
Bu Salimah setengah berlari keluar dari dalam rumah, bahkan mengabaikan keberadaan suaminya yang berdiri di depan pintu.
" Tuan." panggil bu Salimah. " Sebentar." mengejar Ben yang baru saja sampai di mobilnya dengan pintu yang di buka oleh supir.
" Ada apa Anda menghentikan Tuan muda kami?."
Yun sangat tahu Ben tidak suka menunggu.
" Maaf, Tuan. Saya ingin memberikan ini." bu Salimah menyerahkan selembar kertas yang terlipat rapih. Yun bermaksud mengambilnya tapi Ben mengisyaratkan kalau dia saja yang menerimanya.
" Apa ini?."
" Alamat orang yang Tuan cari, hanya itu cara saya untuk berterima kasih karena Tuan sudah antarkan putri saya pulang ke rumah dan menolong keluarga kami."
Bu Salimah tahu mungkin nanti suaminya akan marah karena dia membocorkan keberadaan keluarga Aida. Tapi apa yang sudah Ben lakukan tidak sebanding dengan informasi yang bu Salimah berikan.
Bagaimana jika Asih hilang karena tak kunjung di jemput dan rumah mereka bisa hancur di tangan warga juga melukai anggota keluarganya. Beruntung Iwan tidak ada di rumah karena anak sulungnya itu masih sekolah.
" Terima kasih." Ben mengembangkan senyum hangat, senyum yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapa pun.
Tuan muda terlihat sangat bahagia, sebenarnya alamat siapa yang diberikan ibu itu.
" Sama-sama." Bu Salimah pamit kembali ke rumahnya.
" Yun, kau boleh tidak kembali ke kantor. Perintahkan petugas keamanan menjaga ketat rumah mereka."
" Baik, tuan muda."
Ben masuk ke dalam mobil, Yun yang menutup pintunya.
" Sekretaris Yun, saya permisi." Seorang supir dari perusahaan undur diri.
Tuan muda sangat peduli dengan kelurga gadis kecil itu. Sudahlah aku hanya perlu menjalankan perintahnya.
.
Setibanya Ben di Askara Group, para pegawai menunduk sopan menyambut kedatangannya begitu pun dengan Jay.
" Selamat datang, Tuan muda."
" Hmmm... ."
" Tuan muda meeting akan di adakan jam tiga sore ini."
" Kau sudah siapkan semuanya?."
" Sudah, tuan muda."
Ben menghentikan langkah sebelum membuka pintu ruang kerjanya.
" Kau kembali saja ke ruanganmu, tinggalkan aku sendiri." Ben mencegah Jay untuk ikut masuk ke dalam ruangannya.
" Baik, tuan muda.
Jay tidak berpikir buruk, mungkin tuan muda lelah dia butuh istirahat sejenak pikirnya.
__ADS_1
Tadinya Ben tidak akan kembali ke kantor tapi karena Jay mengirimkan pesan memberitahu jika akan ada meeting penting, mau tidak mau Ben harus datang ke perusahaan karena bagaimana pun tugas utamanya sebagai seorang presdir tidak bisa dia abaikan begitu saja.
.
Ben duduk di kursi kebesarannya dia sudah tidak sabar untuk membuka kertas yang diberikan bu Salimah. Karena itu Ben melarang Jay untuk ikut masuk ke dalam ruangannya. Hanya dia yang harus lebih dulu tahu keberadaan Aida dari orang lain.
Ben mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku jas yang dipakainya, dengan perasaan yang tak menentu Ben membuka kertas dan membaca isinya.
Mata pria tampan itu berbinar seperti berhasil menemukan harta karun yang lama terpendam.
" Aku menemukanmu, sayang." panggilan itu begitu saja lolos keluar dari mulut Ben. Entah dia sendiri menyadarinya atau tidak.
Ben tidak akan melepaskan miliknya, tidak akan pernah. Aida sudah masuk ke dalam hidupnya, menyatu dengannya meski dengan cara yang salah. Memenuhi pikiran dan hatinya sampai tidak ada ruang untuk wanita lain.
Kesempatan, hanya itu yang harus Ben dapatkan untuk bisa di terima Aida dan menemus kesalahan besarnya. Jika dia bisa mendapatkan cinta dari Aida lengkap sudah kebahagian dalam hidupnya yang bisa dia raih.
" Hanya kamu yang aku mau."
.
Aida duduk di jendela kamarnya di lantai atas menatap ke arah pantai, entah mengapa dia merasa hatinya menghangat seperti mendapatkan sentuhan kasih sayang dari seseorang.
" Apa pantas aku memikirkan pria yang sudah menghacurkanku. Bahkan merindukannya. Perasaan macam apa ini."
" Aida." panggil nenek Miranti di susul ketukan pintu kamar.
" Iya Nek, masuk."
Nenek Miranti masuk membuka perlahan pintu kamar bermaksud untuk mengajak cucunya untuk makan siang, karena Aida tidak juga turun dari kamarnya.
" Kamu sedang apa? Jangan melamun kalau lagi sendirian."
" Aku gak lagi melamun, cuma lihat pemandangan laut."
Nenek Miranti melihat emakin hari cucunya semakin ceria dan raut wajah kesedihan tidak lagi diperlihatkan Aida.
