
Bintang yang kesal, dia berjalan dengan cepat, dia tidak melihat kondisi di sekitarnya, Meira yang baru saja keluar dari ruangannya dia melihat Bintang yang berjalan menuju ke arahnya, dia sedikit menjulurkan kakinya ke depan berharap Bintang akan jatuh.
Benar saja, wanita itu tidak memperhatikan Meira apalagi posisi kaki didepannya. Badan bintang terhuyung ke depan, Meira sudah mulai menampakkan senyumannya.
Bruk
Meira terjatuh kebelakang, ternyata dia tersenggol oleh badan Agra yang berusaha menolong istrinya, untungnya Agra bisa menahan badan Bintang dengan kedua tangannya, "Untung saja…," ucap Agra lalu menarik tubuh istrinya agar badannya tegak.
Bintang masih diam tak bersuara, dia sepertinya masih kaget dengan kejadian barusan, tatapannya kosong.
Agra membalikan tubuh Bintang dan memeluknya, "kamu baik-baik saja, aku akan membantumu berjalan," bisik Agra ditelinga Bintang, sementara dibawah ada Meira yang jatuh namun terabaikan dan dilewati oleh Agra begitu saja.
Agra membawa istrinya kembali ke ruangannya dengan sangat hati-hati, menyuruh karyawannya untuk membawakan teh hangat ke ruangannya.
"Duduklah dulu…!" Ucap Agra sambil menuntun istrinya yang masih diam itu.
Bintang duduk dengan patuh, dia menunduk, dia sepertinya menyesali kecerobohannya hari ini.
Ceklek
Datanglah karyawan membawakan teh hangat, Agra langsung mengambilnya dan memberikannya pada istrinya, "minumlah..!" Agra menyodorkan gelas itu.
Diminumlah air itu sedikit demi sedikit, "Terimakasih, a-aku tidak bermaksud mencelakai bayi ini," ucap Bintang menunduk.
"Iya aku mengerti, lain kali kamu harus lebih berhati-hati sayang..! Anak kita juga butuh perlindungan khusus, kamu harus berjalan lebih hati-hati, dan jangan merajuk seperti anak kecil lagi..!" Agra mulai menasehati Bintang.
"Tapi ini juga kemauan anakmu, aku tidak suka merajuk seperti anak kecil, ini kelakuan anakku bukan aku," jawab Bintang membela diri dia berbicara sambil memajukan bibirnya, membuat Agra bukannya marah namun malah semakin sayang karena tingkah istrinya itu begitu menggemaskan.
Istri Agra itu memang berubah sejak hamil, Agra sulit sekali menebak apa yang diinginkan sang istri, bahkan dia seperti sedang mengasuh anak kecil yang banyak maunya.
"Hmm, iya .. aku tahu kamu lagi ngidam dan itu keinginan anakku juga," jawab Agra, dia menghampiri Bintang mengelus lembut perut itu dan bertanya, "apa anak ayah mau ice cream coklat?".
__ADS_1
Bintang mengangguk, namun Agra sengaja pura-pura tidak melihatnya, dia malah bertanya untuk kedua kalinya menunggu jawaban dari sang calon bayi, membuat Bintang tak sabar, dia menadahkan kepala suaminya yang sedang berjongkok itu hingga menatap wajahnya, "aku mau ice cream coklat," ucap Bintang pelan.
"Hahaha … oke, oke, wajahmu terlalu menggemaskan kalau begitu sayang," ucap Agra yang mencubit pipi Bintang yang mulai berisi itu.
Hubungan mereka memang terjalin cukup baik, sikap Agra yang menjadikan istrinya itu seperti ratu membuat Bintang merasa spesial.
***
Hari sudah sore, mereka baru tiba di Apartemen, Nenek Gina sudah memaksa cucunya untuk pindah ke mansion mewah yang telah disediakan, namun Agra tidak mau. Menurutnya tinggal di Apartemen tidak membuat dirinya mencolok dan terhindar dari mulut jahat sang ibu dan yang lainnya.
Agra tidak suka keramaian, bahkan tidak ada pembantu di Apartemennya. Dia hanya akan memanggil orang untuk membersihkan rumah tiga hari sekali, atau disaat dia dan Bintang tidak sempat melakukannya.
Agra yang teringat jika hari ini seharusnya Bintang memeriksakan kehamilannya, dia menghubungi Devan dan menyuruhnya datang dengan segera.
