Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 20


__ADS_3

Dokter Sean masuk ke ruang rawat inap Bobi untuk memeriksa kondisinya.


Hanya ada Mama Miranti yang menemani Bobi, karena Ben sudah pergi ke perusahaan di antar supir pribadinya.


" Selamat Siang, Nyonya, Bobi." Ujar Sean menunduk hormat.


Bobi lebih senang jika orang-orang memanggil dia dengan namanya saja tanpa embel-embel tuan muda jika bukan di lingkungan kediaman askara, hanya saja ada satu orang yang tak mau menuruti kemauan Bobi, orang itu tak lain Jay asisten pribadi kakak sepupunya.


" Bobi, saya periksa kamu dulu." Kata Dokter Sean.


Dokter Sean melakukan tugasnya sebagai seorang dokter dengan telaten memeriksa pasien.


" Kondisi tubuhmu semakin membaik, jika terus begini besok kamu sudah boleh pulang." Ungkap Dokter Sean.


" Tidak bisakah aku pulang hari ini." Keluh Bobi.


Dokter Sean menggeleng, dia tidak bisa memberikan Bobi izin pulang sebelum waktunya. Selain tanggungjawabnya sebagai seorang dokter yang harus memastikan pasiennya kembali sehat, apa yang harus dia katakan pada Ben nanti yang pasti meminta pertanggungjawaban darinya, karena sudah jelas Sean sendiri yang mengatakan Bobi bisa pulang setelah tiga hari di rawat.


Bobi mendengus kesal, " Aku mengerti." Membuat dokter Sean tersenyum.


Mama Maisha terkekeh melihat putranya yang kesal, " Kamu harus sabar Boi demi kebaikanmu." Bobi mengangguk.


" Baiklah! karena pemeriksaan sudah selesai, saya permisi dulu." Dokter Sean menunduk hormat.


.


.


.


Ben duduk di kursi kebesarannya tidak banyak yang dia kerjakan karena semua berkas yang harus di periksa dan tanda tangan sudah selesai.


Meski pikirannya bercabang Ben berusaha fokus saat bekerja, karena bagaimana pun dia punya tanggungjawab yang besar atas Askara Group.


" Bagaiman bisa terpikir oleh dia kata sandi pintunya nomor unitku." Senyum Ben mengembang, dia mengakui kecerdasan Aida.


" Hahhh~ Apa aku merindukannya." Ben mengeluh dia tidak bisa berhenti memikirkan Aida.


Namun, Ben memukul meja dia tidak terima dengan yang baru saja dikatakannya. Menyangkal perasaannya sendiri.


Apa sesulit itu untuk seorang pria mengakui perasaannya sendiri. Entahlah hanya seorang Tuan Muda Ben yang tahu.


.


.


.


Hari sudah berganti Bobi kembali masuk kuliah seperti biasanya, dia menyapa semua orang di mengenalnya di kampus termasuk keempat sahabaynya.


" Masih ingat kuliah, Bob?." Tanya Joni dengan maksud bergurau.


" Apa kamu gak merindukanku?." Tanya Bobi balik membalas gurauan sahabaynya.


" Cih! Aku belum hilang akal, untuk apa merindukan seorang laki-laki." Keluh Joni membuat Bobi, Faisal, Lukman dan Gerry tergelak.


" Oh, ya. Bob! Kamu sudah tahu belum?." Tanya Faisal.


" Tahu apa?." Tanya balik Bobi.


" Ada anak-anak di kampus yang merundung Aida dan satu lagi dia sakit, hari ini mungkin gak masuk kuliah lagi." Ungkap Faisal yang langsung mendapat tatapan horor dari Joni, Lukman dan Gerry.


Bukan tidak boleh memberitahu tapi Bobi baru saja kembali masuk kuliah langsung disuguhkan dengan kabar yang tidak menyenangkan.


" Katakan padaku siapa yang melakukannya?." Bobi mengepalkan tangan dia tidak terima siapa pun mengusik Aida.


