
Ben terus saja mondar mandir di ruang keluarga menunggu informasi kabar Bobi dari Jay. Sedangkan kakeknya memilih untuk beristirahat lebih dulu ke kamarnya diantarkan Pak Musin. Mama Maisha dan Papa Zeino masih menemani Ben mereka cemas, takut Ben tak bisa mengontrol emosinya.
" Tersisa sepuluh menit, apa sangat sulit bagi Jay menemukan keberadaan adikku." Ben emosi.
" Tenangkan dirimu, Ben. Lihatlah Mamamu ketakutan melihatmu emosi begitu." Bujuk Papa Zeino.
.
.
.
Jay dan beberapa pengawalnya sudah menemukan keberadaan Bobi di Club Malam dan mereka sedang dalam perjalanan pulang. Namun, Jay tak siap untuk memberitahu Ben lewat sambungan telepon karena tuan mu danya pasti marah besar mengetahui adik kesayangannya mabuk karena minuman beralkohol karena mendatangi ke tempat hiburan malam.
.
Tiga buah mobil yang salah satunya mobil milik Bobi memasuki gerbang utama menuju ke halaman rumah kediaman keluarga Askara. Pak Mus yang menunggu di luar rumah segera masuk ke dalam untuk memberitahu penghuni rumah.
" Tuan Muda, mereka sudah datang." Pak Musin menyampaikan apa yang dilihatnya. Ben, Papa Zeino dan Mama Meisha berdiri untuk menyambut kedatangan orang-orang yang mereka tunggu sejak tadi.
Jay memasuki rumah keluarga Askara diikuti oleh dua orang pengawal yang memapah Bobi karena sudah tak sadarkan diri.
" Apa kau sengaja membuatku menunggu?." Bentak Ben pada Jay meluapkan emosinya.
" Maaf, Tuan Muda." Jay menundukkan kepala.
Mama Maisha menutup mulutnya tak percaya melihat kondisi Bobi yang kacau.
" Bawa Bobi masuk ke kamarnya." Perintah Papa Zeino pada kedua pengawal yang masih menopang tubuh tuan muda kedua.
" Baik, Tuan Besar." Jawab salah satu pengawal.
" Pak Mus, ikut saya ke kamar Boi." Mama Maisha berjalan di belakang Bobi dengan dua pengawal yang memapahnya diikuti oleh Pak Musin dan seorang pelayan.
.
" Katakan padaku, dimana kau menemukan Boi dan kenapa dengannya?." Ben mengusap kasar wajahnya, Dia ingin sekali membanting apapun yang ada disekitarnya. Namun, karena ada sang Papa dia berusaha menahan diri.
Papa Zeino meminta Ben dan Jay untuk duduk lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
" Jay! jelaskan semuanya." Ucap Papa Zeino
" Baik, Tuan Besar." Jay menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak satu pun yang Jay tutupi mulai dari dia menghubungi beberapa teman Bobi tapi hasilnya nihil, mereka tak ada yang tahu keberadaan tuan muda kedua keluarga Askara. Akhirnya Jay harus memeriksa semua cctv seluruh jalanan kota untuk mengetahui kemana Bobi pergi dengan mobilnya dari kampus tempat terakhir kali keberadaannya diketahui.
Sangat mudah untuk Jay melakukan semua karena izin bisa dia dapatkan tanpa perlu bersusah payah. Jay sendiri terkejut mendapati mobil Bobi terparkir di area tempat hiburan malam, awalnya dia mengira mungkin Bobi sedang merayakan pesta ulangtahun atau acara bersama teman-temannya yang memang tak semua Jay kenal.
Papa Zeino memijat keningnya yang terasa pening, " Boi, pergi ke Club Malam dan minum minuman beralkohol?."
" Iya, Tuan Besar." Jawab Jay jujur.
" Bersama siapa?." Tanya Papa Zeino lagi.
" Sendirian, Tuan Besar." Jay menjawab lagi.
Ben yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, " Kau yakin dia sendirian?."
" Yakin, Tuan Muda. Seorang sahabatnya mengatakan Tuan Muda Kedua pergi dari kampus dengan rasa kecewa karena cintanya ditolak seorang gadis dan mungkin itu yang menyebanya Tuan Bobi sampai berani mendatangi tempat hiburan malam dan..." Jelas Jay yang belum sempat melanjutkan perkataannya harus terpotong karena Ben berjalan cepat menuju anak tangga yang pasti dia mau menuju ke kamar adik sepupunya.
" Ben, berhenti!." Perintah tegas Papa Zeino menghentikan langkah putranya.
" Jay, kau cari tahu siapa gadis yang berani menolak cinta adikku. Besok pagi aku ingin tahu informasinya." Ben kembali melanjutkan langkahnya. " Aku hanya ingin lihat keadaan adikku, Pa." Lanjutnya membuat Papa Zeino dan Jay bernapas lega.
