buat apa kita dendam sama orang, gak ada gunanya. Biar Tuhan yang balas dengan cara-Nya." Timpal Kang Ujang.


" Sudah kita kerja lagi, nanti gak selesai kalau ngobrol terus." Ujar Pak Agus.


Mereka bertiga kembali bekerja tanpa saling bicara, memastikan semua barang siap untuk di pindahkan termasuk barang dagangan dalam kardus dan container box.


.

__ADS_1


.


.


Aida dan Nura sudah bisa menjengkuk kakek Rianto dan Nenek Miranti di ruang rawat inap. Tidak ada lagi isak tangis dari Aida, dia merasa air matanya sudah kering habis tak tersisa.


Aida duduk diantara kedua orang yang sedang terbaring mengingatkan dia pada kejadian belasan tahun lalu saat masih berusia lima tahun. Ketika kedua orangtuanya tak tertolong meski sudah ditangani oleh dokter.


" Maaf!." Hanya itu kata yang bisa Aida ucapkan saat ini.


" Ai! Aku pulang dulu ya? nanti aku kembali lagi." Nura harus pamit karena hari sudah semakin sore.


" Iya! Kamu hati-hati di jalan. Kalu kamu lelah kesini besok saja. Aku gak apa-apa." Ucap Aida.


" Ya sudah! Nanti aku kasih kabar kalau mau datang kesini." Ucap Nura lalu berpamitan dengan sahabatnya.


Nura tetap akan kembali datang ke rumah sakit nanti malam karena dia harus tetap memastikan kondisi sahabatnya.


.


Aida tertidur menunggu kakek dan neneknya yang belum sadarkan diri. Dokter Sean yang masuk ke ruang rawat inap untuk kembali memeriksa kedua pasien tidak tega untuk membangunkannya.


" Dok! Apa perlu saya membangunkannya?." Tanya Suster Dewi.


" Biarkan saja, dia pasti kelelahan. Kita tetap periksa saja pasiennya." Jawab Dokter Sean.


" Baik, Dok!." Kata Suster Dewi.


Sampai pemeriksaan selesai Aida masih tertidur. Dokter Sean minta suster Dewi untuk keluar dari ruang rawat inap lebih dulu.


Apa ini hanya perasaanku saja, dia mirip dengan sosok gadis yang pernah Jay ceritakan padaku. batin Sean


Dokter Sean keluar dari ruangan masih bertanya-tanya, apa dia harus memberitahu Jay. Tapi jika dia salah orang bagaimana, begitu pikirnya.


.


.


.


Masih berada di ruang kerjanya Ben menghubungi seseorang sebelum pulang dari Askara Grup.


" Katakan ada informasi apa?." Tanya Ben.


" Tuan Muda! Semua sudah berjalan sesuai rencana Anda. Tapi ada yang di luar dugaan, kedua orang keluarga gadis itu masuk rumah sakit karena serangan jantung." Jawab Orang suruhan Ben.


Deg!


" Tugasmu sudah selasai. Kau akan terima bayarannya." Ben mengakhiri sepihak panggilannya.


Rencana Ben untuk menghacurkan hidup Aida sudah terlaksana tapi ada yang membuat hatinya sesak mendengar keluarga gadis itu masuk rumah sakit.


" Aku ingin hidup Aida hancur, tapi bukan untuk mengakhiri hidup siapapun." Gumam Ben.


Masa depan dan kehidupan Aida sudah hancur di tangannya. Dua orang menjadi korban dari kekejaman Ben yang merencanakan untuk mempermalukan Aida.


" Tuan Muda! Boleh Saya masuk?." Panggil Sekretaris Yun di susul.ketukan pintu.


" Masuk!." Jawab Ben.


" Tuan Muda! Supir dan mobil Anda sudah siap." Ucap Sekretaris Yun.

__ADS_1


" Kamu rapihkan meja ini sebelum pulang." Perintah Ben sebelum keluar dari ruangannya.


" Baik, Tuan Muda." Ucap Sekretaris Yun.


Ben yang selalu menata mejanya kali ini tidak dia lakukan membuat Yun kembali heran padanya.


Tuan Muda hari ini berubah-ubah, aku sama sekali tidak.memgerti ada apa dengannya. batin Yun


Yun merapihkan meja Tuan Mudanya sebelum keluar dari ruangan. Dia memang tidak bisa membatah atau menolak karena pekerjaan dia yang jadi taruhannya.


.


.


.


Nura kembali ke rumah sakit membawakan Aida makan malam yang di masak oleh pelayannya di rumah. Aida yang masih tidur dengan hati-hati Nura membangunkannya.


" Ai! Bangun." Kata Nura.


Aida mengeliatkan tubuhnya membuka mata perlahan, " Ra! Kamu sudah datang." Dengan suara serak.


" Tadi aku telepon kamu tapi gak ada jawaban, jadi aku langsung kesini saja sekalian bawa makan malam untukmu." Ujar Nura.


" Sebentar ya, aku cuci muka dulu." Ucap Aida pergi ke kamar mandi.


" Ok! Aku siapkan makanannya." Ucap Nura.


Aida keluar dari kamar mandi wajahnya terlihat lebih segar meski dengan mata yang sembab.


" Kamu sudah makan, Ra?." Tanya Aida.


" Belum, kita makan sekarang." Nura sengaja belum makan malam untuk menemani Aida makan bersama.


" Iya." Aida mengangguk.


Mereka menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja sampai isi piring keduanya tandas tak tersisa.


" Ai! Kamu yakin untuk pindah?. Tanya Nura.


" Aku yakin, ibukota bukan lagi tempat tinggal yang cocok untuk keluargaku." Jelas Aida.


" Nenek dan kakekmu bagaimana?." Tanya Nura lagi.


" Aku akan bicara sama mereka setelah kondisinya semakin membaik." Jawab Aida.


" Jujur aku gak rela kamu tinggal pergi. Tapi kamu berhak melanjutkan hidupmu di tempat lain." Ujar Nura.


" Kamu tenang saja, aku gak akan menghilang darimu. Kita masih bisa berkomunikasi lewat ponsel." Jelas Aida.


" Apa aku boleh datang ke kota tempat tinggalmu yang baru?. Tanya Nura penuh harap.


" Tentu saja boleh dan kamu harus janji jangan beritahu dimana aku tinggal pada siapapun." Jawab Aida.


" Aku janji akan merahasiakannya." Kata Nura.


Sampai pukul sepuluh malam Aida dan Nura mengakhiri obrolan mereka. Nura harus pulang karena besok dia masih ada kuliah pagi. Aida mengantar Nura sampai ke lobby rumah sakit.


" Kamu hati-hati di jalan." Ucap Aida.


" Iya Ai, besok aku kesini lagi pulang kuliah." Ucap Nura.

__ADS_1


Aida kembali masuk ke dalam rumah sakit setelah Nura pergi naik mobilnya.


__ADS_2