
Malam Perayaan Persahabatan yang berlangsung setiap tahun.
Restorant milik Bisma khusus malam itu tidak di bukan untuk umum, sengaja tidak menerima tamu selain untuk semua sahabatnya.
Yun sudah datang lebih awal dari semua sahabatnya, di susul dokter Sean, Gala dan Ariel, hanya Ben dan Jay yang belum datang.
Bisma yang paling tua di antara yang lain dan Ariel selalu merasa jadi yang paling muda walau hanya beda usia satu tahun dengan Gala.
Terdengar decit mobil di halaman parkir restaurant, Jay segera membukakan pintu samping belakang. Ben keluar berpakaian formal kemeja berbalut jas tanpa mengenakan dasi.
" Selamat datang, Tuan muda." Bisa menyambut kedatangan Ben mewakili yang lain karena dirinya yang tertua diantara mereka.
" Tuan muda." Yun mengeser kursi mempersilahkan Ben untuk duduk di tempat favoritenya.
Mereka sangat takut dengan Ben, tapi mereka juga selalu ingin berebut perhatian dari tuan muda.
" Apa ada hidangan khusus?." Ben akan selalu menanyakan hidangan spesial yang biasa di sajikan Bisma di setiap perayaan.
" Salmon curry, Tuan muda." Bisma sudah memilih ikan salmon terbaik yang pas dihidangannya untuk Ben yang harus mencicipinya pertama kali.
" Tuan muda, Saya membawakan hadiah untukmu." Gala menyerahkan kotak kecil dari saku jasnya.
" Hmmm... ."
" Tuan muda, kapan akan berkunjung ke pulau dewata?." Ariel memberanikan diri bicara pada Ben
" Jay, atur jadwal kedatanganku ke Bali."
" Baik, Tuan muda."
Ariel tersenyum senang secerah mentari harapannya akan terwujud Ben yang sudah lama sekali tidak pernah datang ke Bali akan berkunjung dalam waktu dekat.
" Pindah." Sean berbisik minta Gala berpindah tempat duduk, karena Sean ingin duduk di sebelah Jay.
Gala dengan senang hati memberikan kursi yang dia tempati untuk di duduki oleh Sean.
" Jay! Kau sudah bertemu dengan gadis itu? maksudku Aida."
Aida!
Ben jelas mendengar nama Aida disebut, rasa sesak menyeruak di dadanya.
" Jangan membahas itu sekarang." Jay berbisik menekan suaranya.
" Jay, kau sedang menyukai seorang gadis?." Ariel sangat antusias karena pria yang di idolakan olehnya tertarik dengan seorang wanita.
" Aku tidak ingin membahasnya." Jay tidak enak hati dengan Ben, yang juga mengetahui seorang gadis tentang siapa Aida.
Masih ingat dulu tuan muda pernah meminta Jay menyelidiki siapa gadis yang membuat adiknya patah hati.
Ben mengepalkan tangannya yang tersembunyi di bawah meja. Sejauh apa Jay menyelidiki Aida, apa mungkin ada hubungan yang terjalin di antara mereka.
Yun menangkap perubahan raut wajah Ben yang semakin dingin.
Tuan muda terlihat tidak senang dengan pembahasan seorang gadis, apa yang bisa aku lakukan.
Yun menghampiri Bisma yang sedang menyajikan salmon curry di dalam mangkuk.
" Apa sudah bisa di hidangkan? Aku merasakan ketegangan di meja makan." bisiknya
" Sudah, duduklah."
Bisma menghidangkan menu khusus yang pertama dia berikan untuk Taun muda, karena penilaian dari Ben sangat penting baginya dan suatu kehormatan bisa menyajikan makanan yang spesial.
Ben menggunakan sendok mencicipi potongan daging salmon yang bercampur dengan kuah kari.
" Bagiamana Tuan muda?."
Bisa dan semua sahabat Ben antusias menantikan jawaban dari tuan muda kebanggaan mereka.
" Ini enak!."
" Terima kasih, Tuan muda." Bisma bernapas lega menu khusus yang dihidangkannya cocok di lidah tuan muda, itu artinya yang lain bisa menikmati salmon curry yang di masak olehnya.
__ADS_1
" Berikan untukku." Ariel sudah tidak sabar, dia selalu ingin jadi yang nomor dua menikmati menu khusus buatan tangan Bisma.
