Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Kita Tak Sama


__ADS_3

Agra langsung masuk ke ruangan Meira tanpa mengetuk pintu, dia berjalan dengan sangat cepat dan nafas yang memburu.


"Meira, apa yang kau lakukan pada Bintang?" Teriak Agra.


"Memangnya apa yang aku lakukan?, bukankah kamu melihat sendiri jika dia yang menyerangku, aku tak melakukan apapun, kenapa kamu marah padaku?" Meira malah bertanya lagi pada Agra, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan lelaki yang kini ada dihadapannya itu.


"Jangan pura-pura, kamu berniat jahat kan, mencoba menggugurkan anakku?" Tanya Agra pada Meira, bahkan wajah Agra sangat dekat dengan wajah wanita itu dengan tatapan tajam dan menakutkan.


Seharusnya momen kedekatan itu adalah momen yang ditunggu Meira, namun ini dalam situasi berbeda, situasi yang sangat tidak diharapkan wanita itu.


"Ma-maksud kamu apa menuduhku begitu? Jangan asal bicara Ga, mana buktinya?" Tanya Meira berusaha membela diri.


Bukti, ya.. aku tidak punya buktinya, pantas saja kemarin Bintang sakit perut, untung saja dia tidak apa-apa, aku tidak mungkin jika mengatakan kalau Bintang mendengar isi hatinya tadi, batin Agra.


"Hmm…, jika aku sampai menemukan bukti itu, akan kupastikan kau tidak akan lolos Mey, ingat itu!" Ancam Agra.


"Silahkan saja..! Aku tidak takut karena itu tuduhan palsu," jawab Meira dengan lantang.


Meira kini terkulai lemas, dia terduduk di lantai, setelah kepergian Agra dia memperlihatkan kondisinya yang memang lemas karena takut dengan ancaman Agra.


Pria itu berusaha mencari istrinya yang menghilang, dia terus saja menelpon nomor ponsel Bintang namun nomornya tidak aktif, dia bingung harus mencari Bintang dimana, tempat yang pertama dia datangi adalah Apartemen, namun nihil, ternyata dia tidak ada disana.


"Kemana baju-bajunya?" Gumam Agra yang terkejut saat melihat isi lemari bintang yang separuhnya sudah kosong, dia mencari koper istrinya, dan benar saja ternyata salah satu koper istrinya tidak ada.


Dia menghempaskan tubuhnya di sofa, dia merasa benar-benar tidak tahu kemana dia harus mencari istrinya, dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Bintang, memeriksa CCTV di sekitar Apartemen, disekitar kantor dan bahkan temapat lainnya, berharap ada salah satu kamera yang berhasil menangkap gambar istrinya itu.

__ADS_1


Aku khawatir, bagaimana bisa dia bertahan tanpa aku? Lalu anakku? Ini semua salahku, aku yang berprasangka buruk padanya, aku yang tak bisa menjaga ucapanku, batin Agra menyesali semuanya.


***


Keesokan harinya Agra fokus mencari Bintang dia tidak bisa berangkat bekerja dalam keadaan seperti itu, dia juga membayar seseorang untuk menyelidiki Meira, mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Istri mu kabur atau hilang lagi? Hmm… makanya kamu jaga dia dengan baik dong Ga..!" Ucap Devan.


Agra mengabaikan apa yang dikatakan Devan, dia malah balik bertanya, "Apa dia berada ditempat kemarin ya? Apa kita coba datang kesana lagi?".


"Aku tidak mau tersesat, jalan kesana itu sangat jauh dan rumit, lagipula aku yakin dia tidak mungkin kesana, dia juga tidak mau tersesat bukan?" Jawab Devan.


Cukup masuk akal, tapi Bintang bisa berteleportasi dan dia tidak mungkin tersesat, pikir Agra.


Mereka mengaku jika tidak terlalu dekat dengan bintang, mereka hanya sekedar tahu, karena Bintang adalah dosen yang tidak suka bersosialisasi.


Hmm, ya..  aku rasa dia memang tidak suka manusia sejak lama, dan kini aku juga membuatnya ikut membenciku, batin Agra.


"Ga, sepertinya istrimu itu orang yang sulit didekati, tidak suka berbaur dan sekarang kita kesulitan menebak kemana dia pergi," ucap Devan.


"Iya aku tahu," jawab Agra singkat.


"Memangnya ada masalah apa diantara kalian?" Tanya Devan dengan serius.


"Sebenarnya kemarin dia diberi obat penggugur kandungan oleh Meira, Bintang menampar Meira dan mengamuk di kantor, karena aku tidak tahu permasalahannya apa, dan aku melihat jika istriku yang memulai dan sulit dikendalikan, membuatku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan, hatinya terluka dan dia pergi entah kemana," jawab Agra sambil menatap jalanan.

__ADS_1


"Astaga, apa benar Meira melakukan itu? pantas saja kemarin istrimu mengeluh sakit perut, untung saja dia tidak apa-apa, seharusnya kamu lebih mempercayai istrimu, kamu seharusnya bisa mencairkan suasana dan menanyakan titik permasalahannya apa, bermusyawarah dulu, kalau begini sih ya… kamu yang salah." Devan


"Iya aku tahu aku yang salah, dan masalah Meira aku akan mencari buktinya segera." Agra


"Sebaiknya memang begitu, karena ini sudah termasuk pembunuhan," jawab Devan.


Mereka yang kini sudah berada di dalam mobil melanjutkan perjalanan untuk mencari Bintang tanpa tujuan, hanya menelusuri jalan yang ada.


Hingga hari tak terasa sudah gelap, membuat mereka mengakhiri pencarian mereka dan akan dilanjutkan esok hari.


Setibanya di Apartemen, Agra berbaring ditempat tidur dengan memeluk guling, menganggap itu adalah istrinya, namun nyatanya jelas terasa berbeda dia hanya berguling-guling tanpa bisa memejamkan matanya, dia mengkhawatirkan istri dan calon bayinya.


***


Sementara ditempat lain Bintang sedang menatap gelapnya malam, menatap Bintang-bintang yang berhamburan di atas sana.


"Sayang masuklah, disini pasti dingin, sebaiknya kamu tidur sekarang..!" Ucap seseorang pada Bintang, membuat wanita itu menuruti perkataannya, dia masuk kedalam dan menuju sebuah kamar, membaringkan tubuhnya diranjang.


Kini dia menatap langit-langit kamar itu, dia teringat Agra, disatu sisi dia merindukan suaminya, disisi lain dia merasa sangat tidak pantas berada di samping lelaki itu, apalagi saat mendengar jika Agra menganggapnya makhluk asing yang menyeramkan.


Bintang begitu terluka, namun dia tidak bisa membenci Agra, dia hanya belum sanggup saja untuk menatap wajahnya, dia belum sanggup menampakan dirinya karena dia sadar diri kalau dia bukanlah manusia yang sejenis dengan suaminya.


Awalnya Bintang tidak mempermasalahkan perbedaan diantara mereka karena Agra menerimanya dengan tulus, tapi sekarang perbedaan itu menjadi hal yang mengganggu pikiran Bintang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2