Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 23


__ADS_3

Sepanjang jalan Aida berusaha menghentikan dan menghapus air matanya, dia tidak mau menimbulkan pertanyaan dari nenk dan kakeknya. Sebelum sampai meja dimana kakek dan neneknya berada Aida melihat ada orang lain juga disana'


" Itu siapa yang bersama Kakek dan Nenek." Aida bertanya-tanya.


" Nah! ini dia anaknya, kamu ini ke toilet lama sekali Aida." Keluh Nenek Miranti


" Maaf, Nek tadi Aida tiba-tiba sakit perut." Kilahnya berbohong,


" Matamu kenapa?." Tanya Kakek Rianto.


" Kelilipan, Kek." Aida berbohong lagi.


Aida bergabung duduk di kursinya sambil memperhatikan pria yang duduk di kursi sebelahnya. Aida merasa mengenalnya tapi siapa, karena tak asing dengan wajahnya.


" Kamu sudah ingat belum, Ai? Tanya Nenek Miranti.


" Ingat apa? emangnya apa yang Aida lupa, Nek?." Tanya balik Aida.


" Kamu gak berubah ya, hanya bedanya sekarang kamu sudah dewasa." Terang Rivan.


Mendengar suara pria yang mengajaknya bicara, Aida mengingatnya.


" Mas Rivan." Seru Aida senang.


" Kamu ingat rupanya, Mas pikir kamu sudah lupa." Rivan mengacak-acak ramput Aida.


" Mas! rambutku jadi berantakan." Keluh Aida.


" Sini, Mas bantu rapihkan lagi." Menata rambut Aida.


" Sudah-sudah kalian temu kangennya lanjut nanti, kita makan dulu sekarang." Pinta Kakek Rianto.


.


Sepanjang jalan Aida berusaha menghentikan dan menghapus air matanya, dia tidak mau menimbulkan pertanyaan dari nenk dan kakeknya. Sebelum sampai meja dimana kakek dan neneknya berada Aida melihat ada orang lain juga disana'


" Itu siapa yang bersama Kakek dan Nenek." Aida bertanya-tanya.


" Nah! ini dia anaknya, kamu ini ke toilet lama sekali Aida." Keluh Nenek Miranti


" Maaf, Nek tadi Aida tiba-tiba sakit perut." Kilahnya berbohong,


" Matamu kenapa?." Tanya Kakek Rianto.


" Kelilipan, Kek." Aida berbohong lagi.


Aida bergabung duduk di kursinya sambil memperhatikan pria yang duduk di kursi sebelahnya. Aida merasa mengenalnya tapi siapa, karena tak asing dengan wajahnya.


" Kamu sudah ingat belum, Ai? Tanya Nenek Miranti.


" Ingat apa? emangnya apa yang Aida lupa, Nek?." Tanya balik Aida.


" Kamu gak berubah ya, hanya bedanya sekarang kamu sudah dewasa." Terang Rivan.


Mendengar suara pria yang mengajaknya bicara, Aida mengingatnya.


" Mas Rivan." Seru Aida senang.


" Kamu ingat rupanya, Mas pikir kamu sudah lupa." Rivan mengacak-acak ramput Aida.


" Mas! rambutku jadi berantakan." Keluh Aida.

__ADS_1


" Sini, Mas bantu rapihkan lagi." Menata rambut Aida.


" Sudah-sudah kalian temu kangennya lanjut nanti, kita makan dulu sekarang." Pinta Kakek Rianto.


.


Sepanjang jalan Aida berusaha menghentikan dan menghapus air matanya, dia tidak mau menimbulkan pertanyaan dari nenk dan kakeknya. Sebelum sampai meja dimana kakek dan neneknya berada Aida melihat ada orang lain juga disana'


" Itu siapa yang bersama Kakek dan Nenek." Aida bertanya-tanya.


" Nah! ini dia anaknya, kamu ini ke toilet lama sekali Aida." Keluh Nenek Miranti


" Maaf, Nek tadi Aida tiba-tiba sakit perut." Kilahnya berbohong,


" Matamu kenapa?." Tanya Kakek Rianto.


" Kelilipan, Kek." Aida berbohong lagi.


Aida bergabung duduk di kursinya sambil memperhatikan pria yang duduk di kursi sebelahnya. Aida merasa mengenalnya tapi siapa, karena tak asing dengan wajahnya.


" Kamu sudah ingat belum, Ai? Tanya Nenek Miranti.


" Ingat apa? emangnya apa yang Aida lupa, Nek?." Tanya balik Aida.


" Kamu gak berubah ya, hanya bedanya sekarang kamu sudah dewasa." Terang Rivan.


Mendengar suara pria yang mengajaknya bicara, Aida mengingatnya.


" Mas Rivan." Seru Aida senang.


" Kamu ingat rupanya, Mas pikir kamu sudah lupa." Rivan mengacak-acak ramput Aida.


" Mas! rambutku jadi berantakan." Keluh Aida.


" Sini, Mas bantu rapihkan lagi." Menata rambut Aida.


Makan malam mereka berlangsung dengan tenang, menikmati hidangan menu spesial yang di pesan.


.


