Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Hilang


__ADS_3

"Kekuatan apa Nek?" Tanya Devan yang merasa heran.


"Hmm, kekuatan… maksud nenek Bintang terlalu lelah, dia banyak menggunakan tenaganya, dia terlalu sibuk, karena tubuhnya lemah jadi seperti ini lagi," nenek Gina mencoba mencari jawaban yang tepat.


"Oh, aku kira kekuatan apa," jawab Devan.


Devan pun pamit pulang, sementara Agra masih setia memegang tangan sang istri.


"Dia pasti akan baik-baik saja Ga, dia pasti bisa bertahan seperti sebelumnya, biar nenek yang jagain Bintang, kamu makanlah dulu, kalau kamu mau jagain dia maka kamu harus sehat dan kuat, Cepatlah..!" Ucap sang nenek sambil menepuk pundak Agra.


***


Langit yang kini sudah besar, sudah mengerti dengan keadaan ibunya yang sakit, dia mendadak mogok sekolah, nenek dan kakeknya bahkan berkali-kali berusaha membujuk anak itu namun sulit sekali.


"Aku tidak mau sekolah, aku mau jagain mamah aja, aku mau sekolah kalau yang anterin aku itu mamah," ucap Langit yang masih berada diatas ranjang ibunya, dia duduk menunggu ibunya sadar.


"Sayang, nenek anterin ya? Pulangnya kita beli banyak ice cream," bujuk Lolita.


"Ice cream, mamah suka ice cream," jawab Langit yang kini mulai menunduk, dia mulai menangisi ibunya lagi, dia teringat ibunya yang suka sekali ice cream seperti dirinya.


"Kamu ini malah semakin membuatnya sedih," protes nenek Gina pada Lolita.


"Sayang, kamu harus sekolah, biar jadi anak yang pintar, kalau kamu pintar, rajin sekolah, pasti mamah kamu seneng dan dia akan bangun," bujuk nenek Gina.


"Beneran?" Tanya Langit yang menoleh pada nenek Gina.


"Iya dong, kalau nanti mamah Bintang bangun dan melihat Langit malas sekolah , mamah Langit nanti sedih, yu sekarang mandi dulu ..!" Ajak nenek Gina, anak itu pun turun dari ranjang dan memegang tangan neneknya bergegas mandi.


Nenek Gina berhasil membujuk Langit, Lolita merasa memang dirinya tidak pandai membujuk anak kecil mengingat dulu dia tidak merawat Agra, membiarkan Agra bersama pengasuhnya seharian penuh.

__ADS_1


***


Tujuh bulan pun berlalu, Agra yang ingin fokus menjaga Bintang, dia membawa semua pekerjaannya ke rumah, dia tidak mau keluar rumah untuk saat ini.


Begitulah kegiatan Agra setiap hari, dia akan mengerjakan pekerjaan kantornya sambil menunggu Bintang sadar, dia berharap dialah orang pertama yang Bintang lihat saat sadar nanti.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka, ternyata hari ini Langit baru pulang sekolah, dia rajin sekolah sekarang meski tidak ada Bintang, dia bahkan sudah kelas 1 di Sekolah Dasar.


"Pah, aku udah pulang, Pah… besok ada pembagian raport, papah dateng yah..!" Ucap Langit.


"Iya sayang, papah usahain ya," jawab Agra.


Dia memeluk anaknya itu, dia tak menyangka waktu akan berjalan secepat ini, Langit sudah tumbuh besar namun Bintang masih dalam keadaan seperti itu.


"Sabar sayang, mamah kamu lagi berjuang buat sembuh," ucap Agra menguatkan Langit padahal dia juga rapuh seperti langit tanpa kehadiran Bintang.


***


Keesokan harinya Agra dan Langit sudah kembali dari sekolah, Agra senang karena prestasi Langit, dia mendapatkan juara satu di kelasnya.


"Wah, selamat ya sayang, nenek nanti akan belikan kado buat kamu, apapun yang kamu mau," ucap Lolita.


"Iya Nek makasih, aku mau ke kamar mamah dulu," jawab Langit dengan wajah yang sedih, karena meski dia juara kelas tapi ibunya tidak bisa memberinya selamat.


Dia pergi menuju kamar ibunya, dia menghampiri sang ibu, dia duduk di atas ranjang di samping sang ibu.


"Mah, aku juara satu, apa mamah gak mau ngucapin selamat buat aku? Hiks … mah, bangun mah..!" Ucap Langit sambil menangis dia begitu sedih dengan keadaan Bintang yang belum ada perkembangan sama sekali.

__ADS_1


Agra datang memeluk tubuh anak lelakinya erat-erat, mencoba saling menguatkan.


Terlihat Bintang meneteskan air matanya, "Pah lihat Pah..! Mamah nangis, dia sedih karena aku nangis ya Pah? Maafin Langit ya Mah…!" Ucap Langit yang mencoba menghapus air mata ibunya.


Tubuh Bintang mulai bergerak, dia menggerakan tangannya memegang tangan Langit yang mencoba menghapus air matanya, meski matanya dalam keadaan tertutup namun tangan Bintang berusaha menggenggam tangan Langit.


"Pah, mamah sembuh Pah," teriak Langit senang.


"Bintang, sayang… kamu sudah sadar?" Tanya Agra yang juga senang, dia menatap Bintang dengan tatapan haru.


Namun keadaan berubah seketika, saat tubuh Bintang perlahan memudar dan menghilang entah kemana.


"Pah, mamah mana? Kemana mamah pergi Pah? Kenapa mamah menghilang?" Tanya Langit yang panik, sama halnya dengan Agra yang panik, dia seperti sedang menahan tangisannya.


"Mamah……, jangan tinggalin Langit mah..! Hiks .. hiks…" teriak Langit sambil menangis.


Agra memeluk Langit, menatap ranjang yang kini kosong, apakah dia pergi untuk selamanya? Apa dia tidak bisa bertahan disini? Pikir Agra.


Air mata Agra pun lolos membasahi pipinya, nenek Gina datang karena teriakan Langit yang sempat terdengar karena pintu kamar yang terbuka lebar.


"Ada apa ini, kamu kenapa Langit, sebentar, Bintang kemana, apa dia sudah sadar, apa dia di kamar mandi Ga ?" Tanya nenek Gina.


Nenek Gina berlari ke arah kamar mandi namun tidak menemukan Bintang, dia mencari di semua sudut ruangan kamar itu, namun tidak menemukan Bintang, nenek Gina menyadari kalau Bintang pergi, benar-benar pergi.


Dia berjalan dengan kaki yang lemas menuju Langit yang masih menangis, "mamah hilang, mamah pergi, mamah gak sayang sama Langit, mamah ninggalin Langit sama Papah, hiks …" ucap Langit yang bisa didengar nenek Gina.


Mereka bertiga kini hanya diam melihat ranjang yang kosong itu, kemanapun dia pergi aku berharap dia baik-baik saja. Pikir nenek Gina.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2