
Nura senang diberi kesempatan bisa berkenalan dia sepupu Aida, tampan mapan itu katanya tapi sayang milik orang itu yang Nura tidak suka, dia harus mundur sebelum maju.
" Jadi Nura ini sahabatmu, Ai?." Tanya Rivan.
" Iya, tapi bukan cuma sahabat, Nura sudah seperti saudara untukku." Jawab Aida. Nura mengembangkan senyum.
" Mas Rivan, Aida. Aku pamit ya, supirku sudah kelamaan nunggu." Sela Nura.
" Mas kira kita bisa makan siang dulu bertiga, sebelum Mas pulang ke Bandung." Ujar Rivan.
" Jadi, Mas Rivan mau pulang hari ini?." Tanya Aida.
Rivan hendak menjawab pertanyaan adik sepupunya, namun seseorang yang memanggil Aida dari kejauhan menghentikannya.
" Ai, Aida... ." Panggil Bobi sambil berlari.
" Mau apa lagi dia?. Ai sebaiknya kamu cepat pergi sama Mas Rivan." Usul Nura.
Aida binggung harus menurut pada Nura atau menunggu Bobi datang padanya sementara Rivan yang tidak tahu apapun memperhatikan adik sepupunya yang kebinggungan.
" Kita pulang sekarang, Ai?." Ajak Rivan membuka pintu mobil untuk adik sepupunya.
" Iya, Mas." Aida memutuskan untuk pulang saja.
" Aida! Tunggu... ." Panggil Bobi lagi.
" Hei! Kamu gak bisa di kasih tahu sekali ya." Tegur Nura.
" Minggir! Aku gak ada urusan sama kamu." Bobi mendorong Nura ke samping.
" Bobi!!!." Teriak Aida.
" Ai! kita harus bicara, kamu gak bisa mendiamkan aku terus." Ujar Bobi.
Aida yang tadinya hendak masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya, melihat Bobi yang bersikeras menemuinya bahkan sampai mendorong Nura, untuk tidak sampai jatuh.
" Bobi! aku sudah bilang, gak mau lagi bicara sama kamu." Aida kesal.
" Tapi Ai, kamu gak kasih tahu aku alasannya. Aku gak terima." Protes Bobi.
" Aku gak peduli, bahkan seumur hidup aku gak mau mengenalmu lagi." lirih Aida.
Deg!
" Ai!." Hati Bobi terasa sesak mendengar perkataan Aida padanya.
Aida berusaha menahan kemarahannya, dia masih tak habis pikir apa Bobi sedang mempermainkannya, mana mungkin seorang adik tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh kakaknya sendiri, merenggut kehormatan seorang gadis dalam semalam untuk membalas rasa patah hati yang tak sengaja Aida torehkan karena menolak cinta Bobi.
" Aku minta maaf atas semua yang terjadi selama aku gak ada di kampus." Sesal Bobi.
Aida memejamkan matanya menenangkan diri sejenak, apa sesulit ini untuk meminta Bobi menjauh darinya.
" Ai! aku... ." Ucap Bobi terpotong.
Bugh!
Bugh!
Rivan yang sedari tadi hanya diam tak kuasa menahan diri melayangkan pukulan dua kali ke wajah Bobi sampai orangnya terjatuh.
" Ssshh... " Bobi meringis menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
" Apa kau tidak dengar yang adikku katakan?. Rivan yang geram memegang kaos Bobi hendak melayangkan pukulan lagi tapi Aida berhasil menahannya.
" Mas jangan! Tolong hentikan atau akibatnya akan sangat buruk untukku." Bujuk Aida menahan tangis.
" Dia gak mau mendengarkanmu, gak ada cara lain untuk membuat laki-laki seperti dia mengerti selain memukulnya." Rivan emosi.
" Aku mohon." Pinta Aida. Rivan menghentikan aksinya melepaskan kaos Bobi yang di tariknya.
" Tunggu, maksud kamu tadi apa Ai?." Tanya Rivan.
Aida tidak menjawab dia menolong Bobi untuk bisa berdiri. Nura mendengus kesal melihat Aida masih saja berbaik hati pada laki-laki yang sudah membuat masalah untuk sahabatnya.
" Aku minta maaf atas perbuatan kakakku, Bob." Sesal Aida.
" Aku pantas mendapatkan ini semua." Bobi tidak mempermasalahkan.
" Dia pantas mendapatkannya, Ai." Sela Nura.
" Yang dikatakan Nura benar." Sahut Rivan.
Mereka berdua tidak tahu jika Aida bisa berada dalam masalah besar, pukulan di wajah Bobi membekas. Jika sampai kakaknya melihat maka habislah dirinya begitu pikir Aida.
" Kalian berdua cukup." Tegur Aida.
Aida berniat bertanggungjawab membawa Bobi masuk kembali ke kampus menuju unit kesehatan kampus untuk mengobati luka memar di pipi dan sudur bibir Bobi yang berdarah.
Rivan dan Nura tidak beraksi, mereka hanya membiarkan Aida pergi bersama Bobi dengan pertanyaan yang muncul di pikiran mereka.
" Kamu lihat tadi, Ra. Aida begitu ketakutan." Ujar Rivan.
" Aku juga gak ngerti ada apa dengannya." Ucap Nura.
" Ya, sudah. Aku pulang ya Mas." Nura pamit.
" Hati-hati di jalan-jalan." Rivan dan Nura saling melambaikan tangan.
.
Aida selesai mengobati Bobi, mereka sama sekali tidak saling bicara.
" Sudah ya, aku mau pulang." Ucap Aida.
" Terima kasih, Ai." Ujar Bobi.
