
"Hahaha, aku hanya bercanda Nek, aku hanya punya kekuatan insting sebagai wanita saja, siapa tahu itu berguna, hmm…," jawab Bintang yang berharap sang nenek akan percaya.
"Oh, nenek kira kamu punya kekuatan hipnotis dan sebagainya, siapa tahu wanita tadi jadi mau berbicara jujur, hehe…," ucap sang nenek.
Mereka pun akhirnya pulang, meski Bintang masih penasaran dengan Meira, dia akan mengunjungi wanita itu esok hari karena memang hari mulai gelap, dia merasa khawatir dengan Langit yang sedari pagi dibawa keluar.
Mereka sampai di Mansion milik Agra, ternyata nenek Gina memilih turun disana dan menginap saja, pak Deni pun ikut menginap disana.
Namun saat mereka memasuki Mansion, Fitri membuka pintu, namun saat melihat Bintang dan Agra dia kaget, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Fitri refleks mundur beberapa langkah, tapi saat melihat nenek Gina ada dibelakang mereka, Fitri berlari ke arah majikannya itu dan bersembunyi di belakang badannya.
"Kamu kenapa Fitri?" Tanya nenek Gina heran.
Apa mungkin nyonya Bintang dan tuan Agra itu hantu, pikir Fitri yang bisa didengar oleh Bintang.
Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Apa dia tadi melihatku menghilang? Ohh… astaga, batin Bintang.
"Iya, kamu kenapa? Aneh sekali," tanya Agra yang juga merasa aneh dengan sikap Fitri.
Namun Fitri hanya diam, dia tetap bersembunyi dibalik tubuh nenek Gina sang majikannya sejak dulu, "Nyonya besar, saya perlu berbicara berdua saja dengan anda," bisik Fitri.
Nenek Gina mengangguk, "Ga, nenek ke kamar sekarang ya? nenek lelah," ucap nenek Gina pada Agra, dia pun pergi ke kamar tamu yang biasa ditempati olehnya dengan diikuti Fitri yang masih terlihat ketakutan.
Sesampainya di kamar, Fitri langsung mengunci pintu kamar itu.
"Nyonya, apa nyonya Bintang dan tuan Agra itu bukan manusia biasa?" Tanya Fitri dengan pelan.
"Apa? Maksudmu apa? Jangan bicara hal yang mustahil dan tidak masuk akal Fitri..!" Ucap nenek Gina.
"Tapi Nyonya, aku benar-benar melihat mereka menghilang entah kemana, aku serius Nyonya," ucap Fitri mencoba meyakinkan nenek Gina.
__ADS_1
"Sepertinya kamu butuh cuti beberapa hari, kamu mungkin terlalu lelah..!" Ucap Nenek Gina.
"Tapi Nyonya, saya berkata benar, tuan dan nyonya pergi dengan cara menghilang, bahkan semua mobil ada semua di garasi," jawab Fitri.
Tentu saja nenek Gina mempertimbangkan apa yang dikatakan Fitri, dia mulai mencari tahu, bertanya ke beberapa penjaga di rumah Agra, dan memang tidak ada mobil yang keluar hari ini, "apa mungkin dia naik kendaraan umum?" Gumam nenek Gina.
Bintang tidak sempat menguping mereka hingga dia kecolongan seperti ini, nenek Gina sekarang menaruh rasa curiga pada Bintang, karena sebelumnya mereka juga membahas kekuatan.
Apa benar dia mempunyai kekuatan? Apa yang dimaksud kekuatan tadi kekuatan menghilang, atau kekuatan lain? Pikir nenek Gina.
"Astaga, kenapa aku ketularan Fitri yang berpikir tidak masuk akal," keluh nenek Gina, dia bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Namun ternyata Fitri sudah ada disana, dia ingin tidur di sofa yang ada di kamar Nyonya besarnya itu, sejak kejadian pagi tadi dia jadi merasa takut dan berniat memprotes agar dipindahkan ke Mansion sebelumnya.
