Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Bertahan


__ADS_3

Setelah diperiksa dokter, ternyata Meira dinyatakan positif hamil, padahal mereka baru menikah sekitar satu bulan yang lalu.


Meira merasa senang, dia seperti mendapatkan teman hidup, karena menurutnya sekarang dia seakan hidup sendirian. Dia tidak bisa menemui ibunya sesuka hati, harus dengan izin Farhan dan tentu ditemani dia agar Meira tidak sembarangan berbicara.


"Beneran dok saya hamil? Syukurlah…," ucap Meira, dia tersenyum karena senang.


"Iya, dan sebaiknya anda menjaganya dengan sangat hati-hati..!" ucap sang dokter.


Namun berbeda dengan Farhan, raut wajahnya datar tanpa ekspresi, sepanjang perjalanan pulang dia juga tidak bicara apapun.


Apa dia gak senang kalau aku hamil? Pikir Meira.


Sesampainya di rumah, Farhan mengunci pintu kamarnya, dia mendekati Meira dengan tatapan menakutkan.


Jantung Meira kini berdetak tak karuan, dia merasa jika suaminya benar-benar tidak suka dengan kabar ini.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Meira saat suaminya menahannya di sudut dinding.


"Bukankah aku selalu melakukannya dengan perhitungan, tapi kenapa kamu bisa hamil? Apa kamu melakukannya dengan orang lain hah?" Tanya Farhan dengan nada tinggi, dia benar-benar murka, dia mengira Meira selingkuh dengan lelaki lain.


 "Mana mungkin aku begitu, bukankah aku selalu ada dalam pengawasanmu?" Jawab Meira tak mau kalah, dia tidak mau kalau sang anak nanti tidak diakui.


"Hahaha…, baguslah kalau kamu sadar diri, tapi sayang aku tidak suka jika kamu hamil, nanti badanmu tidak bagus lagi, kamu akan gemuk, tubuhmu tidak akan sebugar sebelumnya, aku tidak suka itu, sebaiknya kamu gugurkan saja!" Ucap Farhan yang mampu membuat Meira terkejut.


Meira membulatkan matanya tak percaya, ternyata ada jenis manusia yang tidak menginginkan seorang anak dan lebih memikirkan penampilan fisik, lalu untuk apa dia menikah?, Meira merasa bingung sekarang.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Ini anakmu, apa kau tega?" Tanah Meira mencoba meyakinkan dirinya kalau jawaban Farhan nanti akan membuatnya lega.


Namun di luar dugaan, Farhan benar-benar serius, dia lebih mementingkan bentuk tubuh sang istri daripada nyawa anaknya.

__ADS_1


Meira selama ini memang merasa Farhan mengatur penuh kehidupannya, mulai dari pola makan, olahraga dan istirahatnya. Farhan ingin Meira tampil sempurna, badan yang sesuai dengan yang dia inginkan, dia tidak suka wanita gemuk.


Dia akan memamerkan Meira dengan tubuh sempurna itu kesemua teman bisnisnya.


Setelah Farhan keluar dari kamar itu, Meira langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit, apa ini karma untukku, bagaimana caranya agar aku bisa menyelamatkan anakku? Pikirnya.


Meira mulai meneteskan air matanya.


***


Sementara di mansion milik Agra, keadaan Bintang mulai membaik sudah tidak meriang lagi, namun dia tidak bisa mempungkiri jika dia merasa lemas dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, dia hanya diam dikamar seharian bersama bayinya.


Dia enggan keluar kamar dan berusaha menyembunyikan sakitnya dari sang nenek.


"Semoga Agra pulang hari ini, aku harus kuat..!" Gumamnya pelan.


Dia yang lemas namun tetap harus menyusui membuatnya kini harus makan sebanyak mungkin agar ASI lancar untuk Langit.


Tok


Tok


Tok


"Bintang, ini nenek…," ucap nenek Gina dari balik pintu.


"Masuk Nek..!" Bintang


Ceklek

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain sayang? Dari tadi pagi belum kelihatan keluar kamar, kamu masih sakit?" Tanya nenek Gina.


"Gapapa Nek, aku sedang malas saja ingin menemani Langit seharian dikamar," jawab Bintang beralasan.


"Wajahmu sedikit pucat, kamu yakin kamu tidak apa-apa? Nenek panggilkan Devan lagi ya?" Tanya sang nenek yang kini khawatir.


"Tidak usah Nek, aku hanya merasa sering lapar saja akhir-akhir ini, dan sepertinya aku harus banyak makan biar tidak lemas dan sakit, hehe…," jawab Bintang.


Nenek Gina tampak diam sambil memperhatikan Bintang dari atas sampai bawah, apa dia benar tidak apa-apa? Batin nenek Gina.


"Yasudah kalau begitu, Langit nenek bawa main di tengah rumah ya, biar kamu bisa istirahat dan makan dengan tenang?" Ucap nenek Gina.


"Iya Nek." Bintang


Nenek Gina pun keluar membawa bayi laki-laki itu, dengan segera Bintang megambil ponselnya, berharap ada kabar dari Agra karena seharusnya dia sudah pulang hari ini.


Bahkan ini sudah siang, tapi belum ada kabar sama sekali, keluh Bintang dalam hatinya saa dia melihat pesan yang belum dibaca oleh suaminya.


Nomor ponsel suaminya masih belum bisa dihubungi, membuat Bintang merasa khawatir akan dirinya dan suaminya.


Apa aku memang akan terus bergantung padanya? Mungkinkah ini cinta mati? Ya.. jika Agra sampai meninggal maka aku bisa meninggal juga bukan? Terdengar konyol namun inilah kenyataannya, batin Bintang.


Bintang merasa hidupnya penuh kejutan, bahkan dia tidak pernah berpikir akan berkeluarga dengan manusia.


Alien cantik itu menunggu kedatangan suaminya dengan gelisah, sampai malam tiba belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang sementara tubuhnya benar-benar membutuhkan energi, ya.. keadaan tubuhnya ternyata semakin memburuk bukan membaik.


Bintang berbaring diranjang dengan badan yang sudah sakit semua, entah mengapa rasanya dia telah melakukan aktivitas banyak dan berat padahal dia tidak melakukan apapun, dia juga sudah mencoba meminum vitamin dari Devan namun tetap tidak berguna untuknya, yang dia butuhkan hanya sentuhan suaminya.


"Berapa lama lagi aku akan bertahan? Aku tidak mau pergi meninggalakan Langit yang masih bayi, dia masih sangat membutuhkan aku, hiks …," Bintang menangis sendirian, dia menangis sepekan mungkin sambil memandang box bayi diseberang sana.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2