Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Ada Apa Dengan Nenek?


__ADS_3

"Kamu tadi tertidur Boy, makanya kamu tidak tahu," jawab Bintang.


"Sa-saya, mana mungkin saya tidur disaat jam kerja," Boy menyangkal hal itu, jelas-jelas dia melihat kalau majikannya tiba-tiba ada didalam mobil, bahkan Boy kini merinding, dia bergidik ngeri.


Nenek Gina melihat orang-orang yang berkumpul tak jauh dari mobil mereka, "Boy itu ada apa ramai sekali?" Tanya nenek Gina.


"Saya tidak tahu Nyonya, biar saya lihat dulu, karena memang menghalangi jalan kita," ucap Boy lalu pergi keluar.


Setelah 10 menit berlalu akhirnya kumpulan orang-orang itu membubarkan diri, Boy dan Ben kembali, mereka mengatakan jika ada pengendara motor yang menabrak pohon.


Orang menabrak pohon? tadi aku bermimpi atau nyata? pikir nenek Gina.


Ben tampak diam selama perjalanan pulang karena dia juga sempat melihat sesuatu yang membuatnya bingung bahkan takut.


Nenek Gina juga melamun sepanjang jalan, dia merasa ada yang janggal dengan kejadian tadi, bukannya tadi ada Ben di belakangku? Pikir nenek Gina, dia berniat menanyakannya nanti.


Bintang yang mendengar itu pun merasa panik, dia berharap Ben tidak menyadarinya.


Pada akhirnya mereka sibuk dengan lamunan mereka masing-masing.


***


Mereka akhirnya sampai di Mansion, nenek Gina memilih tidur karena lelah dan ingin menghilangkan pikiran aneh yang berputar-putar di dalam pikirannya.


Sementara Bintang, dia menghampiri Ben, "Ben, kamu sebaiknya jangan menceritakan hal aneh pada nenek, sepertinya dia sedikit tidak sehat..!" Ucap Bintang mengingatkan Ben agar dia tidak berbicara macam-macam.


"Iya Nyonya," jawab Ben sambil mengangguk paham, meski dia sebenarnya juga masih belum mengerti dengan apa yang dilihatnya, dia melihat majikannya tiba-tiba menghilang dan seketika pengendara motor itu menabrak pohon.

__ADS_1


Bintang menuju ke kamarnya untuk menidurkan Langit, kemudian dia bergegas membuat salad buah yang diinginkan oleh nenek Gina.


Hingga hari mulai sore, dan Agra sudah pulang, Langit juga sudah bangun dari tidurnya, dia yang sudah bisa berjalan membuat Bintang kewalahan, dia dibantu Fitri untuk mengawasi balita itu.


Langit langsung memeluk ayahnya yang baru pulang, "Sayang, bagaimana acara berbelanja tadi?" Tanya Agra.


"Menyenangkan, ada salad buah segar untukmu dan juga nenek, tapi nenek belum keluar dari kamarnya sejak tadi," ucap Bintang.


"Biar aku saja yang menemui nenek dan mengajaknya makan bersama," ucap Agra lalu pergi menuju kamar sang nenek.


Namun nenek Gina terlihat melamun, pandangannya kosong, "Ga, kenapa nenek selalu menganggap Bintang itu bukan manusia, nenek mengira tadi nenek menghilang begitu saja, Ga apa nenek sudah gil@? Nenek butuh dokter Ga, nenek mau diobati agar pikiran nenek bisa normal lagi..!" pinta sang nenek.


"Nenek, jangan ngomong sembarangan, jangan seperti itu… nenek gak sakit, nenek tenangin diri nenek dulu, dan Nenek harus menghilangkan pikiran aneh-aneh itu..!" Ucap Agra.


"Nenek gak normal Ga, mungkin karena nenek sudah tua," keluh nenek Gina yang bahkan kini malah menangis.


"Sebenarnya apa yang terjadi saat berbelanja tadi? Nenek jadi bersikap aneh," tanya Agra.


Bintang menceritakan semuanya, dia hanya mencoba menolong nenek Gina karena tidak ada cara lain, dia juga panik saat itu.


"Aku bingung sekarang, kasihan nenek, dia berpikir kalau dia berhalusinasi, sebaiknya kamu jujur saja sama nenek, agar dia tidak seperti itu..!" Ucap Agra.


"Tapi…, aku takut," jawab Bintang lesu.


"Aku gak mau tahu ya, aku gak mau kalau pada akhirnya nenek dianggap gil@ oleh semua orang, kalau nenek sampai masuk Rumah Sakit Jiwa bagaimana? Seharusnya kamu mengerti itu!" Agra tidak bisa mengontrol emosinya, dia memarahi Bintang untuk pertama kalinya.


Agra pergi menuju ruang kerjanya, dia bingung harus bagaimana sekarang.

__ADS_1


Setelah dia merasa lebih tenang, dia menemui neneknya lagi.


"Nek, maafin Agra ya..!" Ucap Agra.


Namun sang nenek tidak menjawab, dia seperti sedang memikirkan hal lain.


"Nek, makan dulu ya, Agra suapin, kata Bintang tadi nenek ingin salad buah, ini Agra bawain," ucap Agra, dia menyuapi sang nenek saat neneknya mengangguk pelan tanda setuju.


Setelah makanan itu habis, nenek Gina minum sedikit air, dia membaringkan tubuhnya dan memakai selimut, dia tidur membelakangi Agra.


"Nek, jangan buat aku khawatir..!" Gumam Agra pelan.


Malam ini Agra tidur dikamar lain, dia sedang tidak ingin berbicara dengan Bintang sebelum istrinya itu berhasil membuat neneknya kembali seperti biasanya.


***


Bintang memeluk Langit, dia merasa sendirian sekarang, jika biasanya Agra dan Bintang akan saling mendukung satu sama lain, maka kali ini untuk pertama kalinya Bintang harus berjuang sendiri membuat nenek Gina sembuh dan meyakinkan Agra kalau dia memang tidak bermaksud begitu.


Apa aku salah karena hadir diantara mereka? Aku hanya ingin menolong nenek, tapi kenapa malah aku yang disalahkan? Pikir Bintang.


Bintang yang tidak mau Agra terus mendiamkannya, dia berniat mengajak nenek Gina untuk berbicara empat mata dengannya, ya... dia akan menemui nenek Gina saat pagi datang karena kalau sekarang pasti akan mengganggu waktu istirahat sang nenek.


***


Saat pagi datang, Agra sudah tidak ada, bahkan nenek Gina pun tidak ada di Mansion, Bintang mengecek ke semua ruangan, bahkan Fitri juga tidak ada disana.


"Kemana mereka pergi?" Gumam Bintang.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2