Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 35


__ADS_3

Aida berada di dalam sebuah taksi seorang diri, menunju tempat dimana pria yang akan dia temui berada.


Perusahaan Askara Grup


Supir taksi memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk lobby perusahaan.


" Nona, sudah sampai." Supir melirik Aida yang masih termenung memikirkan apa yang harus dia lakukan.


" Emh... Pak! bisa tunggu disini, saya hanya sebentar."


Taksi satu-satunya kendaraan yang bisa Aida gunakan untuk melarikan diri, jika tujuannya menemui Ben justru menimbulkan masalah baru.


" Baik, Nona. Saya akan menunggu di parkiran."


Supir taksi itu melihat kegusaran di raut wajah Aida, dia ingat betul gadis yang menjadi penumpangnya sekarang pernah naik mobilnya tempo hari.


" Nona, keraguan tidak akan menghasilkan, coba lakukan saja meskipun hasilnya buruk." Supir taksi hanya mengira kalau Aida, seorang wanita yang ingin melamar pekerjaan.


" Bapak, benar. Untuk tahu hasilnya kita harus mencoba."


Aida turun dari taksi, menarik napas dan mengehembuskannya pelan. Aida bertekad untuk menemui pria yang masuk ke hidupnya tanpa permisi, mengacaukan semua r3ncana masa depan yang sudah Aida susun dengan rapih.


" Nona! Anda tidak bisa masuk ke perusahaan sembarangan." Seorang petugas keamanan menghentikan langkah Aida.


" Izinkan Saya bertemu dengan Tuan muda Ben, hanya sebentar."


" Tidak mungkin Tuan muda mengenali Anda, jangan coba-coba untuk menipu kami." Seorang petugas lain angkat bicara.


" Saya mengenalnya." penampilan Aida yang sederhana jelas meragukan bagi kedua orang petugas keamanan.


Aida mencari cara agar bisa lolos dari mereka, dan berhasil masuk ke dalam lobby perusahaan dengan berlari.


" Nona! Berhenti." Kedua petugas mengejar Aida yang sudah menerebos masuk.


Mereka harus bisa menangkap Aida sebelum tuan muda Ben mengetahuinya atau nasib pekerjaan mereka akan terancam.


.


Ben keluar dari pintu lift bersama sekretaris Yun, mereka akan pergi untuk makan siang di luar. Dengan jelas Ben melihat seorang gadis kejar dua orang petugas keamaan perusahaan.


" Tuan muda, itu... ." sekretaris Yun, gelisah setengah mati, bagiamana bisa perusahan sebesar Askara Group.


Gawat! Siapa gadis itu, berani sekali dia berlari masuk ke gedung ini. Apa dia punya sembilan nyawa.


Ben tidak menlanjutkan langkahnya dia hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Kurang dari lima meter jarak antara Aida dan Ben kini bertemu.


Aida terpaku dengan napas yang tersenggal-senggal, menatap tidak percaya dirinya bisa melihat lagi pria yang menghabiskan satu malam bersamanya.


Semua pasang mata tertuju ke arah Aida. Matilah sudah, berani sekali gadis itu sembarangan masuk mengelabui dua petugas keamanan yang tak lagi berkutik melihat tuan muda Ben ada disana. Mundur atau terus hanya ada dua pilihan yang harus Aida tentukan saat ini.

__ADS_1


Ini bukan balas dendamku, aku hanya ingin mengakhiri balas dendamnya padaku.


Aida melangkah cepat menghampiri Ben yang masih berdiri di tempatnya.


" Tuan B... " Aida berjijit mengalungkan tangannya ke leher Ben, memejamkan matanya dan mencium pria dihadapnya itu tanpa ragu.


Ciuman bisa menyalurkan perasaan yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata, itu yang Aida baca dari mesin pencarian di ponselnyam


Ben menerima ciuman Aida dan membalasnya lebih dari yang gadis itu berikan.


Mata semua orang terbelalak menyaksikan presdir mereka tiba-tiba saja mendapatkan ciuman dari seorang gadis, bak gayung bersambut Ben tidak marah sama sekali. Pria itu bahkan memegang pinggang dan menahan punggung Aida.


Ciuman intens yang mereka lakukan layaknya sepasang kekasih yang saling merindukan satu sama lain karena lama tak berjumpa.


Aku mohon akhiri dendamu, aku sudah tidak berdaya.


Air mata Aida jatuh mengalir, dia tahu mungkin saat ini semua orang akan memandang rendah dirinya. Tapi, menyalurkan sebuah perasaan dengan ciuman hanya satu-satunya jalan yang bisa dirinya tempuh untuk mengakhiri balas dendam Ben padanya, sebelum Aida bisa melanjutkan hidup di tempat yang berbeda.


Sekretaris Yun memutar balikan tubuhnya di tidak tahan melihat pemandangan adegan romantis di depan mata sucinya yang sudah ternoda.


