Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Pesta


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Agra tidak bisa menemukan keberadaan Farhan, sepertinya dia bersembunyi untuk beberapa waktu.


Dikantornya pun selalu tidak ada, karyawannya bilang kalau bos mereka sedang pergi keluar negeri.


Kini Agra fokus pada kesembuhan ibunya dan juga ayahnya, dia bahkan membawa pekerjaannya ke Rumah Sakit agar bisa sekalian menjaga orang tuanya. Dikala dia ada di Mansion, dia akan diam di ruang kerjanya dan sesekali bermain denga Langit dan Bintang, Agra begitu dibuat sibuk akhir-akhir ini.


***


Sebulan akhirnya berlalu, "Sayang, aku akan ke Mansion ayah, apa kamu mau ikut?" Tanya Agra pada Bintang, ayah dan ibu Agra sudah sembuh dan sudah pulang ke Mansion mereka.


"Tentu saja, aku akan membawa langit bersamanya," ucap Bintang, dia berlalu pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.


"Cepat sayang..! kita pasti terlambat, kita kan akan merayakan hari pernikahan orang tuaku," protes Agra.


"Aku tahu sayang, aku bisa menggunakan kekuatanku agar cepat sampai disana," jawab Bintang yang masih berdandan.


Agra pun menunggu istrinya lagi, memberi waktu bintang sepuluh menit lagi, sementara langit sudah siap dan rapih, dia digendong oleh Fitri sambil melihat sang ibu yang berdandan didepan cermin.


Agra mulai cemas, karena dia terus saja ditelpon oleh sang nenek, acara akan dimulai sementara Agra masih di Mansionnya.


"Iya Nek, sebentar lagi kita sampai," jawab Agra dengan berbohong.


"Nenek tunggu 5 menit lagi, semua tamu sudah datang, cuma kamu yang belum datang," ucap nenek Gina dengan rasa kesal.


Tut…


Sambungan telepon pun terputus.


Agra menghampiri Bintang lagi dikamar, "Sayang, nenek bilang 5 menit lagi kita harus ada disana, cepatlah..!," ucap Agra.

__ADS_1


"Iya, bagiamana penampilanku?" Tanya Bintang.


"Cantik sayang, kamu udah cantik, tanpa merias wajahmu pun kamu tetap cantik," jawab Agra.


"Ck, bilang saja kalau kamu tidak mau menungguku merias wajahku," keluh Bintang.


Bintang pung mengambil tasnya, dia menyeret Agra keluar dari kamar, Langit kini sudah digendong sang ayah, saat mereka sampai di halaman depan, dimana sudah terparkir mobil milik Agra yang sudah siap berangkat, Bintang menahan lengan Agra.


"Sayang, sebaiknya kita berteleportasi saja, bagaimana?" Tanya Bintang.


"Apa kamu yakin? Energimu penuh? kita tidak akan tersesat kan?" Agra bertanya dengan nada khawatir, dia tidak mau kalau teleportasi itu malah membuatnya semakin lama sampai.


"Hahaha, aku yakin kita akan sampai ke tujuan, aku hanya merasa sudah lama tidak menggunakan kekuatanku, aku rindu," jawab Bintang.


Agra punemgangguk setuju.


Tring…


Mereka bertiga menghilang, namun Fitri yang tidak sengaja ingin memberikan mainan kesayangan Langit yang tertinggal, dia begitu terkejut, dia langsung pingsan ditempat.


***


Agra dan Bintang berhasil mendarat di belakang Mansion milik Darmaja, namun selangkah saja mereka mundur, mereka akan jatuh ke kolam renang besar itu.


"Astaga, hati-hati sayang…!" Agra menahan punggung Bintang agar dia tidak oleng dan jatuh ke kolam.


"Kenapa aku mendarat disini? Aku tidak memikirkan kolam ini, justru aku berharap muncul dari samping Mansion saja, agar tidak ada yang melihat dan itu tempat yang cukup aman," protes Bintang.


"Hmm, lain kali tidak usah menggunakan kekuatanmu, lagipula ini bukan sesuatu yang genting, kita masih bisa naik mobil, dan mereka pasti menunggu kedatangan kita, aku kan anak tunggal mereka, aku spesial," jawab Agra.

__ADS_1


Bintang hanya tersenyum, lalu dia dengan segera menarik tangan suaminya itu. Dia tidak sabar untuk merayakan hari pernikahan mertuanya, dia juga ingin merasakan bagaimana itu pesta dan berbaur dengan banyak manusia.


Menurutnya pesta ini menyenangkan, karena tidak banyak yang hadir juga, hanya orang-orang yang dekat dengan Lolita dan Darmaja saja yang datang.


Sepertinya Karin tidak datang, meski dia sahabat Lolita, tapi dia sepertinya mempunyai rasa malu untuk hadir, padahal Lolita mengundang sahabatnya itu.


Saat Langit digendong Bintang, anat itu meraih semua benda, dia bahkan tak sengaja membuat gelas minuman milik Bintang jatuh hampir mengenai kue perayaan pernikahan itu.


"Ya ampun…," ucap Bintang kaget, seketika dia menghentikan waktu, dia tidak mau mengacaukan acara ini.


Untunglah masih bisa aku cegah, batin Bintang.


Dia melihat Langit bergerak seperti biasanya, Agra juga berjalan menghampiri istrinya itu, "Ada apa? Sampai menghentikan waktu segala, wah ternyata Langit juga tidak terpengaruh dengan mantramu, dia memang anakku," ucap Agra sambil mencubit pipi Langit.


"Hmm, tolong kamu pegang dulu Langit, aku akan mengambil gelas itu dan memindahkannya," jawab Bintang.


"Baiklah," jawab Agra lalu dengan segera menggendong balita itu.


Namun ada yang aneh, Agra melihat salah satu pelayan disudut ruangan yang sedang memasukan sesuatu pada minuman yang dia bawa.


Saat Agra melihat Bintang sudah memindahkan gelas itu, "Sayang, kemarilah..!" Agra mencoba memanggil istrinya, memperlihatkan kejanggalan itu, Bintang dan Agra pun menandai si pelayan tadi, mereka ingin tahu sebenarnya untuk siapa minuman itu.


Bintang mengembalikan waktu agar bisa berjalan sebagaimana mestinya, dia memperhatikan gerak gerik si pelayan.


Hingga minuman itu akhirnya berpindah, dan kini berada di tangan nenek Gina.


"Nenek….," Teriak Bintang panik saat melihat gelas itu kini ada ditangan sang nenek.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2