Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 32


__ADS_3

Kondisi kakek dan nenek Aida sudah berangsur pulih setelah tiga hari di rawat inap. Walau begitu Aida sama sekali belum mengajak mereka bicara soal apa yang telah terjadi, dirinya masih menunggu untuk bisa menjelaskan semuanya.


" Ai! kakek dan nenek tidak akan marah padamu meski yang terjadi benar adanya. Seharusnya kamu jujur saja pada kami." Ujar Kakek Rianto mengelus ramput cucunya.


" Maaf! Kek, Nek, waktu itu Aida belum siap dan gak tahu kalau akhirnya akan jadi begini." Terang Aida.


" Sekarang kamu bisa jelaskan sama nenek dan kamu ini. Kami siap mendengarkan." Ujar Nenek Miranti.


Aida sudah mempersiapkan diri untuk kemabali menceritakan semua kejadian yang di alaminya.


" Jadi Rivan memukul laki-laki yang menyukaimu itu?." Tanya Nenek Miranti.


" Iya, Nek. Mas Rivan tersulut emosi." Jawab Aida jujur.


" Tapi apa harus mereka sampai sekejam ini padamu Ai, tega sekali." Ucap Nenek Miranti.


" Mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, sekarang tidak ada guna kita meratapinya. Apa rencanamu sekarang Ai?." Tanya Kakek Rianto.


" Kita pindah saja ke kampung halaman, bagaimana Kek, Nek?." Tanya Aida balik.


Nenek Miranti dan Kakek Rianto saling pandang mereka seolah mencari jawaban. Aida memang tidak punya pilihan lain, baginya meninggalkan Ibuka itu yang terbaik.


" Kamu sudah mempersiapkan semuanya?. Tanya Kakek Rianto.


" Sudah Kek, Kang Ujang dan istrinya juga mau ikut pulang kampung. Kita bisa buka toko kelontong lagi di pasar sana nanti." Jawab Aida.


" Kalau begitu kita segera saja pindah, Nenek sudah bosan di rumah sakit." Keluh Nenek Miranti.


" Kakek juga, sakit itu gak enak." Timpal Kakek Rianto.


Aida sangat bersyukur memiliki keluarga yang masih mau mendukungnya dalam keadaan apapun. Bahkan tidak ada raut wajah kemarahan dari kakek dan nenek Aida mengetahui sang cucu kini sudah kehilangan kehormatannya. Walau pun marah, kecewa dan sedih pasti ada. Tapi semua sudah terjadi, sekarang mereka harus menata hidupnya kembali.


" Terima kasih ya Kek, Nek sudah mau memaafkan dan menerima Aida." Ujarnya.


" Kamu satu-satunya cucu kakek dan nenek, mana mungkin kami tega menambah kesedihanmu." Ucap Nenek Miranti.


" Sudah kita harus berhenti bersedih. Apa pun yang terjadi keluarga tetap keluarga." Ucap Kakek Rianto.


Mereka bertiga berbelukan satu sama lain, saling menguatkan dan memberi dukungan. Aida, Kakek Rianto dan Nenek Miranti yakin bisa melewati masa-masa sukit mereka saat ini.


Dokter Sean dan Suster datang lagi ke ruang rawat inap untuk memeriksa kondisi kedua pasien lansianya.


" Selamat Siang! Maaf Saya mengganggu waktu kalian." Ucap Dokter Sean.


" Tidak apa, Dok. Kami hanya sedang berbincang." Jawab Aida.


" Kalau begitu sekarang saya periksa dulu kondisi Bapak dan Ibu." Tanya Dokter Sean.


" Silahkan, Dok." Jawab Nenek Miranti.


Kakek Rianto dan Nenek Miranti kembali berbaring mereka di periksa detak jantung dan tensi darahnya.


" Semuanya sudah kembali normal, besok Bapak dan Ibu sudah boleh pulang." Ucap Dokter Sean.


" Kami ini terlalu tua untuk di panggil Bapak dan Ibu, Dokter panggil Kakek dan Nenek saja seperti cucu saya Aida." Ujar Kakek Rianto.


Mereka tergelak mendengar perkataan kakek Rianto yang dengan jujur mengatakan dirinya dan sang istri sudah tua.


" Baik! Kalau begitu, Kek, Nek." Kata Dokter Sean.


" Terima kasih ya Dok, sudah merawat kami dengan baik." Terang Nenek Miranti.


" Sama-sama, Nek." Kata Dokter Sean.

__ADS_1


" Dokter! Apa ada obat yang harus di tebus?." Tanya Aida.


" Ada! Saya akan resepkan dulu, nanti suster yang akan antar kemari catatannya." Jawab Dokter Sean.


" Baik, Dok." Kata Aida.


" Oh, ya. Siapa namamu tadi?." Tanya Dokter Sean.


" Aida." Jawabnya singkat.


Deg!


Ternyata tebakanku benar dia memang Aida, gadis yang Jay pernah ceritakan padaku. batin Sean


" Nama yang indah." Puji Dokter Sean. " Saya harus ke ruang pasien lain karena disini sudah selesai Saya permisi dulu." Lanjutnya pamit undur diri.


" Iya, Dok. Selamat bekerja." Ucap Aida tersenyum.


Dokter Sean dan suster sudah keluar dari ruangan. Kakek Rianto dan Nenek Miranti kembali duduk bersadar dengan menaikan posisi kasur pasien bagian atas.


