
Sepanjang perjalanan menuju tempat makan yang dituju Aida dan Jay tak ada obrolan yang berarti, Jay fokus menyetir sambil sesekali menanyakan arah jalan pada Aida yang menjadi pemberi petunjuk.
" Kak! itu disana." Aida menunjuk sebuah kedai mie ayam yang berada di pinggir jalan dengan parkiran yang hanya muat untuk satu mobil dan beberapa sepeda motor saja.
Beruntungnya mobil Jay bisa parkir tanpa ada kendala di area yang cukup untuk satu mobil.
" Kamu yakin kita makan disini?. Tanya Jay memastikan tempat makan pilihan Aida.
" Tempatnya emang sederhana tapi rasanya gak kalah sama mie ayam di restaurant bintang lima, Kak. Ayo kita turun." Ungkap Aida meyakinkan Jay.
" Ok!." Jay pun setuju, tak ada salahnya dia mencoba makan di tempat yang sama sekali tak pernah didatanginya.
Meski Jay bukan orang pemilih tapi karena dirinya termasuk kategorie golongan orang kelas atas selain restaurant, dia kadang memilih makan di kafe sama sekali belum pernah makan di kedai pinggir jalan.
Aida meminta Jay memilih tempat untuk mereka duduk sementara dirinya memesankan makanan.
" Pak! Mie Ayam spesialnya dua, es teh tawarnya dua." Ucap Aida pada penjual mie ayam. Kemudian Aida menyusul Jay yang sudah memilih tempat duduk.
Aida duduk saling berhadapan dengan Jay yang hanya dibatasi meja makan.
" Apa kakak keberatan aku ajak makan disini?." Tanya Aida.
" Kakak, ikuti aja apa yang jadi pilihanmu." Jawab Jay lalu tersenyum.
Pesanan dua mangkuk mie ayam dan dua gelas es teh tawar datang. Aida yang sudah terbiasa mulai menuangkan kuah mie yang terpisah berisi bakso dan pangsit, menambahkan saus, sambal dan lada bubuk untuk melengkapi rasa mie ayamnya. Sedangkan Jay begitu hati-hati menambahkan yang sama seperti Aida lakukan.
Mereka berdua menikmati makan mie ayam dengan racikan sendiri, memakan satu mangkuk mie sampai habis tak bersisa.
" Ini sangat enak." Ucap Jay yang kemudian meminum es teh miliknya, " Emh! rasanya pahit, apa pedagangnya kehabisan gula." Keluh Jay mendapati es tehnya tak ada rasa manis.
Aida terkekeh melihat ekspresi wajah Jay, " Karena yang aku pesan es teh tawar, Kak."
" Patas saja pahit." Ucap Jay sambil mengacak rambut Aida. Mereka berdua tergelak bersama.
Tiba-tiba saja dengan lembut Jay menyentuh sudut bibir Aida dengan jempilnya membersihkan sisa bumbu mie ayam membuat gadis itu terdiam dengan wajah yang berubah merona. Untuk pertama kalinya Aida bisa merasakan ada seorang pria yang memperlakukan dia begitu manis membuat hatinya jadi berbunga.
" Makasih, Kak." Aida tersenyum dibalas dengan senyuman juga oleh Jay.
__ADS_1
" Ai, apa hari ini kamu ada pesanan?." Tanya Jay. Aida mengangguk.
" Ada yang minta aku ke toko bunga beli satu buket bunga." Jawab Aida jujur.
" Mau kakak antar?. Tanya Jay lagi berharap Aida masih mau menghabiskan aktu sore bersamanya..
" Mau, tapi apa gak merepotkan kakak?." Tanya balik Aida, Jay menggelengkan kepalanya.
" Khusus hari ini aku punya waktu sedikit lebih lama untuk bersamamu." Jawab Jay tulus. Aida yang mendengarnya tersenyum.
.
" Kita pergi sekarang ya, Kak." Aida bangkit dari tempat duduknya lebih dulu untuk membayar mie ayam dan es teh yang mereka pesan tadi. Jay menunggu di dekatnya lalu tak berapa lama mereka kembali berjalan beriringgan menuju ke parkiran dimana mobilnya berada.
Didalam mobil keduanya mengenakan sabuk pengaman sebelum mobil yang dikemudikan oleh Jay keluar dari parkiran dan melaju ke jalan raya membelah jalanan ibukota dengan lalu lintas.
Canda gurau menemani sepanjang R,erjalan Aida dan Jay menuju toko ll!m!J!!, sesampai di sebuah toko bunga Aida turun sendiri dari mobil untuk merobeli sebuket bunga sedangkan Jay menunggu di dalam mobif. Terpildr oleh Jay untuk mernberikan Aida sebuah hadiah yang blsa selalu Aida pakai setlap hari.
Aida kembali masuk ke dalam mobil Jay dengan membawa sebuket bunga mawar dengan kombinasi warna merah dan putih.