" Baik, Tuan Muda." Jay menyanggupi perintah Ben padanya.
" Jay! Terima kasih atas bantuanmu, sekarang sebaiknya kamu pulang." Ucap Papa Zeino.
.
.
.
Ben yang sudah naik ke lantai dua di rumahnya sampai di depan kamar Bobi hendak membuka pintu, namun Mama Maisha lebih dulu membuka pintu kamar dari dalam.
" Ma! bagaimana keadaan, Boi? Aku ingin melihatnya." Tanya Ben ingin masuk ke dalam kamar.
" Jangan sekarang, besok saja. Biarkan Boi beristirahat." Saran Mama Maisha menahan Ben untuk masuk.
" Biarkan aku melihatnya sebentar." Pinta Ben.
" Kamu masih marah padanya Ben, jadi pergilah ke kamarmu saja." Mama Maisha tetap melarang Ben.
Ben menghela napas, " Baiklah, aku akan menemuinya besok pagi." dia mengalah dan pergi menuju kamarnya sendiri.
" Selamat tidur, Ben." Mama Maisha mengelus dada bernapas lega melihat putranya pergi menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1
Mama Maisha tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ben sampai masuk ke dalam kamar, karena Bobi yang sedang muntah-muntah akibat minuman beralkohol akan ketahuan, dan memancing kemarahan putra sulungnya semakin besar.
Mama Maisha sangat menyayangi kedua putranya bahkan Ben disebutnya sebagai putra sulung dan Bobi putra bungsu meski yang sebenarnya tuan muda kedua itu merupakan anak dari adik laki-laki suaminya yang berarti keponakannya.
" Pak Mus! bawa semua pakaian kotor ke ruang cuci dan tolong ambilkan segelas teh hangat untuk Boi."
.
.
.
Di dalam mobil yang melaju pikiran Jay jadi bercabang entah dugaannya benar atau salah. Dia teringat sore tadi saat Aida mengatakan dirinya menolak cinta seseorang dan malamnya dia mengetahui Bobi cintanya telah ditolak seseorang. Ada satu fakta lagi yang memperkuat dugaannya, Bobi dan Aida satu kampus dan sangat mungkin mereka saling mengenal satu sama lain.
" Aku harus bagaimana jika dugaanku benar, Apa yang akan Ben lakukan pada Aida." Jay memukul Stir mobil. Jika sampai Ben turun tangan maka dirinya tak akan bisa berbuat apapun untuk melindungi gadis pujaan hatinya.
.
Sesampainya di rumah Jay kembali menghubungi salah satu sahabat Bobi yang tak lain bernama Joni.
" Hallo! bisa kamu beritahu siapa gadis yang menolak Bobi?." Jay bertanya langsung pada intinya.
" Namanya A..Aida Reinara, Kak." Jawab Joni gugup karena Jay mengaku sebagai kakak dari Bobi.
Deg!
Jay terdiam sesaat jatungnya berdegup kencang, dirinya ingin sekali menyangkal.
" Bisa kamu kirimkan fotonya padaku?." Tanya Jay lagi.
" Bisa, Kak. Aku kiri fotonya sekarang." Jawab Joni.
" Terima kasih." Jay mengakhiri panggilannya.
Jay memijat keningnya yang terasa pusing, dia harus menerima kenyataan bahwa Aida yang dikenalnya adalah orang yang sama dengan gadis yang telah menolak cinta Bobi setelah dia melihat dengan jela foto yang dikirim Joni melalui pesan WhatsApp ke ponselnya.
" Apa yang belum aku mulai, harus aku akhiri." Jay keluar dari kamarnya berjalan sampai diujung pagar pembatas balkon.
Malam ini Jay tak akan bisa tidur memikirkan hari esok, bagaimana pun Tuan Muda sudah memintanya memberikan informasi tentang Aida, yang tak mungkin bisa dia manipulasi datanya, Ben pasti tahu jika dirinya ampai berbohong.
" Hallo! Aku ingin kau cari informasi biodata seorang gadis, Aida Reinara. Kirimkan padaku via email segera." Mau tak mau Jay harus menghubungi seorang informan untuk mendapatkan biodata lengkap mengenai Aida.
Setelah Jay mengakhiri panggilan dia kembali teringat dengan kata-katanya sendiri pada Aida untuk menjaga diri baik-baik.
__ADS_1
" Kenapa harus kamu Ai, apa yang bisa aku lakukan untuk melindungimu dari kemarahan Tuan Muda nanti." Jay bermonolog, merasa tak berdaya sebagai seorang pria bukan karena dirinya lemah. Tapi sumpah setia seorang Jay pada Tuan Muda Ben yang pernah diikrarkannya dulu tak mungkin dia ingkari.