Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Menginap


__ADS_3

Devan melihat dengan kedua matanya sendiri jika sepasang suami istri itu malah berciuman disaat keadaan sedang genting begini.


Apa yang mereka lakukan? Pikir Devan.


Devan yang mulai sadar, dia langsung membentak Agra, " Apa yang kau lakukan Ga, cepat buat istrimu semangat mengejan bukan malah–," ucap Devan yang kesal, dia tidak melanjutkan ucapannya karena keduanya kini saling melepaskan tautan mereka.


"Sayang ayo semangat..!" Ucap Agra pada Bintang, dia merasa yakin jika istrinya bisa melakukannya kali ini setelah mendapatkan energi cukup banyak darinya.


Bintang mengejan sekuat yang dia bisa, dengan sekali tarikan nafas dan dia mengejan, akhirnya bayi itu keluar dengan sangat lancar, membuat Devan bernafas lega.


"Akhirnya, wah... dia tampan sekali," ucap Devan lalu menyerahkan bayi itu pada Farah untuk diserahkan pada sang ibu dan melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Bayi).


Bintang begitu merasa lega, dia sudah tidak merasakan sakit dan bahkan sekarang dia senang karena dapat mendekat sang buah hati, Agra begitu terharu melihat bayi mungil itu, dia sampai meneteskan air matanya.


"Selamat untuk kalian, kalian sekarang resmi menjadi orang tua," ucap Devan pada sepasang suami istri itu.


Agra meminta Devan untuk membantu mengurus sang bayi karena ketidaktahuannya, namun ternyata nenek Gina datang dan begitu kaget melihat sudah ada bayi menggemaskan disana, nenek Gina langsung memutuskan untuk menginap membantu mengurus cicitnya itu.


"Ah gemasnya, kenapa kalian tidak memberitahu nenek?" Tanya nenek Gina, dia berharap bisa melihat proses melahirkan Bintang.


"Bagaimana aku memberitahu Nenek? Bahkan aku saja kaget dan bingung saat itu," keluh Agra.


Andai nenek tahu apa yang sempat mereka lakukan saat acara persalinan tadi, batin Devan yang masih mengingat kejadian yang membuatnya kesal, dia tidak tahu jika yang dilakukan Agra adalah salah satu upaya agar Bintang bisa kuat mengejan.


Devan memilih pulang karena hari juga sudah malam, dia yang lelah memang sudah saatnya beristirahat.

__ADS_1


***


Malam itu menjadi malam pertama bagi Agra menemani bayinya sampai dia melawan rasa ngantuknya, Bintang pun sama, malam itu dia berusaha memberi ASI buat sang bayi meski rasanya perih.


Apa dia terlahir dengan kekuatan yang sama sepertiku? Aku berharap dia terlahir sebagai manusia, karena jika dia sama sepertiku maka dia tidak akan bertahan lama tinggal di bumi ini, Pikir Bintang.


Nenek Gina malah tertidur, padahal dia yang paling semangat ingin menjaga bayi yang masih merah itu.


***


Di pagi hari saat bayi itu tertidur maka sepasang suami istri itu pun ikut tertidur, sementara Nenek Gina yang terbangun, dia merasa tidak punya pekerjaan, dia pun mendekati box bayi itu, melihat bayi menggemaskan itu, mencolek-colek pipinya yang menggoda untuk dicubit.


Mereka semua tertidur pulas sekali, apa semalam mereka begadang? Ya… sepertinya aku melewatkan sesuatu malam tadi, batin Nenek Gina.


Sang Nenek beralih ke dapur, dia berniat menyiapkan sarapan, lebih tepatnya hanya memantau beberapa asisten yang dia bawa dari Mansionnya.


Tiba-tiba bel pintu berbunyi, ada tamu yang tak diundang datang, membuat Nenek Gina merasa kesal.


Lolita dan Meira datang dengan alasan ingin menjenguk sang bayi, nenek Gina tidak menyukai dua wanita itu, ya… Lolita memang menantunya namun sering berdebat dengannya, mereka memiliki pemikiran yang berbeda.


"Agra dimana Bu?" Tanya Lolita.


"Dikamar, dia lagi tidur, kamu tidak usah mengganggunya, kasian dia habis begadang..!" Ucap Nenek Gina pada menantunya itu.


"Aku bawain kado juga loh Nek buat bayi Bintang dan Agra, dimana bayinya Nek?" Tanya Meira.

__ADS_1


"Jika kalian memang ingin melihat bayi mereka, maka tunggulah sebentar lagi, sepertinya sekarang saatnya bayi itu mandi," ucap Nenek Gina.


Mereka berdua pun menunggu di ruang tamu, sementara Nenek pergi ke kamar untuk mengecek cucu dan cicitnya, terlihat jika Bintang sudah bangun bahkan sedang menyusui bayinya.


Bintang membiarkan Agra tertidur, sementara dia bergegas mandi dengan berjalan secara perlahan dibantu oleh beberapa asisten.


Nenek Gina yang cekatan, dia memandikan bayi menggemaskan yang belum diberi nama itu. Wanita itu memang menyukai anak kecil tidak seperti Lolita yang bahkan membiarkan Agra bersama sang pengasuh sejak bayi. Itu yang membuat Nenek Gina tidak begitu menyukai menantunya sampai sekarang.


Setelah Bintang merasa lebih baik dan merasa segar, dia menghampiri sang Nenek di ruang tamu, namun dia tidak mengira jika ada ibu mertuanya dan Meira, Bintang berusaha bersikap baik pada Lolita namun mengacuhkan Meira yang ada disampingnya.


"Wah lucu sekali, gemasnya …," ucap Meira melihat bayi lelaki yang ada di gendongan nenek Gina.


"Tentu saja dia sangat lucu, dia tampan seperti ayahnya," ucap Nenek Gina yang merasa bangga.


Lolita yang merasa penasaran dengan wajah cucu nya, dia mulai mendekat dan memperhatikan bayi lelaki itu lebih dekat, timbul di dalam hatinya rasa ingin menggendong bayi itu, sangat berbeda saat dulu Agra masih bayi, dia terkesan cuek dan lebih mementingkan pekerjaannya.


"Bu, bolehkah aku menggendongnya sebentar?" Tanya Lolita pada ibu mertuanya.


Nenek Gina mengalihkan pandangannya pada Bintang, dan terlihat jika Bintang mengangguk setuju.


Lolita terlihat begitu senang, membuat Meira merasa iri pada Bintang yang mendapatkan semuanya, mendapatkan Agra, dan juga perhatian Nenek Gina serta kehadiran bayi yang mempererat hubungan mereka.


"Aku juga ingin menggendongnya," ucap Meira.


"Tidak boleh!," Ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar itu, membuat semua orang kini menoleh padanya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2