Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 28


__ADS_3

Jay menikmati suasana malam kota New York seorang diri, salah satu kota yang terkenal romantis di dunia. Jay berkeinginan suatu hari nanti bisa mengajak Aida bersamanya untuk menunjukkan betapa istimewanya kota New York di Amerika.


" Saat ini disana kamu pasti sedang kuliah, Ai." Ucap Jay sambil berjalan menatap foto Aida di layar ponselnya.


Brukkk!


Seorang wanita terjatuh saat sedang berjalan sambil bermesraan bersama seorang pria setelah berbenturan dengan tubuh Jay sampai ponsel yang dipengangnya terjatuh ke jalan.


" Maaf aku tidak fokus, sibuk melihat ponsel." Jay mengatakannya dalam bahasa inggris.


" It's Ok, Aku juga salah." Ucap Seorang wanita di bantu berdiri oleh pria yang bersamanya.


Jay mengambil ponselnya sebelum bersitapa dengan wanita yang menabraknya.


" Kamu Gracia, Emh~ Maksudku Graciella, benarkan?." Seru Jay.


Graciella yang akrab di sapa Gracia teman masa kecil Jay dan Ben. Mereka bertiga tumbuh bersama sampai Gracia memutuskan untuk menempuh pendidikan sekolah menengah pertama di Amerika.


" Iya, kamu Jay kan?." Tanya Gracia gugup. Jay mengangguk.


Kenapa bisa kebetulan bertemu dengan Jay saat aku sedang bersama seorang pria. batin Gracia.


" Aku senang bisa bertemu lagi denganmu." Ujar Jay.


Gracia yang tidak mau ketahuan sedang berpacaran meminta kekasihnya untuk pergi dulu ke kafe yang sudah mereka reservasi untuk makan malam. Tanpa rasa curiga kekasih Gracia menuruti keinginannya.


" Jay bisa kita bicara?." Tanya Gracia.


" Tentu saja bisa, kita cari tempat yang nyaman di sekitar sini." Jawab Jay.


Jay dan Gracia memilih Times Square yang bisa dibilang tempat nongkrong anak muda hits Amerika. Tak afdol kalau wisatawan datang ke Amerika tapi tidak mampir ke persimpangan jalan super sibuk ini.


" Jay! Apa tujuanmu datang ke Amerika?." Tanya Gracia.


" Aku ada pertemuan bisnis mewakili Askara Group." Jawab Jay jujur.


" Bagaimana kabarnya Ben?." Tanya Gracia lagi penasaran.


" Tuan Muda


Sudah lama aku tidak pulang ke Indonesia


.


Jay menikmati suasana malam kota New York seorang diri, salah satu kota yang terkenal romantis di dunia. Jay berkeinginan suatu hari nanti bisa mengajak Aida bersamanya untuk menunjukkan betapa istimewanya kota New York di Amerika.


" Saat ini disana kamu pasti sedang kuliah, Ai." Ucap Jay sambil berjalan menatap foto Aida di layar ponselnya.


Brukkk!


Seorang wanita terjatuh saat sedang berjalan sambil bermesraan bersama seorang pria setelah berbenturan dengan tubuh Jay sampai ponsel yang dipengangnya terjatuh ke jalan.

__ADS_1


" Maaf aku tidak fokus, sibuk melihat ponsel." Jay mengatakannya dalam bahasa inggris.


" It's Ok, Aku juga salah." Ucap Seorang wanita di bantu berdiri oleh pria yang bersamanya.


Jay mengambil ponselnya sebelum bersitapa dengan wanita yang menabraknya.


" Kamu Gracia, Emh~ Maksudku Graciella, benarkan?." Seru Jay.


Graciella yang akrab di sapa Gracia teman masa kecil Jay dan Ben. Mereka bertiga tumbuh bersama sampai Gracia memutuskan untuk menempuh pendidikan sekolah menengah pertama di Amerika.


" Iya, kamu Jay kan?." Tanya Gracia gugup. Jay mengangguk.


Kenapa bisa kebetulan bertemu dengan Jay saat aku sedang bersama seorang pria. batin Gracia.


" Aku senang bisa bertemu lagi denganmu." Ujar Jay.


Gracia yang tidak mau ketahuan sedang berpacaran meminta kekasihnya untuk pergi dulu ke kafe yang sudah mereka reservasi untuk makan malam. Tanpa rasa curiga kekasih Gracia menuruti keinginannya.


" Jay bisa kita bicara?." Tanya Gracia.


" Tentu saja bisa, kita cari tempat yang nyaman di sekitar sini." Jawab Jay.


Jay dan Gracia memilih Times Square yang bisa dibilang tempat nongkrong anak muda hits Amerika. Tak afdol kalau wisatawan datang ke Amerika tapi tidak mampir ke persimpangan jalan super sibuk ini.


" Jay! Apa tujuanmu datang ke Amerika?." Tanya Gracia.


" Aku ada pertemuan bisnis mewakili Askara Group." Jawab Jay jujur.


" Bagaimana kabarnya Ben?." Tanya Gracia lagi penasaran.


