Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 13


__ADS_3

Jay melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah yang dilalui Aida berharap dia bisa menemukan gadis pujaannya tanpa perlu menghubungi lewat ponselnya.


Mendengar suara anjing mengonggongong membuat langkah Jay terhenti dan menoleh ke sumber suara.


" Sebentar lagi Miko, aku binggung pilih gelamg yang mana." Aida masih asik memilih pernak pernik gelang mencari yang cocok dengan seleranya.


Tak jauh dari sana Jay tersenyum senang berhasil menemukan Aida berkat suara gonggongannya Miko.


" Yang ini, apa yang ini ya." Aida masih binggung memilih gelang.


Seseorang mengulurkan tangan memberikan gelang untuk dipilih oleh Aida.


" Wah! yang ini cantik, aku mau yang ini aja. Makasih." Ucap Aida mengambilnya dan berbalik badan untuk melihat siapa yang memberikannya pilihan gelang sesuai seleranya.


Jay menggembangkan senyum, " Kamu suka?." Tanya Jay.


" Aku suka." Jawab Aida gugup, " Kok bisa kakak liat aku disini?." Lanjut bertanya.


" Kebetulan aja, Kakak lagi jalan-jalan gak sengaja liat kamu." Jawab Jay mencari alasan bukan yang sebenarnya. Aida tersenyum.


Jay senang bisa bertemu dengan Aida karena Ben memilih pulang lebih cepat, sebab biasanya mereka akan menghabiskan waktu sampai pukul sepuluh pagi mengitari area Car Free Day.


" Sebentar ya Kak, aku bayar dulu." Ucap Aida menghentikan dulu obrolan mereka. Jay mengangguk.


Aida sudah selesai memilih gelang yang akhirnya pilihan dia jatuh pada gelang yang diberikan Jay.


" Pak! ini gelang berapa harganya?." Tanya Aida


" Lima belas ribu aja, Mba." Jawab Penjual Gelang.


" Ini uangnya, makasih Pak." Aida membayar dengan uang tunai sesuai harga gelangnya.


" Sama-sama, makasih juga Mba." Ucap Penjual Gelang menerima uang dari Aida yang tersenyum.


.


Miko mengelus-eluskan kepalanya ke kaki Aida, seolah meminta sesuatu.


" Guk guk guk guk." Miko menggonggong memanggil Aida.


" Kamu udah gak sabar ya. Ayo kita jalan lagi." Ucap Aida mengelus lembut anjing kesayangannya.


Jay berjongkok ingin mengajak ingin mengajak Miko bicara.


" Siapa namamu?." Tanya Jay mengelus kepala anjingnya Aida.


Respon Miko pada Jay berbeda dengan responnya saat berada di dekat Ben. Miko pada Jay sedikit tak bersahabat, anjing itu justru melengos lalu berdiri di samping Aida yang melihat tingkah hewan peliharaannyanya dengan heran.


" Namanya Miko, Kak." Jawab Aida memberitahu nama anjingnya.


" Sepertinya dia gak menyukaiku." Keluh Jay.


Aida terkekeh, " Maaf, Kak. Mungkin suasana hatinya kurang baik karena dia mulai bosan disini."


" Kita ajak dia ke taman yang jauh dari ke ramaian." Usul Jay. Aida mengangguk setuju.


Mereka berjalan berdampingan dengan posisi Aida berada diantar Jay dan Miko anjing kesayangannya.

__ADS_1


.


Memasuki area taman kota, Jay yang masih penasaran ingin mengakrabkan diri dengan Miko menawarkan untuk memegang tali tuntunnya..


" Boleh Kakak yang pegang talinya?." Tanya Jay.


" Boleh, Kak. Miko izinkan Kakak yang membawamu ya?." Aida mengizinkan. Miko diam tak menggonggong.


" Hmmm... Aku punya ini untukmu." Jay menunjukkan makanan anjing pada Miko.


" Guk guk guk guk." Miko menggonggong senang.


Aida tergelak karena Miko menerima sogokkan dari Jay. Anjing kesayangannya itu pun mau di tuntun oleh Jay yang memberinya makanan.


Dibawah pohon rindang Jay dan Aida duduk bersandar ke batang pohon. Sedangkan Miko menikmati makanan kaleng yang diberikan oleh Jay, tadi dia sempat membeli makanan hewan peliharaan saat melewati penjualnya sebelum menemui Aida.


Aida memanggil pedagang bakso cuanky yang lewat di depannya, dia ingin membeli untuk mengisi perutmya yang belum diisi sarapan.


" Kak! kita makan bakso, mau?." Tanya Aida.


" Mau, komplit ya." Pesan Jay untuk pilihan isian mangkuk baksonya..


" Ok!." Ucap Aida dengan membentuk simbol OK di tangannya.


Penjual bakso berhenti di dekat mereka.


" Kang!, beli dua mangkuk baksonya komplit." Aida memesan bakso.


" Siap! Neng." Jawab Penjual Bakso.


Aida dan Jay menikmati bakso cuanky dengan rasa pedas sesuai selera yang mereka takar sendiri.


