
Tubuh Aida merosot di tembok pembatas kampus, menekuk tubuhnya. Aida menunduk menutupi tangisnya. Nura dan Rena berjongkok menguatkan Aida namun tak mampu menahan tangis.
" Aida!." Panggil Bobi pelan.
" Pergi!!! Menjauh dariku, bahkan kamu lebih baik menghilang. Aku benci padamu." Teriak Aida yang masih tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Deg!
" Ai... ." Bobi tersentak mendengar Aida berteriak padanya, dia tak tahu menahu tapi seolah menjadi orang yang paling berhak untuk disalahkan.
" Kita pergi, ini bukan saatnya kamu bicara dengan Aida untuk minta penjelasan." Bisik Faisal memberi saran pada sahabatnya. Bobi mengangguk.
Bobi mengikuti saran sahabatnya memelih pergi dari tempat mereka berada. Tidak tepat jika Bobi yang tidak diinginkan keberadaannya terus ada disana.
Suasana di kampus sudah kembali aman terkedali karena sebagian mahasiswa sudah membubarkan diri sesuai arahan pihak keamanan kampus.
.
Ponsel Aida berdering panggilan masuk dari kang Ujang. Perasaan Aida semakin tidak enak.
" Hallo! Kang Ujang." Sapa Aida membuka pembicaraan lewat sambungan telepon genggam.
" Neng Aida, toko di demo pedagang dan pembeli. Abah dan Ambu kena serangan jantung, sekarang dibawa ambulans ke rumah sakit." Ucap Kang Ujang dengan hati-hati.
Deg!
Deg!
Deg!
" Nenek! Kakek!." Aida merasa dunianya runtuh seketika. Apalagi ini, kenapa dengan kakek dan neneknya.0 Aida semakin merasa sesak di dadanya. Haruskan sehacur ini dirinya sekarang, kenapa semua yang terjadi harus datang bersamaan, ini teramat menyiksa.
" Hallo Neng! Kang Ujang tunggu di rumah sakit." Ucap Kang Ujang mengakhiri panggilannya. Aida tidak menjawab.
" Ai." Panggil Nura lirih.
" Rumah sakit, aku harus ke rumah sakit." Aida berdiri.
Jiwa Aida semakin terguncang, dia seperti orang linglung kebinggungan harus pergi ke arah mana keluar dari kampus. Nura dan Rena menyusul Aida.
" Ai! Tunggu, aku akan antar kamu ke rumah sakit." Seru Nura tidak tega mebiarkan Aida pergi seorang diri dengan kondisi yang kacau.
.
.
.
Ben duduk di kursi kebesarannya menatap serius ke layar ponsel, senyum penuh kemenangan terukir jelas di wajah tampanya. Hari pembalasan untuk Aida sudah direncanakan sangat matang oleh dirinya dan terjadi sesuai kehendaknya.
" Ini adalah pukulan keras dariku untukmu." Ucap Ben merasa puas.
__ADS_1
Untuk merayakan kehancuran Aida ditangannya, Ben memesankan makan siang istimewa untuk seluruh pekerja mulai dari office boy sampai pemegang jabatan tertinggi di perusahaan Askara Grup.
Yun yang sejak tadi berada di ruang kerja Tuan Mudanya, merasa heran dengan sikap Ben yang tak seperti biasanya selayaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Apa Jay memberikan kabar baik dari Amerika, Tuan Muda hari ini terlihat sangat senang. Hanya Jay yang sangat mengenal Tuan Muda luar dan dalam. batin Sekretaris Yun
" Yun! Bulan ini aku berikan bonus gaji untukmu." Ujar Ben tanpa di duga.
" Terima kasih, Tuan Muda atas kebaikan hati Anda." Sekretaris Yun berdiri untuk menunduk hormat pada Ben.
" Lakukan semua pekerjaan dengan baik." Perintah Ben tegas.
" Baik, Tuan Muda."
Yun yang senang raut wajahnya kini tanpa ekpresi, dia bergidik ngeri mendengar intonasi suara Ben yang berubah. Baru saja senang sudah di buat takut pikirnya.
Tuan Muda selalu menguji kesabaranku, tapi aku tak berdaya karena dirinya yang punya kuasa. bantin Sekretaris Yun.
Ben dan Yun kembali fokus pada apa yang tengah dikerjakan, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka.
.
.
.
.
" Suster! Dua orang pasien lanjut usia yang di bawa ambulans ada dimana sekarang?." Tanya Nura.
" Mereka masih berada di ruang IGD rumah sakit, ada di sebelah sana." Jawab Suster menunjukkan dengan sopan.
" Terima kasih, Suster." Ucap Nura. " Ayo, Ai kita kesana." Lanjutnya.
.
Tangis Aida pecah di depan ruang IGD, Kang Ujang yang yang ada disana sedari tadi ingin mengajak Aida bicara mengurungkan niatnya. Ada rasa kasihan di hati pegawai toko yang sudah lama berkerja pada keluarga Aida.
Kang Ujang tidak begitu saja percaya jika cucu dari pemilik toko tempat dia bekerja melakukan perbuatan tidak terpuji. Dunia dengan teknologi yang semakin canggih apapun bisa di rekaya, begitu pikirnya.
