Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Keduanya Pingsan


__ADS_3

Meira yang tadinya mengulurkan tangannya pada Lolita, seketika dia menarik kembali kedua tangannya itu. Dia dibuat kaget oleh suara Agra yang besar, suara laki-laki itu memang seperti itu sejak dulu.


"Kenapa gak boleh Ga?" Tanya Lolita sang ibu.


"Aku tidak mau wanita jahat itu menyentuh anakku, apalagi dulu dia berniat membuatnya tak dilahirkan kedunia," jawab Agra kesal.


Nenek Gina kaget, dia tidak menyangka jika Meira akan berbuat senekat itu, mencelakai calon cicitnya, begitupun dengan Lolita, dia memandang wajah cucunya yang lucu dan membayangkan jika dulu cucu tampannya itu tidak selamat dan meninggal sebelum dilahirkan.


"Apa itu benar Mey?" Tanya Lolita dengan tatapan tajamnya.


"Tante, aku tidak melakukannya," Meira menyangkal.


"Agra tidak mungkin asal bicara, dia pasti punya bukti yang kuat, nenek akan membawa masalah ini ke ranah hukum," ucap nenek Gina menatap tajam pada Meira.


Meira menunduk, lalu dia berusaha menenangkan dirinya, "aku tidak melakukannya Nek," ucap Meira meyakinkan semua orang yang menuduhnya, dia menatap semua orang satu persatu, namun saat menatap Bintang dia menatap dengan penuh kebencian.


Sebenarnya Agra sudah mendapatkan bukti itu saat Bintang hamil di usia 7 bulan, memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan bukti yang kuat, Agra yang awalnya ingin melaporkan masalah ini, dia mengurungkan niatnya karena dia akan fokus pada persalinan Bintang terlebih dahulu, lagipula Meira selalu bebas dengan caranya, itu seakan sia-sia dan membuang waktu Agra.


Agra pergi ke kamarnya, mengambil bukti-bukti itu dan melemparnya ke atas meja.


Secepat kilat nenek Gina dan Meira saling berebut berkas-berkas itu, sementara Bintang tidak melakukan apapun, dia cukup melihat saja, Lolita sebenarnya juga ingin tahu tapi tangannya sedang menggendong sang cucu.


Meira membulatkan matanya, dia tidak percaya kalau selama ini dia diawasi bahkan di sana begitu detail tertulis kemana saja dia pergi, sebenarnya setelah dia gagal menggugurkan kandungan Bintang, dia berniat membeli obat lain yang lebih ampuh pada seseorang yang dia percaya dan ternyata Agra menemukan bukti itu.

__ADS_1


"Bukti ini pasti palsu," ucap Meira yang masih mau mengelak, dia tidak mau disalahkan.


"Hahaha, kau pikir aku bodoh hah?" Agra tertawa, dia tidak percaya wanita di depannya akan terus mengelak meski bukti telah ada ditangannya.


"Biarkan nenek yang melaporkan masalah ini, nenek tidak rela dia mengganggu hidup kalian," ucap nenek Gina, dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Tante, tolong aku..!" Ucap Meira pada Lolita, bukankah wanita itu selalu membelanya dan ingin menjadikannya menantu kesayangannya, Meira sangat yakin Lolita akan membantunya.


Lolita diam, dia merasa menyayangi cucunya itu dengan hanya sekali pertemuan saja, dia bahkan lebih menyayangi cucunya itu daripada dirinya sendiri, Lolita juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, kenapa aku jadi selemah ini? Kenapa aku begitu menyayangi bayi ini? Batin Lolita.


"Maaf Mey, jika kamu memang benar bersalah maka kamu harus menanggung akibatnya, Tante juga tidak rela cucu Tante dibunuh olehmu," jawab Lolita yang mampu membuat semua orang kaget, mereka mengira jika Lolita akan berpihak pada Meira ternyata mereka salah besar.


Lolita memeluk cucu laki-laki pertamanya itu dengan penuh cinta dan sedikit air mata karena merasa bersalah tidak memperhatikan cucunya itu sejak dalam kandungan Bintang, satu tangan Lolita kini menggenggam tangan Bintang seolah meminta maaf atas perlakuannya selama ini.


Meira pun diseret keluar oleh Boy dan Ben, sementara Agra melihat wanita itu dengan tatapan kebencian dan berkata, " keluarlah! Aku tidak sudi kau menginjakkan kakimu disini, dan aku pastikan akan ada polisi yang menangkapmu," ucap Agra emosi.


"Nenek akan pastikan kalau dia tidak akan bisa lolos," ucap nenek Gina pada Agra dan Bintang, membuat Agra tersenyum dan percaya janji sang nenek.


***


Saat menjelang sore, Lolita pun pamit pulang, Agra mengantar sang ibu sampai ke parkiran bawah, sejak dia melihat bagaimana perjuangan Bintang saat melahirkan, dia jadi teringat akan sang ibu, dia akan berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Lolita mulai sekarang.


"Terimakasih Ga udah anterin Mamah sampai sini, besok mamah akan datang lagi sama papah kamu, gakpapa kan?" Tanya Lolita.

__ADS_1


"Gakpapa Mah, dateng aja, Agra kecil juga pasti senang dijenguk nenek dan kakeknya," jawab Agra datar.


"Haha, iya Agra kecil, dia memang mirip denganmu, tampan," ucap Lolita menepuk pundak Agra, lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.


Agra tersenyum kecil, dia baru merasakan kontak fisik lagi dengan sang ibu.


***


Saat malam tiba, Bintang yang berada di dalam kamar dia merasa kehausan, sementara Agra ada di ruangan lain, membuatnya terpaksa menggunakan kekuatannya, dia menerbangkan gelas yang ada di seberang sana agar lebih mendekat padanya, baru juga setengah jalan gelas itu melayang.


Ceklek


"Astaga, kenapa gelasnya bisa terbang?" Ucap nenek Gina yang kaget, dia pingsan seketika karena menganggap ada makhluk tak kasat mata di sana.


"Nenek…," teriak Bintang, gelas itu pun pecah seketika.


"Agra, Agra, tolongin nenek, nenek pingsan..!" Teriak Bintang dari arah kamar, dia kemudian berusaha turun dari ranjang, namun karena terburu-buru dia pun jatuh, "awww … sakit sekali," ucap Bintang.


Agra pun datang, dia bingung melihat dua wanita tergeletak dilantai, dia juga bingung harus mendahulukan yang mana, astaga mereka kenapa, aku harus menolong siapa dulu? Batin Agra.


"Ga, tolonglah nenek lebih dulu..!" Ucap Bintang yang mendengar kebingungan Agra, sementara Bintang berusaha menahan rasa sakitnya.


Sang nenek dibaringkan di sofa yang ada dikamar Bintang, kemudian Agra berlari berniat menolong sang istri, "apa itu darah? Bagaimana ini?" Gumam Agra panik.

__ADS_1


Bintang kini baru menyadari kalau ada darah disana, dia pun kaget, "panggil Devan sekarang Ga!" Ucap Bintang, kemudian dia pingsan.


Bersambung ….


__ADS_2