" Dari sini kita kemana lagi?." Tanya Jay.
.
.
.
Di tempat lain Bobi, Joni, Lukman, Faisal dan Gerry sedang berada di sebuah kafe tempat yang jadi favorite untuk mereka nongkrong. Bobi yang meminta keempat sahabatnya berkumpul sebab dia sedang butuh bantuan untuk melancarkan segala rencana yang telah dibuatnya demi bisa menyatakan perasaannya pada Aida dengan sempurna.
" Kamu yakin Aida akan terima, Bob?. Tanya Joni yang merasa rencana Bobi terkesan terburu-buru.
" Gak ada salahnya buat di coba." Jawab Bobi dengan yakin karena dia sudah tak sabar..
" Bukannya gitu, kamu harus pastiin dulu, Aida suka gak sama kamu." Timpal Faisal tak ingin sahabatnya nanti kecewa..
" Jangan sampai nanti cintamu justru bertepuk sebelah tangan alias di tolak." Lukman mengingatkan.
__ADS_1
" Bener itu, Bob. Patah hati itu sakit biarpun sakit gigi lebih menyiksa." Timpal Gerry asal.
" Aku minta kalian datang untuk bantu rencanaku ungkapin cinta ke Aida, bukannya di komentarin." Keluh Bobi yang bukannya dapat persetuan dari semua sahabatnya tapi justru malah memperingatkan dirinya.
Mereke semua terdiam sejenak untuk menenangkan suasanan yang terasa menegang, melihat ekspresi wajah masam Bobi karena kesal.
" Ok! Ok! Jadi kapan kamu mau nyatakan cinta ke Aida?." Tanya Faisal mencoba kembali mencairkan suasana.
" Lusa, karena itu kalian semua harus bantu aku." Jawab Bobi mendapat anggukan dari semua sahabatnya.
Bobi mulai menjelaskan waktu dan lokasi juga konsep yang telah dibuatnya untuk menyatakan cinta pada Aida yang dia yakin semuanya bisa berjalan dengan sempurna, termasuk drama di awal sebagai membuka. Selain itu Bobi juga membahas peranan penting keempat sahabatnya untuk jadi bagian dari rencana yang telah disusun olehnya.
" Gimana menurut kalian?." Tanya Bobi yang penasaran dengan penilaian dari keempat sahabatnya.
" Konsepnya udah Ok, ada drama sedikit di awal gak masalah karena gak berlebihan." Ujar Gerry yang memberi penilaian pertama mendapatan anggukan dari Joni, Faisal dan Lukman yang berarti keempatnya sudah sepakat.
Bobi merasa senang karena semua sahabatnya kini mendukung keputusan dan konsep yang dia telah jelaskannya tadi, bahkan bersedia ikut adil dalam rencananya.
" Kalian semua boleh pesan makanan atau minuman apapun, bebas. Aku yang teraktir hari ini." Ujar Bobi sebagai bentuk rasa terima kasih pada Faisal, Lukman, Gerry dan Joni.
.
.
.
Selesai sudah perjalanan Aida bersama Jay hari ini setelah mengantarkan buket bunga mawar pada pemesannya. Jay mengatarkan Aida sampai di sebrang jalan rumahnya. Aida belum siap jika harus mengajak Jay mampir, meskipun hubungan mereka saat ini hanyalah sebatas teman. Apa kata nenek dan kakeknya nanti meski tak melarangnya memiliki kekasih tapi yang paling penting, Aida hanya boleh fokus pada pendidikannya sedangkan untuk pekerjaan yang dia tekuni anggap saja itu bentuk kelonggaran untuknya sambil menikmati masa kuliah dengan pengalaman berbisnis.
" Aku pulang ya, Kak. Makasih untuk hari ini, hati-hati di jalan." Ucap Aida berpamitan.
" Ya, Apa besok kita bisa bertemu lagi?." Tanya Jay, Aida menganggukan kepala.
" Sampai jumpa besok." Ucap Aida lagi sebelum turun dari mobilnya Jay.
" Sampai jumpa, Ai." Jay tersenyum melihat Aida turun dari mobilnya.
Sebelum menyebrang jalan Aida melambaikan tangan pada Jay yang melakukan hal sama. Senyuman Jay terus mengiringi langkah Aida yang semakin menjauh sampai ke rumahnya.a
__ADS_1
Kepulangan Aida di sambut nenek dan kakeknya seperti biasa di depan rumah, pemandangan itu tak luput dari penglihatan Jay di dalam mobil yang memastikan Aida sampai di rumahnya dia sebelum kembali melajukan pergi dari tempatnya berada.
" Apa itu tadi orangtuanya Aida, tapi terlihat seperti Nenek dan Kakeknya." Jay bertanya-tanya di dalam mobil yang tengah dikemudikannya.