Tangis Aida mereda hanya tersisa suaranya yang masih terisak-isak. Nura melonggarkan pelukannya yang sedari tadi mencoba menguatkan sahabatnya.
Aida bangkit berdiri, " Kang Ujang! Apa yang terjadi?." Tanya Aida sambil terisak.
" Maaf, sebelumnya neng Aida." Kang Ujang menunjukkan selebaran yang beredar di pasar, sama seperti yang tersebar di kampus Aida.
" Ini... ." Kata Aida terpotong.
" Bukan hanya di pasar, ada tetangga yang telepon ke Abah kalau di lingkungan rumah selebaran ini disebar dan pelakunya sama, orang tidak di kenal." Terang Kang Ujang.
" Keterlaluan! Orang yang melakukannya sangat tega padamu Aida." Ujar Nura.
__ADS_1
" Kondisi toko gimana Kang Ujang?." Tanya Aida.
" Kepala pengelola pasar datang ke toko minta untuk tempat usaha keluarga neng Aida di tutup dan izinnya di cabut karena itu Abah dan Ambu kena serangan jantung." Jelas Kang Ujang.
Dua pukulan di balas dengan pukulan bertubi-tubi, sangat menyakitkan untuk Aida. Siapa sangka seorang Tuan Muda Ben Askara menunjukkan kekejamannya pada tanpa pandang buluh, seorang gadis dan keluarganya menjadi korban.
" Kang! Kasih Aida waktu untuk berpikir.".Sekarang Aida harus memutar otak untuk kelangsungan kehidupan dia dan keluarganya.
.
Seorang dokter muda dan suster keluar dari ruang IGD dengan senyuman di wajahnya membawa kabar baik setelah selesai melakukan penanganan pada kedua pasien yang terkena serangan jantung, mereka tak lain kakek Rianto dan nenek Miranti,
" Apa saya bisa bicara dengan keluarga kedua paien?." Tanya Dokter Sean.
" Saya cucunya, Dokter." Jawab Aida menghampiri sang dokter muda.
" Mereka terkena serangan jantung ringan, meski ini yang pertama kali tetap harus di waspadai karena itu kedua pasien untuk sementara harus di rawat inap 3-5 hari ke depan." Jelas Dokter Sean.
" Baik, Dokter. Terima kasih. Tolong berikan yang terbaik untuk kakek dan nenek, hanya mereka keluarga yang Saya punya." Mohon Aida pada sang dokter.
Bagaimana bisa kakek dan neneknya terkena serangan jantung bersamaan. Sampai gadis ini terlihat sangat sedih. batin Sean
" Saya kan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan mereka." Ucap Dokter Sean. " Saya haru kembali ke dalam, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Silahkan kamu urus administrasinya. Suster Dewi akan mengantarmu." Lanjutnya.
.
Aida sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit untuk kakek dan neneknya, mereka juga sudah di pindahkan ke ruang kelas satu untuk pasien rawat inap dengan kapasitas dua orang. Aida dan Nura menunggu masih di luar ruangan karena belum diizinkan masuk
Sementara Kang Ujang di minta Aida kembali ke toko untuk mengemas semua barang dagangan bersama Pak Agus dan besok rencananya Aida akan mengosongkan rumah yang sudah tak mungkin lagi untuk tinggal disana. Aida bersyukur karena kedua pegawai toko keluarganya masih bersedia membantu disaat sulit seperti sekarang.
" Ai! kita harus bicara, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat tapi jangan biarkan aku tidak tahu apapun. Jujur aku ingin seperti orang bodoh." Bujuk Nura.
" Kita cari tempat lain untuk bicara." Ucap Aida.
.
Di taman rumah sakit Aida dan Nura kini berada, mungkin sudah saatnya untuk Aida memberitahu pada sahabatnya apa yang selama ini dia tutupi dan simpan seorang diri. Meski pun dia malu untuk mengatakannya tapi Aida yakin Nura bisa percaya dan mengerti keadaannya.
" Ra! Semua ini terjadi karena aku menolak cinta Bobi... " Ungkap Aida.
Aida menangis lagi menceritakan bagaimana kehormatannya sebagai seorang gadis di renggut dalam satu malam karena di jebak oleh Tuan B yang mengaku sebagai kakak dari laki-laki yang di tolak cintanya yaitu Bobi.
Dan apa yang terjadi sekarang mungkin buntut dari aksi pemukulan yang dilakukan Ravin pada Bobi beberapa hari yang lalu. Aida menjelaskan semuanya sedetail mungkin pada sahabatnya.
Nura mematung, dirinya syok mengetahui kebenaran yang sudah Aida alami, dia tidak menyangka sahabatnya harus menanggung kepahitan hidup karena menolak cinta seseorang.
" Laki-laki itu dengan wajah tanpa dosa masih saja ingin mendekatimu, brengsekkk!!!." Umpat Nura tidak bisa menahan emosinya.
" A... Aku juga gak ngerti." Ucap Aida.
Aida dan Nura saling berpelukan, tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Nura sama sekali tidak merubah pendiriannya meski pun sekarang dia tahu bagaimana kondisi Aida yang sebenarnya. Baginya sahabat tetaplah akan menjadi sahabat. Jika bisa ada di saat senang, maka sekarang waktunya menemani di masa sulit.
__ADS_1