Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Hamil


__ADS_3

"Apa bisa aku hamil? Lalu anakku akan menjadi manusia apa sama sepertiku?" Gumam Bintang pelan sambil menunggu hasil testpack itu.


Garis merah itu muncul perlahan, samar-samar lalu mulai terlihat berwarna merah muda.


"Hmm, satu garis," ucap Bintang memperhatikan benda kecil itu, dia sedikit kecewa.


Namun perlahan garis kedua muncul, membuat Bintang tak percaya, dia sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Apakah ini nyata?" Tanya Bintang pada dirinya sendiri, dia mencubit pelan tangannya dan, "aww… ini sakit, ini nyata, a-aku akan menjadi seorang ibu? Aku akan mempunyai bayi kecil yang lucu."


Bintang begitu senang, tentu dia senang karena setelah pernikah terjadi pasti akan ada keinginan untuk menghadirkan sibuah hati, Bintang juga kini bisa menikmati hidupnya di bumi secara normal, dia mempunyai keluarga kecil yang harus dia jaga dan perjuangkan. Alien cantik itu berjalan perlahan menuju pintu.


Ceklek


"Bagaimana hasilnya sayang?" Tanya Agra dengan wajah penasarannya itu. Namun bintang memperlihatkan wajahnya yang tak semangat dan kecewa.


"Gapapa sayang, kalau kamu gak hamil mungkin di lain waktu akan ada kabar bahagia itu," ucap Agra lagi seraya memeluk istrinya, dia mencoba menyemangati Bintang.


"Aku hamil sayang…," bisik Bintang ditelinga Agra pelan, membuat Agra kaget dan dia langsung melepaskan pelukannya, kini dia menatap lekat bola mata kedua istrinya itu, mencari sebuah kejujuran.


Bintang tersenyum, dia memberikan testpack nya, membuat Agra pun ikut terharu, dia tersenyum lalu memeluk Bintang lagi, "tak lama lagi kita akan menjadi orang tua," bisik Agra lembut dengan mata yang berkaca-kaca.


***


Berita kehamilan Bintang sampai ke telinga sang nenek.


Nenek Gina datang dengan membawa banyak makanan sehat dan berbagai jenis buah-buahan, dia juga membawa vitamin dan susu khusus ibu hamil.

__ADS_1


"Ini sih stok sampai lahiran Nek, hehe…," ucap Agra kepada sang nenek.


"Gapapa Ga, biar calon cicit nenek sehat." Nenek Gina


Bintang duduk disamping suaminya, bahkan dia menempel terus tidak mau berjauhan, selain bawan hamil, dia juga menjadi lemah, selalu ingin bersentuhan agar dia merasa tubuhnya lebih baik, nenek Gina senang melihat mereka yang sangat romantis.


Disaat bekerja pun, Bintang ikut ke kantor hanya untuk menemani suaminya dan berdekatan dengannya, Meira yang masih berusaha menjadi perusak hubungan mereka… dia tampak kesal melihat kemesraan mereka berdua.


Meira tidak menemukan celah untuk mendekati Agra karena Bintang kini selalu ada didekat pria yang diincarnya.


"Sayang, aku mau pergi ke taman, ingin bersantai sambil menikmati cemilan," ucap Bintang dengan manja, membuat Agra mengangguk menyetujuinya, mereka berencana pergi ke taman sepulang dari kantor.


Meira yang sempat mendengar percakapan itu, dia kembali ke ruangannya dengan senyum misteriusnya.


***


Maxim yang kini malah duduk di kursi depan mobil Bosnya itu mengeluh dalam hati, sejak kapan aku menjadi sopir pribadinya? Aku sudah lelah bertemu dengannya di kantor, dia meminta aku membelikan ini dan itu, padahal kan yang ngidam istrinya, kenapa aku yang repot?.


"Aku tidak tahu mengapa rasanya bau keringatmu saja sangat wangi," ucap Bintang menempel pada sang suami.


"Hahaha, memang aku wangi, bayi kita belum lahir saja, dia sudah tahu kalau keringat ayahnya pun sangat wangi," ucap Agra Bangga.


Bintang hanya tersenyum, dia memang mengakui jika selama hamil dia selalu ingin dekat dengan suaminya itu karena dia merasakan kalau tubuh Agra sangatlah wangi, tapi kalau mencium parfum, dia akan mual.


Astaga, apa salahku, sampai aku menyaksikan dua orang yang sedang dimabuk asmara itu? Batin Maxim yang memang masih melajang itu.


Sesampainya di taman, keadaan taman lumayan ramai, karena hari mulai sore, cuaca cukup nyaman untuk berjalan-jalan. Bahkan banyak penjual yang berjejer disana.

__ADS_1


"Sayang, aku mau gula kapas itu..!" Pinta Bintang seperti anak kecil, membuat Agra gemas.


"Antriannya sangat panjang, kamu tidak apa-apa kalau menunggu di kursi sebelah sana?" Tanya Agra.


"Iya gapapa kok," jawab Bintang yang dipapah sampai ke kursi itu, dia seperti ibu yang sedang hamil besar, Agra memang terlalu posesif.


Bintang duduk sambil memperhatikan orang-orang berlalu lalang, dia juga melihat anak-anak yang berlarian dengan riang dengan ditemani orang tuanya.


Alien cantik itu membayangkan jika dirinya di masa depan, "aku juga pasti akan sebahagia mereka?" Gumamnya pelan.


Tiba-tiba ada anak kecil yang menangis, "kamu kenapa? Ibumu mana?" Tanya Bintang.


Anak itu menunjukan dimana ibunya berada, ya.. ibunya sedang mengantri membeli sesuatu.


"Balon Sasa terbang Tante, hikks…," anak itu menangis sambil menunjuk ke atas.


"Ya udah, kamu jangan nangis ya..! Tante beliin balon yang baru, oke?" Bintang mencoba membujuk anak itu, hingga anak itu luluh dan mengangguk


Bintang berjalan mencari Abang tukang penjual balon, dia berjalan terus dan terus semakin jauh, dan akhirnya dia menemukannya.


Jika dulu bintang dingin, pendiam, dan tidak mau berbaur dengan manusia. Jelas setelah menikah dengan Agra dia berubah menjadi ramah, mudah tersenyum dan bisa berbaur dengan manusia, bahkan hatinya mudah tersentuh saat melihat anak kecil menangis.


"Bang, balonnya dua ya, yang warna merah dan pink,..!" Bintang.


Setelah mendapatkan balon itu, tiba-tiba pandangan Bintang mulai kabur, dia pingsan tak sadarkan diri.


Sementara Agra sedang berusaha mencari istrinya yang hilang dengan memegang permen kapas besar di tangannya.

__ADS_1


"Sayang…, Bintang…," teriak Agra dengan rasa cemas.


Bersambung .  .  .


__ADS_2