
Agra menunggu ketiga orang selanjutnya dengan gelisah, dan ternyata masih belum datang padahal dia sudah menunggu selama dua jam dengan sabar.
Astaga, ada apa dengan mereka? Pikir Agra.
Dia menghubungi Maxim lagi, dan Maxim bilang kalau ketiga orang cadangan tadi juga membatalkannya.
Apa lagi ini? tidak mungkin jika ini hanya kebetulan, pikir Agra.
"Kamu cari tahu alasan sebenarnya yang membuat mereka membatalkannya..! Apa uangnya kurang atau bagaimana? Cari tahu secepatnya sambil kamu cari lagi pendonor lain dan pastikan kesehatannya terjamin!" Agra memberikan perintah baru pada Maxim.
"Baik Bos," jawab Maxim dengan segera, meski dalam hatinya tersirat rasa lelah.
Tut
Sambungan telepon itupun terputus.
"Ga, bagaimana?" Tanya nenek Gina sambil menepuk pundaknya, itu membuat cucunya kaget.
"Astaga Nek, kenapa mengagetkanku?" Keluh Agra.
"Memangnya nenek tadi bilang DOR, enggak kan?" Jawab sang nenek santai.
"Hmm… terserahlah, jadi ada apa Nek?" Tanya Agra.
"Soal donor darah, bagaimana?" Tanya sang nenek.
"Nenek tenang aja ya, akan Agra usahakan sampai mendapatkannya..!" Ucap Agra meyakinkan sang nenek meski dirinya sendiri saja tidak yakin dan masih merasa pusing dengan masalah baru ini.
"Syukurlah, nenek mau melihat ayahmu dulu," ucap nenek Gina berlalu pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian sang nenek, Agra mulai gelisah lagi, dia menelpon istrinya untuk memberitahu jika malam ini dia tidak akan pulang, dia akan menginap di Rumah Sakit.
Bintang pun mengerti dengan keadaan sang suami, dia mengatakan kalau energinya masih cukup dan mengatakan kalau Agra tidak usah khawatir tentang keadaan dirinya di Mansion.
***
Hari sudah gelap, bahkan sudah menunjukan pukul 11 malam, dia menunggu kabar dari Maxim sambil menunggu ibunya yang belum sadar.
Ponsel Agra berbunyi, dia bergegas mengangkatnya karena itulah yang dia tunggu sedari tadi.
"Bagaimana?" Tanya Agra.
"Menurut salah satu dari mereka, mereka dibayar dua kali lipat oleh seseorang, jadi mereka memilih membatalkan pendonoran darah untuk Ibu Lolita," ucap Maxim
"Apa? Siapa yang berani melakukannya? Menyepelekan nyawa seseorang, apa dia tidak tahu kalau ada nyawa yang perlu diselamatkan?" Teriak Agra pada Maxim.
"Saya tidak tahu Bos, saya perlu mencari tahu lebih lanjut lagi, apa mungkin musuh Bos yang melakukannya, atau musuh Bu Lolita sendiri?" Tanya Maxim.
Kira-kira siapa ya? Pikir Agra.
"Bos… Bos….," Panggil Maxim dibalik telepon karena tidak mendengar jawaban.
"Hmm..., Kamu cari tahu siapa orangnya dan cari lagi pendonor sebanyak-banyaknya, sekarang!" Ucap Agra menegaskan pada Maxim, membuat asistennya itu merasa bekerja dua puluh empat jam.
Tut
Agra menutup teleponnya, dia jelas sangat emosi dengan kenyataan yang ada. Dia tidak menyangka akan ada orang yang membayar pendonor itu berkali lipat.
Kita lihat saja, aku akan menaikan harga dan kalau aku mencari pendonor sebanyak mungkin, aku rasa dia akan bangkrut, pikir Agra.
__ADS_1
Agra menyeringai jahat, dia mengibarkan bendera perang saat ini.
Agra yang lelah, dia tidak sengaja tidur disofa sambil menatap keadaan ibunya yang masih belum bisa membuka matanya, meski ibunya pernah menoreh luka, namun Agra tetap sayang pada sang ibu apalagi setelah dia melihat perjuangan Bintang saat melahirkan.
Meskipun Lolita bukan ibu yang baik menurut pandangan Agra, namun dia tetaplah ibunya, Agra harus bisa memperjuangkan nyawa ibunya, sama saat seperti dulu ibunya memperjuangkan dirinya, melahirkannya dengan mengorbankan nyawanya.
***
Baru juga Agra memejamkan matanya satu jam, sudah terdengar suara bising di kamar pasien itu, ternyata keadaan Lolita menurun, banyak dokter yang berdatangan, ada nenek Gina juga disana yang terlihat sedih bahkan menangis.
"Mamah….," Gumam Agra, dia langsung menghampiri sang ibu, dia menggenggam tangannya.
"Bertahanlah….!" Bisik Agra ditelinga sang ibu.
Lima menit berlalu dan dengan usaha tim dokter keadaan Lolita kini lebih baik, Agra pun bisa bernafas lega.
"Dok apakah ibu saya akan sembuh?" Tanya Agra.
"Kesempatan untuk sembuh itu selalu ada, jangan menyerah dan selalu dukung ibumu..!, Mengenai pendonor, sebaiknya secepat mungkin ya, karena stok darah untuk ibu Lolita tinggal satu kantong lagi..!" Ucap sang dokter mengingatkan.
"Baik Dok," jawab Agra pelan, dia merasa tidak yakin bisa mendapatkannya.
Setelah kepergian sang Dokter, nenek Gina pun menghampiri cucunya dan membahas pendonor yang dibicarakan sang dokter, Agra kini jujur pada sang nenek, membuat nenek Gina juga ikut panik.
"Bagaimana dong Ga, nenek tidak bisa hanya pasrah begini, coba cek saja semua asisten di Mansion kamu dan Mansion nenek, siapa tahu mereka ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Lolita..!" ucap nenek Gina.
"Bisa dicoba Nek, tapi kita harus sekaligus mengecek riwayat kesehatan mereka, aku tidak mau mengambil resiko kedepannya, kasihan mamah Nek," ucap Agra pelan.
Nenek Gina pun mengangguk pelan, dia menyadari kalau mencari pendonor tidak semudah yang dipikirkan.
__ADS_1
Bersambung ….