Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 29


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Kegaduhan terjadi di seluruh area kampus setelah semua mahasiswa selesai dengan mata kulliah pagi mereka. Selebaran berisikan salinan dari sebuah foto yang terpajang di mading kampus bertebaran dimana-mana. Desas-desus mulai terdengar, seseorang sedang jadi bahan pergunjingan.


Aida dan Nura belum.mengetahui apapun, mereka masih di ruang kelas.


" Ra! ini ada apa ya, Kenapa ada suara ribut-ribut?." Tanya Aida yang resah.


" Aku juga gak tahu Ai." Jawab Nura.


Rena terlihat tergesa-gesa berlari menuju ruang kelas Aida dan Nura, karena mereka selalu jadi yang paling akhir keluar dari tempat mereka berada sekarang.


" Ren! Kamu kenapa sampai lari-lari?." Tanya Nura.


Rena mengatur napas, " Kalian berdua tetap disini jangan ada yang keluar." Perintahnya mengunci ruang kelas dari dalam.


" Aku sama Nura mau lihat apa yangvterjadi di luar." Aida yang penasaran berdiri dari duduknya.


" Justru kamu yang gak boleh keluar sama sekali, Ai." Terang Rena.


Deg!


Jantung Aida berdegup kencang, pertanyaan mulai bermunculan dalam pikirannya. Ada apa dan kenapa, apa hubungan yang sedang terjadi di kampus dengan dirinya.


" Maksud kamu apa, Ren?." Desak Nura meminta penjelasan.


" Ka... Kalian harus lihat ini."


Rena terpaksa menyerahkan selembar kertas dengan tangannya yang gemetar. Walau pun dia bisa saja menyembunyikan, akan ada orang lain yang memberitahu Aida dan Nura.


" Ai! Ini... ." Kata Nura terpotong.


" Ke... kenapa bisa ada foto ini." Aida terduduk lemas di kursinya.


Foto yang memperlihatkan Aida tidur di balik selimut bersama seorang pria yang menelusupkan wajah dia ke lehernya Aida sehingga tak bisa di kenali.


" Ini pasti rekayasa orang, Ai. Ada yang sengaja ingin menjatuhkanmu." Ujar Rena.


Aida diam seribu bahasa dia tidak mampu berkata apapun lagi, yang di takutkannya telah terjadi.


Kapan dia mengambil foto itu, bagaimana bisa, apa disana ada orang lain. batin Aida


" Di mading kampus tertempel dalam bentuk foto." Ungkap Rena.


" Kenapa kamu gak ambil?." Nura emosi.


" Terlalu banyak orang disana, aku kesulitan. Maaf." Jelas Rena apa adanya.

__ADS_1


" Kalian tunggu disini kunci pintunya, aku mau cari tahu dan lihat situasi di luar."


Nura mengepalkan tangan keluar dari ruang kelas dan sekarang dia tahu kalau Aida sudah jadi bahan pergunjingan orang-orang yang ada di kampus.


" Siapa yang tega melakukan semua ini." Nura geram.


Satu persatu selebaran yang berserakan Nura ambil dan remas lalu membuangnya ke tempat sampah.


" Hei! Nura, percuma saja kamu pungut, semua orang di kampus sudah melihatnya." Teriak Mourin menegurnya.


Nura masa bodo dengan teriakan Mourin padanya, bagainya itu tidak penting. Dia harus segera menuju manding kampus.


" Kalian semua minggir!!!." Teriak Nura lantang.


Nura berhasil berdiri di depan mading mencabut selembar foto yang di maksud Rena memasukkan ke dalam tasnya. Orang-orang di buat kesal dengan yang Nura lakukan, walapun tidakkannya sudah benar.


" Kamu masih saja membela sahabatmu yang ternyata benar-benar murahan." Hina Mourin.


" Jangan-jangan pekerjaan Aida yang sebenarnya Open BO (Booking)." Tuduh Yina


" Apa Aida kekurangan uang sampai jual diri." Timpal Lola menuduh tak kalah pedas.


" Diam kalian!!!." Bentak Nura. " Berani sekali kalian menghina dan menuduh sahabatku." Lanjutnya.


Nura lantas memukul ketiga gadis dengan tasnya tanpa ampun sampai mereka berlari ketakutan menghindari amukannya.


.


Semua mahasiswa bertanya-tanya dimana keberadaan Aida, karena sejak selebaran beredar batang hidungnya sama sekali tak kelihatan.


Nura secepat mungkin berlari ke ruang kelasnya lagi karena Aida pasti sudah mendengar dirinya di panggil rektor, Nura harus ada untuk melindungi sahabatnya dari semua orang di kampus yang mungkin akan menghujatnya.


Di sisi lain Bobi mencari keberadaan Aida di bantu semua sahabatnya. Bukan untuk minta penjelasan tapi situasi semakin genting karena ada sebagian mahasiswa justru berdemo di halaman kampus di picu seseorang yang menjadi provokator.


