Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 41


__ADS_3

Siswa dan siswi sekolah dasar satu persatu keluar dari gerbang sekolah mereka karena jam pelajaran sudah selesai, sudah waktunya mereka untuk pulang ke rumah.


Ben keluar dari mobil, sekali lagi dia ingin mengajak gadis kecil yang masih duduk di sekolah dasar untuk bicara, Ben menyebrang jalan segera menghapiri Asih yang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah.


" Asih."


" Kakak masih di sini?."


Gadis kecil itu berharap bapaknya segera datang menjemput sebab dia tidak ingin bersama pria dewasa yangA menanyakan keberadaan Aida padanya.


" Kakak masih menunggu jawaban dari kamu."


Ben tidak akan menyerah sedikit pun, apa yang dia inginkan harus dia dapatkan.


" Kakak cepat pergi nanti kalau bapak Asih datang, aku bisa kena marah."


Asih membujuk pria yang asing baginya untuk pergi, gadis kecil itu takut sekali bapaknya akan marah jika melihat dirinya bicara dengan orang tak di kenal.


" Kamu tidak mau membantu kakak?."


" Asin bukan tidak mau, tapi Asih sudah janji."


Asih menuju tempat duduk di samping gerbang sekolah, kakinya lelah berdiri terus.


" Kamu tahu kakak merindukan gadis bernama Aida."


Ben duduk di sebalah Asih menyandarkan tubuhnya ke tempok.


" Kenapa kakak tidak tahu dimana Teh Aida? Apa kakak punya salah?


Jujur gadis kecil itu merasa kasihan dengan pria dewasa di sebelahnya tapi dia tidak mau ingkar janji dan membuat orangtuanya marah. Ben mengangguk.


" Teh Aida itu orang baik pasti mau kasih maaf kalau Kakak tulus."


" Yang sudah kakak perbuat itu kesalahan besar, sampai membuat dia pergi."


Asih mengeser dirinya berpindah tempat duduk, dia merasa takut dengan Ben.


" Kakak bukan orang baik, karena kakak sudah buat bapak Asih sekarang gak kerja. Orang pasar gak mau terima bapak bekerja disana."


" Kakak gak kenal sama bapak kamu, baru ketemu tadi pagi."


" Bapak itu kerja sama abah, kakeknya teh Aida di pasar."


Gadis kecil itu ingin menangis dia jadi tahu kenapa Aida pergi dan karena itu bapaknya kehilangan pekerjaan di pasar yang jadi mata pencaharian untuk menghidupi keluarga kecilnya.


" Jadi... ."


" Sana pergi, Asih gak mau lihat kakak lagi. Kakak jahat."


Tanpa terasa sudah dua jam berlalu Ben menemani Asih yang belum juga di jemput.


" Bapak mana ya, Asih laper mau pulang." lirihnya.


Meski gadis kecil itu mengusir Ben dia tetap disana tidak meninggalkan tempat duduknya.


Asih semakin cemas karena tidak ada satu orang pun yang menjemputnya untuk pulang ke rumah.


" Asih, Kakak antar kamu pulang saja bagaimana?." bujuk Ben.


" Gak mau."


" Ini sudah dua jam, lihat sekolah sudah sepi." Ben mengedarkan pandangannya.


" Asih takut di culik."


Ben yang mendengar perkataan gadis kecil itu tergelak. Asih justru semakin takut memegang kuat tali tas punggung yang dia gendong.


" Maaf, apa kamu pikir kakak ini penculik? Mana ada penculik naik mobil mewah." Ben bukan berniat sombong dia hanya ingin menunjukkan dirinya bukan penculi anak kecil.


" Sudah kakak pulang saja."


Asih tetap ngotot tidak ingin menerima tawaran Ben.


" Kamu yakin mau sendirian disini? Gimana kalau nanti ada orang yang benar-benar menculikmu?." Ben hanya ingin mengantar gadis kecil itu pulang, dia tidak memiliki niatan lagi untuk mencari tahu keberadaan Aida.


Asih berpikir sejenak, tidak seperti biasanya dia telat di jemput. Karena kadang selain bapaknya ada ibu atau kakak dia yang datang menjemput ke sekolah.


" Kakak, Asih mau."


Ben mengembangkan senyum dia berhasil membujuk gadis kecil untuk di antar pulang ke rumahnya.


" Ayo." Ben berdiri dari duduknya mengulurkan tangan pada Asih yang malu-malu meraihnya.


Sejenak terlintas dalam pikiran Ben dia membayangkan menjemput anaknya sendiri pulang sekolah. Ben menggelengkan kepalanya, kenapa harus terpikir olehnya sudah memiliki seorang anak.


