
"Kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Agra yang kaget begitu sampai ke lokasi.
Salah satu bidang usaha Agra adalah bidang fashion, dia memproduksi berbagai macam pakaian dan juga tas, dari mulai baju biasa untuk kalangan masyarakat sampai baju mahal yang didesain khusus untuk wanita sosialita dari kalangan atas.
Dia tiba di salah satu gudang penyimpanan tas-tas mahal, namun ternyata gudang itu terbakar tak tersisa, Agra tiba disana dengan bangunan yang sudah gosong, semuanya hitam.
Agra mengalami kerugian besar, beruntung tidak ada korban jiwa, dia hanya perlu membiayai para pekerja yang terluka, dari mulai luka ringan hingga luka berat.
"Saya tidak tahu Bos, kami belum menemukan penyebabnya dari mana," jawab Maxim.
"Cari tahu sampai ke akarnya!" Perintah Agra dengan tegas.
"Baik Bos," ucap Maxim yang berlalu pergi untuk menelpon seseorang.
Agra melihat-lihat bangunan yang tersisa itu, dia melangkah sedikit demi sedikit, dia begitu merasa prihatin karena selama ini pabrik dan gudang-gudangnya tidak pernah mengalami kekacauan seperti ini, dia memberikan layanan keamanan yang paling bagus.
Bagaimana bisa ada kecerobohan seperti ini? Pikir Agra.
Pria itu merasa jika semakin hari ada saja masalah yang datang tak terduga, apa mungkin ini ada hubungannya lagi dengan dia? Jika benar, sungguh dia mengibarkan bendera perang, batin Agra.
Kerugian yang Agra alami memang tidak seberapa menurutnya, namun jika terus-terusan seperti ini maka dia akan gulung tikar juga bukan? Dia takut kalau semua klien nya lari dan mengakhiri kontrak mereka.
Agra pulang dengan wajah kusutnya, nenek Gina menepuk pundak cucunya itu, dia tahu apa yang terjadi pada cucu lelakinya itu.
"Sabar Ga, kamu harus bertahan dan tetap semangat, semua masalah pasti berlalu..!" Ucap sang nenek.
"Iya Nek," jawab Agra.
***
Setelah beberapa minggu berlalu akhirnya Maxim membawa informasi mengenai kejadian waktu itu, tidak ada kejanggalan, itu hanya kecerobohan salah satu pekerja dan tak mungkin Agra menyalahkan karyawan itu, dia tahu semua karyawannya bekerja disana untuk menyambung hidup mana tega dia membebankan kerugian sebesar itu pada karyawannya.
Masalah itu memang berulang kali diselidiki Maxim membuat kasus itu berlarut-larut, namun sekian kali memeriksa hasilnya tetap sama, tidak ada hal janggal.
"Hmm, begitu ya? Ya sudah tutup saja kasus ini, dan kedepannya kita perketat keamanan!" Ucap Agra.
__ADS_1
"Baik Bos," jawab Maxim berlalu pergi.
Ceklek
Tiba-tiba Bintang datang menemui suaminya di kantor, dia meninggalkan Langit yang sudah tumbuh besar, Langit yang kini berusia 6 bulan sudah mulai makan dan Bintang bisa meninggalkannya bersama nenek Gina.
"Sayang, kamu kok ada disini?" Tanya Agra.
"Aku membawakanmu makan siang, dan aku ingin menjadi sekretaris mu lagi, hehe…," jawab Bintang sambil mendekati suaminya, lalu membuka bekal makanan yang dia bawa.
"Apa, sekretaris? Bagaimana dengan Langit?" Agra tak percaya dengan keputusan istrinya yang tiba-tiba itu.
"Aku bisa mempercayakan Langit pada nenek, ibumu juga ada di Mansion menjaganya, kamu tidak usah khawatir, lebih baik aku membantumu mencari pengkhianat disini," jawab Bintang santai.
"Apa, pengkhianat, siapa? Bagaimana caranya?" Tanya Agra.
"Tentu saja dengan kekuatanku," jawab Bintang sambil mengedipkan matanya sebelah.