Mereka terdiam dan menjadi ragu untuk memberitahu pelaku perundungan Aida.

__ADS_1


" Kalian mau jawab atau aku cari sendiri?." Tegas Bobi.


" Kita gak bisa sebutkan satu-satu tapi di antara mereka ada Mourin CS." Jawab Faisal, bagaimana pun dia yang harus mengatakan karena dia telah memulainya.


" Aku akan memperingkatkan mereka nanti." Bobi menahan kemarahannya.


Bobi tidak bisa bertindak sekarang karena mata kuliah di hari pertama dia kembali ke kampus akan di mulai dengan hadirnya dosen ke dalam kelas.


.


Selasai mengikuti kuliah pagi Nura dan Rena bertemu di kantin, berhubung mata kuliah yang mereka ambil beda ruang kelasnya juga berbeda. Mereka saling berkomunikasi lewat pesan whatsApp.


" Gimana kabar Aida?." Tanya Rena.


" Dia masih sakit, kemarin minggu aku sempat menjengguknya." Jawab Nura.


" Aida sakit apa kalau aku boleh tahu?." Tanya Rena lagi.


" Tipes, Ren." Jawab Nura lagi.


" Semoga Aida lekas sembuh." Ujar Rena memdoakam temannya.


Nura dan Rena tidak melanjutkan obrolan karena menu makan siang yang sudah mereka pesan dan bayar datang, keduanya memilih menikmati makanannya lebih dulu sampai selesai.


.


Bobi datang bersama keempat sahabatnya ke kantin mencari keberadaan Nura. Dari jauh dia bisa melihat gadis yang di carinya baru saja selesai makan.


" Nur! Apa Aida masuk kuliah? Tanya Bobi tanpa basa basi begitu sampai di meja Nura.


" Bukan urusanmu, namaku Nura." Ketus Nura.


" Sama saja, aku datang tanya baik-baik." Kata Bobi.


" Semua akan baik-baik saja kalau kamu gak pernah berteman dengan Aida." Nura tersulut emosi.


" Ckk! Kamu masih saja galak." Ucap Bobi membuat Nura semakin emosi dan berdiri dari duduknya.


" Mana bisa tenang, Aida sakit gara-gara dia dan fansnya." Tuduh Nura.


" Dasar gadis galak, aku baru masuk kuliah sudah kamu tuduh." Ejek Bobi kesal.


" Sembarangan kamu bilang aku galak." Nura tak terima.


" Udah, Ra." Pinta Rena, " Aida belum masuk kuliah, dia sakit tipes Bob." Lanjut Rena. Mata Nura menatap tajam padanya.


" Ok! Makasih infonya, Ren." Kata Bobi.


Tak mau berlama-lama, Bobi mengajak keempat sahabatnya pergi dari kantin, dia tak peduli dengan gadis galak yang mengumpat kesal padanya karena yang dia inginkan hanya informasi tentang Aida.


Nura mendengus kesal selepas perginya Bobi, dia masih tak terima di sebut gadis galak.


" Kenapa kamu kasih tahu dia?" Nura kesal.


" Supaya dia cepat pergi, aku heran liat kalian berdua mirip tom and jerry. Jangan-jangan jodoh." Canda Rena dengan cepat mengambil tasnya di kursi lalu kabur meninggalkan Nura.


" Jangan lari, tarik kata-katamu tadi Ren." Nura mengejar temannya yang sudah keluar dari kantin.


Rena tergelak di kejar Nura yang tak terima dengan apa yang dikatakannya.


.


.


.


Siang sudah berganti malam keluarga Askara sedang berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.

__ADS_1


" Boi, siapa nama gadis itu Mama lupa?." Tanya Mama Maisha.


" Aida, Ma." Jawab Bobi.


Deg!


Hati Ben berdenyut mendengar nama gadis yang menghabiskan satu malam bersamanya di sebut.