"Kamu ini terlalu berlebihan Fitri, mungkin kamu salah lihat, atau bisa saja mereka pergi bersama teman bisnis Agra sehingga mereka meninggalkan semua mobil di Mansion ini, sebaiknya kamu tidur sekarang dan pastikan besok kamu tidak bersikap aneh lagi!" Ucap nenek Gina.
Fitri mengangguk pasrah, dia sudah kehilangan cara agar Nyonya besarnya itu percaya dengan perkataannya. Dia berpikir jika dia bukanlah siapa-siapa dan tentu saja nenek Gina lebih mempercayai cucunya dan juga Bintang.
Gina pun menuju tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamar itu, sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Fitri, dia tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang diluar nalar itu, hanya saja dia tidak mau hal ini menyebar ke semua pekerja bahkan sampai ke telinga orang luar, makanya dia sebisa mungkin menolak semua pernyataan Fitri.
***
Ketika pagi datang, nenek Gina sarapan bersama cucu dan cicitnya, dia memperhatikan Bintang sedari tadi, tidak ada yang aneh dengan dia, pikir nenek Gina.
Tentu saja Bintang bisa mendengarnya, dia mencoba mengacuhkannya karena dia yakin kalau nenek Gina tidak akan mencurigainya dengan pikiran yang aneh-aneh, setidaknya nenek Gina pasti percaya kalau dia itu baik dan tidak berniat jahat pada siapapun.
"Ga, kamu mau ke kantor hari ini?" Tanya nenek Gina.
"Iya Nek, tapi Bintang ingin pergi ke Rumah Sakit dimana wanita kemarin dirawat, nenek bisa kan menemaninya?" Tanya Agra.
"Tentu saja, nenek akan pergi bersama Fitri dan Deni, jadi nenek dan bintang bisa masuk ke dalam sementara Langit dijaga oleh mereka," usul snag nenek.
__ADS_1
"Bagaimana sayang, apa kamu setuju?" Tanya Agra pada istrinya itu.
"Tentu, aku tidak masalah dengan itu, justru aku senang jika nenek mau menemaniku," ucap Bintang menatap sang nenek dengan senyuman manisnya.
"Hmm, iya lagipula nenek juga tidak punya kegiatan hari ini," ucap nenek Gina.
Aku rasa dia hanya manusia biasa, normal, tubuhnya pun sempurna tidak ada yang aneh, dasar Fitri, batin nenek Gina.
Bintang tersenyum kecil mendengar hal itu, Ara yang penasaran dia menyenggol lengan Bintang,"kamu menertawakan apa? Aku tidak mengatakan apapun di dalam hatiku," bisik Agra.
"Bukan kamu, tapi nenek," jawab Bintang dengan berbisik lagi ditelinga suaminya.
"Hmm, kalian sungguh tidak sopan, bermesraan didepan nenek dan mengabaikan nenek, apa nenek ini kalian anggap makhluk tak kasat mata?" Protes nenek Gina.
Seketika pasangan suami istri itu saling menjauh, mereka merasa tidak enak dengan sang nenek yang memang tidak mempunyai pasangan hidup sekarang.
Kita jangan membuat nenek iri sayang..! Batin Agra yang sengaja diucapkan agar bisa didengar oleh istrinya saja, Bintang hanya tersenyum kecil yang bahkan dia sembunyikan agar nenek tidak melihatnya.
***
Agra berangkat ke kantor, Bintang bersiap-siap dengan perlengkapan Langit yang sekiranya akan dibutuhkan ketika bepergian keluar Mansion.
Fitri belum mau berbicara, dia hanya akan mengangguk dan menggeleng, dia juga menjawab dengan singkat setiap pertanyaan dari Bintang, wanita itu masih waspada terhadap majikan mudanya ini.
Sekitar pukul 9 pagi, mereka pun berangkat dengan diantar oleh pak Deni yang menginap kemarin, dia juga memakai mobil pak Darmaja.
"Hmm, kamu sama Agra kemarin naik mobil yang mana? Nenek lihat semua mobil ada di garasi, apa kalian membeli mobil baru dan ditinggal di rumah Darmaja?" Tanya sang nenek.
Deg
Kenapa selalu ada pertanyaan yang membuatku bingung untuk menjawabnya, pikir Bintang.
__ADS_1
Bersambung…..