Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 25


__ADS_3

Tujuan Rivan datang ke ibukota untuk bertemu CEO dari Askara Group karena perusahaan yang dirintisnya menerima tawaran kerjasama.


Begitu sampai di lobby gedung Askara Grup, Rivan berulang kali mengatur napas. Sebentar lagi dirinya akan bertatap muka dengan orang yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis. Jelas saja siapa pun yang ditawarkan untuk menjalin kerjasama tidak akan berpikir dua kali.


" Aku harus siap berhadapan dengannya." Rivan merasa tegang.


" Selamat datang Tuan Rivan, saya Sekretaris Yun." Yun berjabat tangan dengan Rivan menyambut kedatanganya.


" Saya Rivan Aryatedja dari perusahaan Vans Crop."


" Tuan Muda Ben sudah menunggu Anda di ruang pertemuan, mari ikuti saya." Pinta Sekretaris Yun pada tamu perusahaan.


" Baik, Sekretaris Yun." Rivan berjalan di belakang Yun.


Aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana? wajahnya tidak asing. batin Sekretaris Yun


Sekretaris Yun membukakan pintu lift untuk Rivan, mereka berdua naik menuju lantai tempat ruang pertemuan berada.


" Saya penasaran orang seperti apa Tuan Muda Ben." Ujar Rivan.


" Anda akan tahu sendiri setelah bertemu dengannya, tapi saya harap Anda bisa menjaga sikap." Yun memperingatkan.


" Saya mengerti."


Belum bertemu saja bulu kuduk Rivan sudah mendiring, dia sedikit tahu kalau Ben bukanlah orang yang ramah dengan kata lain bersahabat. Sikapnya yang dingin dan tidak banyak bicara menjadikan Ben terkenal sebagai orang yang anggkuh namun bukan berarti dia orang yang kasar.


Yun membuka pintu ruang pertemuan, mempersilahkan Rivan untuk masuk lebih dulu.


" Tuan Muda!... Tuan Rivan sudah datang." Panggil Sekretaris Yun.


Ben yang duduk membelakangi mereka berdua memutar kursinya. Sekretaris Yun dan Rivan yang masih berdiri di belakangnya menunduk sopan.


Dia bukannya pria yang semalam, orang yang terus menatap ke arah Aida. batin Rivan


" Tuan Rivan, silahkan duduk." Ucap Sekretaris Yun.


" Terima kasih." Kata Rivan.


Berbeda dengan Rivan, Ben sama sekali tidak mengenalinya sebab yang di pedulikan hanya melihat Aida dengan senyum dan tawanya.


Apa dia tidak mengenaliku. batin Rivan


Yun mulai membuka obrolan membahas tawaran kerjasama dan menyodorkan sebuah berkas beri kontrak untuk di tanda tangan oleh Rivan.


" Ada bisa mempelajarinya sebelum memutuskan untuk tanda tangan." Terang Sekretaris Yun.


Rivan mengambil berkas yang disodorkan untuknya, dia mulai membaca dan mempelajari isi kontrak. Ben hanya diam, sedangkan Yun sibuk menjelaskan apa yang harus Rivan pahami dari kontrak kerjasama.


Pertemuan mereka berlangsung satu jam berakhir dengan resmi terjalinnya kerjasama, Rivan pamit undur diri dari hadapan Ben di antar kembali oleh Yun menuju lobby gedung Askara Grup.


" Sekretaris Yun! Apa Tuan Muda Ben semalam berada di restaurant?." Tanya Rivan memberanikan diri saat mereka berada di dalam lift.


" Saya tidak bisa menjawab jika itu berkaitan dengan urusan pribadi Tuan Muda Ben, jika yang Anda tanyakan urusan pekerjaan Saya dengan senang hati menjawab." Jelas Sekretaris Yun.


Rivan bergidik ngeri, dia lupa posisinya dan salah melayangkan pertanyaan. Askara Group bisa kapan saja membatalkan sepihak kontrak kerjasama dengan Vans Crop dan bukan hanya itu dalam sekejap Ben bisa menghancurkan perusahaan miliknya.

__ADS_1


" Maaf atas kelancangan Saya." Rivan menyesal.


Mereka sampai di lobby, selesai sudah tugas Yun untuk mengantar rekan kerjanya.


" Terima kasih Tuan Rivan, karena Anda sudah bersedia bekerja sama dengan Askara Grup." Yun kembali mengajak Rivan berjabat tangan.


" Saya yang harusnya berterima kasih dengan Askara Group." Ucap Rivan. " Kalau begitu saya permisi." Lanjutnya.


" Silahkan, Tuan." Yun menunduk sopan.


Rivan keluar dari Askara Grup dengan perasaan lega, meski berunglang kali mengatur napas. Rasanya lebih dari bertemu seorang presiden pikirnya. Rivan sudah terikat kontrak kerjasama dengan perusahaan paling berpengaruh, berharap ke depannya tidak ada masalah.


" Aku harus semakin serius menjalankan Vans Crop." Rivan penuh harap.


Jam tangan Rivan menunjukkan pukul sembilan pagi, masih ada waktu dua jam lagi sebelum menjemput Aida ke kampusnya.


