
Bintang berlari dan langsung mengambil gelas itu,"Nenek, ada sesuatu yang mencurigakan dari minuman ini, biarkan pelayan ini saja yang meminumnya!" Ucap Bintang lalu memberikan minuman itu pada si pelayan wanita.
"Ma-maaf Nyonya, tapi anda jangan asal bicara..!, itu hanya minuman biasa seperti yang lainnya," protes si pelayan.
"Ya sudah, kalau minuman ini memang tidak bermasalah cobalah kamu minum semuanya sampai habis!" Bintang memberikan gelas yang masih penuh itu pada wanita yang ada didepannya.
Semua tamu memperhatikan mereka, fokus pada pembicaraan Bintang, mereka juga penasaran apakah memang minuman itu beracun atau tidak.
Pelayan itu merasa tersudutkan, dia dengan berani meminum semua air yang ada didalam gelas itu dengan 3 kali tegukan.
"Apa Nyonya sudah puas?" Tanya si pelayan dengan air mata yang dia tahan.
Biarlah aku yang menanggungnya, aku tidak mau kalau keluargaku akan berada dalam bahaya, biarlah aku mati dengan racun ini, lebih baik memang begitu, batin si pelayan.
Bintang yang mendengarnya pun, dengan segera bisa menyimpulkan jika pelayan ini terpaksa melakukannya karena sesuatu hal yang lebih penting.
Pelayan wanita itu berlari ke belakang Mansion sambil menangis, Bintang dengan segera menyusulnya, dia harus tahu siapa yang menyuruhnya dan dia juga harus segera menyelamatkan pelayan itu dari efek racun yang dia minum.
Pelayan itu terjatuh dihalaman belakang, sepertinya racun itu mulai bekerja, Bintang menghampiri wanita itu, dia mencoba menolongnya, dia berteriak "tolong…! Boy tolong siapkan mobil dan panggil Ben supaya dia membantu membawa wanita ini pergi ke Rumah Sakit!" Ucap Bintang pada Boy yang kebetulan sedang ada disana.
Agra dengan panik menyusul sang istri, dia sudah ada dihalaman dengan Langit yang masih dia gendong, "apa dia benar-benar meminum minuman yang ada racunnya?" Tanya Agra.
"Sepertinya begitu, kita bawa saja ke Rumah Sakit, aku berharap dia bisa selamat, aku tidak akan tinggal untuk orang yang telah berniat meracuni nenek, aku yakin wanita ini hanya suruhan seseorang dan dia terpaksa melakukannya," ucap Bintang menatap wanita yang sudah tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Ben dengan cepat membopong wanita itu ke dalam mobil, mereka membawanya ke Rumah Sakit.
Agra dan Bintang berusaha menenangkan para tamu, mereka mengatakan jika itu hanya kesalah pahaman saja agar acara berjalan lancar, acara itu pun dilanjutkan sampai selesai, sampai Bintang bisa melihat senyuman kedua mertuanya yang berbahagia.
Nenek Gina tentu saja tidak percaya, dia mendekati Bintang untuk meminta penjelasan.
Saat acara telah selesai, Bintang, Agra, Langit dan juga nenek Gina akhirnya pergi ke Rumah Sakit untuk menyusul wanita tadi, mencari tahu siapa dalang dari ini semua.
"Nenek tidak menyangka akan ada orang sekejam itu, dia benar-benar pecundang yang menyerang dari belakang bahkan menyuruh orang lain," ucap Nenek Gina dengan kesal, dia tidak bisa membayangkan jika dirinya meminum racun itu.
"Iya Nek, aku juga tak menyangka, padahal pesta itu pesta tertutup dan hanya beberapa orang yang tahu dan bisa hadir, untung saja Agra menyadari hal itu," ucap Bintang yang sama kesalnya.
"Benarkah? Oh cucuku memang penyelamatku," ucap nenek Gina mencubit kedua pipi Agra, membuat lelaki itu tidak nyaman sama sekali.
Langit yang mulai rewel karena lapar, akhirnya diambil alih oleh Bintang, balita menggemaskan itu menikmati waktunya untuk meminum ASI dipangkuan ibunya.
Langit mebuatku iri saja, keluh Agra didalam hatinya.
Bintang yang mendengarnya pun, dia menatap suaminya dengan tatapan yang sedikit menakutkan bagi Agra, pria itu pun memalingkan wajahnya, melihat ke arah jendela seolah menghindari tatapan sang istri.
***
Mereka akhirnya sampai, Bintang hanya menunggu di dalam mobil, dia tidak suka bau Rumah Sakit apalagi dia sedang bersama Langit yang tertidur.
__ADS_1
Bintang menunggu bersama Pak Deni sang sopir, "Pak, bisakah kau membelikanku makanan yang ada disana?" Tanya Bintang menunjuk ke toko Donat yang ada disebrang Rumah Sakit.
"Tentu saja, apa Nyonya mau menunggu disini atau kita kesana dengan mobil ini?" Tanya Pak Deni.
"Hmm, aku menunggu saja disini, tolong bapak belikan dengan berbagai rasa ya Pak dan jangan lupa minumannya juga, jus jeruk saja biar segar..!" Pinta Bintang.
"Baik Nyonya," jawab Pak Deni.
Setelah kepergian sopir itu, tanpa sengaja Bintang melihat Meira yang masuk ke dalam Rumah sakit itu, "untuk apa dia kemari? Apa dia ada hubungannya dengan semua ini?" Gumam Bintang pelan, dia begitu penasaran ingin mengikuti wanita itu, namun dia mengkhawatirkan Langit yang sedang tertidur dan tidak mungkin ditinggalkan sendirian.
Pak Deni pun kembali dengan sekotak Donat dan juga minuman, Bintang makan dengan lahap, ibu menyusui memang selalu merasa lapar.
Tak berselang lama Agra datang bersama nenek Gina, "bagaimana, apakah dia selamat?" Tanya Bintang.
"Hmm, sayang sekali meskipun dia selamat dan dalam keadaan lemah, tapi dia tidak mau berbicara sepatah katapun, sepertinya ketakutan saat ditanya siapa Bosnya," ucap Agra.
"Pasti dia mendapatkan ancaman, kalau saja aku ikut, aku pasti bisa mengetahui apa yang dia sembunyikan dengan kekuatanku," jawab Bintang yang lupa kalau disana ada pak Deni dan nenek Gina.
Nenek Gina menatap Bintang dengan penuh rasa penasaran, "kekuatan apa?" Tanya sang nenek.
Deg
Astaga aku benar-benar melupakan kehadiran dua orang ini, bagaimana ini? Batin Bintang.
__ADS_1
Bersambung ….