Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Koma


__ADS_3

Agra kini sudah sampai di Mansion, kebetulan memang sudah waktunya dia pulang dari kantor.


Langit bahkan kini menangis di gendongan Fitri, dia seakan merasakan kesedihan , dia seakan mengerti jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.


Agra langsung menuju ke kamar, dia memeluk erat istrinya yang belum sadarkan diri, "sayang bangunlah..!" 


Agra melepaskan pelukan itu, dia menggenggam tangan Bintang terus tanpa mau melepaskannya berharap energinya mampu membuat Bintang sadar.


"Nek, bagaimana ini bisa terjadi? Tidak biasanya Bintang sepeprti ini, dia akan baik-baik saja selama aku ada untuknya setiap hari," tanya Agra memandang sang nenek.


"Maafkan nenek Ga, sebenarnya kami tadi menemui Hermawan tanpa sepengetahuanmu, Bintang menggunakan kekuatannya berkali-kali, sepertinya dia kelelahan Ga," jawab nenek Gina.


"Kenapa nenek malah menemui orang itu? Aku kan sudah bilang , biarkan aku yang mengurusnya, oh… Astaga lalu kita harus bagaimana? Bahkan Bintang tidak bisa dibawa ke Rumah Sakit," ucap Agra yang kini bingung.


Agra hanya bisa melakukan apa yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk istrinya itu.


***


Untuk sementara waktu Langit diberikan susu formula, nenek dan kakeknya pun datang untuk membantu menjaga Langit.


Agra sepanjang malam terus menunggu Bintang, dia tak pernah melepaskan genggaman tangan itu, dia meninggalakan semua pekerjaannya, yang dia pikirkan hanya Bintang untuk saat ini.


Sudah dua hari Bintang belum sadar, "Ga, kenapa gak dibawa ke Rumah Sakit saja?" Tanya Lolita.


Agra bingung harus menjawab apa, namun nenek Gina berhasil membuat menantunya itu keluar dari kamar dan berhenti bertanya.


Meski Lolita merasa aneh, namun dia tidak mau mengganggu keputusan nenek Gina yang sangat dia segani itu.


Sudahlah, yang penting aku sudah memberitahu mereka, jika mereka tatap ingin merawatnya dirumah, aku bisa apa, batin Lolita.


***

__ADS_1


Berita di televisi tentang Farhan mulai viral.


"Mah, lihat deh kasus Farhan sangat berat, kasian juga ya istrinya, bukannya istrinya itu Meira?" Ucap Lolita.


"Mana? Memangnya kasus apa?" Tanya nenek Gina yang juga penasaran.


"Pembunuhan Mah, istrinya dibunuh, ngeri kan?" Ucap Lolita sambil memeluk bantal sofa.


"Coba kamu tanyakan sama Karin, apa benar Meira meninggal, kamu kan setidaknya peduli sedikit karena dia juga sahabatmu..!" Ucap nenek Gina pada Lolita menantunya.


"Iya Mah," jawab Lolita sambil mengangguk pelan.


Kedatangan Devan membuat nenek Gina sedikit khawatir, dia takut kalau Devan memeriksa Bintang dan menyadari keanehan dari Bintang.


"Nek, apa kabar?" Tanya Devan.


"Baik, tumben kamu kesini Dev?" Tanya nenek.


"Mm…, nenek panggilkan dulu Agra ya, kamu duduk saja dulu, mengobrol sama ibunya Agra," ucap nenek Gina pada Devan sambil melirik pada Lolita, dia berlalu pergi menuju kamar Bintang.


Lolita pun membahas keanehan ibu mertua dan anaknya yang sudah dua hari membiarkan Bintang di Mansion, padahal Bintang belum sadar dan menurutnya itu keadaan serius.


Devan Mun mulai merasa aneh karena sejak awal Bintang bahkan melahirkan di Apartemennya waktu itu, dia tidak mau pergi ke Rumah Sakit.


Agra datang menemui Devan, dia mengatakan kalau istrinya sudah membaik dan tidak perlu perawatan apapun.


Mereka pun mengobrol sebentar, Devan bahkan membawa beberapa hadiah untuk Langit, setelah itu dia pulang meski ada rasa penasaran yang mengganjal dihatinya.


***


Setelah dikonfirmasi, ternyata yang meninggal adalah istri pertama Farhan, sementara Meira adalah istri kedua, Meira juga mengalami masalah dengan rahimnya karena sempat melakukan aborsi.

__ADS_1


Memang karma itu ada, dulu Meira berusaha menggugurkan kandungan Bintang dan pada akhirnya kandungannya dipaksa digugurkan oleh suaminya sendiri, dan sekarang dia harus bolak-balik ke Rumah Sakit untuk penyembuhan rahimnya.


Sementara nasib Hermawan, dia dianggap gil@ oleh semua orang, dia bahkan sering mengatakan kalau dia melihat orang menghilang, dia dibawa ke Rumah Sakit Jiwa mengingat kondisinya yang memprihatinkan.


Nenek Gina merasa iba, namun ada sedikit rasa lega karena dia tidak akan mendapat gangguan lagi dari Hermawan, kalau saja dulu Bintang tidak jujur, mungkin keadaanku tidak akan jauh berbeda dari Hermawan, batin nenek Gina mengingat dia sempat sakit dan menganggap dirinya gil@ karena ulah Bintang.


Ini adalah hari ketiga tapi Bintang belum sadar juga, karena mendesak akhirnya Agra memanggil Devan agar bisa memasangkan infus dan bisa memberi asupan makanan untuk Bintang lewat selang cairan infus.


"Dev, kamu jangan banyak bertanya ya? Lakukan saja apa yang aku minta, aku sedang tidak bisa berpikir karena keadaan Bintang yang masih seperti ini..!" Ucap Agra.


Devan mengangguk, dia mencoba mengerti dengan keadaan sahabatnya, mungkin dia masih memerlukan waktu untuk mengatakan yang sebenarnya, batin Devan.


***


Tiga bulan berlalu, bahkan kini Bintang sudah dilengkapi dengan berbagai alat agar dia bertahan hidup.


Devan akan rutin memeriksa keadaan Bintang. Nenek Gina merasa bersalah, dia terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Nek, sudahlah… ini bukan salah Nenek, Bintang memang baik, dia pasti membantu Nenek, dia melakukan itu demi melindungi Nenek, itu keinginannya, jadi berhenti menyalahkan diri sendiri Nek..!" Ucap Agra.


Nenek Gina selalu menangis saat melihat keadaan Bintang yang terbaring lemah, "apa dia koma? Berapa lama lagi dia akan sadar?" Tanya nenek Gina pada Agra.


"Entahlah Nek, kita hanya menunggu keajaiban," jawab Agra.


"Aku juga tidak bisa memastikan kapan Bintang akan sadar," ucap Devan.


Agra kembali menggenggam tangan istrinya, berharap dia akan bangun.


"Bangunlah…! Langit masih membutuhkanmu," ucap Agra lirih.


Devan dan nenek Gina hanya bisa melihat dengan kesedihan tanpa mampu berbuat apa-apa.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2