Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 47


__ADS_3

Kampus Ternama di Ibukota


Pagi hari sudah tiba, Jay ingin bertemu seseorang yang memiliki hubungan erat dengan Aida di kampus.


Dia sudah datang sejak pukul enam pagi memastikan orang yang dia cari bisa dirinya temukan.


Sesuai informasi yang diberikan orang suruhannya. Nura, gadis itulah yang sedang Jay tunggu. Nura selalu datang tepat pukul tujuh pagi sampai di kampus, tapi karena Jay tidak ingin kecolongan dia menunggu lebih awal memastikan dirinya bisa mendapatkan informasi keberadaan Aida.


Jay duduk santai di kap mobil, melipat kedua tangannya ke depan. Sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus. Seseorang turun dan ternyata itu Nura.


" Nura." Jay menghentikan langkah kaki gadis itu yang ingin masuk ke area kampus.


Siapa? Apa dia mengenaliku.


Nura tetap berdiri di tempat, Jay yang punys kepentingan segera menghampirinya.


" Kenalkan namaku Jay." sambil mengulurkan tangannya tanpa basa-basi.


Nura membalas uluran tangan Jay, menatapnya dengan wajah binggung. Siapa? tapi Nura merasa tidak asing dengan nama pria itu, seperti pernah mendengarnya tapi lupa kapan dan dimana.


" Ada perlu apa Tuan padaku?."


" Bisa kita bicara di tempat lain.?"


Nura berpikir sejenak masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum dirinya masuk kelas.


" Hanya lima belas menit."


" Tidak masalah, kita bicara di sana saja." Jay menyanggupi dan menunjuk sebuah kedai bubur ayam.


" Baiklah." Nura sepakat.


Jay ingin langsung bicara pada intinya, dia tidak mau berbelit-belit. Karena dirinya harus bisa menemui Aida lebih dulu sebelum Ben. Bukan untuk merebutnya tapi itu kesempatan yang bisa Jay pergunakan untuk melepas rindu terakhir kali sebelum Aida resmi menjadi milik tuan muda.


" Tolong beritahu aku dimana Aida berada, kamu pasti tahu."Jay bicara dengan raut wajah yang memohon.


" Tuan punya keperluan apa dengan sahabatku?."


" Sulit untukku menjelaskannya padamu. Tapi percayalah aku tidak punya niat jahat."


" Aku tidak berpikir sampai kesana, hanya saja aku tidak bisa memberitahu anda Tuan. Urusan kita selesai." Nura hendak pergi, dia tidak mau berurusan dengan orang asing.


" Apa kamu tidak ingin sahabatmu kembali kesini, bisa berkuliah bersamanya lagi?."


Jay seolah sedang bernegosiasi memberikan penawaran timbal balik.


" Apa Anda ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada Aida?.


Nura kini menaruh rasa curiga, apa mungkin Jay ikut terlibat. Jay sendiri tidak tahu apakah dirinya ikut andil atau tidak. Karena dia hanya menjalankan perintah mencari informasi tentang Aida dulu yang dia sampaikan sendiri pada Ben.


" Tidak, aku cukup dekat dengannya."


Jay menceritakan bagaimana dirinya gagal untuk makan malam bersama Aida dan menemukan Aida menangis di tepi danau lalu pergi darinya saat di panggil. Setelah itu Jay harus ke Amerika untuk urusan pekerjaan sampai hilang kontak dengan Aida yang ternyata sudah menghilang dari ibukota saat Jay sudah kembali.


Nura percaya dan yakin Jay pria baik hati, dia juga jadi ingat kalau Aida pernah menceritakan sosok Jay padanya.


" Aku bisa memberitahumu, dengan satu syarat."


" Apapun itu akan aku penuhi."


" Berjanjilah untuk menepati kata-katamu tadi."

__ADS_1


" Aku pastikan dia akan segera kembali. Jadi beritahu aku sekarang."


Nura menghelas napas, meyakinkan dirinya kalau yang dia lakukan sudah benar dan tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari.


" Aida, ada di kampung halaman keluarganya. Aku akan berkunjung kesana beberapa hari lagi karena lusa sudah liburan semester."


" Apa boleh kita pergi bersama?.'


Jay tidak ingin seorang diri datang bertemu dengan Aida, berharap Nura setuju.


" Baiklah."


" Berikan nomor ponselmu?."


Jay mengeluarkan ponsel miliknya dari saku Jas dan menyerahkan pada Nura untuk mencatat nomor ponselnya.


" Sudah, anda bisa hubungi saya kapan saja dan kapan kita berangkat saya akan beritahu Tuan nanti."


" Ok! Sebaiknya kamu panggil aku nama saja atau kakak misalnya, jangan tuan."


" Kak Jay, senang bertemu denganmu."


