Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 18


__ADS_3

Aida terbangun dari tidurnya dengan perlahan dia mengrejapkan mata, seutas senyum mengembang mendapati seseorang yang tampan bagai pangeran di negeri dongeng tengah tertidur lelap disampingnya.


Namun, sepersekian detik Aida melebarkan mata seiring dengan kesadaran yang mulai terkumpul sepenuhnya. Aida memberanikan diri menyetuh wajah pria yang dilihatnya untu memastikan bahwa dia nyata atau hanya khayalan.


" Ukh! bisa-bisanya aku mengira ini mimpi." Sesal Aida.


Satu persatu kepingan ingatan kejadian semalam bermunculan di pikiran Aida membuat napasnya naik turun.


" Aku, aku sudah... kenapa semua ini harus terjadi padaku."


Aida sadar dirinya telah melawati satu malam bersama pria asing yang sama sekali dia tak mengetahui jika Ben Askara seorang CEO perusahaan ternama Askara Grup, apalagi Ben yang sangat terkenal dalam dunia bisnis.


.


Aida mengambil kesempatan untuk beranjak dari ranjang meski seluruh tubuhnya terasa remuk.


" Ah! Awhhh~." Aida menyentuh **** ************* yang terasa sakit bercampur perih.


Dengan kaki yang terasa bergetar Aida berusaha melangkah untuk memungut semua pakaiannya yang berserakan di lantai, mengambil tasnya di dekat pintu kamar dan ponsel di sofa kemudian segera pergi ke kamar mandi.


" Kakek, Nenek maafkan Aida." mengusap kasar tubuhnya sambil menangis dia terus membersihkan dirinya.


Di depan cermin Aida mengeringkan diri sambil berkaca melihat banyak tanda merah yang dia tak tahu jika itu tanda kepemilikkan.


Aida mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam tasnya. Untuk menebus rasa bersalahnya pada pria yang tak jadi dia temu untuk makan malam bersama, Aida memakai baju dan rok pemberian dari Jay.


Selain itu baju berkerah tinggi (turtleneck) dapat menutupi tanda merah dilehernya, pikir Aida.


Setelah berpakaian Aida segera keluar kamar mandi.


" Syukurlah, dia masih tidur." Aida bernapas lega.


Tak mau lebih lama lagi terjebak di dalam kamar Aida memuju pintu untuk keluar namun dia tak mengerti cara membuka pintu otomatos yang terkunci.


" Bagaimana caranya aku bisa keluar." Aida perpikir kerasa sampai dia teringat angka 999 yang tak lain nomor unit apartement.


Merasa yakin Aida menekan tombol memasukan kata sandinya dan pintu kamar berhasil terbuka.


Aida keluar kamar tanpa menenggok lagi ke belakang, segera turun melalui tangga menuju pintu unit apartement milik Ben, sekali lagi Aida memasukkan kata sandi yang sama dan pintu kembalo terbuka.


" Aku harus cepat pergi dari sini." Aida berjalan cepat menuju lift turun ke lantai satu dimana lobbu apartement berada.


Tanpa memperdulikan sekitarnya Aida keluar dari gedung apartement, masuk ke dalam taksi yang baru saja selesai menurunkan penumpang.


" Jalan, Pak." Pinta Aida pada Supir taksi.


.


Aida meminta pada supir taksi untuk membawanya ke danau, tempat yang jadi favorite Jay untuk menyendiri dan kini Aida juga ingin melakukakan apa yang pernah Jay beritahukan padanya.


Seorang diri berada di danau Aida berterik, tangisnya kembali pecah. Seharusnya dia tetap menolak saat Tuan B memintanya untuk menghidangkan makanan.


" Siapa pria itu sebenarnya, apa dia memang kakaknya Bobi atau orang suruhan." Aida masih bertanya-tanya.


Tapi semua sudah terjadi waktu tak bisa diputar mundur. Aida harus menerima takdir bahwa dirinya bukan lagi gadis yang utuh, dia sudah tak berharga.


.


Tak jauh dari tempat Aida berada seseorang tengah memperhatikannya, memastikan bahwa gadis di tepi danau dikenalnya.

__ADS_1


Aida! Apa gadis yang sedang duduk itu dia. batin Jay.


Dia Jay yang datang untuk menenangkan dirinya ke danau karena semalam tak bisa tidur nyenyak bahkan bermimpi buruk karena Aida mengucapkan kata perpisahaan padanya.


" Aida!!!...." Panggil Jay memastikan.


Aida yang merasa namanya dipanggil seseorang menoleh ke belakang.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Aida dan Jay berdegup kencang bersamaan.


" Kakak, dia sini...." Gumam Aida.


Jay tersenyum karena tebakkannya benar, tak mau berdiam lebih lama Jay segera ingin menghampiri Aida.


" Kakak gak boleh melihat keadaanku yang seperti ini, aku harus pergi." Aida berdiri dan berlari menjauj dari Jay yang semakin mendekat padanya.


" Ai! Aida... kamu mau kemana?." Tanya Jay berlari menyusul gadis punjaannya yang terlihat menghapus airmata.


Namun sayang Aida terlanjut masuk ke dalam taksi dan pergi semakin jauh dari danau.


" Kenapa Aida menghindariku, apa yang terjadi padanya, dia sepwrti habis menangis." Jay bermonolog.


