
Ben berada di ruang kerja dalam rumah sedang melihat satu persatu foto-foto aktivitas yang dilakukan oleh Aida hasil tangkapan kamera orang suruhannya yang di kirim melaui email.
Foto Aida di antar jemput Kakek Rianto ke kampus, foto Aida sewaktu di restaurant, foto Aida di antar ke kampus oleh seorang pria. Ben mengepalkan tangan tidak terima, mengetahui Aida lagi-lagi bersama pria lain dan juga adiknya meski kali ini hanya lewat foto, hatinya terbakar api cemburu.
Namun rasa cemburunya sirna berganti amarah. Ben yang naik pitam memukul dengan keras meja kerjanya.
" Beraninya memukul adikku." Geram Ben.
Foto Bobi menerima pukulan dan jatuh tersungkur, Ben juga melihatnya dengan jelas. Meski foto Aida menolong adiknya ada Ben tak peduli kemarahan telah menguasainya dan menghilangkan segala rasa dihatinya.
" Sekali lagi kau sudah menyakiti adikku dan kali ini fisiknya yang kau sentuh. Aku akan menghancurkanmu." Murka Ben mengepalkan tangan.
Mata hatinya sudah tertutup dan pikirannya tak lagi jernih. Ben telah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak peduli meskipun seorang wanita jika sudah menyakut keluarganya maka orang itu harus menanggung segala akibat perbuatannya.
.
Keluarga Asakara berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam mereka, hanya Bobi yang belum terlihat keberadaannya.
" Pak Mus! Panggil Boi kemari, ini sudah waktunya makan malam." Perintah Mama Maisha.
" Maaf Nyonya! Saya sudah memanggil Taun Muda Bobi, tapi... ." Kata Pak Musin terpotong. " Tuan Muda Bobi minta makan malamnya untuk di antar ke kamar saja." Lanjutnya.
" Tidak biasanya Boi minta makan malam sendiri di kamar." Ucap Mama Maisha.
" Pak Mus! Panggil Boi sekarang juga. Katakan padanya. Saya yang meminta dia untuk makan malam disini." Perintah tegas Ben.
" Baik, Tuan Muda. Saya permisi." Pak Mus menunduk hormat.
Ben tahu betul Bobi sedang ingin menyembunyikan wajahnya yang terluka karena bekas pukulan. Meski saat kehadiran Bobi di ruang makan akan menimbulkan banyak pertanyaan, dia tidak peduli. Ben hanya ingin seluruh anggota keluarga mengetahui kondisi Bobi yang sebenarnya.
.
" Tuan Muda Bobi." Panggil Pak Musin di susul ketukan pintu.
" Masuk." Perintah Bobi dari dalam kamar.
" Tuan Muda Bobi, Anda di minta datang ke ruang makan untuk makan malam atas perintah Tuan Muda Ben." Jelas Pak Musin.
" Baiklah! Jika kakak sudah menyuruhku, aku tida bisa membantahnya." Keluh Bobi.
Bobi terpaksa datang ke ruang makan setelah Pak Musin berusaha keras membujukkan belum lagi karena dia tahu sang kakak yang mintanya, Bobi tidak mau cari masalah memancing kemarah Ben padanya.
" Selamat malam, semuanya." Sapa Bobi.
" Boi, ada apa dengan wajahmu?." Mama Maisha berdiri menghampiri putra bungsunya.
" Ini hanya salah paham, Ma." Jawab Bobi.
" Apanya yang salah paham, kamu sampai di pukul seperti ini." Mama Maisha tidak terima.
Mau tidak mau Bobi akhirmya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, karena apa dan siapa orang yang memukulnya. Bobi berterus terang tanpa menutupi apapun sebab memang dia yang sudah salah memaksa Aida diajak bicara.
" Boi! harus berapa kali mama katakan, seoarang gadis tidak di paksa." Lirih Mama Maisha.
__ADS_1
" Maaf Ma." Sesal Bobi.
" Sudah! sekarang kita makan saja dulu." Perintah Opa Baskara.
.
Aida sama sekali tidak keluar dari kamarnya sepulang kuliah bahkan sampai melewatkan makan malam. Nenek Miranti yang biasanya mengingatkan Aida untuk makan pergi bersama kakek Rianto dari sore ke rumah kerabat mereka yang sedang sakit.
Aida duduk termenung memikirkan apa yang akan terjadi dirinya nanti. Aida kembali dihantui rasa bersalah dan ketakutan, meskipun dia sudah bertanggungjawab pada Bobi dengan mengobati luka di wajahnya.
" Tuan B ternyata Tuan Muda Ben Askara." Gumam Aida.
Aida sedikit tahu tentang Tuan Muda walau tak pernah mengetahui wajahnya selama ini. Media masa tak pernah dengan jelas menunjukkan sosoknya, bahkan di mesin pencarian pun profilnya tanpa foto.
