
Siang itu mereka berdua berniat pergi ke taman kota, taman yang luas yang sering didatangi banyak orang, namun karena memang hari masih terik, mereka memilih duduk dibawah pohon sambil menikmati minuman dingin.
"Lihatlah masih panas, nanti sore saja kita kembali ke sini..!" Ucap Agra pada Bintang.
Bintang tak menjawab, dia malah menunduk sedih, Agra yang tak tega, dia pun berusaha membujuk istrinya lagi, "kita tunggu sebentar lagi ya, sampai mataharinya tertutup awan agar bisa bermain layang-layang," Agra seperti sedang membujuk anak kecil.
Bintang masih diam, dia malah memajukan bibirnya, terlihat jika wanita itu sedang tidak senang.
Oh Astaga, kenapa menemani wanita hamil itu sangat merepotkan, keluh Agra dalam hati. Dia memang libur kerja hari ini dan dia merasa jika dia tidak bisa menikmati liburannya sekarang.
Apa ini liburan? Liburan bersama istri yang sebentar-sebentar ngambek? Ya… anggap saja ini liburan, batin Agra pasrah.
"Aku akan menyuruh Ben membelikan ice cream coklat yang banyak, kita akan makan ice cream itu disini, sambil menunggu orang ramai bermain layangan, bagaimana?" Bujuk Agra lagi, dia tidak boleh menyerah.
Bintang mengangguk kecil dan mulai tersenyum, itu membuat hati Agra sedikit lega.
***
Mereka sudah makan banyak cemilan hingga waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, mulai ada yang bermain layang-layang, Bintang begitu kegirangan dia berlari ke tengah taman.
Agra menyusul sang istri dan menyuruh Ben membelikan layang-layang besar. Agra yang tak bisa menerbangkan benda itu, dia menyuruh Ben dan Boy menerbangkannya.
Bodyguard kekar itu terlihat tidak menyeramkan sekarang, ketika yang satu memegang layangan dan yang satunya lagi memegang benang layangan, membuat semua anak kecil memperhatikan mereka karena merasa aneh.
"Hahaha, mereka lucu sekali…," Bintang tertawa melihat dua bodyguardnya, Agra yang senang melihat tawa sang istri membuatnya menyuruh Ben untuk pura-pura jatuh lagi.
"Cepat lakukan lagi!" Perintah Agra.
"Apanya yang diulang bos?" Tanya Ben.
__ADS_1
"Terjatuh lagi, agar istriku tertawa..!" Jawab Agra.
"Apa? Baik Bos," jawab Ben, dia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan sang atasan, meski dia merasa enggan karena itu bukan pekerjaannya, bukankah tugasnya melindungi, bukan membuat orang tertawa, menghibur orang seperti layaknya pekerjaan badut dan pelawak.
Ben menjatuhkan dirinya sendiri dan berhasil membuat Bintang tertawa untuk kedua kalinya, layang-layangan pun bisa diterbangkan, angin di sore itu sangat mendukung mereka.
Bintang memegang benang layangan setelah layangannya berhasil naik ke atas. Dia meminta suaminya untuk memotret dirinya, mereka berada di taman sampai hari mulai gelap karena Bintang sangat betah diam disana.
***
Saat malam tiba, Bintang tiba-tiba bangun, dia membangunkan Agra, "sayang… aku mau makan nasi goreng buatanmu, aku lapar..," keluh Bintang sambil menggoyang-goyangkan badan suaminya.
Agra bangun dalam keadaan masih mengantuk, dia memaksakan dirinya pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya agar terasa segar. Mulai memasak nasi goreng demi sang istri dan calon bayinya, dia memakai celemek warna pink milik Bintang, tampak lucu namun itu sangat romantis bagi Bintang.
"Sayang, aku ingin sedikit pedas..!" Ucap Bintang.
"Oke sayang…," jawab Agra.
Pagi ini mereka mereka bangun terlambat, apalagi Agra yang masih mengantuk karena semalam membuatkan makanan dan menemani istrinya makan. Dia mengambil cuti dan menyerahkan semua pekerjaan pada Maxim.
Terdengar ponsel Agra berbunyi berkali-kali, "siapa sih? Mengganggu saja," keluh Agra lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Hmm, siapa?" Tanya Agra yang masih menutup matanya namun ponsel itu menempel di telinganya.
"Ga, kamu ada didalam kan? Aku menunggumu dari tadi, bahkan membunyikan bel berkali-kali, bukannya hari ini istrimu akan melakukan pemeriksaan kehamilan? Kamu malah membiarkan aku di depan pintu, keterlaluan," keluh Devan yang merasa kesal.
Agra langsung menutup ponselnya, dia mendadak segar dan tidak mengantuk lagi, dia begitu senang, "Sayang bangunlah, kamu bersiap-siaplah..! Devan sudah ada didepan."
Bintang mengangguk pelan, dia bergegas pergi ke kamar mandi, sementara Agra berjalan keluar untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Ceklek
Agra dapat melihat raut wajah temannya yang sudah tidak bersahabat itu, sepertinya memang Devan telah menunggu lama diluar.
Devan masuk dan duduk, dia harus menunggu lagi karena Bintang masih mandi. Oh astaga biasanya pasien menunggu dokternya, ini malah terbalik, pikir Devan.
USG pun dilakukan, alat yang dibeli Agra khusus untuk memantau keadaan bayinya.
"Bagaimana, apa dia laki-laki?" Tanya Agra yang melihat monitor.
"Diamlah! Kau menggangguku bekerja," keluh Devan.
"Aku kan hanya bertanya, mana anakku? Itu hanya titik, atau bulatan saja?" Tanya Agra yang mulai cerewet.
Devan menghela nafas pelan, dia harus sabar menghadapi calon ayah baru ini.
"Kehamilan Bintang baru berusia 18 Minggu, masih belum jelas jenis kelaminnya, tapi bayinya sehat, bulatan bagaimana, itu tangannya sudah ada, kakinya juga" ucap Devan sambil memperhatikan monitor itu.
Syukurlah tidak ada yang aneh dengan kehamilanku, batin Bintang.
"Mana? aku tidak melihat tanganny atau pun kakinya, aku kira kamu dokter yang terampil, seharusnya kamu tahu jenis kelaminnya hanya dengan sekali lihat saja, percuma aku membayarmu mahal," protes Agra.
"Aku bukan paranormal," jawab Devan tak kalah sinisnya.
"Sudahlah, mau lelaki atau perempuan itu tidak penting, yang penting dia sehat," ucap Bintang yang berusaha membuat suaminya itu berhenti memprotes dan mengganggu pemeriksaan.
***
Keesokan harinya Agra masuk kerja ditemani Bintang dengan perutnya yang mulai membesar. Dia menempel pada suaminya dengan dalih memerlukan banyak energi, padahal dia tidak suka jika Meira mencoba menggoda sang suami dia semakin cemburuan.
__ADS_1
Meira memperhatikan Bintang dan Agra dari jauh, dia mulai tersenyum jahat saat melihat Bintang mulai meminum minumannya.
Bersambung…