Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 7


__ADS_3

Hari ini akan menjadi hari paling berkesan dalam hidup Bobi begitulah harapannya, bagaimana tidak segala persiapan mendekorasi taman belakang kampus sesuai konsep rancangannya, telah dia mulai dibantu keempat sahabatnya dan teman-teman kampus yang lain. Taman semakin di percantik dengan hiasan-hiasan yang sarat akan makna untuk menyatakan isi hati Bobi pada gadis pujaan hatinya.


" Sempurna! Thanks  brothers dan buat kalian semua." Ucap Bobi merasa puas dengan hasil dekorasi taman.


Sudah cukup Bobi dan semua yang terlibat direncananya pagi ini beristirahat. Waktunya drama awal dimulai, Bobi meminta bantuan seorang teman kampusnya yang sudah diberi arahan berakting untuk memanggil Aida. laki-laki itu pun mengangguk dan dia mengerti apa yang harus dilakukannya.


" Ok! Kita semua bersiap di tempat masing-masing." Perintah Bobi memberi arahan.


Mereka semua mengambil tempat berdiri untuk menyambut kedatangan Aida.


.


.


.


Seseorang sedang berlali menuju kelas dimana Aida baru saja selesai dengan mata kuliahnya sore hari. Aida yang sedang bersiap untuk pulang dikejutkan dengan suara seeorang yang memanglnya dengan suara penuh kepanikan eolah telah terjadi sesuatu.


" Ai...Aida!!!." Panggil Abdul setengah berteriak dengan deru napas yang memburu begitu masuk ke dalam kelas Aida.


" Ada apa? kenapa kamu sampai lari-lari?." Tanya Aida merasa heran.


" Bobi jatuh dari pohon di Taman belakang kampus; dia butuh kamu." Ungkap Abdul memulai dialog dramanya.


Aida belum sempat menjawab, Nura mengambil alih untuk bicara, " Yang bener itu di bawa ke UKS atau Rmah Sakit bukan panggil Aida. Bilang sama dia gak uah banyak drama. Basi!!."


" Please! Ai, ke taman sekarang juga, dia sebut nama kamu terus." Abdul memohon untuk membujuk Aida.


Sebenarnya Aida bukan siapa-siapa Bobi selain hanya teman tapi jika eorang teman juga dibutuhkan kehadirannya tak ada salahnya bukan, begitu pikir Aida.


" Ai! kamu gak usah kesana." Usul Nura.


Aida memegang tangan sahabatnya untuk meyakinkan kalu dirinya harus datang, " Demi teman aku harus kesana, aku pergi dulu," Ucap Aida pada Nura.


" Ayo, Dul." Ajak Aida. Abdul pun mengangguk, dia tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya.


Aida dan Abdul segera pergi dari kelas dengan terburu-buru, jangan ditanya Aida cemas atau tidak karena sejujurnya Aida biasa-biasa saja hanya ingin menunjukkan sikap seorang teman dan demi kemanusian tak lebih.


.


.


.


Jay sedang bersantai di kafe selesai bertemu rekan bisnis, dia menikmati secangkir teh tawar hangat yang entah kenapa dia jadi suka teh tanpa gula. Ben yang bersamanya hanya memperhatikan peruhaban selera asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu.


" Apa aku gak salah lihat, kamu minum teh tanpa gula. Apa seleramu berubah?." Tanya Ben mecari tahu.


" Ya! aku jadi menyukai teh tanpa gula, karena seseorang." Jawab Jay jujur.

__ADS_1


" Sejak kapan kamu punya hubungan dengan seorang wanita?." Tanya Ben lagi punya selidik.


" Aku hanya bilang seeorang bukan wanita." Kilah Jay.


" Ckk! kamu pikir aku bisa ditipu." Geram Ben kesal.


" Siapa yang menipumu Tuan Muda Askara." Jay tersenyum penuh kemenangan.


Meski tak mengatakannya Ben tahu kalau Jay sedang menyukai seorang wanita, tidak mungkin perubahannya terjadi karena seorang pria bukan, begitu pikir Ben.


" Kenalkan padaku." Ucap Ben


" Belum waktunya." Jay keceplosan. " Maksudku tunggu sampai aku punya teman wanita," Lanjut Jay berkilah.


" Hahhh! Dasar bodoh." Ben berdiri merapihkan jasnya sebelum angkat kaki dari kafe di susul oleh Jay yang masih salah tingkah.


Sepanjang perjalanan menuju mobil Jay terus meyakinkan Ben jika dia tak punya teman wanita, sementara Tuan Muda nya hanya berikap masa bodo, percuma saja berkilah karena Ben hapal betul bagaimana Jay jika ketahuan dan justru berkilah.


.


.


.


Aida yang sudah dibuat merasa binggung harus bagaimana dan khawatir karena Abdul yang berbicara melebih-lebihkan di buat sangat terkejut melihat taman belakang kampus di dekorasi sangat cantik.


" Dul! apa maksudnya ini?." Tanya Aida penasaran.


Kembali melangkahkan kaki Aida semakin berdebar karena teman-teman kampus menaburkan bunga padanya dari sisi kiri dan kanan sepanjang jalan menyambut kedatangannya.