Di tempat yang sama Ben kembali duduk di kursinya menikmati makan malam bersama calon rekan bisnisnya sampai makanan di piring tandas tak bersisa.


" Tuan Muda, saya sepakat untuk memenuhi syarat yang Askara Grup minta jika ingin bekerja sama." Tuan Lando mengambil keputusan.


" Hubungi saja Sektretaris Yun." Ben berdiri bersiap untuk pulang. diikuti yang lainnya.


" Baik! Terima kasih, Tuan Muda mau menyempatkan diri untuk makan malam bersama kami." Ujar Tuan Lando.


" Hmmm... ." Ben melangkah pergi untuk keluar dari restaurant.


" Terima kasih, sekretaris Yun." Ucap Tuan Lando.


" Kami permisi." Sekretaris Yun menunduk hormat.


Ben yang sudah berjalan lebih dulu segera di kejar oleh sekretarisnya yang berjalan cepat. Langkah Ben terhenti melihat pemandangan yang mampu membuat hatinya terasa sesak.


Hanya bisa menahan diri, Ben mengepalkan tangan menyaksikan gadis yang tadi diciumnya bisa tersenyum dan tertawa lepas bersama pria lain.


Ada apa dengan Tuan Muda? Kenapa menghentikan langkahnya?. batin Sekretaris Yun.


Yun ikut melihat ke arah yang dilihat oleh Tuan Mudanya yang tertuju pada satu meja, ada kehangatan keluarga begitu terasa olehnya.

__ADS_1


Apa Tuan Muda mengenal mereka? Kenapa Tuan Muda terlihat kesal. batin Sekretaris Yun.


" Alihkan pandanganmu, jangan melihat dia." Perintah Ben.


" Maaf! Tuan Muda." Kata sekretaris Yun.


Bukannya ada empat orang yang duduk di meja itu. Tapi dia yang Tuan Muda maksud itu siapa?. batin Sekretaris Yun.


Ben kembali melangkahkan kakinya dia tak ingin lebih lama menyaksikan pemandangan yang membuat matanya sakit.


Selama berada di dalam mobil Ben hanya diam, sekretaris Yun bergidik ngeri merasakan aura dingin Tuan Mudanya.


Ben mengeluarkan ponsel dari saku jasnya menghubungi seseorang.


" Kau awasi terus, jangan sampai melewatkan apapun." Ben menghubungi seseorang dan mengakhiri sepihak panggilannya.


Kau harus segera kembali Jay, hanya kau yang tahan berada di dekat Tuan Muda. batin Sekretaris Yun.


Sedari tadi Yun hanya bisa membantin tidak berani bersuara untuk bertanya mencari tahu ada apa dengan Ben. Karena bertanya pada Tuan Muda untuk urusan pribadi sama saja dengan memperpendek umur. Yun mengingat jelas apa yang pernah Ben katakan padanya.


.


Mobil Ben memasuki gerbang kediaman keluar Askara. Sekretaris Yun membukakan pintu mobil untuk Tuan Muda.


Pak Musin bersama beberapa pelayan sudah menunggu di depan rumah menyambut kedatangan Tuan Muda mereka.


" Selamat Malam, Tuan Muda." Sambut Pak Musin menunduk sopan.


Ben tidak menjawab hanya terus melangkah melewati orang-orang di sekitarnya.


" Pak Mus, Saya permisi. Selamat Malam." Ucap Sekretaris Yun.


" Selamat Malam. Hati-hati di jalan, Yun." Ujar Pak Musin sebelum menyusul Tuan Mudanya.


Ben sampai di kamarnya duduk di sofa, Pak Musin membantu melepaskan jas dan sepatu Tuan Muda Ben.


" Saya sudah menyiapkan air panas untuk Anda mandi Tuan Muda." Ucap Pak Musin.


" Hmmm... pergilah ." Ben hanya berdehem.


" Selamat beristirahat, Tuan Muda." Pak Musin menunduk sopan, undur diri dari hadapan Ben.


Ben menyandarkan tubuhnya belum ingim berajak dari sofa.


" Siapa pria yang bersamanya." Ben penasaran.


Ben tak bisa terima Aida bersama pria lain, tanpa sadar Tuan Muda sedang terbakar api cemburu.


Pak Musin masih berdiri di luar depan pintu kamar Tuan Muda, merasa khawatir melihat sikap dingin dan diamnya Ben yang mengisyaratkan sedang ada masalah.


" Pak Mus!." Panggil Mama Maisha.


" Iya, Nyonya." Pak Musin menunduk sopan.


" Apa Ben sudah beristirahat?." Tanya Mama Maisha


" Tuan Muda mungkin sedang membersihkan diri, Nyonya." Jawab Pak Musin.


" Pak Mus istirahat saja, Saya mau temui Ben." Mama Maisha hendak membuka pintu kamar putranya.


" Nyonya, sebaiknya Anda temui Tuan Muda Ben besok pagi saja. Suasana hati Tuan Muda sedang tidak baik." Usul Pak Musin.

__ADS_1


Mama Maisha mengurungkan niatnya menemui Ben. Pak Musin pergi dari tempatnya berdiri dan Mama Maisha memilih kembali ke kamarnya.


Malam semakin larut semua penghuni kediaman keluarga Askara sudah tertidur.


__ADS_2