Habislah aku di tangannya. batin Aida
Pria yang punya kekuasan penuh seperti Tuan Muda pasti tidak akan begitu saja melepaskannya walau sudah membalas dendam pikir Aida.
Bukankah sudah jelas kemarin malam saja Ben menyentuh kembali Aida menciumnya di tempat umum.
.
.
.
Di ruang keluarga semua sedang berkumpul kecuali Opa Baskara sudah lebih dulu beristirahat di kamarnya.
" Boi, lukamu sudah di obati? Tanya Mama Maisha.
" Aku peringatkan padamu, jauhi gadis itu mulai sekarang." Tegas Ben.
" Kakak tidak bisa melarangku, ini urusan pribadiku." Tolak Bobi.
Ben dan Bobi terlibat perdebatan tak ada yang mau mengelah dengan keputasannya membuat kedua orangtua mereka yang hanya diam ikut bicara untuk mendamaikan.
" Apa karena seorang gadis kalian harus sampai bertengkar." Tegur Papa Zeino.
" Ben, Boi sudah cukup. Opa bisa mendengar perdebatan kalian ini." Ujar Mama Maisha mencoba melerai kedua putranya.
" Aku selalu menurut pada kakak selama ini, tapi tidak untuk menjauhi gadis yang aku suka." Bobi tidak terima.
" Kamu tidak bisa membantah." Tegas Ben.
" Ben!." Tegur Mama Maisha.
Ben pergi tanpa sepatah kata pun dari ruang keluarga dengan menahan kemarahannya yang sudah siap meledak. Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya Ben tidak akan bisa jika harus bertengkar sampai berseteru dengan Bobi.
" Kakak tidak bisa mengatur hidupku." Teriak Bobi.
" Boi! tenangkan dirimu." Mama Maisha merangkul putra bungsunya.
" Kalian istirahatlah, Papa temui Ben dulu." Pinta Papa Zeino. Mama Maisha mengangguk.
__ADS_1
" Selamat malam, Pa." Ucap Bobi.
" Selamat malam juga, Boi." Papa Zeino menepuk bahu putranya.
.
Ben berada di balkon kamarnya untuk menenangkan hati dan pikiran. Ben tak habis pikir dengan adiknya yang bersikeras tetap ingin memperjuangkan cinta Aida. Bobi sama sekali tidak jera walau sudah di beri pukulan yang mengakibatkan luka lebam di wajahnya.
" Ben!." Panggil Papa Zeino.
" Maaf Pa, Ben ingin sendiri." Pinta Ben.
" Adikmu sedang jatuh cinta dan memperjuangkan cintanya." Terang Papa Zeino.
" Aku tidak terima Boi di pukul orang apa itu salah dan Aku memperingatkan adikku untuk melindulinginya." Jelas Ben.
" Bukan hanya di pukul, seseorang bisa rela mati demi cinta. Kamu akan mengerti jika sudah merasakannya sendiri." Ujar Papa Zeino.
" Papa sebaiknya istirahat sekarang, Ben ingin tidur." Ucap Ben.
" Baiklah! Selamat malam, Ben." Papa Zeino pamit.
" Selamat malam juga, Pa." Ucap Ben.
.
Ben belum masuk ke kamar setelah Papa Zeino pergi, dia masih berada di balkon menghubungi seseorang lewat sambungan telepon.
" Saya punya tugas baru untukmu." Ucap Ben.
Ben menjelaskan dengan detail tugas dimaksud, seseorang yang Ben hubungi hanya mendengarkan.
" Lakukakan sesuai perintahku, pastikan jangan sampai media meliputnya." Perintah Ben tegas.
" Baik, Tuan. Semua akan berjalan sesuai perintah Anda." Ucap seseorang.
" Kau tahu akibatnya jika gagal." Ben mengakhiri sepihak panggilannya.
Ben sangat yakin rencananya akan berjalan sempurna karena dia tidak pernah suka kegagalan dan orang suruhannya sangat bisa diandalkan.
" Terimalah kejutan besar dariku." Ben tersenyum penuh kemenangan.
Ben membaringkan tubuhnya, sudah waktunya dia tidur untuk beristirahat.
.
.
.
Malam semakin larut Aida masih terjaga, sulit baginya untuk tidur meski sudah berulang kali memejamkan mata dan mengubah posisi tidur. Hati dan pikiran Aida tidak tenang, dia terus saja gelisah memikirkan hari esok apakah akan ada sesuatu yang terjadi.
" Aku harus meminta pertolongan dari siapa? tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanku darinya." lirih Aida.
__ADS_1
Pukul dua dini hari Aida baru bisa tertidur meringkuk di balik selimut, raut wajahnya terlihat tidak tenang.