
Salah satu pelayan masuk ke dalam kamar, setelah mendengar majikannya memanggil nama cucunya, pelayan itu kembali ke luar kamar dan memanggil Agra.
Agra berlari karena khawatir, "Nenek, ada apa Nek? loh... Bintang mana?" Tanya Agra sambil melihat sekeliling kamar yang luas itu.
"Bintang, Bintang menghilang Ga, apa dia benar bukan manusia biasa?" Tanya nenek Gina sambil menggoncang kan tubuh cucunya itu.
"Hmm, apa dia udah ceritain semuanya pada Nenek?" Tanya Agra.
Nenek Gina mengangguk, dia diam karena masih tidak percaya dengan semua ini, namun meski dia menolak untuk percaya tapi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Bintang hilang dari hadapannya.
Agra kini duduk ditepi ranjang, dia berusaha lebih mendekat pada sang nenek, "Nek, karena Nenek sekarang sudah tahu yang sebenarnya, Nenek tidak usah mengkhawatirkan tentang halusinasi, karena itu memang bukan karena Nenek yang sedang sakit, Nenek melihat yang sebenarnya, dan Agra harap Nenek bisa menerima Bintang seperti aku menerimanya, dia baik Nek."
"Asalnya dari mana? Kenapa dia tidak kembali ke dunianya?" Tanya Nenek Gina.
"Justru itu, dia terdampar di bumi, dia tidak bisa kembali dan dia sangat bergantung padaku Nek," jawab Agra meyakinkan sang nenek.
"Langit, bagaimana dengan cicitku?" Tanya nenek khawatir.
"Hmm, kita lihat saja dulu perkembangannya ya Nek, aku berharap dia sama seperti kita, karena Bintang saja merasa kesulitan hidup di Bumi, dia sering sakit Nek," jawab Agra sambil menunduk.
"Benarkah? Kenapa bisa begitu, bukankah dia sehat dan mempunyai kekuatan?" Tanya nenek Gina merasa heran.
Agra pun menceritakan kesehatan Bintang yang menurun bila jauh dengannya, tentang energi yang selalu dibutuhkan Bintang, nenek Gina pun mulai mengerti dia tiba-tiba teringat Langit.
Mereka menemui Langit di kamar sebelah, ternyata Langit sudah bangun dan mencari keberadaan ibunya.
Agra mencoba menghubungi ponsel Bintang namun tidak diangkat, dia menghubungi salah satu pelayan dan mengatakan kalau Bintang memang sudah ada di Mansion, Agra pun pamit pulang dengan membawa Langit, dia berpesan agar sang nenek menjaga kesehatannya dan merahasiakan tentang Bintang yang seorang alien.
Nenek Gina mengangguk kecil, dia masih butuh beberapa hari beristirahat untuk memikirkan semua yang dialami, dia belum bisa bertemu Bintang saat ini.
***
Sebulan berlalu, akhirnya nenek Gina mulai mau berinteraksi lagi dengan Bintang. Dia datang ke Mansion untuk menjenguk Langit dan dia bersikap seperti biasa lagi pada Bintang.
Tiba-tiba Nenek Gina mendapatkan telepon dari seseorang.
"Hallo, siapa?" Nenek Gina
"Apa kamu tidak ingat denganku?" Hermawan
__ADS_1
"Ya, aku mengenali suaramu, berhentilah mengganggu kehidupanku!" Nenek Gina.
"Haha, aku masih ingin bermain-main denganmu ibu tiriku, hmm… aku dengar kau mencariku, apa kau ingin bertemu denganku, apa kau rindu?" Hermawan
"Ya, aku ingin memukulmu sebagai ibu tirimu, karena kamu anak yang nakal, ck.." nenek Gina
"Hahaha, sejak kapan kamu menganggapku anakmu? Kamu justru yang membunuh ibuku, wanita kejam," Hermawan
"Apa kau lupa, bahwa kalianlah yang seharusnya tidak hadir di dalam kehidupanku, kalian yang merusak rumah tanggaku, dan ibumu mati karena karmanya, bukan karena aku, itu pantas untuknya," nenek Gina
"Berisik, jangan menyalahkan ibuku!" Hermawan
"Memang kalian yang salah dan aku korbannya, kenapa kalian malah bersikap seolah sebagai korban? Dasar." Nenek Gina
"Kalau kau mau bertemu denganku, datanglah ke alamat yang aku kirimkan, kalau berani datanglah sendiri tanpa anak atau cucumu!" Hermawan
Tut …
Panggilan pun terputus, nenek Gina kini diam, dia bingung apakah harus menemui Hermawan dan membuatnya sadar kalau dendam yang selama ini dia tunjukan padanya itu kesalahan besar, Hermawan salah menilainya.
