Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 43


__ADS_3

Ben di ikuti Jay keluar dari ruangan meeting. Ben tidak mengatakan sepatah kata pun, dia hanya mengembangkan senyum membuat semua pegawai yang berpapasan dengannya bertanya-tanya, apa apa dengan presdir mereka. Apalagi saat meeting berlangsung aura dingin dari Ben sama sekali tidak dirasakan oleh mereka yang hadir.


" Jay, kau tidak perlu mengatakan aku pulang. Ambilkan jam tangan milikku yang tertinggal di apartement, antarkan ke rumah.


" Baik, Tuan muda."


" Kembalilah ke ruanganmu."


Ben masuk ke ruang kerjanya seorang diri, Jay berbalik badan menuju ruang kerjanya sendiri.


Kapan tuan muda pulang ke apartement, sepengetahuan ku sudah lama sekali Ben tidak pernah kesana.


Jay merasa menemukan sesuatu yang janggal karena Ben tidak akan pernah datang ke apartement tanpa mengajaknya.


" Apa yang aku pikirkan." gumamnya, dia tidak seharusnya berpikiran macam-macam.


.


Ben kembali membuka selembar kertas yang berisikan alamat tempat tinggal Aida yang baru.


" Aku akan segera datang menemuimu Aida, tunggu aku."


Satu lagi Ben mengeluarkan selembar foto dari laci meja kerjanya.


" Aku baru menyadarinya kamu sangat cantik."


Ben memeluk foto Aida itu menempelkannya di dada, hati pria itu terasa hangat sekarang.


" Tuan muda." panggil Yun di susul ketukan pintu.


" Masuk."


Yun masuk setelah mendapatkan izin dari tuan mudanya.


" Semua yang Tuan muda perintahkan sudah saya laksanakan."


" Aku terima laporanmu, harusnya kau tidak kembali ke perusahaan tapi aku perlu bicara denganmu."


" Tidak masalah tuan muda, saya selalu siap untukmu."


" Duduklah." Yun mengangguk.


Ben berpindah tempat duduk dari kursi kebesarannya ke sofa, duduk berhadapan dengan Yun disana.


" Kau ingat gadis itu, aku menemukannya Yun."


Ben menahan air mata agar tidak jatuh dengan menengadahkan kepalanya ke atas.


Tuan muda bersedih, apa karena dia sangat merindukan gadis itu? Ada masalah apa di antara mereka? Aku sama sekali tidak mengerti apapun.


" Saya ingat tuan muda."


" Kau temani aku bertemu dengannya dalam waktu dekat."


Apa aku tidak salah dengar, bukankah harusnya Jay yang ada di posisi itu.


" Baik, tuan muda."


" Kau ingin tahu alasan ku tidak melibatkan Jay?."


" Maaf, tuan muda. Saya... ."


Yun tidak tahu harus melanjutkan dengan kata apa.


" Apa kau tahu sesuatu tentang Jay dan gadisku?."

__ADS_1


" Tidak banyak yang aku tahu Ben, menurut ku dokter Sean jauh lebih tahu. Kau ingat di perayaan waktu itu... ."


Yun membocorkan satu hal yang semakin membuat Ben menaruh curiga dengan Jay. Yun tidak meneruskan lagi ucapannya, dia sudah salah karena terlanjur bicara.


" Maaf, saya lancang Tuan muda."


" Kau ikut aku bertemu dengannya." Ben berdiri dari duduknya.


" Baik, tuan muda."


Yun mengikuti langkah Ben dari belakang, dia merutuki kebodohan dirinya sendiri.


Jika nanti Jay tahu dari Sean, aku sudah membocorkan informasi tentang dia dan gadis itu, habislah aku. Kau bodoh Yun, bodoh.


.


Jay di dalam ruang kerjanya hanya fokus bekerja, tidak memikirkan apapun sampai dirinya tidak tahu jika Ben sudah pergi dari perusahaan tanpa sepengetahuannya.