" Apa yang aku pikirkan, tapi tunggu... ." Ben bergumam.


Ben kembali teringat akan dirinya yang menghabiskan malam panjang bercinta dengan Aida sampai dini hari mereka mengulanginya lagi. Ben ingat dia tidak memakai pengaman sama sekali dan mengeluarkan semua benih miliknya di dalam kepemilikan Aida.


Kenapa aku bisa melupakan hal itu, bagaimana jika Aida hamil.

__ADS_1


Ben bukan tidak terima Aida mengandung anaknya tapi hamil di luar nikah akan menimbulkan banyak persoalan untuk Aida. Ben tidak ingin melihat kehidupan Aida yang semakin hancur karena perbuatan dirinya.


" Kakak, kenapa?."


" Ah, Kakak tidak apa-apa, Ayo kamu harus pulang." Ajak Ben menggenggam tangan Asih yang mengangguk


.


Selama perjalanan di dalam mobil Ben menyalakan lagu anak-anak untuk menghibur Asih yang duduk di sebelahnya agar merasa nyaman.


" Kakak gak bertanya lagi dimana teh Aida?."


" Untuk apa, kamu tidak mau kasih tahu." Ben memasang wajah cemberut.


" Maaf."


" Sudah tidak apa-apa, kamu masih kecil tapi punya pendirian, jujur dan menepati janji. Dimasa depan kamu bisa jadi orang hebat.


Krucukkk... krucukkk...


Asih malu perutnya keroncongan, sedari tadi gadis kecil itu memang menahan lapar dan haus karena melewatkan jam makan siang, belum lagi botol minumnya sudah kosong.


Ben mengulum senyum, dia terhibur mendengar suara perut gadis kecil.


" Kamu lapar?."


" Iya." Asih mengangguk malu.


Ben membelokkan setir mobilnya masuk ke area restaurant cepat saji yang dia jumpai. Ben memesan makanan lewat antrian drive thru, cukup lama menunggu pesanan yang Ben beli sudah jadi.


" Ini untukmu."


Ben membelikan Asih burger, kentang goreng dan satu kotak susu.


" Terima kasih, Kak. Tapi... ." Gadis kecil itu sangat senang tapi dia ragu untuk menerima makanan yang di berikan padanya.


" Kamu boleh makan dan menghabiskannya."


Asih yang sudah tidak bisa menahan lapar membuka bungkusan makanan itu.


" Ini burger yang ada di televisi itu ya."


Gadis kecil yang polos itu mulai mencoba satu persatu makanannya, mulai dari susu, kentang goreng dan burger.


Ben fokus mengemudi, meski hari ini dia masih gagal mencari informasi keberadaan Aida, baginya tidak masalah karena masih ada hari esok.


" Asih, kalau kamu perlu tisu ambil di dalam laci itu." Ben mengarahkan dengan jari telunjuknya.


Ben memarkirkan mobilnya tak jauh dari Asih, dia melihat banyak sekali orang berkerumun tepat di depan rumah keluarga pak Agus itu.


Ada yang berteriak mengeluarkan caci maki dan meluapkan kemarahan. Bahkan ada yang mengatakan kalau pak Agus dan keluarganya harus angkat kaki dari rumah yang mereka tempati.


Asih yang berada di dalam mobil panik dan ketakutan, apa yang orang-orang itu lakukan di depan rumahnya pikirnya.


Ben berinisiatif menghubungi Yun lewat sambungan telepon, tuan muda sedang tidak ingin berbicara dengan Jay.


" Kirimkan sebanyak mungkin petugas keamanan Askara Grup. Aku beritahu lokasinya lewat pesan."


" Baik, tuan muda."


Ben mengakhiri panggilannya sepihak.


.


Hanya dalam hitungan menit beberapa mobil sampai di lokasi yang Ben berikan melalui pesan whatsApp pada Yun. Semua petugas keamanan berseragam lengkap turun dari mobil dan membentuk barisan.


Yun segera mendekat ke arah mobil milik Ben.


" Tuan muda." Panggil Yun di susul ketukan pada kaca mobil.


Warga yang berkerumun tadi tercengang dengan keberaradan orang-orang berseragam lengkap yang berbaris siap untuk menerima komando. Mereka menghentikan aksi demo di depan rumah pak Agus, hanya diam tanpa suara.


" Amankan kerumunan di rumah itu, aku ingin antar gadis kecil ini pulang."


" Baik, tuan muda."


" Satu lagi, kau gendong Asih." Ben menunjuk dengan wajah gadis kecil yang duduk di sebelahnya.


" Baik, tuan muda."


Apa tuan muda tidak salah, mendatangkan begitu banyak petugas keamanan Askara Group hanya untuk seorang gadis kecil.