" Masih muda sudah jadi dokter yang hebat." Ucap Nenek Miranti.


" Itu artinya dia serius belajar ilmu kedokteran sewaktu menempuh pendidikan." Kata Kakek Rianto.


Aida yang mendengarkan tiba-tiba saja murung, setelah di keluarkan dari kampus Aida akan sulit di terima untuk kuliah di tempat lain kecuali universitas terbuka.


" Kamu kenapa, Ai?." Tanya Nenek Miranti.


" Kuliah Aida tinggal satu tahu lagi tapi ... ." Jawab Aida.


" Kamu masih bisa lanjutlan kuliahmu di tempat lain." Ucap Kakek Rianto.


" Gak semudah itu, Kek. Aida hanya bisa masuk universitas terbuka." Keluah Aida.


" Benar! Nanti setelah pindah kamu cari informasinya." Timpal Kakek Rianto. Aida mengangguk.


Aida memeluk sang nenek, menidurkan kepalanya di pangkuannya dalam posisi duduk. Nenek Miranti mengelus lembut kepala cucunya. Berat memang kehidupan yang harus mereka jalani sekarang, tapi setidaknya mereka masih bisa melanjutkan hidupnya di kota lain.


.


.


.


Bobi yang sudah pulang ke rumah meleparkan tasnya dengan kesal ke sembarang arah.


" Siapa yang tega melakukan semua itu pada Aida dan kenapa dia jadi sangat marah padaku." Gerutu Bobi.


Mama Maisha masuk kamar putranya melihat Bobi yang pulang dalam keadaan emosi hatinya tidak tenang.


" Boi! Kamu kenapa? pulang kuliah marah-marah." Tanya Mama Maisha lembut.


" Aku ingin sendiri, Ma." Jawab Bobi dengan wajah frustasi.


" Baiklah! Mama keluar dulu kalau begitu." Ucap Mama Maisha.


Mama Masiha melihat lagi ke arah Bobi sebelum keluar dari kamar putranya, meski ragu untuk membiarkan putranya sendirian Mama Maisha hanya bisa mengalah saat ini.


Ada apa lagi dengan Boi. batin Mama Maisha


Mama Maisha turun ke lantai satu bertemu dengan Pak Musin.


" Nyonya! Makan malam sudah siap." Pak Musin Menunduk sopan.

__ADS_1


" Panggilkan semuanya ke ruang makan, kecuali Boi, Pak Mus." Perintah Mama Maisha.


" Baik, Nyonya." Pak Musin undur diri.


.


Makan malam keluarga Asakara kembali tanpa kehadirannya Bobi.


" Dimana Boi?." Tanya Papa Zeino.


" Dia di kamarnya." Jawab Mama Maisha.


" Pak Mus! Panggilkan Boi." Perintah Ben.


" Jangan! Biarkan saja dia, nanti Mama yang antarkan makan malam ke kamarnya." Cegah Mama Maisha.


" Ada apa lagi dengan cucuku?." Tanya Opa Baskara.


" Suasana hatinya sedang tidak baik, nanti Maisha cari tahu, Pah." Jawab Mama Maisha.


" Ya sudah, kita makan sekarang." Kata Opa Baskara.


Pak Mus melayani semua anggota keluarga Askara menuangkan air minum ke dalam gelas dan kembali berdiri di tempatnya. Tidak ada satu anggota keluarga pun yang berbicara saat makan sampai selesai.


" Ben! Ini sudah hampir dua minggu, kapan Jan kembali?." Tanya Papa Zeino.


" Dua minggu lagi, pabrik mie instan di Amerika membutuhkannya." Jawab Ben.


" Apa ada masalah?." Tanya Papa Zeino lagi.


" Ada masalah teknis dan hanya Jay yang bisa mengatasinya selain aku." Jawab Ben.


" Syukurlah." Kata Papa Zeino.


.


" Ma!." Panggil Ben.


" Ya." Kata Mama Maisha.


" Ada apa lagi dengan Boi?." Tanya Ben.


" Mama belum tahu, tadi dia bilang sendirian dulu." Jawab Mama Maisha.


Ben jelas tahu adiknya kenapa, dia hanya ingin memastikan saja.


Aku yakin setelah ini, Bobi akan melupakan gadis itu. batin Ben


" Kalau lagi-lagi Boi seperti ini karena gadis itu, sebaiknya dia cari saja yang lain." Saran Papa Zeino.


" Belum tentu, Pa. Mungkin saja Boi ada masalah lain." Sangkal Mama Maisha.


" Boi seharusnya fokus saja untuk kuliah, dia masih muda jadi sarjana saja belum." Usul Opa Baskara.


" Bagaimana lagi Pah, namanya juga anak muda kalau yang sedang jatuh cinta." Mama Maisha terkekeh.


Makan malam sudah berakhir semua pergi dari ruang makan. Ben, Papa Zeino dan Opa Baskara pergi ke kamar lebih dulu.


" Pak Mus! Antarkan makan malam untuk Boi." Perintah Mama Maisha.


" Baik, Nyonya." Pak Mus menunduk sopan.


Mama Maisha pergi ke kamar Bobi lagi untuk mencari tahu keadaan putrannya apa masih marah dan kesal atau sudah mereda.

__ADS_1


__ADS_2