" Apa aku ke pasar saja." Jujur Rivan penasaran ingin tahu seperti apa toko keluarga kakek Rianto mencari penghasilan.


Rivan mengemudikan mobilnya memutuskan untuk mampir ke pasar bertemu dengan kakek Rianto sekaligus berpamitan karena dirinya harus kembali ke Bandung hari itu juga.


.


" Tuan Muda." Panggil Sekretaris Yun di susul ketukan pintu.


" Masuk." Sahut Ben.


Yun harus kembali mememui Ben setelah mengantar Rivan ke lobby. Masih ada tugas yang harus dia selesaikan dari Tuan Muda.


" Apa kau sudah periksa dan pelajari laporan yang dikirimkan Jay?." Tanya Ben.


" Kau Pesan kan makan siang untukku nanti." Perintah Ben.


" Baik, Tuan Muda. Saya permisi." Sekretaris Yun undur diri.


" Hmmm... ." Ben hanya berdehem.


Yun keluar dari ruangan Ben menuju ruang kerjanya sendiri.


.


Ben mengeluarkan selembar foto dari dalam laci. Siapa lagi kalau bukan foto Aida yang dia dapatkan dari Jay saat meminta informasi tentang gadis yang kini menarik perhatiannya.


Rasanya ingin sekali Ben membingkai foto Aida daripada membiarkannya begitu saja tak terbungkus.


" Bisakah kita bersama." Ben dalam dilema.


Jika pada akhirnya Ben menginginkan Aida bersamanya, apakah mungkin. Sementara adik sepupunya sedang berusaha memperjuangkan cintanya lagi pada Aida.


Ben mengembalikan foto Aida ke dalam laci, kepalanya terasa pening. Terlalu rumit baginya berurusan dengan hati dan cinta. Lebih baik fokus lagi pada pekerjaan menyelesaikan semua berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


.


.


.

__ADS_1


Rivan bertemu dengan kakek Rianto di toko kelontong yang ada di pasar. Mereka berbicang hangat sambil sesekali melayani pembeli yang membayar barang dagangan.


" Jadi kamu sudah mau pulang?." Tanya Kakek Rianto.


" Iya, Kek. Banyak pekerjaan menanti di perusahaan." Jawab Rivan jujur.


" Kakek kira kamu masih lama disini." Kakek Rianto menepuk bahu Rivan.


" Selain itu dua bulan lagi Rivan akan menikah butuh banyak persiapan, Kakek sekelurga harus datang." Ungkap Rivan.


" Jadi kamu sudah mau menikah, syukurlah. Kakek doa kan semoga pernikahanmu berjalan lancar dan kami pasti datang." Ucap Kakek Rianto.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Rivan harus pamit pada kakek Rianto dan meminta izin menjemput Aida sebelum dirinya pulang ke kota asal.


" Aku pamit ya, Kek. Kalau ada waktu aku pasti datang berkunjung lagi." Rivan mencium punggung tangan kakek Rianto.


Kakek Rianto mengusap punggung Rivan melepas kepergiannya. " Hati-hati di jalan salam untuk keluarga dan calon istrimu."


" Iya, Kek." Ucap Rivan


Kakak sepupu Aida pun pergi dari toko kelontong menuju parkiran dimana mobilnya berada.


.


Aida sudah selesai dengan mata kuliahnya hari ini. Sebelum Rivan datang menjemputnya, Aida mengajak Nura ke taman samping kampus.


" Aku penasaran sama kakak sepupumu, bolehkan aku menyapanya?." Tanya Nura.


" Boleh saja, tapi jangan berharap lebih nanti." Jawab Aida.


" Memangnya kenapa?." Nura mengerutkam kening.


" Sebentar lagi Mas Ravin mau menikah." Jawab Aida.


" Hahhh~ Memulainya saja belum, aku sudah harus mundur mendekatinya." Keluh Nura. Aida tergelak.


Ponsel Aida berbunyi notifikasi pesan masuk. Aida segera melihatnya. Rivan yang mengirim pesan memberitahu dirinya sudah sampai di depan gerbang kampus.


" Ra! Aku sudah di jemput, pulang yuk." Ajak Aida.


" Ok! Supirku juga sudah jemput." Ucap Nura.


.


" Itu Aida." Seru Bobi.


Dari kejauhan Bobi melihat keberadaan Aida ysng sedari tadi dicarinya. Bobi masih berusaha mengajak gadis pujaan hatinya bicara.


Bobi setengah berlari menyusul Aida berharap diberi kesempatan. Jujur saja pertahanan laki-laki itu sudah goyah, untuk menjaga jarak dulu dengan Aida.


.


" Mas Rivan." Panggil Aida melambaikan tangan.


Rivan mengangkat tangannya menjawab Aida yang memanggilnya tak jauh dari tempat dia berada. Aida mengajak Nura untuk menghampiri Rivan sebelum sahabatnya itu pulang, meski tadi Nura sudah mengurungkan niatnya menyapa calon suami orang. Belum kenal sudah di buat patah hati.

__ADS_1


__ADS_2