
Mereka berdua akhirnya pergi, menitipkan Langit pada Fitri, Agra membawa mobil dengan sangat cepat.
"Sayang, hati-hati..!" Ucap Bintang mengingatkan sang suami.
"Iya, aku hanya tak habis pikir padanya, inikan masalah nyawa, apa dia menganggap nyawa itu mainan?" Protes Agra.
"Iya aku tahu itu, tapi kamu tidak boleh membahayakan dirimu juga, apa kamu mau terjadi kecelakaan dan Langit menjadi yatim piatu nantinya?" Jawab Bintang kesal karena Agra tidak mampu mengendalikan emosinya saat ini, dia juga tidak mau kalau harus mengalami mabuk kendaraan karena Agra untuk kedua kalinya.
Agra melajukan mobilnya sedikit lebih lambat, dia sedikit lebih tenang sekarang.
Aku akan membuat perhitungan padanya, pikir Agra.
"Hmm, iya… apa kamu mau memakai kekerasan?" Tanya Bintang yang mendengar isi pikiran Agra.
"Lalu aku harus bagaimana? Dia selalu lolos dari penjara, dan dia sama sekali tidak berubah, apa aku harus diam saja melihat dia menyakiti keluargaku?" Tanya Agra.
Bintang diam, dia bingung harus bicara apa, disatu sisi memang Farhan keterlaluan namun yang dia khawatirkan adalah Agra, dia takut suaminya hilang kendali dan malah suaminya lah yang mendapatkan masalah apalagi jika harus berurusan dengan hukum.
***
Mereka akhirnya sampai di sebuah Rumah yang megah bercat putih dan gold.
Mereka dihadang oleh beberapa satpam berbadan kekar, namun setelah Agra mengatakan nama Farhan, mereka dibawa sampai ke pintu Rumah itu.
"Tunggu disini sebentar ya Pak, biar saya panggilkan nyonya dulu..!" Ucap sang satpam.
Agra mengangguk, dia tidak boleh bersikap seenaknya untuk bisa menemui laki-laki itu, dia mencoba menahan emosinya sekuat tenaga.
Ceklek
"Agra, Bintang, aku pikir siapa, ada apa kalian mencari suamiku?" Tanya Meira.
"Kami ada perlu dengannya, apa dia ada?" Tanya Bintang.
"Emm, dia sedang tidak ada dirumah," jawab Meira.
Namun Agra tidak percaya, dia yakin kalau Meira berbohong, dia yakin kalau istri Farhan ini menyembunyikan keberadaan Farhan.
__ADS_1
"Aku tidak bohong, kalian cari saja..! kalian boleh menggeledah Rumah ini," ucap Meira.
Agra langsung masuk, dia berteriak terus menerus, dia mengecek beberapa kamar dan tiadak ada sosok laki-laki yang dia cari.
"Aku berkata jujur, dia tidak ada disini, sepulang kerja biasanya dia akan pulang ke Mansionnya, dia akan kesini hanya sesekali saja," jawab Meira.
"Apa? Kalian tinggal di rumah terpisah?" Tanya Bintang.
"Hmm, iya… dia lebih sering berada disana," Meira.
"Aku tidak percaya, mana mungkin suami istri begitu," ucap Agra memandang Meira.
"Untuk apa juga aku berbohong, kalian tunggu saja disini sampai malam kalau kalian mau..!," ucap Meira berlalu pergi, namun Bintang melihat luka lebam dibetis wanita itu.
Apa pernikahan dia sekacau itu? Pikir Bintang.
"Ga, sebaiknya kita pulang, aku yakin dia tidak berbohong," jawab Bintang karena dia tidak mendengar isi pikiran Meira yang mencurigakan.
"Hmm, kalau begitu kita minta alamat Mansionnya saja," ucap Agra, dia pergi ke arah Meira tadi pergi, ternyata dia ada ditaman belakang, duduk sendirian, Bintang pun mengikuti Agra dari arah belakang.
"Biar aku saja mengajaknya bicara, kamu tunggu saja didalam, aku pasti menemukan kejujuran," ucap Bintang pelan sambil menahan lengan Agra.
Bintang berjalan mendekat, dia duduk disebelah wanita itu, wanita yang pernah berniat menggugurkan kandungannya.
"Hmmm, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya Bintang.
"Kenapa aku tidak bahagia? Kamu terlalu so tahu," jawab Meira sinis.
Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya, aku harus bisa menyembunyikan penderitaanku, karena aku tidak mau kalau dia sampai menertawakan hidupku saat ini, batin Meira.
"Hmm, aku bukannya so tahu, aku hanya menebak saja, tapi jika itu salah, ya.. syukurlah, tapi jika itu benar, bukankah kamu bisa melawan? Kamu bisa mencari kebahagiaanmu sendiri dengan orang yang tepat," jawab Bintang.
"Jangan so peduli padaku, kamu pasti bahagia kalau aku menderita, iya kan?" Tanya Meira.
"Sesama wanita mana mungkin aku begitu, oh iya apa kamu tahu alamat Mansion suamimu?" Tanya Bintang tak mau menyerah.
"Tidak, aku tidak pernah dibawa kesana, hanya mendengarnya saja, dia selalu bilang akan pulang ke Mansionnya dan tidak menginap disini," jawab Meira.
__ADS_1
Bintang dapat melihat kejujuran wanita itu, dia akhirnya pamit pulang, memaksa Agra untuk pergi darisana, dia juga mengkhawatirkan Langit.
Agra masih kesal, dia belum puas sebelum menemukan Farhan dan memukul kedua pipinya. Sepanjang jalan lelaki itu mengeluh dan marah-marah tidak jelas namun Bintang mengabaikannya.
Percuma saja aku menyuruhnya diam, karena dia akan memaki Farhan didalam hatinya dan aku masih bisa mendengarnya, pikir Bintang.
***
Agra mengantar Bintang sampai ke Mansion, lalu dia pergi menuju Rumah Sakit.
Agra berniat melihat keadaan ayah dan ibunya, terlihat Darmaja sedang duduk disamping istrinya, sementara nenek Gina tidak ada karena dia belum kembali.
"Ayah, ayah sudah makan? Sudah minum obat?" Tanya Agra.
"Sudah Ga, kamu mendadak cerewet seperti ibumu, hehe…," ucap Darmaja.
"Aku hanya mengingatkan ayah saja, bagaimana dengan Mamah, sudah bisa diajak bicara?" Tanya Agra.
"Hmm, sudah… tapi ibumu baru saja tidur, dia sempat mengeluh badannya sakit semua, ayah jadi rindu dengan omelan ibumu, hehe…," ucap Darmaja sambil tersenyum.
Agra merasa baru kali ini dia bisa mendengar ayahnya berkata begitu, biasanya ayah dan ibunya lebih sering berdebat bahkan saat dimeja makan.
***
Agra mencoba menelepon Maxim dan menyuruhnya untuk mencari alamat Mansion Farhan, namun setelah satu jam menunggu kabar, ternyata Maxim tidak dapat menemukannya.
"Yang benar? Coba kamu cari lagi lebih teliti!" Agra
"Iya Bos, tapi sepertinya data ini sangat dirahasiakan sehingga kita kesulitan mencarinya." Maxim
"Aku gak mau tahu, cari lagi sampai ketemu!" Agra
Tut
Panggilan pun terputus, Agra melemparkan ponselnya ke arah sofa, dia benar-benar dibuat marah oleh orang yang bernama Farhan
Dia mencoba bermain-main lagi denganku, pikir Agra.
__ADS_1
Bersambung ...