" Nenek perhatikan wajah kamu semakin berseri, apa kamu senang kita tinggal disini?."
" Aku sangat senang, Nek. Kita bisa menata hidup di kota ini."
Meski ada perasaan mengganjal yang sulit untuk nenek Miranti jelaskan , dia memberanikan diri bertanya.
" Kamu masih memikirkan pria itu?."
Aida terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Bukan tanpa alasan nenek Miranti menanyakan pada Aida tentang pria yang mengubah kehidupan mereka dalam waktu singkat. Beberapa kali nenek Miranti tiidak sengaja memergoki Aida yang sedang tidur tengah mengigau dan menyebutkan nama tuan B.
" Aku... ." Aida menggelengkan kepalanya untuk mengelak.
" Apa yang sudah terjadi itu takdir, bisa saja sekarang pria itu sedang menerima akibat dari perbuatannya. Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan."
" Bagaimana kalau dia masih mencariku dan kalau sampai dia menemukan kita, aku takut dia akan... ."
Aida yang sudah tahu jika Ben seorang tuan muda yang bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, karena itu dengan mudah Ben akan menemukan keberadaan Aida dan keluarganya.
" Kamu mau lari dan dia terus mengejarmu atau menghadapinya?."
__ADS_1
" Aida gak tahu, Nek."
Hati dan pikirannya sudah dipenuhi sosok Ben, tapi rasa sakit atas perbuatan pria itu belum hilang. Seandainya saja Ben tidak sampai hati menghancurkan keluarga Aida mungkin akan berbeda. Masih jelas dalam ingatan Aida bagaimana nenek dan kakeknya secara bersamaan terkena serangan jantung dan masuk rumah sakit.
" Ai! Nenek dan kakek sudah pernah membahas satu hal. Jika suatu hari pria itu datang dan menyesali perbuatannya. Berilah dia kesempatan."
" Dia sudah menghancurkan aku, aku hampir kehilangan nenek juga kakek dan karena dia hidup kita jadi begini. Untuk apa memberinya kesempatan." Aida emosi tidak bisa berpikir jernih.
Ada rasa senang dan sedih yang bercampur mendengar apanya nenek Miranti katakan.
" Dengarkan nenek dulu."
" Apa nenek dan kakek tidak sakit hati?." Aida menangis.
Bohong jika Aida tidak menyimpan kebenciannya untuk Ben meski jauh di dalam lubuk hatinya terdapat rasa cinta untuk pria itu.
" Nenek dan kakek sakit hati. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu kami tidak membencinya."
Kita hidup di dunia ini hanya satu kali dan tujuan terakhir kita adalah kematian. Perbuatan buruk tidak di benarkan tapi setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk menebus kesalahan mereka.
" Aku membencinya."
Nenek Miranti tahu cucunya menutup sesuatu, apa yang Aida katakan tidak sepenuhnya benar.
" Biarkan tangan Tuhan yang bekerja menghukumnya. Dia memang sudah merenggut hal paling berharga dalam hidupmu dan sangat tega menyakiti kita semua tapi kita tidak bisa melawan takdir, kehendak dan kuasa Tuhan."
" Aku tahu itu, Nek."
" Memberinya kesempatan adalah sebuah jalan memutuskan mata rantai kebencian. Mungkin apa yang sudah terjadi itu cara Tuhan menjodohkan kamu dengan dia."
Aida sungguh tidak mengerti kenapa nenek dan kakeknya bisa sebaik itu untuk memaafkan seseorang.
" Apa aku jahat kalau tidak memberinya kesempatan?."
Jika di pikir ulang Ben memang tidak sepenuhnya bersalah, siapapun orang yang sakit hati bisa saja melakukan hal yang tidak semestinya ketika mereka tidak bisa mengontrol emosi.
" Cinta dan benci itu tipis, ikuti kata hatimu." nenek Miranti mengelus lembut kepala cucunya.
Aida tidak lagi menjawab, kata hatinya mengatakan cinta tapi mulutnya mengatakan benci.
" Sudah jangan di pikirkan sekarang, Ayo kita makan siang."
Aida berdiri dari duduknya di jendela yang terbuka, sedari tadi dia sudah lapar hanya saja pembicaraannya dengan sang nenek membuat waktu makan siang jadi tertunda.
" Nenek masak apa hari ini?."
" Mie rebus." Aida tergelak.
" Apa? sejak kapan nenek makan mie instant?." Aida tahu neneknya tidak suka masak mie cepat saji.
Nenek Miranti terkekeh dia berhasil dengan candaannya membuat cucu kesayangan dia tertawa dan panik secara bersamaan.
" Tentu saja tidak, hanya kamu yang suka sekali makan mie instant."
Di meja makan tidak ada sama sekali mie instant. Aida bernapas lega neneknya ternyata hanya bercanda, benar sesuai dugaannya.
__ADS_1
" Hari ini nenek masak ikan kembung pepes kesukaanmu, cobalah."
Aida paling suka makan masakan dengan bahan dasar ikan, mau di goreng, di sayur atau di kukus tapi ada satu hal yang Aida tidak suka duri ikan. Nenek Miranti akan menyisihkan duri itu sebelum cucunya makan ikan masakannya.