Mereka menuntut Aida di keluarkan dari kampus karena telag mencemarkan nama baik almamater tempat Aida menempuh pendidikan.


.


Aida berulang kali mengusap airmatanya yang terus menetes. Kenapa harus sampai sehancur ini dirinya sekarang pikir Aida tak pernah membayangkan jika Ben mengambil gambar saat mereka tidur satu ranjang.


" Ai! Aku tahu semua ini sulit bagimu, tapi kamu harus kuat. Jujur aku lebih percaya kamu daripada foto dan selebaran yang bereda." Jelas Rena Tulus.


" Aku... ." Ucap Aida terpotong.


Aida takut untuk keluar dari ruang kelasnya, dia takut menjumpai semua orang di kampus. Malu sudah pasti tapi jika harus menerima caci maki bahkan hujatan, Aida tidak siap untuk mengahadapinya.


" Ai! Ren! Buka ini aku Nura." Panggilnya di susul ketukan pintu.

__ADS_1


Rena membuka kunci pintu, Nura masuk dengan segera lalu mengunci lagi pintunya.


" Ai! Kita hadapi sama-sama. Kalau sampai mereka berani menyentuhmu, Aku akan berada paling depan untuk melawan mereka." Ujar Nura.


.


" Aida! Apa kamu di dalam? Ini aku Bobi dan semua sahabatku ada disini. Kita ada untuk membantumu." Panggilnya disusul ketukan pintu.


" Dia pasti ingin cari muka." Cela Nura.


" Ra! Sekarang bukan saatnya kita untuk bertengkar, biar aku yang buka pintunya." Usul Rena.


" Jangan!!!." Tolak Aida. " Kita saja yang kekuar, aku harus ke ruang rektor." Lanjutnya.


Aida sudah pasrah menerima segala yang akan terlontar dari mulut semua orang. Menjelaskan apapun tidak akan mengupah opini orang padanya, orang akan lebih percaya dengan bukti yang sudah jelas adanya.


Nura dan Rena mendampangi Aida dari kedua sisi keluar ruang kelas. Aida dan Nuta tak memperdulikan Bobi, berbeda dengan Rena yang justru meminta padanya untuk diam dan jangan mengatakan apapun.


.


" Kita kawal Aida sampai ruang rektor." Perintah Bobi tegas pada semua sahabatnya. Mereka mengangguk.


Nura mau tidak mau membiarkan saja apa yang ingin Bobi lakukan, fokusnya saat ini untuk menjaga dan melindungi Aida.


Lemparan kertas, botol air plastik mulai berterbangan mengarah pada Aida. Nura berteriak meminta orang-orang untuk menghentikan aksinya tapi tak di gubris, Bobi juga melakukan hal yang sama namun hasilnya tetap nihil, semua mahasiswa tak bisa di kendalikan. Dengan penuh perjuangan akhirnya Aida bisa sampai di depan ruang rektor.


" Aku sama Rena nunggu kamu disini." Nura dan Rena memegang bahu Aida untuk menguatkannya. Aida hanya mengangguk.


.


Rektor yang sudah menunggu menyerahkan sebuah amplop putih berisi surat dengan mengersernya diatas meja.


" Pihak kampus sudah memutuskan untuk mengeluarkan kamu Aida, apapun alasannya kami tidak bisa mentoleri jika ada mahasiswa yang dengan sengaja atau tidak telah mencoreng nama baik kampus ini." Tegas Rektor Kampus.


Suara petir mengelegar awal kehancurah hidup Aida telah tiba, tidak ada yang bisa Aida lakukan selain merima takdir dengan berat hati.


Ingin rasanya Aida menjelaskan bukan untuk membela diri karena dirinya memang tidak salah. Tapi lidahnya terasa kelu, bibirnya seolah terkunci, jangankan bicara membuka mulut saja tidak bisa Aida lakukan.


Aida mengambil surat pernyataan bahwa dirinya telah dikeluarkan dan bukan lagi seorang mahasiswi di sebuah universitas ternama.


" Jujur saya tidak percaya karena kamu anak yang baik dan cerdas, terbukti dengan banyaknya prestasi yang kamu torehkan." Ujar Rektor Kampus. " Tapi, mohon maaf! Bapak tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu, Aida." Lanjutnya lagi.


Rektor sendiri yakin jiks mahasiswinya yang selalu mengukir prestasi melakukan tidak mungkin melakukan tindakan yang tercela. Tapi apa mau dikata, pihak kampus sudah melakukan rapat terbatas dan hasil keputusan mereka tidak dapat di gangga gugat. Aida di nyatakan bersalah telah mencemari nama baik kampus dan sebagai hukuman untuk Aida, dengan sangat terpaksa dia dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus.


" Terima kasih banyak, Pak Rektor." Aida akhirnya bersuara lalu menunduk sopan sebelum keluar dari ruangan.


Aida kini berada di titik terendah seumur hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2