" Sudah lama aku tidak pulang ke Indonesia, Ben pasti semakin tampan." Terang Gracia.


" Kamu tidak menanyakan kabarku?. Tanya Jay balik.


" Untuk apa, sekarang aku sudah melihatmu dan kamu terlihat baik-baik saja." Ungkap Gracia.


" Kamu benar. Pria tadi itu siapa?." Tanya Jay lagi.


" Ah, itu tadi temanku kami mau ke kafe ada teman yang merayakan ulang tahun disana." Jawab Gracia berbohong. Jay mencoba untuk percaya meski ragu.


Jay mengamati tingkah teman kecilnya itu yang terkesan menyembunyikan sesuatu supaya tidak ketahuan. Gracia memang sedang berkilah menutupi hubungan dia dengan kekasihnya di Amerika.


" Kamu tahu Jay, sejak kecil sampai sekarang perasaanku tidak pernah berubah untuk Ben. Aku masih menyukainya." Jelas Gracia mencoba menarik simpati Jay.


" Benarkah?." Tanya Jay.


" Kamu tidak percaya padaku." Gracia memasang wajah sedihnya.


" Kamu bicara apa, aku percaya padamu." Ucap Jay terpaksa daripada jadi berkepanjangan.


" Beberapa bulan lagi aku akan kembali ke Indonesia jangan beritahu Ben soal kepulanganku, ini kejutan." Terang Gracia. Jay mengangguk dan memberi senyuman.

__ADS_1


" Jay! sebelum aku pergi boleh minta nomor kontak Ben? jika sempat aku akan menghubunginya." Bujuk Gracia dengan raut wajah memohon berharap Jay memberikan nomor kontak Ben padanya.


Jay seolah tahu maksud terselubung Gracia, terpaksa mengunakan nama besar Ben sebagai Tuan Muda untuk tidak memberikan nomor kontaknya. Karena bagaimana pun tidak mudah menghadapi kemarahan Ben jika sampai Jay dengan lancang menyebarkan privasinya.


" Maaf aku tidak bisa sembarangan memberikan nomor Tuan Muda karena itu berkaitan dengan privasinya." Jay menolak dengan sopan.


" Privasi kamu bilang? Kita bertiga berteman sejak kecil, aku bukan orang asing." Gracia berubah kesal.


" Maaf! Aku tetap tidak bisa memberikannya padamu." Sekali lagi Jay menolak.


" Aku pikir kita teman." Gracia emosi. " Kamu mengecewakanku Jay." Teriak Gracia pergi begitu saja dengan kesal.


Aku bisa tahan menghadapi kemarahanmu Gracia tapi tidak dengan kemarahan Tuan Muda. batin Jay


Jay pergi dari tempatnya berada, memutuskan untuk mencari kafe ingin menikmati secangkir kopi latte yang jadi minuman favoritenya.


.


.


.


Aida tidak fokus dengan mata kuliahnya hari ini, pikirannya entah melayang kemana. Sepajang dosen menerangkan Aida hanya melamun, pandangnya kosong tak tentu arah. Untung saja dosen tidak begitu memperhatikannya sampai jam perkuliahan berakhir. Kelas sudah sepi hanya Aidan dan Nura yang masih ada ruangan.


" Ai! Kamu kenapa lagi?." Tanya Nura cemas.


" Aku hanya mengantuk kurang tidur." Jawab Aida.


" Aku yakin ada yang kamu sembunyikan." Selidik Nura.


Nura mencoba mencari kebenaran dari sahabatnya, dia yakin Aida sedang tidak baik-baik saja.


" Ra! Jika sesuatu terjadi padaku, apa kamu masih mau bersahabat denganku?. Tanya Aida dengan raut wajah sendu.


" Kamu ini bicara apa? Dalam susah dan senang kita akan selalu jadi sahabat selamanya." Tegas Nura.


" Berjanjilah kamu akan lebih percaya padaku." Buliran air mata menetes jatuh ke pipi Aida.


" Tanpa kamu minta aku sudah mengikrakan janjiku untuk selalu percaya padamu." Nura memeluk sahabatnya dari samping memberi ketenangan.


Nura menegaskan dirinya sangat menyayangi Aida sebagai saudara lebih dari sahabat dan akan selamanya begitu meski apapun yang terjadi ke depannya. Nura akan selalu ada mendukung Aida.


" Kamu harus cerita sama aku, Ai." Bujuk Nura.


" Aku belum siap kalau harus cerita sekarang." Tolak Aida.


Aida masih setengah hati, dia ragu karena yang dia ingin ceritakan menyangkut hal yang sangat sensitif.


Bagaimana reaksi Nura nanti jika mengetahui sahabatnya sudah kehilangan kehormatan sebagai seorang wanita dan mengetahui siapa pelakunya, pikir Aida.


" Ya sudah! Kita pulang sekarang. Aku antar kamu." Ujar Nura. Aida hanya mengangguk.

__ADS_1


Hari ini telah berlalu dengan cepat tanpa ada satu pun kejadian yang mengusik ketenangan Aida.


__ADS_2