Berani sekali gadis itu mencium tuan muda, tapi tuan Ben tidak marah. Apa mereka memiliki hubungan khusus?


Andai saja aku punya keberanian untuk merekamnya dan memberikan pada Jay, dia pasti akan kena serangan jantung.


Aida tidak lagi mengalungkan tangannya, perlahan melepaskan ciumannya dengan Ben. Aida merasa cukup sampai disini saja semuanya harus selesai. Ben mengusap lembut pipi Aida yang basah dengan air mata kesedihan.


Aida melepaskan dirinya dari Ben, tanpa berkata sepatah kata pun dan tanpa memandang lagi pria itu, dia pergi berlari menjauh darinya.


Aida kembali masuk ke dalam taksi yang menunggunya di parkiran mobil.


" Jalan, Pak." Aida menghapus air matanya yang tersisa.


.


Ben memejamkan mata dia merasakan sesak di dada dan sakit yang teramat sangat di hatinya.


Sekretaris Yun mengisyaratkan semua orang yang menyaksikan tuan muda Ben dan Aida untuk kembali bekerja karena semua sudah selesai.


" Tuan Muda... ."


Ben tidak menjawab dia kembali masuk ke dalam lift setelah petugas keamanan yang berjaga disana menekan tombol membukan pintu.


Apa yang akan terjadi setelah ini, kenapa harus aku yang ada di situasi begini.


.


Sektretaris Yun kembali mengikuti langkah Ben namun dirinya terlambat masuk ke dalam lift seolah dia tak diizinkan untuk ikut. Dia masuk ke pintu lift lain untuk segera menyusul Ben.


Aku tidak bisa membiarkan tuan muda seorang diri.

__ADS_1


.


Ben menendang meja yang ada di depannya sampai terbalik. Ben duduk di sofa memijat kening yang terasa pusing.


Bagaimana bisa dia datang kesini menemuiku, tidak ada satu orang pun yang tahu kalau aku Kakaknya Bobi dan apa itu tadi yang Aida lakukan padaku, bahkan aku membalas ciumannya.


Napas Ben terdengar naik turun, dia tidak pernah menduga Aida akan datang dengan sendirinya menemui dia.


" Tuan muda, apa Anda baik-baik saja?." di susul ketukan pintu sebanyak tiga kali.


" Izinkan Saya masuk." Kalau tidak Jay akan menghukumku nanti meskipun hukan tuan muda bisa jauh lebih berat pikir sekretaris Yun.


" Masuk."


Yun bisa melihat dengan jelas kondisi Ben meja yang jungkir balik ulah siapa lagi kalau bukan tuan mudanya.


" Apa yang kau lihat? kembalikan seperti semula." Ben yang menyadarkam tubuhnya di sofa dan memejamkan mata bicara tanpa memandang sekretaris Yun.


" Baik, Tuan." Yun segera mengembalikan posisi meja dengan benar di posisinya.


" Apa yang kau lihat hari ini, harus kau rahasiakan seumur hidupmu."


" Saya mengerti, Tuan muda."


Aku lebih sayang nyawaku daripada memyebarkan apa yang aku lihat hari ini. Aku bukan pria lambe turah.


Ben membenarkan posisi duduknya menatap keluar jendela, " Apa kau pernah jatuh cinta pada musuhmu?."


Musuh?


" Saya pernah jatuh cinta pada teman kuliah Saya dulu sampai berani menyatakan perasaan, tapi sayangnya dia lebih memilih menikah dengan pria lain yang sepadan dengannya. Hanya saja dia bukan musuh Saya." Yun menceritakan bagaimana kisah cintanya yang kandas.


" Kau tidak dengar dengan benar apa yang aku tanyakan?." Ben mengebrak meja.


" Saya tidak punya pengalaman jatuh cinta dengan musuh, Tuan muda. Maafkan Saya." Yun kali ini menjawab dengan benar.


" Dengan orang yang kau benci?." Ben masih bertanya lagi.


" Tidak ada Tuan muda. Saya justru membenci wanita yang pernah Saya cintai itu, karena dia Saya juga benci menyatakan perasaan."


Apa tuan muda mencintai gadis tadi, apa gadis itu musuhnya atau orang yang dia benci.


" Pesankan makan siang untukku dan kembali ke ruang kerjamu." Ben sudah tidak ingin lagi membahas apapun, karena tidak mendapkan jawaban yang diinginkan.


" Baik, Tuan muda. Saya permisi." sekretaris Yun segera undur diri dari hadapan tuan muda Ben.


Ben seorang diri di ruang kerja krmbali duduk di kursi kebesarannya.


" Kenapa kamu tidak mengatakan sepatah kata pun padaku Aida."

__ADS_1


Ben sesak merasa ciuman Aida sebagai bentuk salam perpisahan karena gadis itu akan pergi jauh, menghilang darinya.


__ADS_2