" Apa kamu sudah bertemu dengannya?. Tanya Mama Maisha lagi


" Belum, Ma. Aida sakit hari ini kedua kalinya dia gak masuk kuliah." Jawab Bobi.


Ben yang hendak minum menundanya mendengar Bobi mengatakan kalau Aida sedang sakit.


" Sakit apa?." Tanya Kakek Baskara angkat suara.


" Tipes, Kek." Jawab Bobi.


" Kamu masih mengejarnya Boi?." Tanya Papa Zeino. Bobi mengangguk.


" Selama dia belum di miliki siapapun, aku masih bisa berusaha meluluhkan hatinya bukan." Kata Bobi.


" Uhukk.. Uhukk.. ." Ben yang sedang minum terbatuk-batuk.


" Pelan-pelan kalau minum Ben." Mama Maisha mengingkatkan putranya.


" Sudah, sudah. Sekarang waktunya kita makan." Papa Zeino meminta tak ada lagi yang bicara.


Mereka memikmati waktu malam malam dengan tenang sampai selesai. Ben berdiri ingin pergi dari ruang makan.


" Kamu mau kemana Ben?." Tanya Opa Baskara.


" Ke Ruang Kerja Opa, Selamat Malam." Ben ucapkan untuk semuanya.


Ben masuk ke ruang kerjanya duduk di kursi kebesaran. Ada rasa sesak di hati Ben mengetahui kondisi Aida yang sedang sakit, semakin tak bisa menutupi rasa bersalahnya karena bagaimana pun harusnya Ben orang yang bertanggungjawab atas keadaan Aida.


Membuka laci mejanya Ben mengeluarkan selembar foto, dapat lihatnya wajah Aida lagi.


" Mana mungkin aku menyukaimu, gadis yang mematahkan hati adikku." Ben terus menampik perasaanny.


.


" Apa yang sedang kamu pikirkan Ben." Tanya Opa Baskara, masuk ke ruang kerja Ben tanpa mengetuk pintu yang setengah terbuka.


Ben menyimpan kembali foto Aida ke dalam laci menyembunyikannya dari sang opa.


" Tidak ada, Opa." Sangkal Ben.


Menghela napas, " Hahhh~ Opa ini jauh lebih berpengalaman darimu. Apa kamu sedang jatuh cinta?." Tanya Opa duduk di sofa.


Ben diam tidak mengiyakan dan juga mengelak, hanya binggung dengan perasaan dan pikirannya. Niatnya ingin memberi pelajaran pada Aida tapi dia justru melakukan tindakan di luar batas yang tak seharusnya terjadi diantara mereka yang bukan suami istri.


" Ben belum bisa mengatakan ini cinta atau hanya..." Rasa bersalah suara hati Ben.


" Akhirnya di usia Opa yang semakin menua, sebentar lagi akan punya cucu menantu." Opa Baskara terkekeh.


" Ini sudah malam Opa, sebaiknya kita beristirahat." Ajak Ben beranjak dari kursi kebesarannya.


" Opa tunggu kabar baiknya." Penuh harap Opa Baskara ingin cucu pertamanya segera menikah. Ben tak menjawab.


 Ben mendampingi Opa Baskara keluar dari ruang kerjanya mengantarkan sampai ke kamar tidur, membantu sang opa berbaring dan menyelimuti tubuhnya..


" Selamat beristirahat Opa." Ucap Ben sebelum keluar dari kamar tidur.


" Hmmm..." Opa Baskara memejamkan matanya.


Malam kian larut Ben masih terjaga berdiri di depan jendela kamarnya, memikirkan Bobi yang kembali bersemangat untuk meluluhkan hati Aida. Jika Ben mengatakan perbuatannya malam itu maka akan ada banyak hati yang terluka tapi tak mungkin terus ditutupi.

__ADS_1


" Aku harus siap menanggung semua resikonya." Ben yakin.


Apa yang pernah orang katakan benar, bertindak dalam keadaan emosi hanya akan menimbulkan penyesalan.


__ADS_2