Setelah mendapatkan intruksi dari sekretaris Yun, kepala petugas keamanan memberi komando pada pasukannya untuk mensterilkan jalan menuju rumah pak Agus.


Ben mengenakan jas nya yang di bawakan oleh Yun, kini penampilannya berbeda dengan pagi tadi.


Yun membukakan pintu samping mobil untuk Ben dan juga Asih yang sekarang berada dalam gendongannya.


" Sebenarnya Kakak siapa?."


Asih takjub dengan gaya penampilan Ben yang terlihat jauh berbeda dari sebelumnya, lebih keren dan berwibiwa apalagi semua petugas keamanan menunduk sopan padanyan sepanjang mereka melangkah.

__ADS_1


" Dia seorang tuan muda."


Yun menjawab pertanyaan Asih, tapi gadis kecil itu justru binggung.


" Apa itu?."


" Orang super kaya." Yun menjawab asal tapi Asih tampaknya mengerti.


Sekarang aku seperti pengasuh anak kecil.


" Kau memang harus belajar untuk itu." Ben seolah tahu apa yang ada dalam pikiran sekretarisnya.


" Baik, tuan muda."


Apa maksud tuan muda? Apa dia sudah yakin punya anak? tunggu, menikah saja belum lalu anak dari mana? Apa mungkin?


Yun membuang jauh-jauh pikiran asalnya, mana mungkin tuan muda dia punya seorang anak tanpa menikah.


" Pak, Bu. Asih pulang." Gadis kecil itu memanggil kedua orangtuannya yang mengunci diri mereka di dalam rumah.


Bu Salimah mengintip di balik gorden jendela rumah.


" Pak! Itu Asih."


" Ya ampun Bu, bapak lupa jemput anak kita."


Karena kepanikan rumah mereka di datangi warga, sampai melupakan hal penting lain menjemput anaknya pulang sekolah.


" Kalian tidak perlu takut, silahkan keluar." Panggil Yun, di susul ketukan pintu.


Pak Agus membuka pintu rumah perlahan dia sangat takut warga kembali melempar rumahnya dengan berbagai macam benda seperti yang berserakan di teras rumahnya. Ada botol plastik, batu kecil, bahkan tomat.


Sebelum Ben menginjakkan kakinya di sana petugas keamanan dengan sigap sudah membersihkan itu semua.


" Asih." Seru bu Salimah, menyambut putri kecilnya turun dari gendongan Yun dan berlari ke arahnya.


" Ibu, Asih takut. Rumah kita kenapa?."


" Kamu sama Ibu masuk saja ya. Ini urusan orang dewasa."


Ben sudah duduk di kursi dan Yun berdiri di belakangnya.


" Pak, Anda tidak perlu khawatir warga sudah kami amankan."


Yun memberitahu pak Agus yang berdiri di depan pintu.


" Anda ini siapa?."


" Saya Yun, sekretaris Tuan muda."


Bukankah orang yang duduk itu pria tadi pagi. Dia terlihat berbeda.


" Yun ."


" Baik, Tuan muda."


Yun segera pergi, ada yang perlu dia urus dan selesaikan untuk mengetahui penyebab warga berbuat kerusuhan.


.


Kepala petugas keamanan datang setelah menyelesaikan tugasnya mengamankan sekitar rumah keluarga pak Agus.


" Tuan muda, warga sudah membubarkan diri." kepala Petugas keamanan menunduk sopan.


" Perintahkan sebagian anggotamu untuk berjaga disini."


" Baik, Tuan muda."


Ben berdiri dari duduknya dia harus kembali ke perusahaan ada banyak pekerjaan yang menanti.


" Yun, pastikan semuanya dengan benar."


" Baik, Tuan muda." Yun yang baru saja kembali mencari informasi dan membisikan apa yang dia ketahui di telinga tuan muda.


.


" Tuan, tunggu." pak Agus menghentikan langkah Ben yang ingin pergi dari rumahnya.


" Saya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa, tapi berkat bantuan Anda keluarga saya selamat. Terima kasih."


" Saya tidak membantu Anda, saya yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi."


Ben melanjutkan langkahnya keluar dari teras rumah. Ada satu hal yang pak Agus lupakan dia belum berterima kasih karena Ben sudah mengantarkan putrinya pulang ke rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terima kasih sudah mampir untuk membaca karyaku, maaf Author belum bisa memenuhi harapan kalian untuk rajin Update cerita setiap hari....


...Author ini hanya menuangkan isi pemikiran menjadi sebuah karya dalam bentuk cerita. Bisa di bilang penulis amatiran 😂....


...Mohon maaf masih banyak kekurangan. ^_^...

__ADS_1


__ADS_2