" Tentu saja, kamu si nomor dua." Bisma tersenyum merekah lalu kembali ke dapur.
Ariel senang karena urutannya mendapatkan menu khusus tidak pernah berubah.
Ben menaruh sendok di atas tissue samping mangkuk di atas meja. Dia tidak akan makan sebelum yang lain mendapatkan hidangan yang di sajikan oleh Bisma.
" Gala! tidak ada yang ingin kamu katakan?."
Tuan muda sungguh bicara padaku.
Di antara mereka Gala terbilang pria yang paling pendiam, dia hanya akan bicara jika ada yang mengajaknya untuk bicara.
" Aku tidak sabar ingin makan salmon curry, Tuan muda."
" Habiskan."
" Baik."
Semua sudah mendapatkan semangkuk salmon curry di atas meja, Bisma kembali duduk di kursinya.
" Selamat makan."
Selama menikmati salmon curry tidak ada satu orang pun yang berbicara satu sama lain, hal itu menjadi hukum wajib saat sedang makan agar tidak ada yang tersedak dan bisa makan dengan tenang.
.
" Ben, apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?."
Bisma menghampiri tuan muda yang memisahkan diri dari yang lain seperti mencari ketenangam dengan duduk seorang diri. Bisma duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ben hanya di batasi dengan meja kecil.
" Apa menurutmu aku terlihat sedang memikirkan sesuatu?."
" Ya, sejak di meja makan tadi aku memperhatikanmu."
Bisma bisa berbicara santai tanpa menyematkan panggilan tuan muda pada Ben, karena di malam perayaan ada waktu bebas berbaur mempererat hubungan persahabatan mereka.
" Aku memiliki perasaan dengan gadis yang aku benci."
Bisma sangat terkejut mengetahui akhirnya Ben jatuh hati dengan seseorang, karena selama ini tidak pernah sekali pun terdengar Ben dekat dengan seorang wanita.
Tidak ada yang berani memberi kesimpulan alasan Ben tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita, mereka hanya menduga Ben lebih fokus untuk bekerja mengurus Aksara Group sampai tak ada waktu untuk mencari pasangan hidup.
" Alasanmu membencinya?."
Bisma bisa menjadi pendengar yang baik dan memberikan nasehat dengan tulus, sikap dewasa itulah yang membuat Ben bisa bercerita tanpa beban.
" Adikku."
Ben hanya menceritakan inti permasalahan tapi tidak sampai dengan perbuatan dia yang menjerat Aida sampai ke atas ranjangnya.
" Masih ada yang kamu sembunyikan, tidak mungkin kamu jatuh cinta tanpa sebab?."
" Aku tidak bisa menceritakannya."
" Jika itu sangat privasi aku tidak akan mengali lebih dalam."
" Aku ada di antara gadis itu, Bobi dan... ." Ben menjeda kata-katanya. " Jay." Lanjutnya.
Bisma tersentak mengetahui fakta baru jika Jay terlibat dalam cinta segiempat yang lebih rumit dari cinta segita dan yang lebih mencengangkan lagi, tiga pria yang terlibat di dalamnya memiliki hubungan yang sangat dekat.
" Aku tidak pernah melihat keraguan dalam dirimu Ben, majulah jika kamu percaya diri dengan perasaan cintamu untuk gadis yang kamu pilih." Bisma yakin Ben sangat mencintai gadis yang saat ini diceritakan.
" Aku bisa berdamai dengan Jay, tapi Bobi... ." Ben kali ini ragu karena hubungannya tidak mungkin akan baik-baik saja, apalagi penyebabnya karena jatuh cinta dengan gadis yang sama.
" Dia adikmu, Bobi pasti akan sangat marah dan kecewa. Tapi sebuah hubungan yang sudah terjalin sebagai saudara tidak mungkin berakhir atau putus. Kamu bisa memperbaiki hubunganmu dengannya."
" Aku tidak salah menceritakannya padamu, Kak." Ben menemukan ketenangan batin.
Ben bisa tegas mengahadapi setiap persoalan dengan musuh, tapi untuk pertama kalinya persoalan besar muncul di antara di a dan Bobi dan untuk pertama kalinya dia tidak bisa mengambil keputusan yang bisa mempertaruhkan hubungan persaudaraan.
.
__ADS_1
Di sisi lain Sean kembali mengajak Jay untuk bicara meski ada Gala, Ariel, dan Yun di sana.
