Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 24


__ADS_3

Aida bersama keluarganya sudah kembali ke rumah begitu juga Rivan yang akan menginap


" Mas Rivan! Aida siapkan dulu kamarnya ya." Ucapnya.


" Biar Mas bantu." Rivan menawarkan diri. Aida mengangguk.


Aida kembali ke kamarnya selesai merapihkan kamar tamu untuk Rivan, duduk di tepi ranjang dia merenung. Aida menyentuh bibir teringat ciuman Ben padanya.


" Apa yang pria itu inginkan lagi dariku."


Aida sudah berusaha menerima kejadian yang menimpanya meski dengan berat hati, mungkin ke depannya dia bisa saja memiliki pasangan tapi hanya sebatas kekasih karena menjalin hubungan ke tahap serius hanya sebatas anggan baginya.


Berajak dari ranjang Aida memilih pergi ke kamar mandi hanya sekedar mencuci muka, tangan dan kaki sebelum berganti pakaian untuk tidur.


Mendengat ponselnya berdering, Aida keluar dari kamar mandi segera mengambil ponselnya.


" Hallo! Kak Jay." Seru Aida dengan senyum mengembang menerima panggilan masuk.


" Apa kabar, Ai?." Tanya Jay jauh disana.


" Kabarku baik, Kabar Kakak bagaimana?." Tanya Aida balik.


" Baik! Aku senang bisa mendengar suaramu lagi." Ujar Jay.


" Kak! Maaf malam itu aku gak datang dan pagi itu aku menghindarimu." Tutur Aida.


" Sudah lupakan. Kakak tahu kamu punya alasan sendiri."


Jay dan Aida berbicara panjang lebar menceritakan keseharian mereka di tempat yang berbeda. Mengetahui beberapa hari Aida sakit Jay bersedih, karena tak bisa berada di dekatnya. Bahkan kesibukan di Luar Negeri membuatnya baru sempat menghubungi Aida.


" Aida." Seru Jay.


" Iya, Kak." Sahut Aida.


" Aku merindukanmu." Jay tulus.


Deg!


Hati Aida senang sekaligus perih mendengar Jay mengatakan rindu.


" Aida juga merindukanmu, Kak." Mengusap ujung matanya yang berair.


" Jaga dirimu, tunggu Kakak kembali." Pinta Jay.


" Kakak juga jaga diri disana." Ucap Aida.


" Tidurlah! Disana pasti sudah malam. Selamat malam, Aida." Ujar Jay.


" Iya, Kak. Selamat beraktivitas disana." Aida mengakhiri panggilannya.


Meletakkan kembali ponsel di atas nakas, Aida merebahkan tubuhnya selesai berkomunikasi dengan Jay lewat sambungan telepon. Sudah waktunya Aida menarik selimut untuk pergi tidur.


.


...ΩΩΩ...


.


Aida sudah bersiap berangkat ke kampus selesai sarapan pagi. Nenek dan Rivan menunggu di teras depan rumah.

__ADS_1


" Aida berangkat kuliah dulu." Mencium punggung tangan neneknya.


" Ai! Mas antar kamu ke kampus boleh? sekalian jalan." Pinta Rivan. Kebetulan dia ada urusan pekerjaan di luar.


" Boleh, Mas." Aida bersedia.


" Minggu ini kamu jangan dulu kerja ya Ai." Saran Nenek. Aida mengangguk.


" Nek, kita berangkat dulu." Ucap Rivan berpamitan.


" Kalian berdua hati-hati di jalan." Pesan Nenek Miranti


Aida dan Rivan menuju mobil sedangkan nenek Miranti kembali masuk untuk beres-beres selagi seorang diri di rumah.


Kakek Rianto sudah pergi ke pasar dini hari tadi dan nenek Miranti memutuskan untuk berada di rumah saja selama seminggu ini, ingin mengawasi sang cucu supaya pulang kuliah tepat waktu dan tidak bekerja dulu. Walau pun Aida sudah terlihat sehat sang nenek masih saja khawatir.


.


Aida hanya diam selama berada di dalam mobil Rivan yang sesekali memperhatikannya. Pandangan mata mereka lurus ke depan melihat jalanan yang ramai di pagi hari.


" Ai! Ada yang ingin Mas tanyakan?." Rivan memulai pembicaraan.


" Tanya saja, Mas." Jawab Aida.


" Apa kamu sedang ada masalah? Mas lihat semalam di restaurant kamu seperti habis menangis. Selidik Rivan.


" Semalam itu mataku kelilipan." Kilah Aida berbohong.


" Kamu tahu semalam Aida, ada pria yang terus melihat ke arahmu dari jauh, dia seperti tidak suka kedekatan kita." Ungkap Rivan.


Aida terdiam menerka-nerka siapa pria yang di maksud Rivan. Sampai Aida berani menduga jika pria yang di maksud Tuan B karena hanya dia yang Aida tahu berada di sana.


" Aida belum punya pacar, Mas." Ucapnya.


" Apa gak ada satu pun pria yang suka adikku ini." Mengacak rambut Aida. "Tapi, pria berambut silver semalam terlihat cemburu kamu bersamaku." Lanjut Rivan.


