Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Kerja


__ADS_3

Ceklek


"Oh Bi Nana, ada apa Bi?" Tanya Agra pada pembantunya itu.


"Ibu meminta saya untuk menawarkan sarapan pagi," jawab Bi Nana.


"Bawakan saja ke kamarku, aku lagi malas turun dan makan bersama mereka," keluh Agra.


Bi Nana mengerti dan dia langsung mengerjakan tugas dari majikan mudanya itu, sepertinya tuan muda kelelahan dan ingin berdiam di kamar seharian, hehe.. batin Nana yang senang melihat majikan mudanya akhirnya menikah, dia begitu mengkhawatirkan Agra seperti mengkhawatirkan anaknya sendiri.


Bi Nana memang bekerja sudah lama, dan dia mengasuh Agra sedari kecil, menganggapnya sebagai anaknya sendiri, karena dari dulu Bu Lolita terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga Agra sering terabaikan.


Bintang dan Agra pun makan bersama.


"Kenapa kita tidak makan bersama ayah dan ibumu dibawah?" Tanya Bintang sambil mengunyah buah apel.


"Aku sedang malas." Agra


Sepertinya keluarga ini tidak harmonis, pikir Bintang.


"Oh, ngomong-ngomong berapa lama kita cuti? Dan apa selamanya kita akan tinggal disini? Tidak adakah rumah baru?" Tanya Bintang, kini dia lebih cerewet dari sebelumnya, dia merasa sudah dekat dengan Agra, dia sudah tidak canggung lagi, dia menganggap Agra sama dengannya meski Agra jelas manusia yang berbeda jenis dengannya.


Sekarang, cuma dia yang aku miliki, aku akan mempertahankan Agra agar tetap disisiku, ya.. aku sangat membutuhkannya aku kini bergantung hidup padanya. Batin Bintang


"Hahaha, apa kau berpikir jika kita benar-benar menikah dan akan berbulan madu?" Agra benar-benar merasa lucu dengan pertanyaan gadis di depannya itu.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Tapi pandangan orang kan berbeda, mereka berpikir jika hubungan kita nyata dan kita pun harus berpura-pura bukan?" Tanah Bintang lagi.


"Hmm, aku akan mengambil cuti dua hari dan kita akan masuk kerja besok." Agra


"Apa? Dasar pelit," keluh Bintang, dia berpikir jika dia akan mendapatkan libur panjang, namun nyatanya tidak.


"Kalau tidak pelit mana mungkin aku bisa kaya," jawab Agra dengan asal, dia hanya gila kerja saja, dia tidak bisa berpikir untuk membuang waktunya untuk liburan, menurutnya itu tidak menguntungkan baginya.


Bintang malas mengobrol dengan lelaki di hadapannya itu, karena pemikiran Agra yang aneh menurutnya, dia lebih memilih melampiaskan kekesalannya pada semua makanan yang ada di meja.


"Wah … biaya makanmu sepertinya mahal," keluh Agra saat melihat betapa banyaknya Bintang makan, namun gadis itu mengacuhkan perkataan Agra, dia tidak akan membuang tenaganya untuk berdebat dengan manusia yang menyebalkan itu.


***


Benar saja keesokan harinya Agra membangunkan Bintang lebih pagi, menyuruhnya bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Cepatlah! Apa kamu mau berangkat sendiri ke kantor, atau kamu mau diam dirumah dan mendapat serangan dari ibuku? Apa kau tahu seberapa kerasnya ibuku? Kamu tidak akan tahan padanya." Agra


"Iya aku tahu, ibumu pasti menurunkan sifatnya padamu, menghadapimu saja aku sudah kewalahan apalagi ditambah ibumu," keluh Bintang dengan pelan namun masih bisa didengar Agra.


"Apa kamu bilang?" Bentak Agra.


"Tidak apa-apa, aku akan bersiap-siap," Bintang memilih bangun dan bersiap-siap.


Mereka melewatkan sarapan pagi dengan keluarga besar, Agra selalu mempunyai alasan untuk tidak makan bersama, ibu dan ayahnya pun sudah paham betul, mereka membiarkan Agra dan Bintang pergi.

__ADS_1


Sesampainya di kantor mereka mendapatkan sambutan meriah dari semua karyawan, ya… sebelumnya Maxim memberitahu jika Bos Mereka akan masuk kerja hari ini.


Beberapa karyawan wanita menatap Bintang dengan rasa iri dan benci.


Bintang dan Agra bekerja seperti biasanya, mereka seolah bekerja secara profesional padahal mereka memang status asli mereka adalah atasan dan bawahan bukan suami istri.


***


Sementara di luar gedung, terlihat Meira dan seorang laki-laki sedang memperhatikan gedung di depannya, gedung yang menjulang tinggi, mereka begitu kagum dengan pencapaian Agra yang berhasil membuat perusahaan itu maju pesat.


"Apa kamu masih mau merebut perusahaan milik Agra?" Tanya Meira.


"Tentu, apa kamu mau membantuku?" Tanya lelaki itu.


"Bisa, asal kamu juga membantuku untuk mendapatkan Agra dan menjauhkan wanita sialan itu dari Agra." Meira


"Hahaha, apa kamu tergila-gila padanya? Kamu tidak menginginkan hartanya?" Tanya lelaki itu.


"Harta itu bonus, aku lebih menginginkan Agra menjadi milikku." Meira


"Oke, kita sepakat, kamu bantu aku merebut perusahaan ini, mengalihkan semuanya atas namaku suatu saat nanti, dan aku akan membuat istrinya itu tergoda dan berpaling dari Agra, bagaimana?" Tanya laki-laki itu.


"Setuju," Jawab Meira dengan yakin, dia memang terlahir dari keluarga kaya, dia tidak kekurangan apapun, yang dia inginkan hanyalah Agra, dia menyukai Agra sejak kecil, dan cinta itu kini tumbuh menjadi obsesi yang kuat.


Mereka tersenyum licik dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2