Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Petunjuk Lewat mimpi


__ADS_3

Devan akhirnya membawa mobil milik Agra sampai ke tempat tujuan meski dengan menghabiskan waktu berjam-jam.


Mereka mulai mencari Bintang, mereka turun dari mobil dan mulai bertanya kepada orang yang lewat, itupun hanya beberapa orang saja yang lewat, tempat itu sangat sepi.


"Sepertinya tempat ini memang bukan pemukiman penduduk deh Ga, gak ada orang. Kita cari di tempat lain aja yuk..!" ajak Devan.


"Tapi aku melihat dia di sekitar sini dalam mimpi tadi." Agra


"Itukan mimpi, belum tentu kan itu petunjuk, yaudah kita cari lagi..!" Devan memilih mengalah dan mulai mencari lagi.


***


Sementara ditempat lain, Meira yang berada di kamarnya dia terlihat sangat senang, menatap dirinya sendiri di depan cermin sambil tersenyum.


"Aku yakin dia tidak akan ditemukan, seminggu berlalu begitu cepat, aku berharap Agra bisa melupakannya, berhenti berharap dan mulai menerimaku di hidupnya," gumam Meira sambil tersenyum.


"Hahaha… , aku yakin jika kali ini akulah pemenangnya," Meira tertawa sendirian merayakan kemenangannya.


Wanita itu teringat jika dialah yang merencanakan semuanya dihari itu, membuat Maxim lengah, memasukan Bintang yang pingsan ke dalam mobil Agra, dan menyuruh orang untuk membawanya ke dekat jurang, bahkan dengan niat jahatnya membiarkan Bintang masuk ke jurang bersama mobil itu dalam keadaan tidak sadar.


Tanpa Meira tahu jika Bintang berhasil keluar dari mobil itu, bahkan orang suruhannya pun tidak tahu kalau rencana mereka tidak berjalan lancar, karena orang itu langsung meninggalkan tempat kejadian karena takut ada orang yang melihat.


Orang suruhan Meira mengatakan jika tugasnya selesai, membuat Meira yakin jika Bintang jatuh bersama mobil Agra yang kini bahkan telah hancur.


"Dia masih saja mencari orang yang jelas-jelas sudah mati, bukankah itu hanya membuang-buang waktunya saja?" Ucap Meira yang melihat postingan Agra di media sosial tentang hadiah untuk orang yang berhasil menemukan istrinya itu, hadiah yang begitu fantastik.


Meira mendapat kabar dari ayahnya yang bertugas di kepolisian, dia memberi info bahwa di dalam mobil Agra tidak ada jasad manusia, itu murni hanya mobil nya saja yang hancur.


"Apa benar pah? Lalu kemana pengendara mobil itu pergi?" Tanya Meira yang terkejut.

__ADS_1


"Mungkin orang itu berhasil keluar dari mobil sebelum mobilnya jatuh," jawab ayahnya Meira.


"Tapi Pah, apa itu mungkin?" Tanya Meira lagi.


"Ya mungkin saja, bisa juga dia keluar saat mobilnya masih dalam keadaan baik, lalu meledak saat orang itu sudah berhasil keluar, jangan bilang kalau kamu ada sangkut pautnya dengan masalah ini?" Tanya sang ayah yang mencurigai anaknya yang memang selalu saja membuat masalah.


"Hmm, tidak Pah, aku sudah janji untuk tidak melakukan hal aneh lagi," Jawab Meira dengan santainya.


"Baguslah, karena jika iya, papah tidak bisa membantumu lagi," jawab sang ayah lalu menyeruput kopinya.


Deg


Meira merasa terkejut, dia berharap kejahatannya kali ini bisa ditutupi dengan baik. Dia tidak mau jika dia harus benar-benar tinggal dipenjara.


***


Agra menelusuri tempat itu terus menerus, dia mulai melihat ada satu rumah, dia berjalan mendekati rumah bambu itu bersama Devan. Terlihat ada seorang lelaki yang sedang memanen singkong, tubuhnya penuh keringat, lelaki itu tampak kelelahan dan kini duduk sambil minum bekal minumannya.