Jay menyadari Aida memakai pakaian hadiah darinya yang seingat dia Aida akan mengenakannya untuk bertemu pada saat makan malam.


Ponsel Aida belum juga bisa dihubungi membuat Jay semakin khawatir dan menduga jika sesuatu memang telah terjadi pada Aida.


.


Sesampainya di kediaman keluarga Askara, Jay yang mau masuk ke dalam rumah berpapasan dengan Pak Musin yang hendak keluar rumah.


" Jay! kamu kesini?." Tanya Pak Musin.


Jay yang heran dengan pertanyaan Pak Musin mengrenyitkan keningnya.


" Bukankah Pak Mus tahu, jika saya selalu datang setiap pagi untuk menjemput Tuan Muda Ben." Jawab Jay mengingkatkan pria lanjut usia dihadapannya.


" Tuan Muda tidak pulang ke rumah Utama." Kata Pak Musin jujur.


Jika tidak pulang ke rumah utama, tentu saja Jay tahu kemana Tuan Mudanya akan pulang kalau bukan ke apartement dan untuk alasannya pasti ingin menenangkan diri.


" Saya akan menghubungi Tuan Muda." Kata Jay.


" Jangan! Biarkan Tuan Muda yang menghubungimu." Pak Musin melarang, " Duduklah di dalam, tunggu sampai Tuan Muda memberimu kabar." Lanjutnya meminta Jay masuk ke ruang utama.


" Baik, Pak Mus." Jay menurut.


.


.


.


Pukul sembilan pagi Ben yang baru saja bangun menggeliat tubuhnya, dia bangkit menarik tubuhnya duduk dengan punggung menempel ke sandaran ranjang.

__ADS_1


Ben meraih gelas untuk minum seperti yang biasa dia lakulan sebelum turun dari ranjang.


" Kosong." Pantas saja terasa ringan pikir Ben.


" Pak Mus!!!." Panggil Ben pada kepala pelayan di rumah utama.


Orang yang di panggilnya tak juga datang membuat Ben kesal.


" Apa dia melupakan tugasnya." Ben belum sadar dirinya berada dimana.


" Pakaianku? Aku tidur tanpa busana? Tunggu...."


Kesadaran Ben terkumpul sepunuhnya, dia ingat sedang berada dimana juga semua yang telah terjadi antara dirinya dan Aida.


" Dimana gadis itu." Ben tak melihat keberadaan Aida di kamarnya.


Ben bangun dari tempat tidurnya pergi ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun.


.


Selesai membersihkan diri Ben menuju ruang ganti baju untuk berpakaian lalu keluar dari sana.


" Apa itu." Ben melihat noda di atas sprei putih ranjangnya.


Bercak darah yang terdapat di kain sprei menegaskan bahwa Ben telah merengecut keperawanan Aida semalam bahkan sampai berulang kali menggagahi Aida dibawah kuasanya.


Ben mengulung sprei agar noda bercak dara tak terlihat saat nanti pelayan akan datang membersihkan kamarnya.


" Arghhh~ Aku sudah menodai kesucian seorang gadis." Ben mengacak rambutnya lalu terduduk di tepi ranjang.


Entah dia harus bagaimana karena semua itu diluar rencananya bahkam melenceng jauh, Apa dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, karena bukan hanya dalam pengaruh alkohol Ben menyetubuhi Aida, saat dini hari Ben sandar mengatakan menginginkan gadis diatas ranjangnya.


Ben teringat pada Jay, " Jay pasti sudah datang memjemputku ke rumah."


Tak punya pilihan Ben mengambil ponselnya diatas nakas, mengirim pesan pada Jay untuk langsung datang ke perusahaan saja.


" Aku harus pergi dari sini." Ben tak mau lebih lama lagi berada dikamarnya.


.


Sepanjang jalan Ben mengemudikan mobilnya sampai di perusahaan Askara Grup, suara memohon dan tangisan Aida terus tergiang di telinganya.


Ben menarik napas, " Aku harus tenang." sebelum keluar dari mobil Ben merapihkan dirinya.


Kedatangan Ben di sambut Jay yang menunduk sopan, Jay sebagai asisten pribadi sudah seharusnya bisa datang lebih dulu, tadi saat mendapat pesan dari Tuan Mudanya dia sedang dalam perjalanan menuju perusahaan karena tak ingin hanya menunggu di rumah kediaman Askara.


" Jay! pukul berapa kau berangkat?." Tanya Ben berjalan di depan asisten pribadinya.


" Pukul satu siang Tuan Muda." Jawab Jay memberitahu jadwal keberangkatannya ke Amerika.


" Pesankan saya makanan dan untukmu juga, kita makan bersama sebelum kau pergi." Perintah Ben saat memasuki ruang kerjanya.


" Baik, Tuan Muda." Jay undur diri untuk menemui sektretaris Ben meminta memesan makanan.


.


Ben duduk bersandar di kursi kebesaranya sambil memejamkan mata. Bayangan Aida dan dirinya saat diatas ranjang muncul dalam benak Ben yang justru menikmatinya.


" Aida! Hah hah hah...." Ada rasa bersalah yang tak bisa Ben pungkiri dalam bayangannya dia melihat Aida menangis.

__ADS_1


Ben meneguk segelas air diatas mejanya untuk menenangkan hati dan juga pikirannya, dia lanjut memeriksa berkas untuk mengalihkan pikiran dan kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.


__ADS_2