"Siapa Nek?" Tanya Bintang.
"Nek, kalau itu berbahaya sebaiknya nenek jangan pergi kesana, biarkan saja dia..!" Ucap Bintang, ya sebenarnya dia mendengar semua percakapan itu karena kemampuan mendengarnya itu, namun Bintang hanya ingin tahu nenek Gina menjawabnya dengan jujur atau tidak.
"Hmmm, apa ini kekuatanmu yang lain? Dasar penguping," tanya nenek Gina sambil tersenyum kecil.
"Hehe, itu bermanfaat Nek, nenek jangan kesana tanpa Agra, kita bicarakan dulu sama ayahnya Langit ya Nek?" Bujuk Bintang.
"Dia tidak akan mengizinkanku, sebaiknya nenek pergi sekarang, kalau kamu khawatir, kamu bisa ikut dengan Nenek..!" Ucap Nenek Gina , dia bergegas pergi ke kamar untuk mengambil barang yang dia butuhkan.
"Tapi Nek…, " teriak Bintang.
***
Siang itu mereka pun pergi ke alamat yang diberikan Hermawan, tentu saja mereka pergi tanpa Langit, karena itu sangat berbahaya.
Sesampainya disana, Bintang mulai waspada, dia tidak mau jika sang nenek kenapa-kenapa.
Mereka masuk ke sebuah ruangan, Bintang tidak khawatir karena dia bisa menghilang jika itu sebuah jebakan, terdengar suara pintu tertutup yang membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Astaga…," ucap Bintang.
"Keluar kau, beraninya main petak umpet!" Ucap nenek Gina.
"Nyalimu besar juga ya? Kenapa kamu malah membawa perempuan itu, oh iya dia istri dari cucu kesayanganmu bukan? Hahaha… dua wanita bodoh yang datang untuk mati," ucap Hermawan.
"Mati? Hahaha… sebaiknya kau akhiri saja dendam yang tak beralasan ini!" Perintah nenek Gina.
"Tak beralasan, Jelas-jelas kamulah yang membuat hidup ibuku menderita dan bahkan aku dan anakku harus berjuang hidup," ucap Hermawan.
Hermawan mengeluarkan pisau kecil, dia berusaha menyakiti nenek Gina, berusaha menyayat wajah itu, namun ditahan oleh Bintang.
"Jangan sentuh dia!" Ucap Bintang dengan berani.
"Hahaha, dia itu wanita jahat tidak pantas mendapatkan kasih sayang darimu." Ucap Hermawan pada Bintang.
Nenek Gina melemparkan semua berkas yang dia pegang, "bacalah semuanya agar kau sadar!"
Hermawan membaca berkas itu satu persatu, dia mulai menangis, namun beberapa menit kemudian dia menggelengkan kepalanya, dia menolak untuk percaya.
"Ini pasti dokumen palsu, mana mungkin ibuku seperti itu," ucap Hermawan yang marah.
Hermawan berusaha menyerang nenek Gina dan Bintang, namun Bintang menggenggam tangan sang nenek, membuat mereka menghilang seketika, mereka berpindah dari sisi sebelah sini ke sisi sebelah sana, terus seperti itu membuat Hermawan kewalahan.
"Kenapa bisa begini? Kenapa kalian menghilang?" Hermawan bertanya-tanya.
"Kami tidak menghilang, mungkin penglihatanmu memburuk," jawab Bintang.
"Tidak, kalian menghilang, kalian bukan manusia, aku yakin kalian bukan manusia, kalian mempermainkan ku hah?" Teriak Hermawan.
Bintang terus saja membuat Hermawan kebingungan, hingga pada akhirnya mereka benar-benar menghilang menuju Mansion.
Mereka berhasil mendarat di kamar, namun Bintang yang telah memakai kekuatannya terlalu banyak, dia kini merasa lemas, dan dia pingsan dihadapan sang nenek.
"Bintang…., Bintang bangun..!" Nenek Gina menepuk-nepuk pipi Bintang, dia panik, dia segera menelpon Agra.
Jangan sampai Bintang kenapa-kenapa, ini semua kesalahku, pikir nenek Gina.
Bersambung…
__ADS_1