
Seperti biasa Bintang kini bekerja sebagai bawahan suaminya, itu merupakan kesempatan bagus bagi Agra untuk mengerjai Bintang.
Agra beberapa kali menyuruh Bintang merevisi laporannya, padahal menurut wanita itu, tidak ada yang salah dengan laporannya.
"Astaga, ini sudah yang ke 4 kalinya dia menyuruhku merevisinya, dia juga tidak memberi tahu bagian mana yang salah, dasar menyebalkan," Bintang marah-marah sendirian di ruangan itu.
Ternyata Agra telah memasang kamera tersembunyi sebelumnya, ya.. karena Bintang kini berstatus istrinya, dia harus memantau gerak gerik sang istri agar tidak menimbulkan masalah.
Agra tersenyum menatap layar laptopnya dimana dia bisa melihat dengan jelas Bintang yang kesal bahkan melempar berkas yang dia revisi terus menerus, itu seperti hiburan bagi Agra.
Tok
Tok
Tok
Namun tidak ada jawaban.
Ceklek
Maxim masuk dan dia sangat terkejut melihat sang Bos muda bertingkah aneh, Apa dia sakit? Sejak kapan dia bisa tersenyum senang seperti itu? Wajar sih jika dia memang benar-benar pengantin baru, tapi kan.. hmm. Pikir Maxim
"Bos…," panggil Maxim, namun Agra sepertinya tak mendengar panggilan itu.
"Tuan…," panggil Maxim untuk yang kedua kalinya, namun tetap saja Bos nya itu mengabaikannya.
Maxim menaruh berkasnya diatas meja Agra, bahkan dia kini berada tepat di hadapan bos nya, namun tetap saja dia seperti makhluk tak kasat mata dihadapan Agra.
Maxim pun keluar dari ruangan itu, yang penting dia sudah memberikan berkasnya.
Maxim tak sengaja menabrak Bintang, "Maaf Nyonya…,"
"Sudahlah, bukankah kamu tahu semuanya, tidak usah panggil aku begitu, lagipula aku sedang kesal padanya, sedang apa dia sekarang?" Tanya Bintang pada Maxim yang terlihat keluar dari ruangan Agra.
"Dia, siapa?" Tanya Maxim sambil berpikir.
"Bosmu lah, Agra, bukankah kamu baru saja bertemu dengannya, sedang apa dia?" Bintang bertanya lagi.
__ADS_1
"Oh, dia sedang tersenyum-senyum sendirian menatap laptopnya seperti orang gila," bisik Maxim ditelinga Bintang.
Bintang mengerutkan dahinya, dia merasa tidak percaya sekaligus bertanya-tanya kenapa Agra bisa sebahagia itu.
"Benarkah? Coba aku lihat," Bintang bergegas masuk ke ruangan suaminya itu.
Ceklek
Namun sayang, tidak ada pemandangan langka yang disebutkan Maxim, Beraninya dia membohongiku. Batin Bintang
"Ini laporannya, aku sudah memperbaikinya dengan sangat teliti, aku pastikan tidak ada kesalahan lagi," ucap Bintang memberikan berkas itu.
"Ok, simpan saja disitu dan kamu boleh keluar, aku yakin kali ini pekerjaanmu sempurna," ucap Agra dingin.
Apa? Bahkan dia tidak melihat berkas itu, apa dari tadi aku dikerjai? Menyebalkan, akan aku balas nanti, pikir Bintang.
Bintang mengangguk dan segera pergi dari sana, dia tidak mau berlama-lama bersama orang itu, karena ketika di kantor dia begitu sangat menyebalkan, Bintang tidak bisa bersikap seperti seorang istri dikala mereka sedang di kantor.
Bintang diam di ruangannya dengan wajah yang dia tekuk, dia cemberut. Sementara di tempat lain ada yang tertawa melihat ekspresi Bintang.
***
Agra pun menyetujuinya dan dia akan menunggu Bintang di rumah.
Namun sebelum sampai di Apartemen, Bintang mendapatkan serangan tiba-tiba, dia dibius dan dibawa seseorang masuk ke dalam mobil.
"Akhirnya aku mendapatkannya," ucap lelaki itu sembari menatap Bintang yang kini pingsan tak sadarkan diri.