.


.


.


Suasana hati Ben yang sedang hangat berbubah seketika saat tiba di rumah mewahnya.Terdengar suara teriakan Bobi disusul dengan suara pintu yang dibanting.


Sudah dua hari Bobi tak mau keluar kamar, bahkan tak mau makan dan minum. Dia semakin tampak kacau seperti orang tak terurus.


Ben melangkah cepat untuk bisa sampai di kamar Bobi. Namun, baru sampai anak tangga langkahnya harus terhenti.


" Ben! kalau kamu menemui Boi untuk memarahinya lebih baik jangan. Dia masih butuh waktu sendiri." Ujar Mama Maisha yang menuruni anak tangga disusul dua orang pelayan yang terkena kemarahan Bobi.


" Sampai kapan dia menyiksa dirinya, Ma?." Ben menahan amarah.


" Kita duduk dulu, kamu juga pasti capek baru pulang." Pinta Mama Maisha lembut. Ben menurut.


Ben kembali kesal pada sosok Aida yang tadi sempat mencuri perhatiannya. Bagi dia gadis yang menolak cinta adik sepupunya tetap saja bersalah.


Dia harus bertanggung jawab. batin Ben mengepalkan tangannya.


" Tuan Muda! Ini minuman untuk Anda." Pak Musin datang meletakkan segelas air minum diatas meja.


" Terima kasih, Pak Mus." Ben meneguk air minumnya tiga kali tegukkan sampai tak tersisa.

__ADS_1


" Aku ke kamar dulu." Ben berdiri dan pergi dari ruang utama.


Rencana yang semula pulang untuk menemui Mocha terpaksa harus Ben batalkan karena suasana hatinya sedang tak baik-baik saja.


" Beristirahatlah." Ucap Mama Maisha tersenyum.


Ben sangat menghormati kedua orangtuanya dan juga sang kakek. Dia tak pernah membantah dan selalu menuruti perintah mereka yang baik baginya.


.


.


.


Canda tawa mewarnai kebersamaan Aida dan Jay di taman kota dengan perut mereka yang sudah kenyang terisi bakso cuanky dan memulihkan tenaga keduanya.


Tanpa keduanya sadari ditengah keseruan keduanya, tubuh mereka tak sengaja saling beradu. Pandangan mata mereka bertemu. Naluri Jay sebagai seorang pria tergerak, dia mendekatkan wajahnya semakin dekat untuk mencium bibir Aida yang perlahan memejamkan matanya.


" Guk guk guk guk." Miko menggonggong.


Jay dan Aida yang hampir saja berciuman tersadar dan membuat keduanya salah tingkah.


Apa yang aku lakukan. Sesal Jay dalam hati tapi jantung yang berdebar.


Aida memalingkan wajahnya karena malu bercampur gugup dengan jantung yang sama berdebar lebih kencang.


Syukurlah, gak sampai kejadian. Tadi aku mikir apa sih. batin Aida yang menyesal juga.


.


Setelah merasa kebersamaan mereka sudah cukup, Jay mengatar Aida dan Miko pulang dengan mobilnya. Lalu lintas yang masih cukup padat membuat perjalanan pulang sedikit terhambat.


" Maaf, untuk yang tadi." Jay canggung.


" Gak apa-apa, Kak. Kita lupakan aja." Aida tak ingin membahasnya sebab rasa malu masih belum hilang darinya.


Tak ada obrolan yang berarti diantara keduanya sepanjang perjalanan menuju ke rumah Aida. Miko pun hanya berbaring di kursi belakang tanpa suara.


Aida sudah memutuskan sore nanti, dia akan mengajak Miko ke salon khusus hewan peliharaan langganannya jadi dia memilih langsung diantar pulang saja tanpa mampir kemana pun.


Seperti biasa Aida turun dari mobil Jay di tempat biasa berhenti. Lambaian tangan Aida dan Jay jadi salam perpisahaan mereka sebelum gadis iti menyebrang jalan.


" Apa jadinya jika tadi aku benar-benar mencium Aida." Jay tak habis pikir dengan dirinya yang bisa sampai diluar kendali.


Sepanjang perjalanan pulang Jay kembali memikirkan Aida dan Ben. Dia masih berharap Ben tak akan melakukan apapun pada gadis pujaannya dan berdoa semoga Aida terlindungi dari hal buruk apapun yang bisa menimpanya kapanpun.


" Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? jika itu benar mungkinkah aku dan Aida bisa bersama? Andai saja gadis yang disukai Bobi bukan orang yang sama. Aku sangat khawatir." Jay bermonolong.


.


.


.


Aida membawa masuk Miko ke dalam rumah yang masih sepi karena Kakek dan Neneknya belum pulang dari pasar.


" Kita ke kamarku ya Miko." Ajak Aida pada anjing kesayangannya untuk beristirahat dulu.

__ADS_1


Selain melepas lelah Aida juga ingin mengistirahatkan pikiran dan jantung yang debarannya masih terasa karena kejadian di taman kota bersama Jay saat mereka hampir saja berciuman.


__ADS_2