" Jay! Kamu masih menyimpan foto Aida yang sedang tidur?.
" Apa kamu sudah bosan jadi seorang dokter, kamu bisa jadi peternak burung unta."
" Aku penasaran ingin lihat foto gadismu, tujukkan pada kami." Ariel membujuk Jay untuk mengeluarkan ponselnya.
" Aku bukan tuan muda yang bisa termakan rayuanmu." bisik Jay, dia tidak akan goyah walau Ariel bersikap layaknya anak kecil.
" Pria sejati itu, selalu di pegang kata-katanya. Kamu harus membuktikan jika foto itu memang ada." Yun ikut bersuara, dia juga penasaran gadis yang bisa meluluhkan hati seorang Jay.
" Baiklah hanya 5 detik, aku beri kalian kesempatan untuk melihat gadis itu." Jay mengeluarkan ponselnya membuka kunci layar dan mencari galeri dimana foto Aida tersimpan.
" Cepat aku ingin lihat, Jay." Ariel merengek, dia lebih antusias daripada yang lainnya.
" Aku hitung dari sekarang." Jay memberikan aba-aba.
Foto Aida yang sedang tertidur di kursi tunggu pasien dapat di lihat jelas oleh mereka.
Bukankah gadis itu yang datang ke gedung Askara Group dan mencium tuan muda.
Apa yang di lihat oleh Yun membuat dirinya gemetar, bagaimana bisa dalam persahabatan mereka, dua pria memiliki hubungan erat dengan gadis yang sama. Apalagi hubungan yang terjalin, ada di antara Ben dan Jay, dua orang yang sangat dekat sebagai sahabat dan dalam pekerjaan.
" Yun, Ada apa denganmu?." Tanya Jay melihat tatapan kosong sahabat sekaligus sektretaris Askara Group.
" Yun." Gala menepuk bahu pria yang duduk di sebalahnya."
" Dia gadis tuan muda." keluar dari mulut Yun begitu saja.
" Apa katamu?." Sean ingin Yun mengulang kata-katanya.
" Ah, Maaf! Aku sedang tidak fokus. Ada hal lain yang aku pikirkan." kilah Yun, dia segera izin untuk pergi le toilet.
Sean mengreyitkan keningnya dia tidak mungkin salah dengar bukan, dengan apa yang Yun katakan.
" Jay, kamu mendengarnya juga dan kalian?." Gala dan Ariel hanya mengangguk.
" Aku mendengarnya."
Apa dugaanku benar sudah terjadi sesuatu antara Ben dan Aida selam aku pergi.
" Itu tidak mungkin." Jay menyakal pikirannya kalau tuan muda melakukan sesuatu tanpa sepengtahuannya
" Apa yang tidak mungkin?. Sean ingin mengoreng apa yang ada dalam pikiran sahabatnya.
" Kamu tidak harus tahu semuanya." Jay kembali dingin.
Sekarang dia jadi batu es lagi, padahal tadi sudah mencair.
" Apa kamu dan tuan muda jatuh cinta dengan gadis yang sama?." Pertanyaan Ariel membuat semua terdiam.
" Aku menangkap perubahan raut wajah tuan muda di meja makan saat dokter Sean mengatakan tentang seorang gadis." Ternyata tidak hanya Yun, Gala juga jelas melihatnya.
" Jangan sematkan propesiku." Protes Sean.
" Ah, maaf Sean."
" Jay, apa tuan muda mengenal gadismu?." Ariel bertanya lagi, meski dia masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
" Tidak ada yang harus aku jawab dan kita bahas lagi."
Terdengar suara pintu di geser dan terbuka dari luar, Ben masuk di ikutin oleh Bisma di belakangnya.
" Apa yang kalian obrolkan?." Tanya Bisma.
" Kami membicarakan... ." Ariel ingin membocorkan apa yang tadi mereka bicarakan, dengan cepat Sean membekap mulutnya.
" Hanya bertukar pikiran, tidak ada yang penting." kilah Sean.
Yun kembali datang setelah cukup lama pergi ke toilet, " Maaf, aku baru kembali."
" Jay!." Seru Ben.
__ADS_1
" Baik, Tuan muda."
Karena sudah malam perayaan pun berakhir, waktunya untuk mereka kembali ke rumah masing-masing melepas lelah seharian beraktivitas.