Tanpa bertanya hal lain lagi Agra pun mulai makan, seleranya tergugah melihat makanan yang dibuat istrinya itu. Mereka makan berdua, mereka memang baru menikmati makan berdua seperti ini lagi setelah kelahiran Langit, mereka memanfaatkan waktu bersama.
"Oh iya sudah, tapi tidak ada kejanggalan, itu hanya kecerobohan yang tak disengaja," jawab Agra.
"Hmm, apa aku boleh mengintrogasi orang itu?" Tanya Bintang.
Agra yang merasa aneh dengan keinginan istrinya itu, dia menatap mata istrinya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya?" Tanya Bintang lagi, dia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.
"Hmmm, boleh…, sayang ini dikantor, jangan menggodaku seperti itu..!" Keluh Agra.
"Hahaha, baiklah… panggil orang itu sekarang juga kemari sayang..!" Pinta Bintang.
"Sekarang?" Tanya Agra.
Bintang pun mengangguk, membuat Agra dengan segera menghubungi Maxim dan memerintahkannya membawa orang itu.
__ADS_1
Setelah lama menunggu orang itu pun datang, dari wajahnya dia terlihat seperti ketakutan karena bertemu Agra secara langsung.
Astaga, jangan sampai aku salah bicara, bisa-bisa keluargaku terancam, Pikir pria itu yang tentu saja dapat didengar oleh Bintang.
Bintang hanya tersenyum kecil, sementara Agra memperhatikan istrinya yang sedikit aneh menurutnya.
"Duduklah Pak..!, Maxim kau boleh keluar..!" Ucap Agra.
Kini Bintanglah yang mengambil alih, "Pak, perkenalkan saya sekretaris Pak Agra, saya akan menanyakan beberapa pertanyaan saja, harap bapak tidak tegang ya..!" Ucap Bintang sambil tersenyum.
Oh cuma sekretaris, kupikir dia nyonya, batin orang itu.
"Pertama-tama siapa nama anda Pak, umur, dan berapa lama anda bekerja diperusahaan pak Agra?" Tanya Bintang untuk yang pertama.
"Nama saya Anton, umur 45 tahun dan saya sudah bekerja selama 15 tahun di sana," jawab Anton.
"Oh, berarti anda sudah berpengalaman, sudah paham betul ya cara kerja di sana, lalu kenapa kejadian kemarin bisa terjadi?" Tanya Bintang lagi.
"Itu karena ada mesin yang rusak namun memang masih menyala, seharusnya langsung diperbaiki namun sepertinya dibiarkan begitu saja karena yang bertugas memperbaiki mesin masih sibuk dengan mesin lain sehingga terjadi ledakan yang tiba-tiba, itu kesalahan saya karena tidak mematikan mesin itu sebelumnya ," jawab Anton dengan lancar dan biasa saja, Agra berpikir jika dia memang berkata jujur.
"Hmm, anda lupa atau sengaja?" Tanya Bintang.
Pertanyaan itu sontak membuat Anton kaget, dia tentu saja mengatakan bahwa dia benar-benar lupa dan dia rela jika harus dipecat.
Jika aku dipecat pun aku tak akan rugi, karena Pak Farhan memberikanku upah yang banyak, cukup untuk menghidupi keluargaku, tapi lebih beruntung jika aku masih boleh dipekerjakan disana dan mendapatkan tugas baru dari Pak Farhan, batin Anton.
"Oh jadi Pak Farhan ya?" Tanya Bintang yang tiba-tiba itu seketika membuat wajah Anton memucat.
"Fa-Farhan, ma-maksud anda siapa?" Tanya Anton terbata-bata.
"Hahaha, bukan siapa-siapa, itu hanya nama orang yang aku kenal, kenapa kamu begitu kaget sekali? Kamu boleh pulang, aku sudah selesai dengan pertanyaan ku," ucap Bintang.
Namun Anton masih terpaku, dia diam tak beranjak dari tempat duduknya, kini dia merasa gelisah saat nama itu disebut oleh Bintang.
Bersambung ….
__ADS_1