Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Melahirkan


__ADS_3

Bintang mengacuhkan Agra, dia dengan segera menyelesaikan ritual mandinya dan segera keluar dari kamar mandi.


Ceklek


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Agra dan langsung memperhatikan Bintang dari bagian atas sampai bawah, dia takut istrinya itu jatuh di kamar mandi dan meninggalkan luka memar, apalagi Bintang sedang hamil itu sangat bahaya sekali.


"Aku tidak kenapa-kenapa, aku hanya sedang kesal saja," ucap Bintang kemudian berjalan menuju lemari pakaian.


"Kesal? Kesal karena apa dan sama siapa?" Tanya Agra, bukankah disini hanya ada aku? Batinnya.


"Iya, memang gara-gara kamu," jawab Bintang yang mendengar isi hati Agra.


"Aku? Salahku apa?" Tanya Agra.


"Pikir saja sendiri..!" Ucap Bintang yang kemudian mengusir Agra dari kamarnya, dia berniat mengganti pakaian tanpa dilihat suaminya.


Agra termenung di ruang tamu, dia bingung dan memikirkan kembali apa yang terjadi sebelumnya, salahku apa? Pikir Agra.


***


Devan yang datang untuk melakukan pemeriksaan kehamilan Bintang yang ke tujuh bulan ini, akhirnya Agra bisa tahu kalau calon bayi mereka adalah laki-laki, dia begitu senang karena lelaki menurutnya lebih simpel.


"Bagaimana keadaan baby boy ku?" Tanya Agra.


"Dia sehat, kurasa wajahnya mirip dengan ibunya, syukurlah…, " jawab Devan.


"Apa? Kenapa kau bersyukur? Sepertinya kau menghina wajahku, keterlaluan," ucap Agra kesal.


"Hahaha, tapi biasanya memang anak lelaki akan mirip ibunya." Devan


"Tentu saja, aku tidak mau rugi, bagaimana bisa dia mirip ayahnya sementara aku yang mengandungnya selama sembilan bulan," jawab Bintang.


"Hahaha… benar sekali." Devan


Tetap saja aku dibuat kerepotan setiap harinya, apalagi dia terkadang marah-marah gak jelas, batin Agra.


"Kamu bilang aku marah-marah gak jelas? Kamu saja yang tidak peka," jawab Bintang yang mendengar isi hati suaminya, sementara Devan merasa aneh dengan ungkapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Bintang.


"Seharusnya kamu jelaskan dimana letak kesalahanku..!" Jawab Agra.

__ADS_1


"Kenapa kalian malah bertengkar?, Diamlah nanti anakmu ikut protes juga," jawab Devan yang merasa kesal.


Pemeriksaan itu pun berakhir, namun Bintang mengajak Devan berbicara empat mata, meskipun Agra sedikit ragu dan tidak memberikan izin, tapi Bintang ingin berkonsultasi secara pribadi dengan dokternya itu.


Bintang menceritakan keinginan yang diluar nalar, terkadang sebenarnya dia membenci sesuatu hal itu tapi sekarang dia menyukainya.


Devan memberikan jawaban bahwa itu perubahan hormon, dan ada yang dinamakan ngidam, dia menyuruh Bintang tidak terlalu khawatir dan sebisa mungkin mengikuti kemauannya jika itu memang bukan hal yang membahayakan.


Bintang menceritakan perihal keinginannya untuk mandi berdua dan Agra tidak peka terhadapnya, Devan hanya tertawa, dia bahkan tidak bisa berhenti tertawa.


"Astaga kalian sangat lucu, kalian bertengkar hanya karena mandi, sebaiknya kamu ungkapkan saja apa yang kamu inginkan secara langsung, karena lelaki kan tidak akan mengerti jika kamu hanya diam dan mengatakannya dalam hati..!" Ucap Devan pada Bintang, membuat wanita itu sadar jika Agra tidak sama dengannya yang bisa membaca isi hati.


Sebelum pamit pulang, Devan sempat menceritakan masalah mandi bersama itu pada temannya itu, membuat Agra terkejut dengan keinginan istrinya itu.


"Padahal jika dia mengatakannya, pasti aku dengan senang hati menuruti kemauannya, haha…," Agra tertawa menanggapi apa yang dikatakan Devan, betapa konyolnya kejadian kemarin.