" Kamu gak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku bertanggungjawab." Aida mengambil tasnya sebelum pulang.
Bobi tidak mencegah Aida pergi. Sudah cukup baginya hari ini bersikeras mengajak Aida bicara karena dia justru mendapatkan pukulan. Benar saja terlalu memaksakan diri selalu berakhir tidak baik.
Keempat sahabat Bobi masuk ruang unit kesehatan tanpa permisi, mereka ingin mengetahui kondisi sahabatnya begitu mengetahui jika Bobi di pukul orang. Hal iti justru mengagetkan Bobi yamg sedang berbaring.
" Hei! Bisa tidak kalau masuk ketuk pintu dulu." Tegur Bobi.
" Maaf Bob! Kita semua panik tadi, gimana kondisimu?." Tanya Faisal.
" Seperti yang kalian lihat, aku habis di pukul orang." Jawab Bobi kesal di buat terkejut semua sahabatnya yang menerobo masuk tanpa permisi.
" Siapa yang melakukannya biar aku balas?." Kecam Gerry tak terima sahabatnya kena pukul.
" Aida bilang dia kakak sepupunya." Jawab Bobi. Semua terdiam sejenak.
" Hahhh~ Kamu masih saja nekat, jadi kena pukul kan." Omel Faisal.
__ADS_1
Bobi tahu dirinya memang salah langkah lagi, kalau saja dia tetap pada pendiriannya san tidak goyah semua tak akan terjadi.
Bagaimana Bobi bisa menjelaskan pada keluarganya nanti kalau dia di pukul orang karena memaksa ingin mengajak Aida bicara, gadis yang sampai detik ini masih menjaga jarak darinya meski tadi sempat mengobati luka di wajahnya.
" Mungkin aku harus menyerah." Bobi sadar tidak ada gunanya memaksakan hendak pada orang lain.
" Sekarang bilang gitu, besok lain lagi." Ujar Joni ikut bersuara.
" Namanya juga urusan hati, lain di kata lain di sini." Bobi menunjuk hatinya membela diri.
Lukman menepuk keningnya, " Kalau sudah bicara soal hati memang susah, tapi harus pakai akal sehatmu." Memberi saran.
" Aida bisa semakin menjauh." Timpal Gerry bersuara lagi.
" Kalian kesini mau lihat kondisiku atau bergatian kasih nasihat. Ucap Bobi malas kalau harus meladeni semua sahabatnya.
.
.
.
Aida berada di dalam mobil bersama Rivan, mereka tak saling bicara. Aida kesal sekaligus marah karena tidakkan spontan kakak sepupunya yang memukul orang sembarangan.
" Maaf! Mas aku sudah salah langkah tadi." Ujar Rivan.
" Harusnya Mas gak ikut campur urusanku." Keluh Aida.
" Mas mana bisa diam saja lihat kamu tadi gak suka di ganggu dia." Dalih Rivan.
" Sudah Mas, jangan kita bahas lagi saja." Usul Aida menyudahi pembahasannya.
.
Rivan jadi teringat pertemuannya dengan CEO dari Askara Group. Tapi melihat Aida yang suasana hatinya sedang tidak baik, Rivan ragu untuk memberitahu adik sepupunya.
" Aida!." Panggil Rivan ingin mengajak bicara lagi.
" Iya, Mas. masih ada yang mau dibicarakan?." Tanya Aida.
" Iya, tapi kamu janji dulu gak akan marah." Pinta Rivan.
Aida melihat kali ini Rivan ingin berbicara hal yang serius. Daripada jadi penasaran Aida haru tahu apa yang ingin kakak sepupunya bicarakan.
Aida menghela napas, " Aku janji gak marah."
Sebagai pembuka Rivan dengan semangat menceritakan pertemuan dia dengan Ben Askara orang menawarkan kerjasama padanya dan berakhir dengan kesepakatan resmi terjalinya kerjasama kedua perusahaan.
Kemudian dengan hati-hati Rivan memberitahu Aida jika pria yang semalam dia lihat, orang yang sama dengan yang ditemuinya pagi tadi. Dengan kata lain, pria berambut silver yang Aida kenal sebagai Tuan B adalah Ben Askara seorang CEO fenomenal di dunia bisnis pemilik perusahaan ternama Askara Grup.
Marah? tidak, Aida justru diam seribu bahas tubuhnya terasa lemas dengan tangan yang berkeringat dingin. Pantas saja waktu itu dia bisa dengan mudah dizinkan masuk sebuah gedung apartement mewah tanpa perlu menjaminkan identitas bahkan naik lift khusus menuju lantai tertinggi tempat dimana unit 999 berada.
Bagaimana ini, jika sebelumnya Ben berhasil menjebak Aida mengahabiskan satu malam bersamanya. Apa lagi yang akan dia lakukan jika mengetahui kejadian pemukulan yang menimpa Bobi tadi. Aida akan kembali berurusan Tuan B atau lebih tepatnya Ben Asakara seorang Tuan Muda berhati dingin yang bisa melakukan apa pun sesuai kehendaknya.
" Mas Rivan yakin gak salah orang?." Tanya Aida memastikan, berharap jika kakak sepupunya salah bicara.
" Yakin! Kamu beruntung Ai bisa sampai menarik perhatiaannya. Dia pria yang hebat dengan sejuta pesona meski apa yang dikatakan orang benar Tuan Muda pria yang dingin dan tidak banyak bicara." Jelas Rivan.
" Mas sebentar lagi kita sampai rumah." Aida mengalihkan pembicaraan.
Sudah cukup, Aida semakin bergidik ngeri tidak sanggup lagi untuk membahas pria dingin yang masuk tanpa permisi ke dalam hidupnya.
__ADS_1