
Seminggu kemudian Agra pergi ke luar negri dan dia akan kembali 3 hari kemudian, sementara Bintang yang memang sudah dibelikan mansion oleh suaminya itu dia tinggal disana berdua dengan Langit ditambah beberapa asisten yang membersihkan mansion dan menjaga mansion.
Jumlah pekerja sekitar 20 orang, begitu banyak namun itu sebanding dengan mansion yang besar itu, apalagi masalah penjagaan keamanan itu adalah yang paling penting, Agra menempatkan beberapa bodyguard yang terlatih.
Nenek Gina datang, dia menjadi orang pertama yang peduli pada Bintang dan Langit, dia datang setelah mendapat kabar kalau Agra akan pergi.
"Halo ganteng, Langit sayang ditinggal papah ya? Kasian…, cup, cup, cup," ucap Nenek Gina yang mengajak Langit bermain.
Bintang hanya mendengarkan sambil tersenyum, memang nenek Gina orang yang cerewet dan banyak bicara. Bintang pergi untuk mengambil ponsel dan menanyakan kabar sang suami.
"Ternyata masih belum aktif, apa dia belum sampai?" Gumam Bintang sambil melihat layar ponselnya, dia menunggu dengan rasa gelisah.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya nenek Gina.
"Agra Nek, belum ada kabar dari dia," jawab Bintang.
"Oh, nanti pasti dia akan menghubungimu, kamu makanlah dulu, biar ASI mu banyak..!" ucap Nenek Gina sambil menggendong baby L.
"Ah, iya Nek," jawab Bintang yang memang menahan rasa lapar karena menunggu kabar dari suaminya.
***
Keesokan harinya Bintang masih gelisah, dia belum mendapatkan kabar dari sang suami, Aku harap dia baik-baik saja, pikir Bintang.
Hari ini dia memang tidak mendapatkan energi dari suaminya, tapi karena Bintang tidak dalam keadaan mengandung dia yakin bisa melewati beberapa hari tanpa mendapatkan sentuhan.
Kedatangan Lolita dan Darmaja juga meramaikan suasana mansion, Lolita berencana menginap juga malam ini, namun suasana ramai itu tetap sepi bagi Bintang yang masih belum mendapatkan kepastian tentang keadaan Agra.
Tiba-tiba dia mendapatkan pesan yang membuatnya kaget.
( Maafkan aku sayang baru menghubungimu, kemarin aku benar-benar sibuk dan kelelahan jadi baru sempat menghubungimu. ) Agra
__ADS_1
( Iya gapapa sayang, yang penting kamu baik-baik saja, jangan lupa dengan kesehatanmu sayang, jangan lupa makan dan sempatkan istirahat juga..! ) Bintang
( Iya, kamu tetap saja cerewet, hehe… bagaiman keadaanmu? Apa kamu merasa lemas? ) Agra
( Aku tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir..!, Fokuslah disana dan segeralah pulang karena Langit juga merindukanmu..! ) Bintang
( Iya aku juga merindukan Langit, merindukan wangi bayiku, aku akan mengusahakan agar bisa segera pulang, I Miss you ♥️ ) Agra
( I Miss you too ♥️ ) Bintang
Bintang tersenyum-senyum sendirian sambil membaca pesan itu membuat beberapa orang mulai mendekati Bintang karena penasaran.
"Hmmm, ada yang lagi bahagia nih?" Tanya nenek Gina.
"Ah nenek, ini cuma pesan dari Agra, dia baru menghubungi Bintang dan dia baik-baik saja, hehe…," jawab Bintang, dia langsung menyembunyikan ponselnya, dia tidak mau kalau percakapan itu dilihat sang nenek, terkesan kekanak-kanakan namun ternyata ketika berjauhan mampu membuat Agra juga bersikap romantis lewat pesan.
Wajah bintang merah tersipu malu, membuat Lolita dan nenek Gina tersenyum kecil.
Dia ternyata wanita yang baik, kurasa aku bisa menerimanya mulai sekarang, lagipula berkat dia dan Langit hubunganku dengan Agra semakin baik, begitu pula hubunganku dengan ibu mertuaku, ingin rasanya berterimakasih, namun kurasa itu tak perlu, hmm… batin Lolita.
***
Tok
Tok
Tok
"Masuk aja Nek..!" Jawab Bintang yang mengira jika itu pasti nenek Gina.
Ceklek
__ADS_1
"Astaga, kamu kenapa? Kamu sakit? Nenek panggilkan dokter ya?" Tanya nenek Gina.
"Tidak usah Nek, nanti juga sembuh sendiri," ucap Bintang yang tidak mau jika dirinya diperiksa.
Karena nenek Gina memaksa, akhirnya Bintang menyetujui untuk diperiksa namun dia ingin diperiksa oleh Devan, untuk meminimalisir jika terjadi keanehan pada tubuhnya maka itu bisa dirahasiakan.
"Tapi setahu nenek, Devan itu kan dokter kandungan bukan dokter umum sayang," ucap nenek Gina sambil berpikir.
"Aku tidak mau dokter lain Nek," keluh Bintang.
Nenek Gina tidak bisa memaksa lagi, daripada tidak diperiksa sama sekali dia pun menghubungi Devan dan menyuruhnya segera datang ke Mansion.
Sekitar setengah jam Devan kini sudah berada di hadapan wanita itu, "bagian mana yang terasa sakit?" Tanya Devan.
"Aku hanya kedinginan, sepertinya aku hanya mering, berikan saja obatnya tidak usah diperiksa ini dan itu..!" Ucap Bintang.
"Kenapa? Memang aku ini dokter kandungan tapi aku juga mempelajari berbagai keluhan penyakit, aku akan mencoba memeriksamu," ucap Devan yang memaksa.
"Tidak, aku hanya sakit karena…. terlalu merindukan Agra," jawab Bintang tampak malu-malu.
"Hahahaha…, benarkah? Baiklah, baiklah... aku akan memberimu vitamin saja dan juga obat meriang, dan jangan lupa segera telepon suamimu, suruh dia segera pulang..!" Jawab Devan sambil tersenyum, dia tidak mengira jika Bintang akan berbicara terang-terangan.
Padahal aku memang serius membutuhkan sentuhan Agra untuk nyawaku, kehidupanku dan aku bukan wanita manja seperti yang dia pikirkan, keluh Bintang dalam hatinya.
***
Sementara di tempat lain Meira sudah tidak tahan dengan sikap Farhan, rasanya dia ingin kabur dari rumah yang mereka tempati, namun untuk sekedar mengadu pada Karin sang ibu saja itu begitu sulit.
Dia terkadang tidak mengerti dengan sikap Farhan yang berubah-ubah terkadang baik dan terkadang bersikap seenaknya.
"Kenapa aku merasa pusing ya?" Gumam Meira, semuanya terlihat gelap dan Meira jatuh tergeletak diatas lantai.
__ADS_1
"Nyonya…," teriak Bi Erni yang terkejut melihat majikannya pingsan.
Bersambung ….