" Mungkin saja Mas salah kira." Kilah Aida merapihkan rambut.


Ternyata dugaan Aida benar, Tuan B pria yang di maksud oleh kakak sepupunya.


" Tidak mungkin, apa dia pengagum rahasiamu?." Duga Rivan.


" Bahas yang lain saja." Aida tidak mau menjawab.


Aida tidak ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan perasaan atau pria. Apalagi pria yang di bahas orang yang paling tidak ingin Aida ingat.


Rivan membahas yang lain tentang pernikahannya yang akan berlangsung dua bulan lagi. Meminta Aida untuk datang bersama kakek dan neneknya.


" Ada juga wanita yang mau menikah dengan Kakak." Ledek Aida. Keduanya tergelak.


" Hei! Aku ini sudah tampan dan mapan meski masih kalah dengan pria semalam." Ungkap Rivan.


" Sudah jangan bicara lagi." Aida kesal, kakak sepupunya mengungkit sosok Tuan B.


" Maaf! keceplosan." Sesal Rivan.


Mobil yang dikemudikan Rivan sampai di depan kampus. Aida hendak turun tanpa berpamitan, Rivan berhasil mencegahnya.


" Tunggu dulu." Pinta Rivan.

__ADS_1


" Aida mau kuliah, Mas." Ucapnya.


" Mas minta maaf, janji gak akan ulangi lagi. Pulang kuliah nanti, Mas jemput gimana?." Bujuk Rivan.


" Iya, Aida maafin. Mas kasih kabar saja kalau mau jemput." Aida melunak.


Turun dari mobil Rivan banyak yang memperhatikan kedatangan Aida. Kemaren ada pria lanjut usia yang menjemputnya, pagi ini ada pria lain lagi yang mengatar Aida ke kampus.


" Mas, pergi dulu." memuka kaca mobil melambaikan tangan pada adiknya.


" Hati-hati di jalan, Mas." Sahut Aida bala melambaikan tangan.


.


" Wah! wah! siapa lagi itu? kemarin pria tua, hari ini pria lain lagi." Sindir Mourin.


" Jaga bicaramu, Orang yang kamu sebut pria tua itu Kakekku dan yang tadi kakak sepupuku." Ungkap Aida tak terima.


" Sudah kepergok masih bisa berkilah, hebat ya kamu." Mourin terus memancing kekesalan Aida.


Aida yang tidak terima memilih pergi saja dari hadapan Mourin, tidak peduli gadis yang menyindirnya itu terus bicara.


" Dasar murahan." Umpat Mourin


Aida mengabaikan dia, meladeni orang yang tidak jelas tujuannya hanya buang-buang waktu begitu pikirnya.


.


" Aku ada salah apa sama dia, kenapa Mourin terus mengusikku." Aida masih tak terima hanya mengerutu begitu sampai di ruang kelas yang masih sepi.


Tiba-tiba Nura datang masuk ruang kelas, dia habis berlari menyusul Aida mendengar sahabatnya tadi ribut dengan Mourin.


Nura mengatur napas, " Ai! Kamu gak apa-apa? Ada yang bilang kamu ribut dengan Mourin."


" Aku gak apa-apa, dia hanya salah paham." Jawab Aida.


" Jangan tutupi apapun dariku." Nura meminta penjelasan.


Aida tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya kecuali satu hal. Dia masih belum siap mengatakan kejadian malam itu di apartement mewah bersama Tuan B.


Pada sahabatnya Aida mulai menjelaskan apa yang Mourin katakan dan tuduhkan. Nura dampai mengebrak meja tak terima mengetahui sahabatnya disebut sebagai wanita murahan.


" Semakin kurang aja dia sama kamu. Aku harus melabraknya." Nura geram.


" Tidak ada gunanya, sekalipun kita menjelaskan panjang lebar. Mourin tetap dengan pemikirannya sendiri gak akan mau terima." Jelas Aida berusaha mencegah tindakan sahabatnya.


Nura mendengus kesal, " Kalau begitu aku harus bicara dengan Bobi, dia yang paling bertanggungjawab mengurus fans garis kerasnya."


" Melihatnya saja kamu gak suka, yakin mau menemuinya?." Aida mengulum senyum.


" Ish!!! ya sudah, gak jadi. Aku malas berurusan dengannya." Nura mengurungkan niatnya.


Aida tergelak suasana hati yang sama kesal dengan sahabatnya mencair. Nura yang tak terima ditertawakan hanya mengerucutkan bibirnya. Tapi ada rasa senang di hati Nura melihat Aida bisa tertawa lepas, itu lebih baik daripada sahabatnya bersedih.


" Maaf! Kamu lucu sih." Kata Aida.


" Kasih tahu aku kalau Mourin mengusikmu lagi, aku gak akan tinggal diam." Pinta Nura. Aida mengangguk.


Berani menganggu sahabatku lagi awas saja, gak akan aku biarkan. batin Nura

__ADS_1


Selama ini jika ada yang berani mengusik Aida mereka akan berhadapan dengan Nura. Meski Aida selalu mencegahnya tapi Nura tidak bisa hanya diam jika sahabaynya diperlakukan tidak baik. Mereka sahabat yang saling melengkapi satu sama lain.


__ADS_2