Lelaki itu mengerutkan dahinya, "Saya tidak yakin apakah itu wanita yang sama, tapi saya bisa menunjukan dimana wanita asing yang ada di rumah istriku," jawab lelaki itu.


"Bapak serius?" Tanya Agra untuk lebih meyakinkan dirinya.


"Iya, tapi saya tidak menjamin itu orang yang sama, kalian bisa mengikuti saya untuk memeriksanya terlebih dahulu..!" Ucap lelaki itu.


Agra sangat senang mendengar harapan yang kecil ini, dia bergegas mengikuti lelaki tadi, sementara Devan yang menaruh curiga dia menarik tangan Agra, "apa kamu yakin mau mengikuti dia? Kamu percaya?" Ucap Devan dengan rasa khawatir apalagi mereka ada di tempat asing yang bahkan tidak terlihat ada  pemukiman penduduk, hanya ada beberapa rumah kecil yang mereka lihat setelah turun dari mobil.


"Kalau aku tidak mempercayainya, lalu aku harus diam menunggu dan terus menunggu?" Agra balik bertanya pada Devan, pertanyaan itu membuat Devan akhirnya mengalah dan mengikuti lelaki tadi.


Jalan yang mereka lalui tidaklah mudah, jalan yang kecil, licin bahkan ada yang berbatu dan menanjak. Membuat Devan dan Agra yang tak terbiasa itu bahkan jatuh berkali-kali, sementara lelaki tadi hanya menoleh saja dan berjalan lagi.

__ADS_1


"Pak, apakah masih jauh?" Tanya Devan memberanikan diri, karena kakinya juga mulai lemas.


"Sebentar lagi, itu lihatlah disana ada rumah kayu," jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah rumah diujung sana.


Astaga, itu sih masih jauh, rumahnya aja terlihat sekecil semut, pikir Devan.


Namun Agra malah semangat, dia berjalan semakin cepat, dia sangat berharap ada Bintang disana, "tunggu Ga!" Teriak Devan.


Namun Arga sama sekali tidak peduli pada Devan dia terus saja berjalan bersama lelaki asing itu, Agra mendadak seperti orang daerah sini yang menguasai jalan, sementara Devan masih jatuh berkali-kali karena terpeleset. "Ya… kekuatan cinta memang hebat," Ucap Devan memandang sahabatnya dari jauh karena dia kini tertinggal.


Sebisa mungkin Devan menyusul Agra, dia ingin memastikan jika temannya itu baik-baik saja dan tidak dibohongi lelaki asing tadi.


"Hah, hah… akhirnya aku bisa mengejarmu Ga," ucap Devan memukul pundak Agra sambil terengah-engah karena kelelahan.


"Makanya jalannya jangan lelet kaya cewek!" Jawab Agra yang mampu membuat Devan kesal, benar-benar kesal.


Bukannya aku disini membantunya? Kenapa dia malah marah-marah? Seharusnya berterima kasih dengan kehadiran sahabat setia sepertiku, batin Devan.


Lelaki tadi masuk terlebih dahulu, dia menyuruh Agra dan Devan menunggu diluar sebentar, setelah 3 menit menunggu akhirnya lelaki tadi keluar dan mempersilahkan mereka masuk.


Agra begitu tidak sabar ingin melihat wanita asing yang kemungkinan adalah Bintang, lelaki tadi menunjukan sebuah kamar, membuat Agra dan Devan terburu-buru masuk.


Tiba-tiba lelaki tadi mengunci pintu kayu itu, meski itu kayu tetap saja kayu itu sangat tebal membuat kedua lelaki itu kesulitan membukanya, mendobraknya pun sia-sia. setelah itu lelaki itu pergi dan mengunci pintu lagi dari luar.


"Buka..!" Teriak Devan dan Agra sambil memukul pintu. "Kita dijebak Ga, bagaimana ini?" Tanya Devan.


Agra kini terduduk di bawah, dia meratapi nasibnya sekarang, kini dia tidak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong istrinya.


Aku memang tak berguna, obatin Agra.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2