Nura melangkahkan kakinya lagi pergi begitu saja menuju pintu gerbang dan masuk ke dalam area kampus.


" Gadis yang unik, tomboy tapi baik hati."


Jay memuji dan menilai Nura gadis yang tulus, meski penamoilan dan sikapnya jauh berbeda dengan Aida. Jay yakin mereka berdua punya hubungan persahabatan yang sangat erat.


" Kita pasti bertemu Aida."


Jay melemparkan ke atas kunci mobil miliknya dan menangkapnya lagi. Dia sangat senang sebentar lagi akan kembali melihat Aida dari jarak yang dekat.


Sepertinya sedang terjadi perang dingin antara Ben dan Jay mereka datang ke perusahaan Askara Group dengan mobil berbeda. Ben diantarkan oleh supir sedangkan Jay mengemudikan sendiri mobilnya.


" Selamat pagi, tuan muda." Jay menyapa lebih dulu.


Sebagai seorang asisten di bawah posisi tuan muda, dia tetap harus menekankan profesionalisme dalam pekerjaan.


" Hmmm... ."


Ben melanjutkan langkah dia ingin segera sampai di ruang kerjanya. Semua pegawai yang berpapasan menyapa dan menunduk sopan.


" Jay, dalam waktu dekat aku akan pergi ada urusan penting yang sangat mendesak. Kau kosongkan jadwalku selama satu minggu ke depan setelah aku pergi."


" Baik, tuan muda."


" Satu lagi, panggil Yun untuk datang ke ruanganku."


" Baik."


" Pergilah." Ben sudah sampai di depan pintu ruangan kerjanya.


" Saya permisi, tuan muda." Jay undur diri menuju ke ruang sekretaris Yun.


Tuan muda sekarang ini lebih suka Yun yang berada di dekatnya. Mungkin selama aku di Amerika tuan muda jadi terbiasa mengandalkan Yun. Sudahlah, tugasku hanya melaksanakan perintah dan bekerja sesuai kapasitasku di perusahaan ini.


Jay langsung masuk ke ruang kerja Yun tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


" sekretaris Yun, kau di panggil oleh tuan muda."


Yun yang tengah sibuk mengetik dengan jari jemarinya di depan laptop menghentikan aktivitasnya itu.

__ADS_1


' Ada apa aku di panggil?."


Jay hanya mengangkat bahu, dia sendiri tidak tahu.


" Cepat sana temui tuan muda."


Yun menutup laptopnya segera keluar dari ruangannya bersama Jay.


" Kau kesana sendiri, aku harus kembali ke ruanganku."


" Kenapa kau tidak ikut?."


" Tuan muda hanya memanggil dirimu, sudah sana."


Jay pergi meninggalkan Yun begitu saja menuju ruang kerjanya sendiri, ada banyak berkas yang harus dia periksa sebelum di berikan pada tuan muda.


.


" Tuan muda." panggil Yun di susul ketukan pintu.


" Masuk."


Yun masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan izin, berdiri di dekat sofa.


" Tuan muda."


" Duduklah, ada yang ini aku bicarakan."


" Baik, tuan muda."


Ben berpindah dari kursi ke besarannya, duduk di sofa berhadapan dengan Yun.


" Kau persiapkan dirimu dari sekarang beberapa hari lagi kita akan berangkat. Cek semuanya termasuk kondisi helikopter yang akan digunakan."


" Baik, tuan muda."


" Satu lagi, kita tetap butuh armada disana."


" Saya akan mengurus semuanya tuan muda."


Yun harus memerintahkan kepala keamanan untuk mengirim anggotanya lewat jalur darat dan memastikan mereka tiba lebih dulu disana. Selain itu mobil pribadi untuk tuan muda juga harus di kirim lebih dulu, jadi begitu turun dari helikopter Ben bisa langsung naik ke dalam mobil. Keamanan dan kenyamanan untuk tuan muda menjadi prioritas yang utama tidak bisa di kesampingkan.


" Aku tidak ingin ada kendala, human error. Kau mengerti?."


" Saya mengerti, tuan muda."


Yun harus membuktikan dirinya bisa melaksanakan tugas dengan baik sesuai perintah Ben untuk membuktikan dirinya bisa diandalkan.


" Kau boleh kembali bekerja."


" Baik, tuan muda. Saya permisi."


" Hmmm... ."


Setelah Yun keluar dari ruangan kerja tuan mudanya. Ben berdiri di dekat jendela melihat pemdangan ibukota di pagi hari.


" Tunggu aku sebentar lagi Aida."


......Kalian semakin penasaran gak kapan dan bagaimana Aida dan Ben bertemu?.......


...Tunggu sebentar lagi ya, siapkan tisu karena episode nya akan mengandung bawang. ^_^...

__ADS_1


__ADS_2