Sampai sebuah pesan masuk mengejutkannya. Pesan itu dari Sean yang memberitahu Jay jika tuan muda datang bersama Yun ke rumah sakit hanya untuk bertemu dengan dirinya.


" Tuan muda pergi, bagaimana bisa aku tidak tahu."


Jay merasa Ben seperti sedang bermain kucing-kucingan dengannya. Hari ini Jay merasa dirinya bukanlah asisten pribadi seorang presdir. Tidak ada perintah yang berhubungan dengan pekerjaan yang diberikan pada Jay, Ben hanya menyuruhnya datang ke apartement untuk mengambilkan sebuah jam tangan.


" Apa aku membuat kesalahan, sampai tuan muda... ." Jay menggelengkan kepalanya. Tidak seharusnya Jay berprasangka buruk dengan tuan muda.


.


Jay bersiap untuk pulang kerja, tapi tentu saja perjalanan dia untuk sampai ke rumahnya sendiri masih panjang. Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra tapi sayangnya Jay bukan ninja hatori.


Mobil yang biasa dikemudikan oleh Jay sudah siap di depan lobby perusahaan.


" Asisten Jay." seorang supir menunduk sopan menyerahkan kunci mobil.


" Terima kasih."


Jay mengemudikan mobilnya keluar dari halaman perusahaan Askara Grup menuju apartement mewah milik Ben di pusat kota.


" Aku baru ingat, tuan muda tidak memakai jam tangan favoritenya. Apa mungkin yang ambil jam itu."


Tidak butuh waktu lama mobil Jay sampai di area apartement masuk ke dalam basement.


Jay turun dari mobil merapikan sedikit penampilannya, dia melangkah menuju lift untuk sampai ke lobby apartement sebelum berpindah ke lift khusus untuk sampai ke lantai tertinggi dimana unit 999 berada.


" Selamat datang, asisten Jay." Sapa kepala pengelola apartement dan yang lain hanya menunduk sopan menyambut kedatangannya.


" Saya harus ke unit milik tuan muda."


" Mari asisten Jay." Kepala pengelola apartement mengantarkan sampai di depan pintu lift khusus.


Salah satu petugas keamanan yang berjaga menekan tombol pintu lift agar terbuka.


" Silahkan, asisten Jay."


" Terima kasih."


Jay menekan tombol menutup pintu lift, sesampai di lantai tertinggi Jay segera menuju pintu masuk unit. Selain Ben hanya Jay yang tahu kata sandi untuk masuk ke dalam ruangan apartement.


Jay baru ingat kalau dia lupa menanyakan dimana tuan muda menyimpan jam tangannya di kamar atau ruang kerja pribadi. Jay yang tidak ingin mengganggu Ben memilih memeriksa sendiri mulai dari ruang kerja.


Dari mulai meja kerja, laci sampai lemari Jay sama sekali tidak menemukan jam tangan yang di carinya. Hanya ada satu ruangan yang belum dia periksa.


" Mungkin di kamar pribadi Tuan muda."


Jay keluar dari ruang kerja Ben beralih naik ke anak tangga menuju kamar tidur.

__ADS_1


Ruangan kamar tidur Ben sangat rapih, tentu saja semua itu karena selalu ada pelayan khusus dari rumah utama yang datang untuk membersihkan apartement.


Jay mencari lagi jam tangan milik Ben mulai dari atas nakas di sebelah kiri dan kanan, lacinya juga tidak luput dia periksa.


" Disini juga tidak ada, dimana lagi aku harus mencarinya."


Ada yang terlewatkan oleh Jay dia belum memeriksa laci meja yang ada di bawah televisi.


Entah mengapa Jay tiba-tiba ragu membuka laci meja itu, tapi mau bagaimana lagi dia harus menemukan jam tangan yang dicarinya, dengan hati-hati Jay menarik pegangan laci.


Deg!


Deg!


Deg!


Jay menemukan jam tangan milik Ben. Namun, jantung Jay berdetak tidak karuan bukan karena itu. Ada benda lain di dalam laci yang dia temukan dan sangat mengejutkan dirinya.


