Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Syarat


__ADS_3

Devan kini sudah sampai di Apartemen Agra dan Bintang, dia yang panik karena mendengar Bintang berdarah, dia bergegas masuk ke kamar diantar sang asisten nenek Gina.


Tok


Tok


Tok


"Masuk…!" Agra


Ceklek


Devan berlari menghampiri ranjang, dia melihat Bintang yang bahkan sudah baik-baik saja, sedang mengajak main bayinya meski bayi itu belum bisa melihat dengan sempurna.


"Anak manis, anak baik, kamu kenapa belum tidur?" Tanya Bintang pada bayinya.


"Bukannya tadi kamu bilang Bintang pendarahan Ga?" Tanya Devan.


"Hmm, aku cuma bilang dia berdarah bukan pendarahan," jawab Agra tanpa rasa bersalah telah membuat Devan khawatir.


"Jadi, apanya yang berdarah?" Tanya Devan.


"Tadi siku tangan Bintang terkena pecahan gelas jadi berdarah, istriku juga sempat pingsan karena dia pikir darah itu dari jalan lahir, wajarkan jika aku juga ikut panik?" Ucap Agra menjelaskan.


"Oh, jadi lukanya sudah diobati?" Tanya Devan.


"Sudah, dengan penuh cinta," jawab Agra sambil tersenyum.


"Hahaha….," Bintang tiba-tiba tertawa.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Agra.


"Celana Devan terbalik, apa kamu memakai celana seperti itu sejak dari rumah? Lucu sekali, hehe…," ucap Bintang sambil menunjuk ke arah celana Devan yang memang terbalik, celana yang seharusnya bagian dalam malah jadi dibagian luar, bahkan saku celananya sangat terlihat jelas sekarang menonjol keluar.


"Astaga, ini semua gara-gara kamu Ga," ucap Devan kesal, dia berlari ke kamar mandi untuk membenarkan celananya.

__ADS_1


"Hahaha, kenapa juga aku yang disalahkan, memangnya aku yang memakaikan dia celana itu?" Agra ikut tertawa melihat keadaan temannya itu.


***


Flashback


Sebenarnya setelah Bintang pingsan, Agra menyadari jika itu hanya luka di siku sang istri, dia berusaha mengobatinya sambil berusaha membuat istrinya sadar, nenek Gina juga sama, ditangani beberapa asistennya yang dibawa dari Mansion.


Saat nenek Gina sadar lebih dulu, dia langsung berteriak, "Hantu… ada hantu di kamar ini."


"Tidak ada hantu Nek..! Nenek hanya salah lihat, mungkin nenek kelelahan," ucap Agra.


"Ta-tapi, ta-tadi nenek lihat ada gelas terbang Ga," ucap Nenek Gina menjelaskan.


Gelas terbang? Sepertinya itu ulah istriku, batin Agra.


"Hahaha … mana ada Nek, nenek benar-benar kurang istirahat, sebaiknya nenek minum vitamin, lalu istirahatlah dikamar..!" Agra berusaha meyakinkan sang nenek kalau itu hanya halusinasinya saja.


"Sepertinya memang begitu, nenek ke kamar dulu ya Ga," ucap nenek Gina berlalu pergi, dia tidak tahu kalau Bintang juga pingsan.


Setelah kepergian sang nenek, Bintang sadar dan dia juga sama merasa histeris karena darah yang dia lihat, "Agra dimana aku? Apa aku di Rumah Sakit sekarang? Aku melihat darah tadi, aku tidak apa-apa kan?" Tanya Bintang.


"Kamu gak apa-apa sayang, sikumu tadi terkena pecahan gelas, aku sudah mengobatinya, lihatlah..!" Ucap Agra sambil menunjukan perban sisiku sang istri, itu sangat membuat Bintang lega.


Flashback off


***


Devan yang terlanjur datang padahal hari ini dia sengaja mengambil cuti, dia sedang bersantai di Rumah sampai satu telepon masuk dan berhasil membuatnya panik dan pergi dengan celana terbalik.


"Kamu keterlaluan Ga, pantas saja semua orang melihatku, aku kira aku terlalu tampan dan ternyata sangat memalukan sekali," protes Devan.


"Hmm, yang memakai celana siapa?" Tanya Agra.


"Aku." Devan

__ADS_1


"Bukan aku kan yang memasangnya?" Tanya Agra.


"Bukan." Devan


"Jadi yang salah siapa?" Tanya Agra.


"Kamu lah, kan kamu yang membuatku panik, maaf ya, aku tidak akan terjebak pertanyaan itu untuk kesekian kalinya," ucap Devan kesal.


Agra hanya tersenyum kecil mengingat jika Devan memang selalu terjebak dengan pertanyaan singkat seperti itu.


Sebagai permintaan maaf, Agra pun mengajak Devan makan malam bersama mereka. Menikmati suasana hangat sebuah keluarga. Nenek Gina juga sangat perhatian pada Devan, karena memang Nenek sudah mengenal Devan sejak lama.


***


Sementara itu di kediaman Pak Wira, Meira memohon bahkan dia berdiri dengan kedua lututnya.


"Pah aku mohon, tolong aku menyelesaikan masalah ini..!" Ucap Meira.


"Bukannya kamu sudah janji tidak akan berulah lagi?" Tanya sang ayah.


"Iya aku janji, ini yang terakhir kalinya Pah, Mey mohon..!" Ucap Meira yang masih dalam posisi berlutut.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat," jawab Pak Wira.


"Apa Pah? Apa aja, asal Meira tidak dipenjara," Meira seakan mempunyai harapan.


"Kamu mau dijodohkan dengan pilihan Papah, agar bisnis Papah lebih maju, hmm… bagaimana?" Tanya Pak Wira.


"Apa? Apa Papah tega menggunakan aku sebagai alat bisnis? Aku gak mau Pah," Meira emosi, dia kini berdiri dan memberontak.


Belum sempat mereka menyelesaikan perdebatan, terlihat dua polisi yang masuk diantar oleh asisten rumah tangga mereka, dua orang itu langsung menangkap Meira dengan banyak bukti, mereka juga membawa surat penangkapan.


"Papah tolong aku Pah…!" Teriak Meira.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2