Lelaki itu membawa Bintang masuk ke kamar hotel miliknya, membaringkan wanita itu diranjang miliknya.
"Hahaha…aku akan mengurungmu disini sampai Agra menyetujui apa yang aku inginkan," ucapnya sambil tertawa kencang.
Teleponnya tiba-tiba berdering.
"Iya, ada apa?" Tanya lelaki itu.
"Apakah kamu berhasil mendapatkannya? Kamu tiduri dia sampai dia berhasil hamil benihmu!" Meira
__ADS_1
"Apa kau gila? Aku tidak mau sembarangan meniduri wanita, kalau dia berpenyakit bagaimana? Asal usulnya saja tidak jelas," laki-laki itu tidak setuju.
"Ayolah, dia lumayan juga, coba kamu perhatikan!, Aku ingin dia benar-benar dibuang oleh Agra kalau dia hamil oleh orang lain." Ucap Meira membujuk temannya itu.
"Nanti aku pikirkan lagi," ucap lelaki itu lalu mematikan sambungan telepon itu.
Lelaki itu penasaran, karena tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan wajah Bintang, dia mendekat dan mulai melihat wajah Bintang, menatapnya dalam, melihat postur tubuh Bintang dan kulit putihnya yang bersih.
"Hmm, Meira benar, dia memang cantik," ucap lelaki itu sembari membelai pipi wanita itu.
Sebelum Bintang sadar, laki-laki itu berniat membuka seluruh pakaian Bintang, baru saja dia membuka beberapa kancing bagian atas, tiba-tiba Agra datang entah bagaimana caranya dia bisa ada didalam, dia memukul Daniel dengan membabi buta.
Tentu saja Agra bisa tahu, dia meletakan penyadap suara ditas Bintang, melacak Bintang dari ponselnya, dan untuk masalah masuk ke kamar hotel tamu pun itu sangat mudah bagi Agra yang seorang CEO muda yang terkenal.
Agra kemudian membawa Bintang, menggendongnya dan membawanya pergi jauh dari sana. Jauh dari lelaki yang berniat jahat itu, dia adalah Daniel seseorang yang selalu bersaing dengan Agra, selalu iri dengan keberhasilan Agra, tapi sayang Daniel tidak tahu bagaimana Agra sekarang.
Agra bukanlah Agra yang dulu, dulu dia adalah lelaki lemah dan selalu mengalah, yang mau diperalat oleh teman bahkan keluarganya, dia seperti boneka yang mudah dimanfaatkan.
Mobil sudah siap, Agra membawa masuk tubuh Bintang, dia menepuk-nepuk pipi wanita itu, "Bintang bangun..! Apa yang harus aku lakukan, apa aku bisa membawamu ke Rumah Sakit?" Ucap Agra yang bersikap bodoh dengan bertanya pada wanita yang jelas-jelas tidak sadarkan diri.
Kemudian saat dia sadar kalau ternyata baju Bintang terbuka, dia segera mengancingkan kembali baju itu dan merapihkannya.
Agra benar-benar khawatir, tapi dia bingung bagaimana cara mengobati Bintang yang bukan manusia itu. Pria itu memilih membawa Bintang ke Apartemen milik wanita itu.
***
Sesampainya disana, Agra membaringkan Bintang di ranjang, memperlakukan dia layaknya manusia biasa, memberikannya minyak angin agar dia cepat sadar.
"Ayo bangunlah..! Ku mohon," ucap Agra dengan tulus, entah mengapa dia merasa sedih melihat gadis itu terbaring lemah.
"Aku lebih suka kamu yang cerewet, kamu yang bahkan bertindak semaunya," ucap Agra lagi, namun Bintang masih saja diam.
Agra ingat jika Bintang pernah mengatakan energi, "ya, sepertinya dia butuh energi, lalu aku harus bagaimana?" Agra kebingungan, dia mencoba mengingat apa yang sering Bintang lakukan padanya.
Sebenarnya dimana letak energi yang bisa aku berikan, apakah dibibirku? Ah sepertinya bukan, itu baru pertama kali terjadi antara aku dan dia, itupun karena ketidak sengajaan , sepertinya syarat itu, iya syarat itu. Pikir Agra
Agra pun menggenggam tangan Bintang semalaman, dia berharap Bintang segera bangun, dia pun tertidur di samping wanita itu.
__ADS_1
Bersambung…