Setelah kedatangan dokter muda itu, Bintang pun mendapatkan pemeriksaan, "kandungannya baik-baik saja, tapi jika ingin melihat kondisinya lebih jelas, kamu bisa membawa istrimu untuk melakukan USG..!" Saran Devan pada Agra.
Sebenarnya Agra juga ingin melakukannya namun kondisi Bintang tidak memungkinkan, dia tidak mau jati diri istrinya itu terbongkar jika sampai ada keanehan dari hasil pemeriksaan tubuh Bintang.
"Ck, memang aku dokter dan berguna buat pasiennya, kalau memang trauma biar saja aku yang datang setiap seminggu sekali dan jika nanti melahirkan, aku akan dibantu asistenku menyiapkan semua peralatannya," ucap Devan.
"Memang kau dokter kandungan?" Tanya Agra yang Bahkan baru terpikir olehnya.
"Hahaha, iyalah… kalau bukan, pasti aku menyuruhmu mencari dokter lain, kamu beruntung punya teman sepertiku," jawab Devan dengan bangga.
"Setahuku cita-citamu dulu ingin menjadi dokter gigi, kenapa jadi–," ucap Agra yang tak diteruskannya, "hmm, sudahlah mungkin ini takdirku dan aku menjalaninya dengan tulus, aku suka anak kecil makanya dulu aku ingin jadi dokter gigi anak, kalau sekarang kan aku menangani ibu melahirkan, ya aku juga senang dengan bayi, bagiku ini pekerjaan yang menyenangkan," jawab Devan sambil merapikan alat-alatnya.
"Suka bayi tapi tidak menikah," sindir Agra.
Devan bangkit dari tempat duduknya dan berniat pergi, dia tidak mau membahas pernikahan, namun tak disangka Agra mencekal lengan Devan membuatnya berbalik menghadap temannya itu, "ada apa lagi?".
"Tidak, terimaksih karena sudah mau menjadi dokter pribadi istriku," ucap Agra datar.
__ADS_1
"Hahaha, sekalinya bilang terimakasih tapi sepertinya itu ucapan yang tidak tulus," protes Devan.
"Ck, sudahlah… cepat sana pulang!" Ucap Agra sambil mendorong Devan karena kesal, kelakuan lelaki itu membuat Bintang tersenyum kecil.
Memang Agra adalah lelaki yang dingin diluar, tapi nyatanya dia adalah orang yang sangat hangat, dia hanya tidak pandai mengungkapkan isi hatinya, batin Bintang.
***
Kehamilan Bintang kini memasuki trimister dua, Agra yang penasaran, dia bahkan menyediakan peralatan USG dirumah dan menyuruh Devan memeriksa istrinya, dia ingin menengok anaknya dan ingin tahu jenis kelamin sang anak.
Devan yang sibuk belum sempat datang ke Apartemen mereka, lagi pula bukan saatnya jadwal pemeriksaan, dia akan datang besok.
"Sayang sekali Devan datang besok, aku ingin mengintipnya dan ingin tahu apa dia mirip ibunya atau ayahnya," keluh Agra, dia duduk dengan menyenderkan punggungnya.
"Sayang…," panggil Bintang dari arah kamar, membuat Agra kini bangkit menemui istrinya.
"Apa ada yang kamu inginkan?" Tanya Agra.
"Hmm, aku ingin bermain," jawab Bintang.
"Bermain apa? Asal jangan bermain hal yang aneh saja, apa kamu mau aku jadi kucing lagi dan kamu bersembunyi, lalu aku mencarinya? Dan kamu malah berteleportasi sampai di mansion nenek, membuatku mencarimu seharian," keluh Agra yang teringat dengan kejadian seminggu yang lalu.
"Hahaha, apa kamu masih kesal karena kejadian itu?" Tanya Bintang yang senang mengingat kejadian lucu itu.
"Tidak, ya sudah kali ini kamu mau bermain apa?" Tanya Agra yang mulai fokus pada Bintang dan meredakan rasa kesalnya.
"Aku mau bermain layang-layang," jawab Bintang menunduk sambil menggerakan jempol kaki kanannya melingkar, dia menggemaskan sekali seperti anak kecil.
"Apa? Sekarang?" Tanya Agra, dia melihat jam yang melingkar dilengan ya dan ini sudah jam 11 siang, pasti diluar akan panas sekali, belum lahir saja anakku sangat berbakat membuat ayahnya kesal, pikir Agra.
Bersambung…
__ADS_1