Sebenarnya ini ada apa? kenapa ada penyambutan begini bukannya tadi Abdul bilang Bobi jatuh dari pohon. Aida


Aida terus melangkah sampai melihat seseorang yang dicarinya tiba-tiba muncul dari kepulan asap seperti sihir, Bobi terlihat sangat tampan tak ada tanda-tanda dia terluka karena jatuh dari pohon seperti yang diketahui Aida dari teman kampusnya tadi.


" Bobi! kamu baik-baik aja?." Tanya Aida mecari kebenaran.


" Ini semua aku persembahkan untukmu." Ungkap Bobi bukannya menjawab tanya Aida.


" Aku gak ngerti." Ada rasa kecewa dihati Aida karena merasa udah dibohongi.


Bobi menghela napas panjang mempersiapkan diri untung mengungkapkan isi hatinya dan berharap semua yang dilakukannya tak akan sia-sia.


" Aida Reinara! aku mencintaimu dengan semua cara yang aku lakukan untukmu. Maukah kamu jadi pacarku?." Ucap Bobi setus hati mengutarakan rasa cinta untuk Aida.


Suasana nampak hening menanti jawaban Aida yang masih terpaku dengan keadaan yang ada.


Sejenak Aida berpikir ulang, namun, sayangnya Bobi tetaplah bukan laki-laki yang ada dihati Aida bahkan masih sama, laki-laki dihadapannya hanya teman tak sedikit pun rasa dihati yang dirinya miliki untuk Bobi.


" Bob! bisa kita bicara di tempat lain?. Tanya Aida pelan ingin berpindah tempat.

__ADS_1


Meski dengan berat hati Bobi menyetujui kinginan Aida untuk bicara berdua dan berharap Aida menjawab sesuai yang diinginkannnya.


Aida mengajak Bobi ke sisi lain taman yang hanya menyisakan mereka berdua.


" Jadi apa jawabmu, Ai?." Tanya Bobi minta kepastian sambil menggenggam tangan calon kekasihnya.


" Aku sangat berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untukku, aku sangat menghargainya. Tapi aku gak bisa terima cinta kamu, sedikit pun gak ada perasaan cinta untukmu dihatiku. Maafkan aku, Bob." Jawab Aida, dia juga menjelaskan alasnnya kenapa tak bisa menjalin hubungan lebih dari teman, yang tak lain karena alasan pendidikan dan masa depan yang harus diraihnya.


Seketika raut wajah Bobi yang tadinya penuh harap akan di terima cintanya oleh Aida berubah menjadi muram dan kecewa.


" Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku terima." Untuk pertama kalinya Bobi jatuh cinta dan disaat yang bersamaan dia harus merasakan yang namanya patah hati.


Bobi melepaskan genggaman tangannya dari Aida dan belalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun lagi membuat Aida merasa bersalah. Sungguh tak ada maksud sedikit pun untuk Aida mengecewakan seseorang hanya saja yang namanya perasaan di hati tak bisa di paksakan.


" Dia pasti sangat kecewa, tapi lebih baik berkata yang sebenarnya bukan. Aku gak punya perasaan apa-apa sama Bobi." Lirih Aida.


.


Bobi kembali ke tempat dimana dia menyiapkan segalanya untuk menyatakan perasaan pada Aida. Satu persatu dekorasi Bobi rusak dan dia buat beratakan semuanya. Antara kesal, marah dan kecewa campuraduk jadi satu membuat keempat sahabat dan temna-teman kampusnya tahu arti dari apa yang dilakukan Bobi, yang pati karena cintanya di tolak.


"Arghhh!!! Semuanya sia-sia, aku gagal. " Ucap Bobi yang emosi.


Bukankah semua sahabatnya sudah menasehati dan memperingatkan tapi Bobi tetap bersikukuh jadi mau tak mau dia harus terima konsekuensi dari keputusan yang telah diambilnya.


" Tenang! Bob, kamu masih punya kesempatan lain kali." Ucap Faisal mencoba menenangngkan sahabatnya.


Joni, Lukman dan Gerry meminta semua teman kampus mereka yang lain untuk membubarkan diri, agar Bbobi bisa menenangkan dirinya terlebih dulu.


.


.


.


Sepanjang perjalanan pulang Aida termenung, dia masih memikirkan bagaimana keadaan Bobi yang telah ditok olehnya.


" Semoga Bobi mengerti dan bisa terima." Harapan Aida.


Aida yang sedang naik angkutan kota dan duduk di kursi ujung mobil dikejutkan dengan bunyi klakson mobil dari  arah belakang.


" Bukankah itu mobilnya Kak Jay." Tebak Aida. " Pak! kiri." Aida meminta supir untuk berhenti agar dia bisa turun dari mobil lalu membayar ongkos.


Dari dalam mobilnya Jay meminta Aida untuk masuk.


" Apa kakak mengikutiku?." Tanya Aida begitu duduk di kursi mobil dan memakai sabuk pengaman.


" Kakak tadi mau menjemputmu tapi, lihat kamu udah naik angkutan kota jadi kakak ikuti." Jawab Jay.


" Oh!." Aida hanya menjawab singkat.

__ADS_1


Jay melihat wajah Aida yang tak seperti biasanya, kali ini gadis disampingnya yang selalu tampak ceria dan bersemangat berubah murung seolah sedang menghadapi masalah.


__ADS_2