" Kalung ini." Jay mengambil kedua benda itu dan memundurkan langkahnya, dia terduduk di lantai dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Masih ingat sebuah kalung dengan liontin bunga mawar yang Jay berikan sebagai hadiah untuk Aida. Jay menemukannya bersebelahan dengan jam tangan milik Ben.


" Bagaimana bisa kalung Aida ada disini, Apa yang terjadi padanya dan Ben."


Apakah dugaan Jay selama ini benar, sesuatu sudah terjadi dengan Aida.


Tempo hari Jay mengurungkan niatnya datang ke rumah Aida membawa bucket bunga mawar. Karena dia ragu jika tiba-tiba datang tanpa memberi kabar meski Aida sulit di hubungi.


" Aku harus cari tahu." Rekaman cctv bisa memberikan jawaban pikir Jay.


Jay berdiri segera keluar dari dalam kamar pribadi Ben, menuruni anak tangga dan keluar dari unit apartement kembali menuju ke lobby.


Kepala pengelola apartement masih disana kembali menyambut Jay begitu sampai di lantai bawah.


" Saya harus ke ruangan cctv."


" Mari saya antar."


Jay yang memiliki akses sama seperti Ben tentu saja mendapatkan izin kepala pengelola apartement memeriksa rekaman cctv.


" Tinggalkan saya sendiri. Tapi, sebelum itu jawab pertanyaan saya?."


" Baik, asisten Jay." kepala Pengelola apartement itu sedikit gemetar, dia takut jika sudah membuat kesalahan yang bisa mengancam pekerjaannya.


" Kapan tuan muda datang ke apartement?."


Dengan hati-hati kepala pengelola apartement menjelaskan kapan tuan muda Ben datang dan pergi.


" Waktu itu seingat saya, ada seorang gadis yang mengantarkan pesanan makanan milik tuan muda sampai dia mendapat akses untuk bisa naik ke lift khusus."


" Apa? Baikalah, sekarang kau boleh pergi."


" Saya permisi."


Jay mulai memeriksa rekaman cctv sesuai tanggal yang di informasikan kepadanya tadi. Dengan perasaan yang berkecamuk, jujur hatinya sudah lebih dulu sakit tapi dia perlu bukti yang meyakinkan kalau benar sudah terjadi sesuatu antara Aida dan Ben di apartement.


Dari rekaman jelas terlihat Ben sudah datang dari sore dan Aida datang di malam harinya membawa sebuah paperbag mendatangi meja resepsionist. Jay melihat dengan jelas Aida bisa masuk ke dalam lift khusus naik sampai lantai teratas.


" Gadis yang di maksud sesuai dugaanku, dia Aida."


Jay sangat detail memeperhatikan isi rekaman cctv sampai dimana Aida dan Ben bertemu di depan pintu unit 999. Ben mengajak Aida yang terlihat ragu-ragu ikut masuk ke dalamnya. Jay mengeser waktu dalam rekamanan sampai satu jam berlalu tapi Aida tidak juga keluar.


" Berapa lama Aida ada di dalam sana? Kenapa dia lama sekali keluar dari unit Ben. Tunggu... " Jay bermonolog.


Bukankah di hari dan tanggal itu Jay dan Aida ada janji untuk bertemu tapi Aida tidak kunjung datang ke restaurant dan pagi di hari berikutnya mereka tidak sengaja bertemu di tepi danau tapi Aida melarikan diri dari Jay tidak mau menemuinya.

__ADS_1


" Masih ada rekaman yang belum aku periksa."


Jay memeriksa rekaman hari berikutnya, pasti dia bisa menemukan jawaban lain dan betapa mengejutkan Jay. Aida keluar dari apartement Ben di pagi itu dengan tergesa-gesa terlihat berjalan menahan sakit. Tubuh Jay seketika lemas, dia tidak sanggup lagi menatap layar monitor komputer. Seorang pria dan wanita berada dalam satu ruangan yang sama semalaman apapun bisa terjadi pikir Jay.


__ADS_2