Sejak kejadian itu mereka lebih saling terbuka, mengatakan apa yang mereka inginkan secara jelas, dan tidak malu-malu.


***


Kehamilan Bintang kini sudah memasuki 9 bulan, dia sudah merasakan banyak keluhan, susah tidur, sakit punggung, bahkan di selalu lemas dan tidak mampu pergi menemani Agra ke kantor, saat Agra di kantor dia hanya berbaring di ranjang menunggu kedatangan suaminya untuk mendapatkan energi tambahan dari sentuhan Agra.


Ceklek


"Sayang, aku pulang…," ucap Agra lalu masuk menuju kamar mereka.


"Astaga kamu kenapa?" Tanya Agra yang melihat Bintang duduk dilantai, dia memegangi perutnya dan mengeluh sakit.


Dengan segera Agra memindahkan istrinya ke atas ranjang, lalu dia menelpon Devan.


"Hallo, cepat datanglah! Sepertinya Bintang akan melahirkan," ucap Agra panik.


Dia mondar mandir tidak jelas, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk meringankan rasa sakit sang istri.


"Apa kamu butuh sesuatu sayang?" Tanya Agra.


"Aahhh…. Ini sakit sekali," teriak Bintang.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Agra yang kebingungan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, aku ingin Devan menanganiku segera, aku tidak tahan," teriak Bintang lagi, dia kini menungging , lalu berjongkok, mengambil bantal menggigit bantal itu, Bintang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.


"Kenapa Dokter itu lama sekali," keluh Bintang.


"Sebentar lagi juga sampai, bukannya kamu bilang kalau dari sana kesini itu perlu waktu dan dilarang mengomel," ucap Agra yang memang pernah dalam posisi mengomel karena keterlambatan Devan.


"Astaga, ini berbeda, ini sakit Ga," teriak Bintang.


Agra mulai mengelus-ngelus perut Bintang, "Bayiku, jangan buat ibumu kesakitan oke..! Kamu jangan nakal begini..!" Ucap Agra menatap perut yang besar itu.


Bintang tak mempedulikan Agra, dia kini berkeringat dingin, dia belum pernah merasakan sakit perut sesakit itu.


Hingga akhirnya orang yang ditunggu pun datang, "biar aku periksa dulu, coba Farah kamu cek pembukaannya..!" Ucap Devan, sementara dia mengecek detak jantung sang bayi.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Agra.


"Tentu saja mempersiapkan persalinan normal," jawab Devan.


"Bukannya akan ada operasi untuk mengeluarkan bayi?" Tanya Agra.


"Karena keadaan Bintang memungkinkan, kita akan melakukan persalinan normal Ga, kamu cukup temani istrimu, genggam tangannya dan beri dia semangat..!" Ucap Devan pada sahabatnya yang sepertinya tidak tahu banyak mengenai persalinan.


"Tapi, akan lebih sakit jika persalinan normal Dev, sebaiknya caesar saja..!" Ucap Devan.


"Alatnya tidak lengkap Ga, kenapa kamu baru bilang? Tapi menurutku persalinan normal itu lebih baik dan lebih cepat pemulihannya, sudahlah kamu tidak usah khawatir..!, atau kamu mau kita membawa Bintang ke Rumah sakit untuk operasi?" Ucap Devan.


"Tidak," jawab Agra dan Bintang yang kompak, membuat Devan juga heran.


Kini Agra duduk di samping istrinya, menggenggam erat tangan itu untuk memberikan energi pada sang istri.


Pembukaan sudah lengkap, saatnya Bintang mengejan, namun sepertinya Bintang kekurangan tenaga dia tidak kuat mendorong lagi, Devan mulai khawatir dan menyemangati Bintang.


"Semangat Bi, dorong sekali lagi pasti bayinya keluar, Agra jangan diam saja, bantu semangati istrimu..!" Ucap Devan membentak Agra.


"Aku lelah Ga, energiku sepertinya sudah habis, genggamanmu tidak terlalu berpengaruh," keluh Bintang.


Agra mempunyai ide gila, dia benar-benar melakukannya di depan Devan dan Farah, mereka berdua dibuat kaget oleh aksi Agra, mereka tak percaya melihat kejadian langka ini.


Apa-apaan mereka ini? pikir Devan.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2